Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 78 Serangan ke dua bagi Hanna dan Yanti


__ADS_3

Di kamar Deli, terlihat sedang merapikan pakaian di lemari.


“Kedua lelaki itu, Heh… satu sedang jatuh cinta, satunya lagi mengenang cinta lama. Iqbal, ya nama itu yang di ucap tuan Denny. Siapa dia, apa dia saudaranya atau hanya seorang pekerja? Aku akan menemui bik Surtik, pasti dia bisa memberitahuku.” Deli berbicara sendiri disela-sela kesibukannya.


Hari menjemput malam, perlahan hitam menyelimuti. Bik Surtik menghantar makan malam ke kamar Hanna.


“Tok, Tok, Tok,” terdengar pintu kamar di ketuk.


Denny menatap ke arah pintu dan beranjak dari sofa meninggalkan layar laptop menyala. Melangkahkan kaki mendekati pintu dan membukanya. Terlihat Bik Surti di balik pintu, berdiri dengan membawa nampan di tangannya.


“Tuan, ini makanan nyonya saya bawakan. Apa makanan tuan juga ingin saya bawakan ke sini?” Tanya Bik Surtik.


“Masuk Bik, nanti saya makan di bawah saja,” Denny membuka lebar daun pintu. Bik Surtik pun melangkah masuk.


“Tapi tuan, nyonya sedang tidur. Saya letakkan di meja saja makanannya?” Tanya Bik Surtik menatap Denny setelah melihat Hanna terbaring dengan mata tertutup.


“Kemarilah Bik, aku bisa mendengar suaramu,” ucap Hanna lemah, melihat Bik Surtik berdiri bersama Denny.


“Oh… kirain nyonya tidur.” Bik Surtik sangat senang dapat melihat dan mendengar suara Hanna. Setelah pulang dari rumah sakit siang tadi, bik Surtik tidak dapat berbicara dengan majikan kesayangannya itu. Dia sangat rindu bercampur khawatir melihat keadaan Hanna.


“Pergilah, dia memanggilmu,” ucap Denny meminta bik Surtik mendekati Hanna.


“Iya tuan.” Balas Bik Surtik dengan terseyum.


“Saya datang nyonya,” Bik Surtik melangkahkan kaki mendekati tempat Hanna terbaring.


Wajah Bik Surtik berubah sedih saat melihat Hanna dari jarak dekat. Putih pucat membingkai wajah Hanna. Wanita yang cantik dan ceria menjelma menjadi wanita berwajah lesu dan lemah.


“Nyonya, ini makanan bibik buatkan. Moga nyonya cepat sehat.” Ucap bik Surtik dengan mata berkaca-kaca.


“Terima kasih Bik, letakkanlah saya akan makan.” Hanna berusaha duduk bersandarkan kepala tempat tidur.


Bibik meletakkan makanan di pangkuan Hanna. Air mata menetes di sudut mata bik Surtik melihat tangan Hanna bergetar saat mengangkat sendok menyuapkan makanan ke mulutnya. Perlahan makanan masuk, dikunyah dan ditelan.


“Huweek, huweek,” makanan ke luar, termuntahkan di lantai samping tempat tidur.


“Nyonya, nyonyaa,” Bik Surtik berusaha merangkul tubuh lemah Hanna.


Denny berlari mendekati Hanna,


“Hannaaa,” Denny terkejut melihat cairan merah ke luar dari hidung.

__ADS_1


“Mas,” satu kata yang mampu ke luar dari bibir Hanna sebelum dia tidak sadarkan diri.


"Nyonyaaa," bik Surtik terisak, baginya ini kedua kali Hanna pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah.


“Bik, cepat panggil suster Deli ke kamar perawatan sekarang,” Denny merangkul dan menggendong tubuh Hanna. Langkah kaki membawanya ke kamar perawatan.


Bibik berlari menuju kamar Deli.


“Suster, Suster,” Bibik memanggil di balik pintu kamar Deli.


“Ada apa? Tanya Deli membuka pintu menatap panik wajah bik Surtik.


“Cepat ke kamar perawatan sekarang. Nyonya…, kata-kata bik Surtik tidak sempat selesai, tubuh Deli sudah bergerak cepat menuju kamar perawatan.


Denny membaringkan Hanna di tempat tidur. Membersihkan darah yang masih mengalir di hidung Hanna. Deli berlari mendekat melihat dan memeriksa kondisi Hanna. Bik Surtik masuk menyusul langkah Deli.


“Maaf Tuan, biarkan saya melakukan tugas saya,” Deli menatap dalam wajah Denny.


Seketika kaki Denny melangkah mundur, mengijinkan Deli melakukan pekerjaannya.


Tangan Deli dengan cekatan, meriksa denyut nadi dipergelangan tangan dan melihat reaksi pupil mata Hanna dengan sinar senter medisnya. Membuka kancing baju dan memperhatikan kulit tubuh Hanna. Terlihat bintik-bintik merah kecil mulai muncul di permukaan kulit.


Deli berlari mengambil sekantong darah dari lemari pendingin penyimpanan. Memasangkan selang dan jarum, lalu menusuk ujung runcing jarum ke tangan Hanna. Perlahan darah mengalir masuk.


“Hallo,” terdengar suara dari seberang menyapa panggilan Deli melalui pengeras suara ponsel. Deli menaruh ponsel di atas tubuh Hanna.


Denny memperhatikan sikap Deli, suara diseberang adalah dokter Harun. Deli berbicara sambil terus bekerja memasangkan alat bantu pernafasan oksigen ke hidung Hanna. Dia melaporkan kondisi keadaan Hanna. Tangannya tidak berhenti sampai di situ. Ujung jarum runcing kembali terpasang di tangan lain, cairan bening dari botol infus masuk ke tubuh Hanna. Terlihat keringat mengucur di dahi Deli, walau ruangan dilengkapi AC.


“Baik dokter. Tut, Tut, Tut.” Percakapan terhenti. Denny mendengar semua pembicaraan menggunakan bahasa medis, sebahagian besar tidak dimengertinya. Satu kalimat yang dicerna, Harun segera menuju rumahnya.


Iqbal berada di apartemen, terlihat membaringkan tubuh melepas lelah. Ponsel menempel di telinga melakukan panggilan.


“Hallo,” terdengar suara Yanti menerima panggilan.


“Kau di mana?” tanya Iqbal tanpa basa basi.


“Aku di kantor,” jawaban yang terdengar dari seberang.


“Jam segini masih di kantor?” Bisik batin Iqbal melirik jam menempel di dinding kamar.


“Apa yang kau lakukan, mengapa belum pulang?” Tanya Iqbal sambil beranjak dari tempat tidur, mengambil kunci mobil di atas meja nakas. Lalu tangannya mengambil jaket yang tergantung. Langkah kaki membawanya cepat ke luar apartemen.

__ADS_1


“Aku masih membuat laporan, yang harusku serahkan,” ucap Yanti dengan nada malas, karena pekerjaan itu membebaninya dari siang kepulangannya hingga malam. Bosnya meminta membuat salinan perbaikan berulang kali. Dia sendiri tidak tahu, kenapa bosnya bersikap sensitif padanya hari ini.


“Kau sudah makan?” Iqbal terus berbicara dengan bantuan headset, sedang dirinya mengemudikan mobil.


“Hem…., aku lupa kalau belum makan. Perutku hanya diisi dengan cairan kopi, agar aku bisa terus bertahan sampai laporan ini selesai.” Jawab Yanti masih menatap fokus layar komputer di depannya.


“Apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit, aku tidak ingin kekasihku menyiksa diri dengan pekerjaan hingga lupa makan,” suara Iqbal terdengar tinggi, karena kesal mengetahui Yanti tidak memperdulikan kesehatannya. Iqbal semakin menekan pedal gas, beruntung jalanan lengang di malam ini karena kendaraaan sedikit berlalu lalang.


“Wah….tuan Iqbal, sejak kapan aku mengakuimu sebagai kekasih?” Wajah Yanti merona merah mendengar kata-kata perhatian dari Iqbal.


“Nona Yanti, ternyata kau tidak henti-hentinya melecehkan diriku. Ternyata kau tidak takut, hukuman yang sudah kuberikan di Singapura? Atau kau lupa, dan aku perlu mengingatkan kembali?” Iqbal menarik senyum di bibirnya.


“Hem…,” seketika mata Yanti membesar dan kedua tangannya menutup mulut. Sekelebat ciuman Iqbal menari-nari di otaknya.


“Kau tidak akan bisa melakukannya lagi,” ucap Yanti dengan menggigit bibirnya. Wajahnya semakin meroda merah.


“Jangan menantangku Nona, kau belum mengenalku dengan baik,” Iqbal semakin mempercepat langkahnya setelah mobil terparkir di depan perusahaan dan masuk ke dalam lift.


“Tuan Iqbal, aku tidak menantang. Aku hanya memperingatkan, kalau kau berani melakukannya lagi maka aku,” Yanti tidak melanjutkan kata-katanya, dia berhenti sejenak dan memutar matanya ke seliling. Dia menghembuskan napas panjang, menyadari dirinya masih sendiri di ruangan itu. Kembali matanya fokus ke layar komputer.


“Apa yang akan kau lakukan padaku, kalau aku berhasil melakukannya lagi , hah?” Tanya Iqbal, langkah kakinya sudah ke luar dari lift dan menuju ke ruang Yanti.


“Aku akan menuntutmu karena telahhhh, Auuu,” Yanti terkejut, kursinya berputar ke belakang hingga tubuhnya ikut berbalik.


“Kau ingin menuntutku?” Iqbal merapatkan wajahnya ke wajah Yanti dengan kedua tangan mencengkram kedua tangan kursi.


“Kau, bagaimana bisa?” Yanti terkejut, melihat Iqbal sudah berada di depanya. Jantungnya berpacu cepat tanpa diundang.


“Sudahku katakan jangan melecehkan dan menantangku,” Denny menarik ke dua tangan Yanti.


Iqbal mendaratkan ciuman untuk ke dua kalinya ke bibir Yanti, tak mau kalah Yanti membalasnya dengan hangat. Merasakan Yanti semakin larut dalam ciuman, Iqbal melepaskan bibirnya dan memeluk tubuh Yanti.


“Aku menungggu tuntunanmu Nona, tapi sebelumya mari ikut aku,” Iqbal melepaskan pelukan dan menarik tangan Yanti mengikuti langkahnya.


“Tunggu,” Yanti menahan langkahnya.


“Kenapa?” Tanya Iqbal heran.


“Tasku tuan Iqbal,” Senyum Yanti menatap Iqbal, lalu meraih tas dan ponsel di atas meja.


“Laporanmu?” tanya Iqbal menggoda.

__ADS_1


“Kau ini, biarkan saja. Paling aku akan diskors atau di kirim ke pulau antah berantah.” Canda Yanti sambil berlalu menarik tangan Iqbal beranjak ke luar dari kantor.


__ADS_2