
Iqbal menunggu kedatangan Denny dan Indah di rumah sakit. Beberapa polisi mendampinginya. Terlihat percakapan serius terjadi di antara mereka.
“Pak, jasad korban harus segera dikuburkan. Kondisinya sudah sangat rusak, mungkin kejadiannya sudah terjadi sekitar empat minggu atau lebih.” Ucap seorang polisi.
“Benar, kita bisa membuktikan identitas korban hanya dengan pengakuan keluarga korban. Beberapa bukti bisa mengarahkan ke pada identitas korban seperti kartu tanda pengenal yang ada di dalam dompet korban. Ini bukan kasus perampokan, karena dompet korban dan barang berharga lainnya tidak diambil. Kita agak sulit menyelidiki kasus ini. Hasil visum belum bisa kita peroleh, menunggu beberapa hari.” Sambung seorang polisi yang lain.
“Baiklah Pak, kita belum tahu pasti sebelum pengakuan keluarga korban. Sebentar lagi akan tiba di sini.” Balas Iqbal.
Mobil melaju membawa Denny dan Indah. Air mata terus mengalir di pipi Indah. Kenangan terakhir dengan kakaknya menjadi penyesalan dirinya.
“Kakak maafkan Indah, tidak bisa menjadi adik yang baik, tidak bisa membantumu,” lirih batin Indah.
“Sebentar lagi kita akan sampai, aku harap kamu kuat. Aku akan selalu bersamamu,” Ucap Denny menatap Indah.
“Saya akan kuat, demi Kak Dino,” Balas Indah menghapus air matanya.
“Aku harap kamu bisa sesuai ucapanmu, walaupun aku meragukannya melihat kondisimu saat ini,” bisik batin Denny.
Mobil telah sampai di lahan parkir, berdua mereka ke luar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
“Itu mereka datang,” ucap Iqbal melihat Denny dan Indah semakin mendekat.
“Selamat siang, dengan nona Indah?” Tanya seorang polisi menatap Indah.
“Iya benar saya Indah.” Jawab Indah.
“Maaf sudah mengganggu waktu Nona. Kami harap kerjasamanya, tentu Nona sudah mengetahui tujuan kedatangan ke sini.” Jelas seorang polisi.
“Iya Pak, saya akan membantu sebisanya,” balas Indah.
“Kami menemukan dompet korban, dengan kartu identitas di dalamnya. Bisakah Nona mengenali kartu Identitas ini?” Menunjukkan sehelai kartu di dalam kantong plastik.
“Rudino Syahputra” Kak Dino, ini benar dia. Dimana dia, saya ingin melihatnya. Kak Dino, jangan tinggalkan Indah Kak.” Tangis Indah pecah tak tertahankan.
“In, sabar. Kamu sudah janji akan kuatkan?” Denny memeluk Indah kuat.
“Maaf Nona, satu lagi barang yang kami jumpai di tubuh korban sebuah jam tangan. Apakah nona mengenalinya?” Menunjukkan kantong plastik sebuah jam tangan.
“Iya, ini jam tangan kak Dino. Saya memberinya tiga tahun yang lalu sebagai hadiah ulangnya. Ternyata masih dimilikinya, saya kira sudah dijual untuk kebiasaannya bermain taruhan” Isak tangis Indah menatap jam tangan di tangannya.
“Jasad korban ada dalam kamar mayat ini. Sebelumnya kami memberitahukan kalau keadaannya sudah sangat rusak. Kami tidak dapat menahan Nona melihatnya, tapi dengan pengakuan dari Nona kami rasa sudah cukup membuktikan korban benar Kakak Nona. Kalau Nona ingin lebih memastikan lagi, kita bisa melakukan tes DNA. Hasilnya sekaligus, bersamaan hasil visum penyebab kematian korban. Sekarang terserah Nona, dan kalau tidak kami akan mengurus penyerahan jasad korban.” Jelas polisi.
“In, dengarkan aku. Lebih baik kamu tidak melihat ke dalam. Kalau kamu tetap memaksa, nanti kamu akan semakin sedih. Lebih baik kita melakukan tes DNA juga, untuk lebih meyakinkan kamu.” Denny menatap dan memegang wajah Indah dengan kedua tangan untuk meyakinkannya.
“Tapi Mas..,”
“Kamu harus percaya sama aku. Percayalah semua akan baik-baik saja.” Ucap Denny memotong perkataan Indah.
“Hem,” Indah menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Baiklah Pak, lakukan saja. Dan masalah jasadnya, kami bersedia menguburkannya sebelum hasil DNA keluar. Siapa pun dia, jasad itu berhak mendapatkan perlakuan yang pantas. Kalau pun benar itu kakak Indah, kami sudah melakukan yang terbaik untuknya.” Jelas Denny.
Denny lalu memberi isyarat ke pada Iqbal. Tanpa banyak bicara Iqbal pergi bersama para polisi.
Indah berada dalam pelukan Denny. Dirinya sangat terguncang mengetahui kematian kakaknya yang sangat tragis.
Di perusahaan, Hendrik telah sampai di ruang kerja. Matanya mengitari ruangan mencari sosok Indah, tapi tidak dijumpainya.
“Yan, Indah mana?” Tanya Hendrik.
“Loh, tapi diakan pergi bersama kamu Hen? Dari tadi malam, aku menunggu kalian. Ada yang ingin ku sampaikan, karena sudah malam dan mungkin kalian langsung pulang, aku juga pulang, tidak menunggu. Dan sekarang mana Indah, bagaimana keadaanya?” Yanti menghujani Hendrik dengan pertanyaan.
“Bagaimana aku menjelaskan ke Yanti, aku juga tidak tahu Indah di mana. Kalau aku beritahu yang sebenarnya, nanti dia malah panik.” Bisik batin Hendrik.
“Hen, kok malah bengong ditanyain?” Yanti menepuk bahu Hendrik.
“Oh, itu. Indah sudah dibawa berobat semalam dan aku mengantarnya istirahat di rumah. Makanya kami tidak kembali ke kantor. Aku kira dia datang, berarti dia mengikuti saranku untuk istirahat saja hari ini, biar semua pekerjaan aku yang atasi,” Hendrik mengarang jawaban meyakinkan Yanti.
“Oh seperti itu, baguslah dia memang harus istirahat. Apalagi kondisi sekarang ini sedang gawat,” Yanti menatap ke atas.
“Hei, gantian kok kamu yang bengong sekarang sih?” Hendrik menepuk bahu Yanti.
“Maaf, aku terbawa suasana,” Jawab Yanti.
“Kata kamu, ada yang mau disampaikan, apa?”
“Oh itu, sebentar aku ambilkan,” Yanti menghampiri meja kerjanya dan menyerahkan selembar kertas.
“Loh, yang dilihat kok jadwal Indah, kamu sendiri?” tanya Yanti heran.
“Aku sih ngak masalah mau libur dan masuk kapan, karena Indah kurang sehat jadwal ini menguntungkan untuknya. Dia bisa gunakan waktu liburnya lebih banyak beristirahat di rumah. Gituloh Yanti, kamu memang kurang perhatian sama teman,” Hendrik melangkah meninggalkan Yanti.
“Apa loh bilang, aku kurang perhatian sama Indah. Ish anak itu seenaknya saja,” Yanti kembali duduk di kursi kerjanya dengan wajah kesal.
“Semuanya sangat kebetulan, Indah tidak ada di rumah sakit, rumahnya dan juga di sini. Semua pasti sudah diatur Denny. Sial, ini pasti karena ucapanku tadi malam,” Hendrik teringat kata-katanya saat menjawab panggilan Denny.
Di rumah sakit, Indah terduduk lemah ditemani Denny.
“Drekk, Drekk, Drekk,” terdengar suara ponsel berbunyi.
Denny meraih ponselnya, terlihat di layar “my love” dan menatap wajah Indah.
“Siapa yang menelpon memakai ponselnya? Pasti Hendrik, terakhir aku menghubungi Indah, dia yang mengangkatnya,” bisik batin Denny.
“Indah, sebentar aku mengangkat panggilan,” ucap Denny menatap Indah.
“Iya Mas,” balas Indah.
Denny beranjak dan berjalan beberapa langkah menjauh dari Indah. Dia tidak ingin pembicaraannya dengan Hendrik didengar Indah.
__ADS_1
“Hallo,” Ucap Denny menjawab panggilan.
“Hallo, ini aku Hendrik,” balas dari seberang.
“Iya, ada apa kau menghubungiku?” tanya Denny datar.
“Apakah Indah bersamamu? Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.”
“Dia bersamaku.” Jawab Denny menatap Indah.
“Baiklah aku lega, sampaikan salamku. Aku sangat mengkhawatirkannya.” Ucap Hendrik dari ujung ponselnya.
“Tidak akan,jangan mengkhawatirkanya. Aku akan selalu bersamanya. Jangan menghubungiku lagi, nomor ini akan ku hapus selamanya.” Denny memutuskan panggilan.
“Drekk, Drekk, Drekk,” Ponsel Denny kembali berbunyi.
Matanya melirik layar, nama “Iqbal” menunggu jawaban darinya.
“Bal, bagaimana, semua sudah beres?” tanya Denny membuka pembicaraan.
“Ya, semua sudah beres. Urusan penguburan, bagaimana?”
“Kau datang kemari, ada yang inginku sampaikan. Jangan menghubungiku lagi dengan nomor ini. Hapus nomornya. Dan gantikan nomorku dengan yang lain.” Ucap Denny.
“Baiklah, aku akan segera ke sana.”
Pembicaraan terhenti. Denny melangkah mendekati Indah.
“In, semua sudah beres. Dan di mana kita akan menguburkannya?” tanya Denny lembut kepada Indah.
“Bisakah di Pekalongan? Kami berdua besar di sana dan tempat kedua orang tua kami dikuburkan juga. Saya mempunyai seorang Pakde di sana.” Jawab Indah dengan mata berkaca-kaca.
“Baiklah, tentu bisa. Aku akan mengurusnya.” Balas Denny.
“Terima kasih. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan Mas,” Ucap Indah menatap dalam mata Denny dengan derai airmata.
“Hem, udah jangan menangis lagi,” Balas Denny menghapus lembut air mata di pipi Indah.
Iqbal pun datang mendekati mereka berdua.
“Bal. Kita ke Pekalongan, di sana tempatnya,” ucap Denny menatap Iqbal.
“Baiklah, aku akan mengatur keberangkatan kita. Dan permintaanmu sudah kulakukan.” Balas Iqbal.
“Terima kasih Bal,”
“Hem, kita bisa berangkat sekarang,” ucap Iqbal.
“Indah, ayo kita berangkat.” Ucap Denny menatap Indah.
__ADS_1
Indah pun menuruti perkataaan Denny. Bertiga mereka melangkah meninggalkan rumah sakit.