Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 58 Berusaha Tegar


__ADS_3

Denny telah kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Pergi ke kantor pagi hari dan kembali pada malam hari. Menyibukkan diri lebih banyak di kantor. Tapi ada yang tidak biasa dilakukan Denny. Setiap hari Minggu atau libur, Denny selalu pergi melakukan kegiatan ekstrim seperti memanjat tebing, menjelajahi hutan, gunung, dan arung jeram. Kegiatan itu diunggah di laman media sosial bahkan terkadang membuat liputan khusus. Tak jarang Denny mengalami kecelakaan, tapi itu tidak menyurutkan tekadnya melakukan lagi dan lagi.


Seperti hari ini, dia terbaring di rumah sakit setelah jatuh dari tebing. Kakinya mengalami retak tulang.


“Denny, apa yang kau lakukan? Kau menyiksa dirimu sendiri,” Iqbal menatap dalam Denny. Dia tidak dapat memahami perbuatan Denny, masih bisa meminta memfoto dirinya.


“Sudah kau foto, mana bawa sini, aku ingin melihatnya,” Iqbal menyerahkan ponsel ke tangan Denny. Senyum menggaris di wajah Denny melihat hasil foto dirinya.


“Aku terlihat keren di foto ini, dia pasti akan khawatir melihatnya,” Denny menatap gambar di layar ponselnya dan matanya berkaca-kaca.


“Siapa yang kau maksud, Den?” Iqbal semakin tidak mengerti mendengar ucapan Denny.


“Bukan siapa-siapa,” Denny memalingkan wajahnya dari ponsel dan menatap Iqbal.


“Den, ini sudah kesekian kalinya kau kecelakan dalam waktu tiga bulan. Aku minta hentikan perbuatan gila ini. Kau ingin menghukum siapa dengan perbuatanmu ini, hah? Aku masih ingat, kau ingin membalas dendam pada orang yang melukaimu dan Indah. Tapi balas dendam apa ini, kau membuat mereka semakin tertawa melihat kondisimu seperti ini,” Hati Iqbal hancur melihat Denny, dia tidak setegar dulu lagi menghadapi persoalan. Jalan yang diambil Denny salah, dia berusaha menyadarkan Denny dan kembali seperti dulu lagi.


‘Tidak, dia tidak bisa tertawa melihatku saat ini, dia sama sakitnya dengan yang kurasakan,” Denny menatap jauh, pikirannya tidak bersamaanya saat ini.


“Den, sadarlah. Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan,” Iqbal menggoyang tubuh Denny, kesabarannya sudah hilang melihat sikap Denny.


“Hei, aku sadar, kau mengganggu pasien yang butuh istirahat. Aku akan melaporkanmu, dan kau akan diusir dari ruanganku.” Denny tersenyum melihat Iqbal yang sangat mengkhawatirkannya.


“Kau jangan bercanda, ini bukan saatnya,” Iqbal menatap Denny kesal, yang masih bisa bercanda melihat kondisinya saat ini.

__ADS_1


“Aku tidak bercanda, aku benar-benar sakit tahu? Kau lihat, bahkan mereka memberiku kursi roda, kau lihat itukan?” Denny melirikkan matanya ke arah kursi roda. Kali ini mungkin dia tidak dapat berjalan dalam waktu yang lama.


“Baiklah, kata dokter kau masih harus beristirahat di rumah sakit tiga hari lagi. Kakimu tidak boleh banyak bergerak.” Iqbal duduk di samping Denny dan menatapnya dalam.


“Tiga hari, satu hari pun aku tidak mau di tempat ini. Bawa aku pulang sekarang.” Denny ingin beranjak dari tepat tidur.


“Auw,” Denny tidak melanjutkan niatnya, kakinya terasa sangat sakit.


“Sudahku katakan, kau jangan banyak bergerak.” Iqbal tersenyum melihat sikap Denny.


“Sial kau,” Denny mengambil bantal dan melempar Iqbal yang segera berdiri menghindar. Bantal tidak mengenainya tapi mendarat pada Mamanya yang baru tiba bersama Hanna.


“Sudah cukup bermain-mainnya, sekarang kamu harus menuruti semua keinginan Mama,”perbuatan Denny tidak lepas dari pantauan Mamanya. Dia ingin melawan mamanya dengan kegiatan ekstrimnya.


“Apa yang mama katakan?” Denny menatap tajam Mamanya. Dia tidak senang dengan ucapan yang dikatakan Mamanya.


“Kamu harus menikahi Hanna, mama sudah mengaturnya. Kamu tidak dapat menolak, besok acaranya akan dilakukan. Mama kira ini waktu yang tepat, kamu tidak akan dapat pergi ke mana-mana dalam keadaan seperti ini,” Mama Denny menatap dengan tajam, kesabarannya sudah habis melihat anak satu-satunya menyia-yiakan hidupnya dengan kegiatan yang berbahaya.


“Mengapa Mama tidak pernah berhenti ingin mengikatku dengan Hanna?” Denny terkejut dengan rencana mendadak mamanya. Kali ini dia benar-benar tidak dapat menghindar.


“Ya. Mama sudah lama ingin melakukannya.” Tatapan mamanya mendarat tepat di kedua mata Denny.


“Sampai memisahkan aku dengan Indah?” Suara Denny bergetar menahan amarah yang bergejolah di hatinya.

__ADS_1


Mama Denny tidak menjawab, membalikkan tubuh dan melangkah membuka pintu. Terlihat Pak Jung dan beberapa pengawal masuk ke ruangan.


“Bereskan tuan muda, kita pulang sekarang,” Mama Denny memberi perintah, semua bergerak mematuhi ucapan Mama Denny. Para pengawal mengangkat tubuh Denny dan mendudukkannya di kursi roda. Denny tidak dapat menolak, dia hanya diam dan menatap penuh kebencian.


“Apapun rencana nyonya besar, kau tidak dapat menolaknya,” Iqbal berkata-kata dalam hati, melangkah bersama rombongan Mama Denny bergerak meninggalkan Rumah Sakit.


Denny berada di rumah Mamanya, tidak diizinkan kembali ke aparemen. Iqbal mengantar Denny dengan kursi roda ke kamarnya.


“Bal, besok pelaksanaan pernikahanku dengan Hanna, mama sudah merencanakannya. Melihat penjagaan ketat di luar, aku tidak dapat menghindar dengan kondisiku seperti ini. Aku juga tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku. Tapi, aku minta kau melakukan sesuatu untukku,” Iqbal menatap Denny, dan mendengarkan perintah yang akan dilakukannya.


“Baik aku akan melakukan,” Iqbal melangkah ke luar kamar meninggalkan Denny.


Keesokannya, pada pagi hari, Denny telah bangun dan bersiap-siap dibantu Pak Jung. Berkemeja putih, berbalutkan jas hitam duduk di atas kursi roda. Menatap pemandangan di luar melalui jendela kamar. Pikirannya membayang kenangan bersama Indah, saat-saat pernikahan dan menghabiskan waktu bersamanya. Tak terasa air mata mengalir di sudut matanya.


“Tuan, semua sudah siap kita turun sekarang,” seorang pelayan datang dan membawa Denny ke luar dari kamar.


Pernikahan dilakukan di rumah Denny, dan dilakukan secara tertutup sesuai permintaan Hanna. Dia tidak ingin pernikahan diekspos wartawan karena keadaan Denny yang kurang sehat. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang datang menghadiri. Acara resepsi pernikahan akan digelar setelah kaki Denny benar-benar sembuh.


Pernikahan pun dilaksanakan, Denny telah sah memperistri Hanna. Senyum kebahagiaan membingkai di wajah Mama Denny, Papa Hanna dan Hanna. Sebaliknya Denny tidak merasakan hal yang sama. Baginya pernikahan ini bukan keinginannya, hatinya tetap milik Indah selamanya.


Setelah pernikahan selesai, para tamu berangsur pulang, Iqbal menyerahkan simcard rekaman pernikahan sesuai yang diminta Denny lakukan.


“Apa yang akan kau lakukan dengan rekaman ini?” tanya Iqbal penuh keheranan.

__ADS_1


“Ini sangat penting bagiku, untuk membuktikan sesuatu,” Denny menatap simcard, dia berharap dugaannya tidak meleset.


Pada malam hari, malam pertama yang sangat dinanti-nanti bagi pasangan yang baru menikah. Tapi tidak seperti yang dirasakan Hanna. Malam pertamanya dilalui di kamar terpisah, Denny tidak ingin sekamar dengannya. Hanna pun bisa memaklumi, mengingat pernikahannya berlandaskan cinta sepihak, dan kaki Denny masih cedera. Baginya pernikahan ini sudah sangat membuatnya bahagia, keinginannya bersama Denny telah terwujud. Dia akan berusaha membuat Denny mencintainya. Memberikan perhatian yang tulus, berharap rasa cinta dapat tumbuh di hati Denny untuk dirinya.


__ADS_2