Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 66 Penerimaan


__ADS_3

Denny menatap Hanna yang tertidur duduk di sisinya. Dia belum bisa berbicara, tangannya yang lemah berusaha menyentuh pucuk kepala Hanna. Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Hanna terbangun dan melihat Denny telah sadar.


“Mas Denny, kamu sudah sadar? Aku panggil dokter,” Hanna bergegas ke luar menemui dokter. Tak lama beberapa perawat dan dokter masuk ke ruangan lalu memeriksa keadaan Denny. Mama Denny dan Hanna dengan berurai air mata tersenyum bahagia melihat Denny telah kembali. Iqbal menatap lega menyambut kesadaran Denny.


“Syukurlah, Pak Denny telah melalui masa-masa kritis, tolong jangan di ajak banyak bicara. Kondisinya masih belum stabil, biarkan dia beristirahat.” Dokter menatap Mama Denny, Hanna dan Iqbal, lalu bersama para perawat melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Hanna menghampiri dan memegang lembut tangan Denny. Matanya belum berhenti menangis, menatap mata Denny yang memandangnya lemah dan perlahan kembali terpejam. Bibir Hanna tak mampu berkata ,dalam hatinya meminta maaf telah pergi meninggalkan Denny.


“An, biar aku yang berjaga. Kamu belum istirahat sejak tiba di sini. Denny akan baik-baik saja,” Iqbal menatap Hanna, dia tahu Hanna sangat takut kehilangan Denny. Tapi dia juga harus memikirkan kesehatannya.


“Aku ngak apa-apa dan tetap di sini, . Mama yang aku khawatirkan, lebih baik kamu antar mama pulang, Hanna menatap Mama Denny terlihat lelah duduk di kursi, sudah dua hari ini menemani Denny di rumah sakit dengan penuh kekhawatiran.


Iqbal tidak ingin memaksa, menuruti ucapan Hanna dan dia pun menghampiri mama Denny.


“Tante, sekarang Denny sudah tidak apa-apa, aku akan mengantar tante pulang agar bisa beristirahat. Tante kelihatan sangat lelah, tidak baik untuk kesehatan. Hanna dan saya akan menjaga Denny bergantian,” Iqbal menatap wajah pucat Mama Denny. Dia juga ingin pulang membersihkan diri dan berganti pakaian.


“Baiklah, tante akan pulang.” Mama Denny beranjak dari kursi menghampiri Hanna.


“An, mama pulang, kamu dan Iqbal tolong jaga Denny. Kalian berdua juga, jangan lupa istirahat. Besok pagi mama akan datang,” Mama Denny memeluk dan mengusap lembut belakang Hanna lalu melangkah pergi di temani Iqbal.


Di pagi hari, perlahan Denny membuka kelopak mata, senyum lembut Hanna menatap wajahnya.


“Terima kasih Tuhan Kau mendengar doa-doaku. Aku tidak akan pergi lagi, walaupun dia memintanya.” Bisik Hanna di dalam batin, tidak mampu berucap dari bibirnya.


“An, kamu kembali? Aku merindukanmu, maafkan aku yang mengacuhkanmu selama ini. Maafkan aku juga tidak bisa membalas cintamu,” Suara lemah Denny terdengar di telinga Hanna.

__ADS_1


“Mas, aku juga merindukanmu.” Hanna merebahkan kepalanya di dada Denny, air mata Hanna mulai kembali menetes. Kata rindu dari Denny sudah lebih dari cinta yang dirasakan Hanna. Menjadi orang yang dirindukan Denny, membuatnya sangat bahagia.


Denny mengangkat tangannya dan mengusap tubuh belakang Hanna.


“Hanna, bencilah aku sebesar yang kamu inginkan, aku pantas menerimanya. Tidak ada wanita bisa hidup berdampingan dengan suami dalam bayangan cinta masa lalunya. Aku tidak bisa menahanmu pergi dari sisiku. Hanna, Maafkan Aku ” Denny hanya menginginkan Hanna menerima maafnya. Dia pantas ditinggal pergi, Hanna berhak mendapatkan kebahagiaan.


“Mas, Aku tidak bisa membencimu, aku tidak akan ke mana-mana, Aku akan selalu bersamamu,” Hanna tak ingin melepaskan pelukannya, tubuh yang selama ini menolak untuk disentuh.


Sebelum kembali ke rumah sakit, Iqbal mampir ke perusahaan memeriksa keadaan. Berita miring Denny masuk rumah sakit telah menyebar, Iqbal pun berhasil mengatasi dan memblokir semua berita. Keadaan bisa teratasi dengan baik, saham perusahaan tidak berpengaruh dengan berita tersebut.


Hari demi hari keadaan Denny semakin membaik, Denny duduk bersandar di kepala tempat tidur. Mama Denny bersama menemaninya, Iqbal pergi bersama Hanna ke bagian ruang administrasi. Mengurus kepulangan Denny yang sudah mendapat izin dari dokter.


“Denny, apa yang kamu pikirkan? Apa ada yang sakit, mama panggilkan dokter?” Mama khawatir melihat Denny tidak berbicara dengan tatapan kosong jauh ke depan.


“Ma, Denny bertemu papa di dalam mimpi,” ucap Denny teringat akan peristiwa yang terjadi di dalam mimpi saat bertemu dengan papanya.


“Tapi, dalam mimpi itu Denny juga melihat wanita sedang memeluk anaknya, sayang wajahnya tidak terlihat jelas. Apa maksud itu semua?” Denny membalas tatapan mamanya. Awalnya dia tidak ingin mengutarakan karena dia tidak percaya dengan arti mimpi.


“Denny, mungkin saja itu pertanda kalau papa juga sependapat dengan mama,” Mama Denny tersenyum mendengar perkataan Denny.


“Maksud Mama?” Denny melipat kening tidak mengerti ucapan yang didengarnya.


“Denny, firasat mama mengatakan, kalau papa juga ingin kamu memiliki anak sama seperti yang mama harapkan. “ Mama Denny berbicara hati-hati sambil memegang tangan Denny dan tersenyum menatapnya.


Denny menatap wajah mamanya dalam, pikirannya mencerna setiap kata-kata yang didengar.

__ADS_1


Denny telah tiba di rumah bersama Hanna, Iqbal dan Mamanya. Dokter mengijinkan dirinya pulang, dan meminta untuk berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan kembali.


“Bal, terima kasih semua bantuanmu. Aku tidak akan dapat membalasnya.” Denny menepuk bahu Iqbal, selama ini, Iqballah yang paling mengerti dan mengetahui semua kesulitan yang dialaminya.


“Ya, aku harap kau tidak bertindak nekad lagi, ingat semua masalah ada jalan keluarnya. Aku akan berusaha selalu membantumu. Aku sangat takut kehilangan dirimu sobat,” Iqbal memeluk erat Denny dengan mata berkaca-kaca.


“Terima kasih, kau sangat mengkhawatirkanku,” Denny menepuk-nepuk punggung belakang Iqbal. Dia tahu tindakannya salah, dan Tuhan telah memberikan kesempatan hidup kembali untuk memperbaiki kesalahannya.


“Sudah, ayo kita makan, mama telah meminta menyiapkan makanan yang enak untuk menyambut kepulangan kita. Mama bersyukur, Denny kembali dengan sehat dan selamat. Mama juga meminta Pak Jung, memberikan santunan kepada anak yatim piatu ungkapan rasa syukur atas keselamatan kamu.” Mama Denny menepuk tubuh belakang putranya yang diselimuti rasa haru melihat persahabatan Denny dan Iqbal.


Mereka berkumpul di ruang makan, menikmati hidangan yang telah disediakan.


Di malam hari, Denny terbaring di tempat tidur, dan Hanna menemaninya.


“An, bolehkah aku memegang tanganmu?” Denny melihat wajah Hanna yang terbaring di sampingnya.


Hanna tersenyum mendengar ucapan Denny.


“Tentu,” Hanna memberikan tangannya, Denny memegang tangan Hanna dan meletakkan di dadanya.


“Tidurlah Mas, kamu masih lelah, aku akan menjagamu sampai tertidur,” Hanna senang melihat perubahan Denny yang sudah mulai membuka diri menerimanya.


“Hem,” Denny memejamkan matanya, pikirannya teringat akan ucapan mama dan mimpi yang dialaminya.


Hari-hari berikutnya, Denny dan Hanna menjalani kehidupan bersama kembali. Denny telah berubah, bersikap ramah dan hangat terhadap Hanna. Tatapan dan perlakuan dingin tidak dirasakan Hanna. Denny berusaha menerima Hanna di dalam hatinya.

__ADS_1


Seperti biasa, Denny pergi di pagi hari dan pulang dari kantor di malam hari. Hanna melayani dan menyambutnya hangat tiba di rumah. Makan malam hampir tidak pernah terlewatkan bersama-sama. Bik Surtik sangat senang melihat kemesraan yang terjalin dengan majikannya.


__ADS_2