
Di kamar hotel, Iqbal terlihat merapikan pakaian ke dalam koper.
“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel berbunyi. Iqbal melirik dari sudut matanya dan meraih dari atas meja nakas di samping tempat tidur.
Iqbal melihat nama Yanti di layar ponsel, lalu menjawab panggilan.
“Hallo,” suara Iqbal menyapa orang di seberang.
“Bisa kita bertemu? Aku menunggumu di lobi” Tanya Yanti di ujung ponselnya.
“Ya, aku akan ke sana. Tut, Tut, Tut. “ Ponsel terputus secara sepihak, Iqbal hanya mampu mengernyitkan kening membayangkan sikap Yanti.
Iqbal menghayunkan langkah, menapakkan diri di depan cermin. Setelah penampilannya terlihat rapi, melanjutkan langkah ke luar kamar.
Iqbal telah sampai di lobi hotel, matanya tertuju pada sosok gadis yang duduk di sofa. Iqbal datang menghampiri.
“Anda sudah datang, Pak Iqbal. Saya ingin mengajak anda makan bersama, sebagai perpisahan dan ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan saya.” Yanti berdiri menyambut kedatangan Iqbal dan tersenyum menatapnya.
“Perpisahan, dan terima kasih? Wah…, gadis ini sungguh keterlaluan, sikapnya bisa berubah secepat kilat.” Bisik batin Iqbal masih terdiam menatap Yanti.
“Bagaimana, apakah Pak Iqbal bersedia?” Yanti bertanya menunggu jawaban Iqbal.
Iqbal menarik sudut bibirnya, sambil menggelengkan kepala.
“Baiklah, saya bersedia. Waktu dan tempat saya serahkan padamu Nona Yanti,” Iqbal menjawab dengan menekan kalimat akhirnya. Dia tidak menyangka dengan perubahan sikap ramah Yanti.
Di rumah sakit, Denny telah duduk di kantor Harun.
“Denny, apa tidak sebaiknya hanya tetap di sini? Tanya Harun memastikan kembali keinginan Denny membawa Hanna pulang ke rumah.
“Tidak, aku ingin membawanya pulang dan merawatnya di rumah. Kau katakan saja apa yang di dibutuhkan, akan ku lakukan.” Ucap Denny menatap Harun dalam. Dia tidak ingin Hanna merasa tertekan dan tidak nyaman karena berada di rumah sakit.
“Baiklah, aku akan membantu mempersiapkan semua alat medis dan perawat yang bisa menjaga Hanna selama di rumah.” Harun tidak ingin memaksa sahabatnya itu.
__ADS_1
“Terima kasih, aku tahu kondisi Hanna akan sangat lemah selama usia kehamilannya semakin bertambah. Aku tidak bisa memilih kehidupan antara Hanna dan bayinya. Aku akan berusaha sekuat aku bisa menolong mereka. Harapanku, Hanna bertahan sampai dia melahirkan dan setelah itu, dia bisa melakukan semua proses pengobatan.” Denny menatap jauh ke depan, di dalam pikirannya saat ini hanya usaha untuk Hanna bisa bertahan. Dia telah menghubungi temannya di luar negeri untuk proses penyembuhan Hanna. Tapi hanya dapat dilakukan setelah Hanna melahirkan bayinya.
*****
Iqbal dan Yanti telah sampai di sebuah restoran. Yanti memilih restoran yang menyediakan makanan Indonesia. Mereka memesan makanan Sate dan Gado-Gado. Kekakuan terjadi selama menikmati makanan. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Beradu pandang dan membalas senyum mendominasi kebersamaan mereka.
Setelah selesai makan, mereka berjalan menikmati suasana negara yang terkenal dengan icon patung Singa itu.
“Pak Iqbal, maafkan atas sikap saya. Mungkin ini tidak bisa membayar kesan buruk pertemuan kita. Jadi, anggap saja kita tidak pernah berjumpa.” Yanti membuka percakapan disela-sela langkah mereka berdua.
“Bagaimana ya, bagi saya bayarannya tidak seimbang. Jadi saya tidak bisa semudah itu melupakan semuanya. Apalagi kejadian di kamar mem,,,Iqbal tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Jari telunjuk Yanti sudah mendarat di bibir Iqbal. Sontak mata Iqbal membesar dan hawa panas seketika menjalar ke seluruh kulitnya. Jantung Iqbal berpacu cepat tanpa diundang.
“Jangan diteruskan, saya harap Pak Iqbal tidak mengambil kesempatan saat seseorang tidak sadarkan diri. Apapun yang terjadi di kamar malam itu, anggap saja sebuah bonus dari hasil kerja keras menolong saya.” Yanti melepaskan jarinya dan membalikkan tubuh.
Seketika, tangannya ditarik kuat dan tubuhnya terjatuh dalam dekapan Iqbal. Bibirnya dibekap dalam ******* mulut Iqbal. Yanti terkejut menerima serangan mendadak Iqbal. Yanti tak mampu menolak, bibirnya menikmati permainan. Melihat reaksi Yanti, Iqbal melepaskan ciuman dan memeluknya erat. Dia takut tidak bisa menahan diri.
“Hei Nona, kau keterlaluan telah melecehkan diriku. Kau harus bertanggung jawab semua yang telah kau lakukan.” Iqbal berbisik lembut di telinga Yanti. Perasaan yang dirasanya saat ini tidak pernah ada sebelum bertemu dengan Yanti. Gadis ini telah mampu mengobrak-abrik jiwanya.
“Kau sudah punya suami?” bisik Iqbal.
“Hemmm,” Yanti menggelengkan kepala di bahu Iqbal. Dia tahu arah pembicaraan Iqbal. Hatinya seketika berbunga-bunga. Maklum Yanti belum pernah memiliki pacar sebelumnya apalagi suami.
“Pacar?” tanya Iqbal lagi.
“Kenapa?” Yanti balik bertanya, ingin segera mengetahui isi hati Iqbal. Laki-laki yang pernah menjadi idolanya saat bekerja di perusahaan Denny. Dia hanya bisa menjadi pengagum seperti gadis-gadis lain, karena sikap dingin yang selalu membentengi laki-laki itu.
“Kalau ada putuskan, kau sekarang milikku,” Ucap Iqbal enteng.
“Hei, tuan Iqbal. Aku buka barang yang gampang kau miliki,” Yanti menarik tubuhnya dan menatap Iqbal dalam. Kata milik bukanlah kata yang diharapkan ke luar dari bibir Iqbal.
“Aku tidak menganggapmu barang. Kau sekarang, sudah menjadi sesuatu yang berharga bagiku. Jangan menolak Nona, kau akan semakin kuat mengikatku. Mungkin kekasih, kata yang tepat menyandang status baru ini,” Iqbal merapatkan wajah, terasa hembusan nafasnya menyapu wajah Yanti. Seketika rona merah menghiasi dan Yanti tidak mampu menyembuyikan rasa malunya. Iqbal menarik sudut bibirnya, melihat sikap Yanti.
“Terserah. Tuan Iqbal selain sekretaris yang berpengalaman, ternyata untuk menggoda seorang gadis patut diacungi jempol,” Yanti menarik wajahnya mundur, dan sengaja menggoda Iqbal yang telah membuatnya salah tingkah.
__ADS_1
“Wahhhh, kau Nona, memuji sekaligus menjatuhkan. Nilaimu makin tambah berharga bagiku.” Iqbal tidak mau kalah menggoda Yanti yang pandai menyembuyikan perasaan. Sikap itu yang membuat Iqbal tertarik padanya.
“Tuan Iqbal, sampai kapan kita menjadi perhatian semua orang?” Yanti memutar matanya mengamati orang-orang yang berbisik melihat tingkah mereka berdua.
“Ayo, jangan perdulikan mereka. Anggap saja mereka tidak melihat kita,” Iqbal melepaskan pelukan, lalu menarik tangan Yanti melanjutkan langkah kaki mereka berdua.
Yanti menatap wajah Iqbal berjalan di sampingnya. Dia merasa seperti mimpi dapat bergandengan tangan bersama. Perasaan gembira tidak dapat disembuyikan dari wajah yang terus tersenyum mengiringi langkah kakinya. Dia ingin berbagi perasaan ini bersama sahabatnya Indah, tapi sayang itu tidak dapat dilakukan.
*****************
Mama Denny mengunjungi Hanna di rumah sakit. Hanna duduk bersender di kepala tempat tidur dan mama duduk di tepi tempat tidur, mengelus tangan Hanna.
“An, bagaimana keadaanmu? Kenapa kau rahasiakan dari Mama? Apa kau takut mama akan menolakmu?” Tanya mama Denny dengan mata berkaca-kaca menatap Hanna.
“Ma maafkan, Hanna memang takut, karna aku sangat mencintai Mas Denny.” Hanna berurai airmata mengingat sikap egoisnya. Dia berharap semua kesalahannya dapat dimaafkan.
“An, kamu salah, mama tetap akan menerimamu bagaimanapun keadaanmu sayang,” mama menggengam tangan Hanna hangat.
“Ma, kalau boleh aku bertanya?” tanya Hanna lemah.
“Ya, ada apa sayang?” Jawab mama.
“Maukah mama menerimanya, setelah aku tiada?” Tanya Hanna dengan berurai air mata.
“Hanna, apakah dia sudah tahu?” Mata mama membesar mendengar pertanyaan Hanna.
“Iya Ma, hanya dia yang tahu selain papa. Dia bersedia melakukannya demi Hanna.” Hanna semakin terisak di sela ucapannya.
“Jadi An, tuduhan mama salah selama ini?” Mama berurai air mata mengenang kembali sikapnya tiga tahun silam.
“Hem, Ma kesempatanku hidup hanya lima tahun kalau tubuhku bisa bertahan. Tetapi, aku memilih jalan lain, mungkin akan lebih cepat. Aku ingin memiliki anak dari Mas Denny, tanda cintaku. Aku memang egois, penyakit ini sebagai hukuman dari sikapku. Aku harap Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telahku lakukan.” Hanna membalas genggaman erat tangan mama yang sudah terisak tangis.
“An, mama juga berdosa. Jangan salahkan dirimu sendiri, mama juga bertanggung jawab.” Mama memeluk tubuh Hanna, menumpahkan tangisnya di bahu Hanna. Berdua mereka larut dalam kesedihan.
__ADS_1