
Setelah selesai mandi, keduanya melangkah ke luar berbalutkan handuk. Indah menyadari kalau pakaiannya tidak ada di kamar ini. Maka kaki Indah pun terus melangkah diiringi mata Denny.
“In, mau kemana?” Denny menahan langkah Indah, tubuhnya pun berbalik. Tersenyum menatap Denny.
“Mas, pakaianku kan tidak ada di sini, semua masih di kamar sebelah.” Indah berbalik, melanjutkan kembali langkahnya.
“Tunggu, diam di situ,jangan bergerak sedikit pun.” Terdengar suara Denny memberi perintah. Kaki Indah berhenti, berdiri seperti patung menuruti kata-katanya.
Denny memeluk Indah dari belakang, dan menyerahkan sebuah hadiah ke hadapannya.
“Mas ada bilangkan, mau memberikan hadiah. Nah, ini hadiahnya?’’ Berbisik lembut di telinga Indah dan mencium bahu Indah yang polos.
“Apa ini Mas, boleh dibuka?” Indah penasaran ingin mengetahui isinya. Wajahnya berseri-seri memegang hadiah pemberian Denny yang masih memeluknya dari belakang.
“Hem, bukalah. Mas harap kamu menyukainya.” Denny mendekatkan tubuh belakang Indah di dalam rangkulannya. Membantu memegangkan kotak hadiah pemberiannya. Tangan Indah sibuk tidak sabar membuka kotak.
“Wah, cantik sekali. Terima kasih Mas, aku suka.” bibir Indah tersenyum menatap gaun hadiah pemberian Denny.
“Pakailah, kita akan pergi ke suatu tempat malam ini,” Denny sudah merencanakan akan mengajak pergi Indah bersama.
“Tapi Mas bagaimana aku bisa memakainya, kalau dipeluk gini?” Indah menoleh ke samping menatap Denny yang tidak membiarkan lepas dari pelukannya. Tangan Denny terus merangkul erat.
“Baiklah,” Dengan suara berat Denny melepaskan pelukannya. Indah berbalik menghadap Denny. Dan mendaratkan kecupan ke pipinya. Kemudian berbalik melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Denny.
“In, pakai di sini saja, Mas ingin melihatnya.” Indah menoleh dan tersenyum. Tatapan Denny mengiringi kepergiannya.
“Besok pakaianmu semuanya harus sudah ada di kamar ini,” gumam Denny melangkahkan kaki ke ruang pakaiannya.
__ADS_1
Di lain tempat, Hendrik terkejut saat menerima panggilan telpon dari Iqbal. Dirinya diminta datang ke sebuah restoran pada pukul setengah delapan malam. Denny ingin membicarakan sesuatu. Hendrik pun menerima permintaan itu dan akan datang sesuai waktu yang ditentukan.
Masih di apartemen, Denny berdiri di ruang tamu, menunggu Indah ke luar dari kamarnya.
“Wah, kamu sangat cantik memakai gaun itu,” Denny memberikan pujian begitu melihat Indah. Gaun panjang berwarna merah muda, dengan kerah tinggi dan bertangan panjang. Menutup tubuh Indah yang tinggi dan langsing. Rambut panjangnya yang lurus dan hitam tergerai indah dipermanis jepitan rambut bermutiara kecil terselip di sana. Berjalan bak Miss Universe mendekati Denny.
Indah tersenyum mendapat pujian dari Denny. Dan matanya juga takjub melihat penampilan Denny berbalut setelan jas berwarna hitam. Rambutnya di sisir ke belakang dengan rapi terlihat maskulin.
“Ayo kita berangkat,” Denny mengulurkan tangannya. Disambut dengan tangan Indah. Denny menggenggam tangan Indah dan mereka berdua melangkah ke luar apartemen.
Sampai di dekat mobil, Denny membukakan pintu dan Indah melangkah masuk. Denny berputar menuju pintu mobil dan masuk ke dalam.
“Kita mau ke mana Mas?” Indah menatap wajah Denny, ingin tahu ke mana mereka akan pergi.
“Kita makan malam bersama teman-teman Mas. Kamu pasti senang bertemu dengan mereka.” Denny tersenyum menatap wajah Indah. Lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
“Siapa teman yang dimaksud Mas Denny, Apakah para bos rekan kerjanya? Apa dia ingin mengenalkan aku sebagai istrinya? Apa yang harus ku lakukan? Aku pasti akan terlihat gugup dan kaku di hadapan mereka. Aku takut akan membuat Mas Denny malu,” Indah memejamkan matanya dan menghembuskan nafas kasar.
Denny mengamati wajah Indah dari sudut matanya. Senyum menggaris di bibir Denny, menyadari kegugupan Indah.
“Tenang, jangan gugup gitu, kita hanya makan malam dalam acara santai, bukan acara resmi,” Tangannya menggenggam tangan Indah, dengan pandangan menatap jalan di hadapannya.
“Iya, Mas.” Indah tersenyum menatap Denny.
“Tuhan tolong aku, jangan sampai memalukan Mas Denny di depan teman-temannya,” lirih batin Indah menenangkan dirinya.
Hendrik telah sampai di depan restoran yang dijanjikan. Kakinya melangkah masuk ke dalam. Matanya memandangi ke seliling ruangan. Terlihat seseorang pelayan menghampiri.
__ADS_1
“Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pelayan ramah dengan memasang wajah senyum menatap Hendrik.
“Saya ada janji dengan Bapak Denny Prasetyo,” balas Hendrik. Perasaan Hendrik tidak tenang. Setelah pembicaraan terakhir yang tidak bersahabat dengan Denny. Dia tidak bisa menebak tujuan Denny ingin bertemu dengannya.
Mendengar nama Denny Prasetyo, sang pelayan tersenyum.
“Mari ikut saya,” mengajak Hendrik berjalan mengikutinya. Hendrik pun melangkah mengikuti pelayan yang lebih dulu jalan di depannya.
Denny dan Indah telah tiba di depan restoran. Seorang pelayan sigap membukakan pintu mobil untuk Indah dan dia pun tersenyum melangkah ke luar. Seorang pelayan yang lain membukakan pintu mobil Denny. Setelah Denny ke luar, sang pelayan menaiki mobil dan memarkirkan di tempat bagian tamu VIP.
Para pelayan sudah mengenal Denny yang merupakan tamu tetap dan penting di restoran tersebut. Pelayanan terbaik pun harus diberikan sebagai usaha menyenangkan untuk tetap mengikat kerja sama yang baik dan menyenangkan.
Denny menggandeng tangan Indah melangkah masuk ke dalam restoran. Senyum terus menggasir di bibir Denny, sedangkan Indah masih berbalut gugup dengan wajah berusaha untuk tersenyum. Seorang pelayan menuntun mereka ke meja yang sudah di pesan.
Dari kejauhan Indah memandang, samar terlihat wajah yang tidak asing baginya. Semakin dekat Indah melihat dengan jelas.
“Hendrik, nona Hanna, Iqbal dan mereka berdua siapa?” Jadi mereka yang dimaksud Mas Denny teman-temannya? Tapi Hendrik, mengapa dia juga ada?” Batin Indah menggantung pertanyaan, tanpa sadar langkahnya terhenti. Denny menatap wajah Indah, yang kelihatan terkejut.
“In, mari kita menjumpai mereka, tidak enak mereka menunggu kita terlalu lama,” Denny menatap wajah Indah, dan menarik tangannya melanjutkan langkah menemui tamu yang juga sebagian wajahnya tak kalah terkejut seperti Indah, menatap mereka berdua datang.
Selain Hendrik, Hanna juga diundang makan malam bersama ini. Betapa terkejutnya dia, melihat Denny datang bergandengn tangan dengan seorang wanita cantik. Semakin dekat, dia bisa melihat jelas kalau wanita itu pernah dilihatnya dan dia pun mengenal kalau wanita disamping Denny adalah Indah karyawannya sendiri.
Denny dan Indah telah berdiri di depan semua orang. Denny tersenyum kepada wajah-wajah yang memandangnya. Semua berdiri menyambut kedatangan mereka berdua.
“Terima kasih sudah bersedia menghadiri undang kami berdua,” Denny membuka bicara.
“Mas Denny, apa maksud semua ini?” Tanya Hanna dengan suara gugup. Jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata Denny. Perasaannnya mengisyaratkan ada sesuatu yang dia tidak ingin mengetahuinya.
__ADS_1
“Indah, kamu juga datang, dan bersama dengan Denny. Ada apa dengan kalian?” Hendrik menatap tajam Indah dengan pertanyaan yang membatin.