Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 85 Bukan Halusinasi


__ADS_3

Hai readers, senang kalian masih setia menanti kelanjutan cerita aku.


Dukungan kalian penyemangat aku dalam menulis.


Aku sangat berterima kasih dan tak jemu-jemu juga aku berharap kesetiaan kalian memberikan like, vote, favorit dan komentarnya.


Selamat membaca 😘😘😘


***********************************


Denny berpikir keras, perang batin terjadi dalam dirinya. Memicit sedikit keningnya terasa pusing akibat pengaruh dari sisa-sisa alkohol. Langkah kaki Denny menghampiri tempat tidur Nia. Mendaratkan punggung di tepi tempat tidur dan mengelus perlahan rambut Nia.


“Apa aku berhalusinasi seperti ucapan Iqbal?”Denny mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ke esokan hari, di kamar Jesika terlihat Saka sudah rapi berbalutkan baju kaos berlengan panjang dipadu dengan sebuah jaket dan bawahan celana Jeans.


“Mau kemana Saka? Tanya Jesika menatap Saka hendak melangkah pergi ke luar kamar.


“Mau ke kamar Dania Ma. Dia semalam sangat ketakutan, aku ingin mengetahui keadaannya.” Saka tidak tahu mengapa setelah kejadian tadi malam dia sangat ingin mengenal Dania.


“Jangan ke sana. Kita lupakan saja kejadian tadi malam. Kamu harus fokus dengan pertandingan.” Jesika harus melarang Saka ke kamar Denny dan secepatnya membawa pergi setelah pertandingan usai.


“Saka merasa bersalah telah mengajak Nia kepertandingan bukan malah mengantarnya kembali ke kamar. Papanya akan marah setelah dia tahu Nadia ke luar tadi malam.” Saka menatap dalam wajah Jesika, pikirannya membayang wajah lelaki yang terbaring lemah setelah mabuk. Lelaki pemabuk biasanya memiliki prilaku kasar dan suka marah. Saka khawatir Nia akan menerima prilaku kasar lelaki itu.


“Nia masih kecil. Papanya sangat menyayangi dan akan memaafkan Nia. Mama yakin itu, dan kamu jangan khawatir, oke?” Jesika mengelus lembut pucuk kepala Saka. Dia berusaha meyakinkan, karena tidak ingin Saka bertemu dengan Denny.


“Hem….,” Saka menganggukkan kepala, dan mempercayai omongan Jesika. Dia harus menuruti ucapan Jesika dan tidak ingin melawan hingga membuat Jesika sedih.


Di kamar lain, Nia terbangun dari tidurnya dan bayangan peristiwa tadi malam langsung melintas di kepalanya. Rasa takut masih menyelimuti kalau Denny akan marah setelah tahu dia ke luar kamar tadi malam. Dia memutar pandangan sekeliling dan tidak melihat Denny maupun Deli di kamar.


“Papa dan tante Deli kok ngak ada. Mereka di mana?” bisik Nia berbicara sendiri dalam hatinya.


Seketika tarikan mata Nia melirik Denny baru ke luar dari kamar mandi dan telah mengenakan pakaian rapi. Nia memejamkan mata dan berpura-pura tidur kembali. Terdengar langkah kaki Denny semakin mendekat dan terasa keningnya mendarat sebuah kecupan hangat.


“Kamu tidak ingin bangun sayang? Katanya ingin lihat pertandingan, papa sudah pesan tempat paling depan untuk kamu.” Denny menarik selimut Nia dan memegang tangannya. Dia tidak ingin Nia kecewa melewatkan pertandingan yang sangat ingin dilihatnya.


“Papa ngak marah? Apa papa ngak ingat kalau aku tadi malam ke luar kamar?” Nia berpikir dalam diamnya, merasakan kehangatan Denny membangunkan dirinya. Perlahan Nia membuka kelopak mata dan menatap Denny yang menghadiahkan senyuman di hadapannya.


“Pa, Nia sayang papa,” Dania bangun dan memeluk erat tubuh Denny.


“Muahhh, papa juga sayang kamu. Ayo bangun, kita mandi dan setelah itu cari sarapan di luar. “Denny menggendong Nia dan membawanya ke kamar mandi. Dia harus mengurus Nia sendiri, karena tidak ada bik Surtik yang membantunya.

__ADS_1


Deli sudah berada di depan pintu kamar Denny, dan menekan bel beberapa kali tapi pintu tidak terbuka.


Tangannya meraih ponsel dan jarinya terlihat sibuk. Beberapa kali panggilan terlewatkan begitu saja. Wajah Deli mulai menegang dan rasa marah mulai membingkai dirinya.


“Kau di mana, mau mengabaikanku? Kau akan menyesal tuan Denny,” Deli mulai kesal dan mengetuk pintu kamar dengan keras tidak menghiraukan keributan yang dibuatnya.


“Tante Del,” suara yang sangat dikenalnya memanggil. Deli menoleh ke samping dan melihat Nia dalam gendongan Denny.


“Ada apa denganmu?” Denny melihat Deli heran dengan kemerahan terpancar jelas di wajahnya.


“Kalian dari mana? Aku menelpon tidak kau angkat,” suara Deli terdengar meninggi karena kesal, sedang kedua orang dihadapannya tersenyum bahagia melihat kebodohan dirinya.


“Ponselku tinggal di kamar, kami mau menjemputmu. Tapi aku lupa nomor kamarmu” jawab Denny sekenaknya menatap Nia dengan tersenyum.


“Iya tante Del, papa lupa nomor kamar tante dan kami harus balik ambil ponsel. Papa mau telpon tante dan jumpa di bawah. Kita pergi makan sama-sama, gituloh tante,” Nia menjelaskan dengan polosnya membuat amarah Deli mereda.


“Nia, kamu temani tante Deli, papa ambil ponsel di dalam,” Denny menyerahan Nia dalam gendongan Deli sambil menyunggingkan senyuman.


“Kalian hampir membuat jantung tante meledak,” gumam Deli menatap Nia dengan wajah cemberutnya.


“Nia bisa lihat kok, wajah tante sangat merah tadi sampai mata tante mau keluar,” Nia meledek Deli merasa lucu karena wajahnya sangat memerah.


“Kau mengejek tante? Sepertinya ada yang tidak tante ketahui antara papa dan kamu, hemmm jangan-jangan papa kamu lupa dengan kejadian tadi malam?” Deli balik balas menggoda Nia. Dia sangat malu anak sekecil Nia bisa mengejek sikap bodohnya.


“Tante, papa tidak ingat kejadian tadi malam, jadi tolong ini jadi rahasia kita berdua, ya?” Nia memasang wajah memelas. Dia mengharapkan kerjasama dengan Deli merahasiakan perbuatannya.


“Hem, tante pikir-pikir dulu,” Deli gemas melihat sikap memelas Nia dan masih menggodanya.


“Tante, please?” Nia mengacunkan kedua tangan dengan menunjukkan kedua jarinya sebagai simbol berdamai.


“Baiklah, tapi kamu harus nurut sama tante, oke?” Deli berhasil membuat kesepakatan dengan Nia. Dia memang pandai mengambil hati anak kecil itu.


“Oke tente,” Nia mencium pipi Deli dengan senangnya merasa ada seseorang dipihaknya dan menjaga rahasianya.


“Apa yang kalian bicarakan, sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan?” Denny menatap wajah keduanya dengan rasa ingin tahu setelah dia ke luar dari kamar dan menatap keduanya penuh kegembiraan.


“Tidak ada, kita membahas makanan yang akan kita makan nanti, iyakan Nia?”Deli memaikan sudut matanya dengan memberikan sedikit kedipan.


“Iya pa, ayo kita pergi. Nia udah laper ni,” Nia mengerti isyarat yang diberikan Deli. Nia menarik lengan baju Denny dan memintanya segera pergi. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan kamar.


Sampai di restoran, bertiga mereka duduk bersama, Deli menghadap Denny yang bersampingan dengan Dania. Makanan telah sampai, mereka memilih menu yang sesuai dengan lidah ketiganya. Di negara matahari terbit itu tidak susah mencari makanan selera nusantara, karena ada beberapa restoran yang buka khusus menyediakan menu makanan Indonesia.

__ADS_1


Ketiganya terlihat menikmati makanan mereka tanpa ada yang berbicara. Denny tidak suka berbicara saat makan. Suasana menjadi sangat hening menyelimuti. Tapi seketika ekor mata Denny menangkap sesuatu. Sendok di tangan terhenti di depan mulutnya. Melihat seorang perempuan berjalan bergandengan dengan anak lelaki. Denny memejamkan mata dan membuka, itu beberapa kali dilakukannya.


“Aku tidak berhalusinasi saat ini,” bisik batin Denny menatap tajam, dia pun melanjutkan makannya dengan tenang. Matanya tetap terus mengawasi tanpa mengalihkan pandangan ke tempat lain.


“Ma, kita duduk di sana aja, aku suka duduk menghadap ke luar bisa sambil melihat-lihat,” Saka menunjuk tempat duduk yang menghadap kaca transparan. Matanya ingin menyaksikan suasana di luar saat menikmati makanan. Langkah kaki keduanya mendekati meja yang dimaksud dan mereka pun duduk.


Denny memperhatikan keduanya yang duduk tepat membelakangi mereka.


“Pa, Nia mau ke kamar mandi?” Nia menunjukkan jari kelingkingnya, kata-kata Nia mengalihkan perhatian Denny dan teringat seseorang juga pernah mengacungkan jari seperti itu terhadapnya. Senyum Denny seketika merekah, peristiwa yang pernah membuatnya sangat malu dan mentertawai dirinya sendiri.


“Baiklah, ayo papa temani,” Denny berdiri dan meraih tangan Nia. Tapi Deli menepisnya dan mengambil tangan Nia.


“Biar aku menemaninya, apa kau mau masuk ke toilet perempuan dan membuat kehebohan di sana?” Deli melirik dari sudut matanya dan membawa Nia berjalan menuju toilet.


Denny hanya tersenyum mendengar kata-kata Deli yang menyadarkan dirinya. Dia hampir berbuat kebodohan dan akan menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya. Mata Denny kembali mengamati kedua insan yang sendang asik menikmati makanan.


Terlihat sang perempuan menunjukkan jari kelingkingnya, Denny kembali tersenyum.


Arah matanya tidak lepas mengamati gerak tubuh itu menuju toilet, seketika matanya membesar saat melihat Deli dan Nia saling menyapanya dengan akrab.


“Aku pastikan padamu Iqbal, aku tidak berhalusinasi saat ini,” Denny meraih ponsel dari dalam saku jaketnya dan berhasil mengabadikan beberapa foto lalu mengirimkan kepada Iqbal.


“Drek, Drek, Drek,” irama ponsel berbunyi dalam genggaman tangan Denny. Terlihat nama Iqbal di layar ponsel dan jari jempol Denny menggeser simbol hijau.


“Dia memang sangat mirip dengannya,” terdengar suara Iqbal dari seberang. Setelah mendapat kiriman foto dari Denny, Iqbal bersyukur ternyata Indah ditemukan. Dia belum bisa mengungkapkan sebenarnya, tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskan dengan Denny. Dia harus berhati-hati merangkai kata, karena masalah ini melibatkan banyak orang dan dirinya tanpa dia sadari ikut tertarik di dalamnya.


“Hemm, aku tidak berhalusinasi seperti dugaanmu. Tut, tut, tut.” Denny memutuskan panggilan dan membalas tuduhan Iqbal dengan satu kosong.


Denny masih mengamati ketiganya. Dania dan Deli berpisah lalu kembali berjalan menuju meja Denny.


Keduanya kembali duduk di tempatnya.


“Siapa yang kalian ajak bicara, sepertinya sudah kenal dekat?” Tanya Denny penuh selidik menjatuhkan pandangannya tepat ke mata Deli. Bayangan peristiwa tadi malam terlintas di kepalanya. Tapi dia berusaha berpura-pura tidak mengingatnya.


Tarikan mata Nia menatap Denny dan Deli bergantian. Dia yakin yang dimaksud Denny adalah Jesika yang baru saja mereka berjumpa.


“Siapa, di depan toilet tadi, kau mengawasi kami?” Deli berusaha mengalihan pembicaraan, kerena dia sudah berjanji akan menjadi rahasia Nia. Apabila dia menceritakan, berarti rahasia Nia akan terbongkar.


“Iya, aku melihat kalian sangat akrab,” Denny masih menunggu jawaban Deli.


“Ohhh…, aku hanya berusaha ramah saja, karena aku merasa dia juga sama sepetri kita pengunjung di negara ini,” Deli mengarang sebagai alasan agar Denny tidak banyak bertanya lagi. Mata Deli menatap Dania dengan memberikan senyuman, mengisyaratkan kalau Dania dapat mempercayainya.

__ADS_1


“Oh begitu, aku juga ingin ramah kepadanya, sebagai tanda bahwa kita bisa berteman di negara asing ini,” Denny ingin mendekatkan diri. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan.


__ADS_2