Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 61 Keinginan


__ADS_3

Hidup terus berlanjut, berbanding terbalik dengan pernikahan Denny dan Hanna yang tidak mengalami kemajuan layaknya sepasang suami dan istri. Sudah hampir setahun hubungan pernikahan mereka, tapi Denny lebih banyak menghindar. Hanna tetap sabar menghadapi sikap Denny. Sekarang mereka telah tinggal disebuah rumah yang besar pemberian dari mama Denny, sebagai hadiah pernikahan setelah resepsi pernikahan digelar dengan sangat mewah di sebuah hotel. Denny masih melakukan hobi kegiatan ekstrimnya, Hanna tidak bisa mencegah apalagi melarangnya. Dia hanya bisa berdoa, Denny pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Sebagai seorang istri, Hanna menjalankan kewajibannya dengan baik dan tulus. Tapi haknya sedikitpun tidak pernah dia dapatkan dari Denny. Mama Dennylah yang tidak sabar melihat perkembangan hubungan mereka. Mama Denny sering berkunjung kerumah menanyakan kabar mereka, Hanna selalu bercerita yang baik-baik. Dia tidak ingin Denny bertambah acuh padanya kalau dia mengadukan hal yang tidak baik tentang pernikahan mereka.


Di ruang makan, Denny dan Hanna duduk saling berhadapan makan bersama.


“Mas, besok ada waktu?” Hanna menatap Denny yang sedang asik menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Kenapa?” Denny tidak menjawab pertanya Hanna, dia balik bertanya dengan masih melanjutkan makannya tanpa menatap wajah Hanna.


“Besok kita diundang ke acara makan malam sama mama,” Jawab Hanna pelan dengan menatap reaksi dingin wajah Denny.


“Di rumah mama?” Tanya Denny dengan suara datar.


“Tidak, mama mengundang kita di restoran,”Hanna dengan lembut menjawab pertanyaan Denny.


“Kamu kirimkan alamat, dan kamu pergi duluan nanti aku menyusul setelah selesai rapat.”


“Baiklah, aku akan kirimkan. Terima kasih sudah bersedia pergi denganku,” jawab Hanna sendu. Dalam hatinya dia ingin pergi bersama dengan Denny ke tempat itu. Ternyata seperti biasa, dia akan pergi duluan dan Denny akan menyusul belakangan. Pulangnya pun akan sama, Hanna diantar sopir pulang ke rumah, Denny kembali ke kantor dan pulang larut malam dengan alasan masih ada pekerjaan yang belum selesai.


Makan malam sudah biasa berjalan dengan kebekuan dan keheningan. Pembicaraan terjadi, apa bila ada suatu hal yang penting dibicarakan. Hanna gadis yang biasa periang, sekarang lebih banyak murung. Denny bukan tempatnya berbagi tawa dan canda. Sikap dingin Denny merubah sifat Hanna yang ikut menjadi pendiam. Denny merasakan itu, jauh di dalam hatinya dia sangat merasa bersalah. Dia melakukan itu semua agar Hanna menyerah dengannya dan memilih meninggalkannya.

__ADS_1


Selesai makan, Denny kembali menyibukkan diri di depan layar laptopnya. Hanna masih juga dengan sabar menemani, walau hanya sekedar menonton TV atau melihat ponsel membaca pesan di akun pribadinya. Semakin malam, tak jarang Hanna tertidur di sofa, Denny pun membangunkannya meminta pindah tidur di kamar. Mereka memang tidur sekamar, tapi tidak pernah tidur dalam waktu yang bersamaan. Hanna lebih sering tidur duluan, setelah itu Denny akan menyusul tidur di sampingnya. Jangan bayangkan ada kehangatan terjadi diantara mereka berdua, Denny benar-benar menjaga jarak keintiman dengan Hanna. Sampai detik ini, Hanna belum pernah disentuhnya. Hanna sendiri sangat menginginkan sentuhan dan belaian kasih sayang Denny. Dia hanya bisa menatap wajah tampan suaminya yang terbaring tidur lelap di sisinya tanpa bisa disentuh.


Ke esokannya, pada sore hari Hanna sudah berdandan dengan cantik. Dia ingin terlihat menarik di mata Denny. Di luar rumah, mobil telah menunggu dengan sopir yang setia mengantakan Hanna ke tempat tujuannya. Hanna pun segera ke luar dari kamar, menuju dapur ingin bertemu pembantunya dan berpesan sebelum dia pergi.


“Bik, Aku pergi makan malam keluarga sama Mas Denny dan Mama, jaga rumah ya. Jangan lupa tutup semua pintu dan minta Pak Ipul di depan bantuin periksa semua pintu dan jendela.”


Bik Surtik, wanita paruh baya mendengarkan dengan hati-hari pesan yang keluar dari bibir mungil Hanna.


“Wah, jangan khawatir nyonya, semua yang nyonya pesan akan saya kerjakan. Nyonya sangat cantik dan jangan buru-buru pulang nyonya, bersenang-senanglah dengan tuan. Nyonyakan sudah lama tidak jalan-jalan sama tuan,” senyum sumringah Bik Surtik melihat majikannya berpenampilan cantik dan kelihatan sangat bahagia.


“Ya, semoga keinginanmu tercapai Bik. Aku pergi dulu ya, jangan lupa pesan aku tadi.” Hanna tersenyum dan berbalik melangkah meninggalkan dapur.


Hanna telah sampai di restoran yang dijanjikan. Terlihat Mama Denny telah lebih dulu tiba dan tersenyum menyambut kedatangan menantu kesayangannya.


“Kamu pasti datang sendiri lagi, dan Denny akan menyusul belakangankan?” Tanya Mama Denny dengan wajah kesal memikirkan sikap Denny.


“Iya, Ma. Mas Denny masih ada rapat, sebentar lagi sampai kok,” Hanna tersenyum dan berusaha menghibur Mama Denny.


“Hanna jangan terlalu sabar sama Denny, sekali-kali harus keras sama dia. Dia itu persis sifat almarhum Papanya, gila kerja. Kalau dibiarin, tidak akan ada waktu untuk kamu” Mama Denny menatap lembut dan menggenggam hangat tangan Hanna.

__ADS_1


“Iya Ma, Mas Denny memang sedang sibuk, katanya ada proyek program baru di perusahaan. Rapatnya ngak bisa ditunda, apalagi ditinggal.” Hanna berusaha mencari alasan, supaya mama Denny tidak mencemaskan dirinya. Hanna tidak ingin Mama Denny berusaha mengatur hubungannya, apalagi sekarang sikap Denny yang dingin. Kalau sampai Mamanya ikut mencampuri malah Denny akan bertambah menolaknya.


Tidak lama orang yang mereka tunggu pun datang.


“Malam Ma,” Denny menyapa Mamanya dan duduk di samping Hanna.


“Hem, Denny, mama tahu kamu itu sibuk, tapi bisakan bagi waktu untuk keluarga. Sampai sekarang mama lihat kalian berdua saja, belum ada tanda-tanda kehadiran Sikecil. Mama ingin, melihat cucu mama sebelum mama tiada.” Wajah mama Denny terlihat lesu.


Hanna terkejut mendengar ucapan mama Denny, dia tidak menduga akan mendengar kata-kata itu.


“Ma, kita makan ya? Aku sudah lapar, dari tadi siang belum makan, menunggu makan di sini sama mama.” Hanna berusaha mengalihkan pembicaraan yang sama sekali di luar angan-angannya.


Denny mengepal kuat kedua tangannya yang tertumpu di atas pahanya. Permintaan yang tidak mungkin dapat dilakukannya. Hatinya masih belum bisa melupakan Indah. Kehilangan Indah terasa seperti baru semalam terjadi baginya.


Hanna melihat perubahan sikap Denny, timbul perasaan tidak enak dibenaknya. Mama Denny berkata disaat yang belum tepat. Hanna tidak tahu berbuat apa mencairkan suasana hati Denny. Dia mungkin terlalu berkhayal berbicara yang baik-baik tentang pernikahan mereka, sehingga mama Denny pun menyangka kalau mereka sudah bisa menjalin hubungan suami istri.


“Baiklah, kita makan sekarang, nanti bicaranya kita lanjutkan,” Mama Denny pun tidak melanjutkan ucapannya. Melihat Hanna sedikit memohon, dirinya tidak tega membiarkan Hanna menahan lapar lebih lama.


Mereka bertiga pun mulai makan. Denny tidak bisa makan dengan nyaman, ucapan mamanya masih terngiang di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2