
Jesika mematut diri di depan cermin ruang toilet. Menatap sendu wajahnya, sedangkan di kepala memikirkan cara menghilang dari lelaki yang selama ini dia hindari.
Jesika meraih ponsel dari tas kecil yang berselempang di pundaknya.
“Hallo, mengapa baru sekarang menelponku?” Suara di seberang terdengar lembut menyapa yang sangat perduli selama ini padanya.
“Dia ada di sini, bersama putri dan tunangannya,” suara Jesika terdengar lirih. Denny telah bertunangan dan segera akan melangsungkan pernikahan. Kabar itu dia dapat dari perkenanlannya, pertemuan kedua di depan pintu toilet dengan perempuan yang berada di kamar Denny tadi malam.
“Tunangan? Apa kau tidak salah, dia pengusaha sukses terkenal. Kalau dia sudah bertunangan, pasti beritanya akan membanjiri seluruh jaringan media.” Suara dari seberang terkejut mendengar ucapan Jesika. Dia tidak yakin kalau itu suatu kebenaran.
“Apa yang tidak bisa dia lakukan. Peristiwa sepuluh tahun lalu, pernikahanku dengannya tidak terdaftar secara sah. Tuan Denny Prasetyo bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Dia belum berubah, masih sama seperti dulu.” Sudut kedua mata Jesika mengalir air bening. Dia sudah melupakan lelaki itu, tapi rasa sedih seketika mengalir begitu saja mengetahui lelaki itu akan menikah lagi.
“Jangan membuat kesimpulan sendiri, kau yang pergi meninggalkannya. Baginya kau telah tiada seperti kau inginkan. Dia hanya melanjutkan hidup seperti kebanyakan orang.” Suara lelaki dalam ponsel terkesan membela Denny, karena dia tahu Denny tidak bersalah. Denny tidak mengetahui kebenaran yang dirahasiakan selama ini.
“Ya benar, aku pergi dan ingin melupakannya. Aku terdengar bodoh, untuk apa aku peduli dengannya. Aku harus kembali sekarang, Saka menungguku di luar sendirian.” Jesika mengakhiri pembicaraan dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Dia pasti sudah melihatku. Ucapannya masih bisa ku ingat dengan jelas, dia akan membenci bila melihatku karena tidak mempercayai dan mempertahankan cintanya. Aku akan terus bertahan menjadi Jesika, selesai pertandingan aku akan secepatnya membawa Saka pergi. Jesika menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan. Mengumpulkan kepercayaan diri ke luar dari toilet. Dia tahu, seseorang akan sangat mengawasinya saat dia melangkah ke luar. Tangan Jesika meraih pegangan pintu dan membukanya lebar. Dia pun melangkah ke luar dengan bersikap sewajar mungkin terus mendekati Saka.
“Dia telah ke luar, ada apa dengannya, hampir satu jam dia berada di dalam. Denny melirik jam melingkar di tangan. “Apa terjadi sesuatu? Apa dia baik-baik saja?” Mata Denny tajam menatap, memperhatikan setiap gerak gerik perempuan diyakininya sebagai Indah. Dia sangat ingin bertemu dan mendekatinya, tapi dia masih menahan diri.
Saka menatap Jesika yang terlihat tegang sejak ke luar dari ruang toilet.
“Ma…ada apa? Mama baikkan?” Saka mengkhawatirkan perubahan yang terjadi, Jesika terlihat gugup dan gusar.
“Mama ngak pa-pa sayang, hanya sedikit pusing. Kamu udah selesai makan? Kita akan pergi sekarang,” Jesika tersenyum berusaha tenang di hadapan Saka. Putranya sangat tahu kalau dia tidak bisa berbohong.
“Hemm,” Saka menganggukkan kepala membalas tatapan Jesika.
““Ada sesuatu mengganggu pikiran mama, aku tidak yakin kalau Mama baik-baik saja,” Dia beranjak dari tempat duduk dan mengikuti langkah Jesika dari belakang. Keduanya melangkah ke luar dari restoran.
Melihat kedua orang yang diawasinya pergi, Denny berdiri dan menggendong tubuh Nia.
“Ayo kita pergi, pertandingan akan segera dimulai.” Denny mengajak Deli secepatnya pergi, dia tidak ingin kehilangan kesempatan. Deli mengikuti langkah kaki Denny yang tergesa-gesa melangkah.
“Masih ada waktu tiga jam lagi. Kenapa harus terburu-buru? Kita bisa menghabiskan waktu melihat-lihat yang lain sebelum pertandingan.” Deli memegang tangan Denny dan menahan langkahnya. Pandangan Denny masih tidak lepas dari kedua orang yang jauh di depannya.
“Aku tidak memaksamu ikut, kau boleh melakukannya sendiri.” Denny kembali melanjutkan langkahnya. Nia sangat senang, merasa Denny sama sepertinya sangat ingin segera menyaksikan perlombaan. Sedangkan Deli dengan langkah terpaksa mengikuti Denny, dia tidak ingin jauh dari laki-laki itu. Kesempatan seperti ini sangat dinanti-nanti menghabiskan waktu bersama, tapi keinginannya tidak terwujud seperti yang diharapkan.
__ADS_1
“Mau kemana dia, aku harus bisa menyusulnya?” Denny mempercepat langkah, orang yang sangat ingin dijumpainya hanya tinggal beberapa meter di depan.
“Aduh,,,” Suara Deli meringis kesakitan.
“Tante Del, tante kenapa?” Nia menoleh kebelakang dan melihat Deli sedang jongko mengusap-usap kakinya.
Denny tidak menghiraukan, tapi Nia sangat gelisah dalam gendongannya. Langkah kakinyapun terhenti, dengan berat hati Denny membalikkan tubuh ke belakang mendapati Deli masih diam berjongkok memegangi kaki.
“Pa, kita lihat tante, dia kesakitan,” Nia menggoyang-goyang tubuh berusaha Denny mendengarkan ucapannya.
Denny melangkah mendekat, menurunkan Nia dari gendongannya. Berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Deli.
“Kau baik-baik saja?” Denny bertanya lembut dan menatap Deli yang masih meringis kesakitan.
“Kakiku keram tiba-tiba, aku kesulitan berjalan. Bisakah duduk di sana sebentar, setelah beristirahat kakiku akan baikan,” Deli menunjuk ke arah sebuah tempat yang menyediakan tempat duduk seperti taman kota. Kelihatan ada beberapa orang yang menggunakan waktunya duduk bersantai di sana.
“Mari aku bantu,” Denny memegang tangan Deli dan membantunya berjalan. Sebuah senyum tersembunyi di wajah Deli menerima sikap perhatian Denny.
Nia jalan berjajar dengan Deli di samping lainnya sambil memegang tangan. Pemandangan itu sangat enak dan serasi dilihat seperti sepasang suami istri berjalan dengan putrinya.
Jesika dan Saka kembali ke hotel dan masuk ke dalam kamar. Waktu masih menyisakan beberapa jam lagi sebelum pertandingan dimulai. Jesika meminta Saka menggunakan waktunya untuk berlatih. Perhatian Saka pun terpusat dengan tablet di tangannya. Jesika membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya kembali teringat wajah Denny.
Di taman, Denny duduk pandangan menatap jauh ke depan. Bayangan Indah menari-nari di kepalanya.
“Aku yakin itu kau,” Denny menarik nafas dan melepasnya kasar, menoleh ke arah Deli yang asik berbicara bersama Nia.
“Ayo kita pergi sekarang, pertandingan akan segera dimulai,” Denny berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Nia. Senyum menggaris di bibir kecil Nia, memberkan tangan menyambut tangan Denny.
Bertiga mereka melangkah menuju hotel tempat pertandingan berlangsung.
“Hore, kak Saka aku datang! Ups….” Dania keceplosan berbicara dan spontan tangan kecilnya menutup mulut. Langkahnya terhenti dan pandangannya menarik ke arah Denny. Deli menghembus nafas berat, mendengar kecerobohan Nia. Pandangan Denny menghujam ke arah Deli dan Dania.
“Dania, sepertinya ada yang papa tidak tahu, kamu merahasiakan sesuatu sayang?” Denny berjongkok menghadap Nia dan menatap penuh selidik.
“Maaf Pa,” Nia tidak bisa lagi menutupi kebohongannya.
“Hemmm?” Denny semakin menekankan tatapannya dengan mengerutkan kedua alis mata.
__ADS_1
“Nia menyelinap ke luar tadi malam saat kau tertidur, dia pergi sendiri melihat pertandingan. Jangan salahkan dia, kita juga ke sinikan ingin menuruti keinginannya. Tadi malam kau sangat lelah, jadi dia tidak ingin mengganggumu.” Deli membantu Nia yang kesulitan menjelaskan dengan wajah tertunduk.
“Nia, lihat papa.” Denny masih menunggu kata-kata ke luar dari mulut Nia.
Nia mengangkat wajahnya dengan tatapan bersalah.
“Pa, Nia salah, ngak akan buat lagi. Janji!?” Nia mengajungkan telapak tangan dengan merapatkan kelima jarinya ke hadapan Denny.
“Oke, kali ini dimaafkan, tapi lain kali kamu akan menerima hukuman.”
“Plak, huuuuh. Tangan Denny menepuk tangan Nia, jari telunjuk keduanya saling bergantian mencolek hidung. Memberikan hembusan di atas telapak tangan sebagai tanda perjanjian di buat antara keduanya.
“Makasih Pa,” Nia memeluk Denny dengan hangat.
Denny menggendong Nia dan mereka kembali melanjutkan langkah. Terdengar pembicaraan antara
Denny dan Nia sepanjang perjalanan. Denny menanyakan bagaimana Nia ke luar, pergi ke mana, bertemu dengan siapa dan bagaimana dia kembali ke kamar. Dengan polos Nia menceritakan semua, Denny tersenyum senang mengetahui pertemuan Nia dengan perempuan yang sangat ingin ditemuinya.
Di ruang pertandingan, Saka sudah duduk di kursi menghadap layar monitor. Jesika menggenggam kedua tangannya, pandangannya penuh menatap Saka.
“Tuhan, berikan hasil yang terbaik untuk putraku,” Jesika berbisik di dalam hati mendoakan putra tercintanya.
“Tettttt,” bel pertadingan di mulai.
Suasana menjadi hening dan menegangkan, para peserta terlihat fokus menatap layar monitor dengan tangannya menggenggam stick game. Pertandingan terlihat menegangkan, metode pertandingan dirubah. Sebelumnya para pemain ditantang menyelesaikan sebuah level dan melanjutkan ke tingkat level berikutnya sampai batas waktu habis. Pemain yang berhasil meraih level tertinggi menjadi pemenangnya. Pertandingan kali ini pemain harus mendapatkan skor setinggi-tingginya dalam waktu tujuh puluh lima detik. Pemain harus beradu cepat menyusun deretan angka yang diberikan. Sekali saja melakukan kesalahan dinyatakan gugur.
Sepuluh peseta mengikuti babak final, dalam waktu sepersekian detik banyak peserta yang gugur.
“Yes, yes, yes,” Saka berdiri kegirangan layar monitornya dipenuhi warna menandakan dia berhasil memenangkan perlombaan. Jesika berlari mendekat dan memeluk Saka dengan penuh kegembiraan.
“Selamat sayang, kamu berhasil,” Jesika mencium pipi Saka berkali-kali.
“Ma, aku berhasil, ini kemenangan untuk mama,” Saka berteriak gembira memeluk Jesika.
Pemandangan itu terlihat sangat mengharukan, sepasang mata berkaca-kaca menyaksikan dan melangkah mendekat.
“Selamat,” suaranya mengalihkan perhatian Jesika dan Saka.
__ADS_1
“Pa…, papa di sini. Lihat pa, Saka menang.” Saka menghambur pelukan ke arah lelaki yang baru dilihatnya datang menghampiri. Mata Jesika ikut melirik dan menatapnya tersenyum.