Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 119 Pemberian Denny


__ADS_3

Mobil Iqbal memasuki pekarangan rumah Denny, laju mobil perahan dan berhenti. Membuka pintu, menarik langkah kaki ke luar dan tak lupa meraih beberapa paper bag di kursi belakang membawa turut serta.


Pagi-pagi sekali dia harus pergi ke butik langganan sang Big Bos, tak perduli si pemilik belum buka. Saat mata hendak tertidur lelap bersama sang istri tercinta setelah melepas rindu. Denny masih memberi tugas membeli beberapa stel pakaian wanita, untung saja tidak meminta memindahkan semua isi butik ke rumahnya.


Kedatangannya ke rumah itu, mengantarkan pakaian yang sudah dia beli. Langkah kaki Iqbal sudah membawa di dalam rumah, mengedarkan pandangan mencari bik surtik.


“Selamat datang tuan,” Sapa seorang pembantu perempuan menghampiri Iqbal.


“Hem, kasihkan ke bik Surtik. Bilang semua ini untuk tamu tuan Denny.” Iqbal menyerahkan semua paper bag kepada si pembantu.


“Baik, tuan.” Paper bag telah berpindah ke tangannya.


Iqbal membalikkan badan, melangkahkan kaki ke luar rumah. Mobil pun membawa kembali Iqbal meninggalkan rumah menuju jalanan. Tujuannya menemui Denny di Rumah Sakit XXX.


Di kamar Jesika, Dania masih betah bercerita di atas pangkuan Jesika. Dania yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang mama, sangat senang dengan kehadiran Jesika. Bibir kecilnya terus berceloteh sambil sesekali diselingi tawa ringan. Bik Surtik ikut senang melihat kegembiraan Dania, seketika penyakit Dania terlupakan semua orang terutama Denny.


Jesika tak kalah bahagia dengan sikap manja dan manis Dania. Hanna telah meninggalkan gadis kecil yang cantik, wajah Dania memiliki kemiripan dengan Hanna ibunya. Jesika menarik kenangan Hanna kembali, wanita cantik yang berbagi lelaki yang sama-sama mereka cinta. Takdir telah membawanya lebih dulu pergi, sedang dia masih menjalani takdir tidak tahu bagaimana sampai titik akhir.


“Tok, Tok, Tok,” pintu kamar yang terbuka diketuk. Semua mata di dalam kamar beralih ke pintu. Terlihat pembantu perempuan berdiri dengan tangan penuh paper bag.


Jesika bersama Dania terdiam melihat kehadiran pembantu perempuan dan Bik Surtik beringsut ke pintu menemuinya.


“Ada apa Ida?” Bik Surtik mengeryitkan kening melihat Ida menggendong banyak paper bag.


Ida seorang dari beberapa pekerja yang membantu Bik Surtik, di rumah yang besar itu tentu Bik Sutik tidak bisa seorang diri diusia yang tidak lagi muda. Bik Surtik dipercaya mengurusi semua keperluan rumah, dibantu Ida dan Tutik berbagi tugas bersih rumah dari menyapu, mengepel, menyetrika dan memasak. Sedang di luar masih ada Pak Ipul, kemudian Roy si supir dan seorang security penjaga keamanan rumah. Semuanya tinggal dibelakang rumah utama, selain bik Surtik tinggal di rumah utama karena mengasuh Dania.


“Bik, Ini ada bungkusan dari tuan Iqbal, katanya untuk tamu tuan Denny,” Ida menunjukkan dagunya ke arah Jesika, manik hitamnya sibuk menelisik. Kedua tangan mengulurkan paper bag.

__ADS_1


Orang yang dilirik telah kembali asik berceloteh dengan gadis kecil.


“Oh ya.” Bik Surtik mengambil paper bag dari tangan Ida.


“Ehemmm,” Suara bik Surtik mengejutkan Ida masih berdiri di depan pintu tanpa memindahkan pandangan dari dalam kamar.


“Eh,entu wajah apa kaca ya, bening banget. Siapanya tuan Denny, pacarnya ya bik?” Sifat ingin tahu Ida pun muncul, menatap bik Surti menunggu kepastian jawaban.


“Husss, Ida kamu udah selesai di sini, pergi ke dapur. Sebentar lagi nona muda dan tamu tuan Denny akan sarapan. Kalau kamu ngak cepat, ingat ya, gaji kamu akan dipotong karena kamu lambat.” Ucap Bik Surtik menghentikan rasa ingin tahu Ida pembantu yang suka bergosip tapi Bik Surtik suka karena sikapnya yang lucu dan polos asal bicara.


“His, Bik Surtik ngak enak becandanya main potong aja. Jarang-jarang ketemu kayak beginian, bisa jadi hot news para babu.” Ida kecewa mendengar ancaman Bik Surtik sambil memonyongkan bibirnya.


“Ida, jangan nyebar gosip, nanti kamu sendiri kena akibatnya. Tuan Denny ngak suka jadi bahan gosip, awas kalau kamu ngomong sembarangan.” Bik Surtik menajamkan mata kejamnya mengintimidasi Ida.


“Baiklah,baiklah Bik Surtik aku ngerti. Tapi yang aku ngak ngerti, tuan Dennykan Duren kenapa sampai sekarang ngak nikah-nikah juga. Nah entu, ada yang bening, pasti gebetannya. Iyakan?” Ida masih berusaha membenarkan dugaanya berharap Bik Surtik terpeleset memberikan jawaban.


“Kaburrrrr,” Ida berlari meninggalkan Bik Surtik yang sudah mulai naik emosi karena ulahnya.


Jesika dan Dania yang asik berbicara terkejut mendengar teriakan Bik Surtik. Sontak keduanya terbengong hingga perhatian mereka pun teralihkan melihat wajah Bik Surtik merona merah berjalan membawa paper bag.


“Ada apa Bik?” Jesika heran Bik Surtik menghembuskan nafas kasar berkali-kali meredakan emosinya.


“Ehh, ngak pa-pa Non, Ini ada kiriman dari Tuan Denny untuk Nona Jesika,” Bik Surtik meletakkan paper bag di tepi tempat tidur.


“Untuk saya?” Jesika menatap heran beberapa paper bag diberikan untuknya.


“Hem,” Bik Surtik menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Ayo Nia, kita lihat apa papa kamu beri untuk tante Jesi,” Jesika menurunkan Dania dari pangkuannya, merangkak di tempat tidur super size mengambil paper bag. Mengeluarkan isi di dalamnya satu persatu, terlihat beberapa baju, celana jeans, dress dan juga pakian dalam.


Jesika mengeryitkan kening, semua dari baju, celena jeans, drees dan pakaian dalam sesuai dengan ukur tubuhnya. Hawa panas merayap seketika ke wajah Jesika, membayangkan Denny telah memindai tubuhnya. Cepat dia menggeleng-gelengkan kepala membuyarkan pikiran liar yang hampir berpetualang bebas di kepala.


Seorang Denny Prasertyo direktur dunia penyiaran selalu dikelilingi wanita model-model iklan, dengan mudah bisa menebak ukuran tubuh mereka karena pengalamannya yang sudah berkarat. Kelebihannya juga Denny Prasetyo seorang pembisnis yang menjunjung tinggi profesionalis kerja tidak mencari kesempatan licik memperdaya kelemahan wanita. Jadi banyak model-model berebut ingin mendapat kesempatan bekerjasama karena selain mendapat royalty tinggi juga mendapat perlindungan.


Bik Surtik tersenyum melihat semua pakaian yang terletak memenuhi tempat tidur. Dia berpikir Jesika sudah mendapat tempat di hati Denny. Sebelumnya tidak pernah Denny menaruh perhatian pada wanita setelah Hanna tiada.


“Wah, papa beli banyak pakaian untuk tante Jesi, itu tandanya tante Jesi akan lama tinggal bersama Dania dan papa. Kak Saka pasti bersama kita jugakan?” Senyum Dania semakin merekah bahwa Jesika akan tinggal bersamanya, tentu juga Saka setelah dia sembuh. Dania tidak diberitahu kalau Saka menghilang, dia hanya tahu kalau Saka masih dirawat. Untuk anak sekecil Dania sangat mudah ditokohi.


“Untuk apa pakaian sebanyak ini, aku juga membawa pakaian sendiri. Sial, koperku ketinggalan di mobil Gunawan, pantasan dia membeli semua ini,” Jesika menggerutu sendiri di dalam hati dan menepuk kening.


Dania menatap heran, Jesika tidak menghiraukan ucapannya.


“Tante,.. Tente Jesi kenapa? Tante Jesi sakit kepala?” Ucap Dania polos menatap tangan Jesika menempel di kening.


“Hmmm…, ngak sayang, tante Jesika mau nelpon papa Dania, tapi ponsel tante mati batreenya habis. Dania tolong tante, telpon papa ya, tante mau bilang terima kasih udah belikan tante banyak begini,” Seketika Jesika ingin mengetahui keberadaan Denny, setelah Dania mengucapkan nama Saka, dia jadi mengingat tujuannya ikut bersama Denny.


Sedangkan nomor telpon Denny dia tidak ada, Danialah usaha dia untuk bisa berbicara dengan Denny.


“Oh…ponsel Nia di kamar. Tante bisa pakai ponsel Bik Surtik nelpon papa.” Dania melirik Bik Surtik tanda memberi pinjam ponselnya kepada Jesika.


“Eh…boleh, sebentar Bibik hubungkan dulu.” Bik Surtik meraih ponsel dari saku baju dan membuat panggilan.


Di Rumah Sakit XXX.


Di dalam ruang perawatan, Denny masih tertidur, duduk di kursi samping Saka dengan kepalanya menungkup beralaskan tangan di tepi tempat tidur. Pak Jung juga tidak pulang, tertidur di sofa.

__ADS_1


“Drekk, Drekk, Drekk,…” ponsel Denny bergetar tanda panggilan masuk. Karena mode silent, panggilan pun terlewatkan. Di ruangan itu, semuanya masih dikuasi lelap, Denny dan Pak Jung baru bisa beristirahat pukul empat pagi setelah berdiskusi panjang dengan dokter.


__ADS_2