Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 88 Tidak Merindu apalagi Mengharapkan Kembali 1


__ADS_3

“Kau, tidak menahan istrimu berbicara dengan lelaki lain?” tanya Deli heran dengan sikap Hendrik yang tenang.


“Hemmmm,” Hendrik menggelengkan kepala memberikan jawaban.


“Kenapa?” Deli masih diselimuti dengan rasa ingin tahu.


Dia mendaratkan tubuhnya kembali di atas kursi menantikan jawaban. Hendrik mengangkat tangan memanggil pelayan. Langkah kaki pelayan menuju mereka dan menghampiri. Sang pelayan menyapa dengan ramah, dan pergi kembali setelah Hendrik memesan minuman.


“Kau tunangan Denny?” Hendrik tidak menjawab malah memberi pertanyaan dengan tatapan menyelidik. Gadis cantik di hadapannya mengalihkan pandangan tidak berani menatap. Dia tahu kalau gadis itu berbohong. Pertanyaan Hendrik membuatnya gugup.


“Huem,” Deli menjawab pelan tidak membuka mulutnya, tapi terdengar jelas di telinga Hendrik. Di dalam hati mengutuk kebohongan yang telah dibuatnya. Dia tidak tahu mengapa mulutnya bisa berucap pada Jesika mengaku sebagai tunangan Denny. Jesika membuat Denny berlari mencarinya malam itu saat tersadar dari mabuk. Deli sangat kesal melihat sikap Denny.


“Kau berbohong,” Tuduhan Hendrik membuat Deli semakin gugup. “Jangan mengarang, Denny tidak akan bertunangan dengan gadis yang tidak dia cinta,” Hendrik semakin menekankan kalimat terakhir.


“Kau mengenal Denny?” Deli balik bertanya, rasa ingin tahunya kembali muncul.


“Iya,” Jawab Denny santai. Mata Hendrik menatap pelayan yang datang membawa minuman. Meletakkan di atas meja dan berlalu pergi meninggalkan mereka. “Minumlah,” Denny melihat gelas sang gadis masih berisi.


“Jesika juga mengenalnya?” Deli tidak menghiraukan minuman yang tersaji.


“Sangat, sangat mengenalnya,” Hendrik meneguk sedikit minumannya. Mata Deli membesar mendengar jawaban. Hendrik menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Menatap bayangan wajah Jesika dalam gelas dari pantulan warna kuning keemasan.


Di luar restoran, Jesika terus mempercepat langkahnya.


“Indah…ah Jesika…., kau sangat bodoh. Seharusnya kau tetap duduk di sana, tetap berpura-pura tidak mengerti ucapannya. Sekarang, dia curiga dan mengikuti.” Dia menepuk kening dan berbicara dalam hati sendiri. Telinganya bisa mendengar langkah kaki yang ikuti.


Denny mengulurkan tangan, menggapai tangan gadis di hadapannya. Memegang dan menarik dengan langkah memimpin di depan.


Jesika terkejut, tubuhnya ikut tertarik membawa langkah kaki mengikuti Denny. “Lepaskan, apa yang kau lakukan? Lepaskan, kau akan menyesal berbuat kasar padaku.” Dia berusaha menepis dan melepaskan pegangan tangan Denny. Usahanya sia-sia, tangan Denny menggenggam erat.


Denny melirik pintu ruang tangga darurat, lalu membawa langkahnya menuju ke sana. Pintu di dorong kuat, dan berdua melewati pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali.


Jesika terdorong ke dinding, kedua tangan Denny mencengkram dinding di kiri-kanan tubuh Jesika. Jarak kedua wajah sangat dekat dengan tatapan Denny menyelami mata Jesika.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, kita tidak saling mengenal. Kau sangat kasar, perbuatanmu akan kulaporkan.” Suara Jesika meninggi, dia takut dan tubuhnya gemetar. Lelaki di hadapannya siap melahapnya bulat-bulat saat ini. “Dimana kau Hendrik, kenapa kau tidak menolongku?” Jesika merutuki Hendrik di dalam hati, membiarkan Denny membawanya pergi.


Denny menyeringai mendengar ocehan Jesika. Otaknya memutar kembali kenangan sepuluh tahun silam.


“Kau gemetar, apa yang kau takutkan? Kau takut padaku?” Denny sangat ingin memeluk gadis yang sangat dia rindu. Hatinya membuncah, hasratnya telah sampai keubun-ubun. Wajah yang selama ini takut dia lupakan sekarang ada di hadapannya.


“Tidak, aku tidak takut. Apa yang kau inginkan?” Jantungnya memompa semakin cepat, tak sanggup menahan tatapan tajam berubah luluh menjadi kerinduan.


“Kau.” Jawab Denny pelan.

__ADS_1


“Kau sudah gila,” Jesika berusaha menahan diri, dia harus dapat bertahan dalam kepura-puraan.


“Ya, aku gila. Aku ingin membencimu tapi aku tidak bisa. Aku bahkan takut melupakan wajahmu. Kenapa kau tidak mempercayaiku dan bertahan di sisiku? Siapa kau yang berani mengatur dengan siapa aku harus hidup? Kau menipuku, dengan kematian? Kau sangat keterlaluan.” Denny menahan amarah, menundukkan kepala hingga menempel di kening Jesika.


“Siapa yang kau bicarakan?” Jesika masih membangun benteng pertahannya. Dia tidak ingin kembali ke masa lalu. Tatapan kedua mata bersatu hanya berjarak satu inchi saja.


“Kau jangan berpura-pura lagi. Aku sudah tahu segalanya. Walau Hanna tidak memberitahu, tapi aku mengetahuinya secara tidak sengaja. Aku ingin berlari mencarimu, tapi kau berhasil mengikatku dengannya. Maafkan aku tidak setia, tolong maafkan.” Denny mindahkan kedua tangan memegang pipi Indah. Hidung mereka bersatu berbagi oksigen bersama.


“Kau salah orang tuan, aku bukan orang yang kau maksud.” Jesika menepis kedua tangan Denny, menolak tubuhnya dan melangkahkan kaki menjauhi Denny.


Denny berbalik, menarik lengan Jesika dan memeluknya erat dari belakang.


“Aku rindu, sangat-sangat rindu. Sampai kapan kau akan menghilang? Kembalilah, kau sudah cukup berkorban. Jangan lakukan lagi, kau menyiksaku hingga aku ingin mati. Aku sangat mencintaimu,” Wajah Denny mendekat dan dagu Denny bertengger di bahu Jesika. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya.


“Maafkan aku telah pergi, dia lebih membutuhkanmu dari aku. Hanna juga bukan satu-satunya alasan aku harus pergi. Maafkan aku dengan keputusanku. Aku sudah memilih jalanku. Jalan kita berbeda, kita tidak bisa bersatu. Lanjutkan hidup mu, aku hanya masa lalu dan lupakan diriku.” Kata-kata yang tidak sanggup diucapkan. Dia hanya berdiri membisu dan mampu berujar di dalam hati. Dia tidak ingin menerima tatapan benci Mama Denny dan ancaman bila dia bersatu dengan Denny kembali. Kebahagian hidup bersama Denny tidak berpihak padanya. Dia hanya sebagai persinggahan singkat, bukan tempat berlabuh.


Denny mengendorkan pelukan, membalikkan tubuh menghadapnya kembali dan mengangkat wajah menatap manik hitam gadis pujaan.” Indah, kembalilah padaku. Kumohon jangan pergi lagi. Kasihanilah hatiku yang patah. Bisakah kau berkorban untuk hidup bersamaku?” Air mata mengalir dari sudut mata Denny yang sendu. Hatinya sangat sakit, pengobat sakitnya hanya satu yaitu gadis berdiri di hadapannya.


“Siapa Indah? Apa dia mirip dengan wajahku? Dasar wajahku sangat pasaran, mungkin aku harus melakukan operasi plastik setelah kesalah pahaman ini.” Jesika membuat kata-kata penangkis berharap Denny percaya dan melepaskannya.


“Tutup mulutmu, jangan menyangkal lagi. Ku mohon, kembalilah menjadi dirimu jangan hidup dalam kepura-puraan. Namamu bukan Jesika, kau Indah istriku,” tatapan mata Denny memohon. Dia tidak mungkin salah, dia tahu Indah merubah namanya menjadi Jesika.


“Ohhhh tuan, jangan teruskan kesalah pahaman ini. Kau akan berhadapan dengan lelaki di luar sana. Dia tidak akan menerima pernyataanmu.” Lagi-lagi Jesika membuat alasan menangkis ucapan Denny. Otaknya harus memikirkan cara lepas dari Denny.


“Ya aku memang Indah, maafkan aku. Lebih baik seperti ini, jangan mengharapku kembali,” Indah diam masih berkata-kata di dalam hati, tidak menjawab membiarkan Denny dengan dugaannya.


“Diammu adalah jawaban. Kau membalasku karena menikahi Hanna? Tapi itu maumukan? Kau menginginkan itu, aku mendampingi dalam sisa hidupnya. Kau masih istriku, bagaimana kau bisa menikah denganya. Katakan?” Denny berpaling, mengepal tangan dan melepaskan pukulan ke dinding. Cairan merah mengalir di buku jarinya. Tangannya sakit tak sesakit rasa luka di hatinya. Dia merasa bersalah dan juga dikhianati.


“Tuan, jangan melukai dirimu sendiri. Kau harus menerima kenyataan ini,” Air menggenang di pelupuk mata Indah. Dia mengalihkan pandangan dan mengejap-ejapkan kelopak mata menahan tangis. Kemampuannya hanya menangis di dalam hati melihat kesakitan Denny.


“Ahhhhhhhhhhh,” Denny berteriak kencang melepaskan amarah yang menyesakkan dadanya.


“Kenyataan apa yang kau maksud hah? Menerima kau sudah menikahi lelaki lain? Kau hebat, dari awal kau memang tidak mencintaiku. Aku yang bodoh telah jatuh cinta. Kau pergi dengan keputusanmu dan begitu mudah melupakanku. Kau menikahi lelaki lain, sedangkan aku terbelenggu dengan cintaku. Menghilanglah dari hadapanku, kau sudah mati. Aku tidak akan merindukan, apalagi mengharapmu kembali,” Suara Denny mengeram dan menajamkan mata. Tatapannya membunuh mencari mangsa. Amarah sudah kelewat batas, seolah-olah keluar dari ubun-ubun di kepalanya.


Indah mengambil langkah mundur dan membalikkan tubuh. Melangkah mendekati pintu dan meraih pegangan. Membuka dengan lebar, menghilang di baliknya sambil pintu tertutup kembali.


“Aku berhasil membangun rasa benci di hatimu, itu lebih baik bagi kita.” Indah berlari dengan berurai air mata.


Tubuh Denny roboh ke lantai, terduduk dan tertunduk. Lelaki sekuatnya tak mampu menahan air mata tumpah deras ke pipi. Memegang dadanya yang terasa amat perih bak terhujam belati. Nafasnya berat tersekat di tenggorokan. Rasa sakit mendera sepanjang pembuluh darah yang mengalir. Tempat cintanya berlabuh telah sirna tanpa bekas.


Langit malam berbingkai hitam, dihiasi bertabur titik-titik kuning cahaya bintang terlihat dari kejauhan. Keindahannya tak bisa menghibur hati yang patah dan mata yang bermandikan bulir cairan bening. Sedih, pilu, sakit atau pun menderita kata-kata yang tak mampu mewakili perasaan Indah dan Denny malam ini. Dua insan yang seharusnya bersatu, tapi garis takdir masih enggan mempersatukan. Mengapa ataupun kenapa, kedua kata memiliki makna sama yang pantas mewakili pertanyaan. Hanya Dia yang tahu alasan dibalik semua yang tersirat.


Denny berjalan lemah, memasuki ruang kamar. Cairan merah terlihat mengering, tangannya membengkak. Dia tidak menghiraukan, terduduk di lantai pada tepi tempat tidur. Menarik kedua kaki, merangkul erat dan menenggelamkan wajah di atas lutut. Tubuhnya terlihat bergoyang, karena tangis yang kembali tumpah.

__ADS_1


Indah membaringkan tubuh di sisi Saka, memeluk dan mencium putranya yang sudah tertidur lelap. Hanya dia satu-satunya pengobat rindu, sepi, dan duka. Hanya dia satu-satunya kekuatan untuk bernafas. Hanya dia satu-satunya tanda cinta dari lelaki yang sangat dia cintai. Indah memejamkan mata, tapi tak bisa tertidur. “Menghilanglah dari hadapanku, kau sudah mati. Aku tidak akan merindukan, apalagi mengharapmu kembali,” Suara Denny mengiang keras di telinganya. Bulir cairan bening kembali mengalir menemani menghabiskan sisa malamnya.


Fajar menyinsing, perlahan menyibak gelap. Cahayanya menyihir jiwa-jiwa lelap terjaga dari hangatnya gelungan selimut.


Nia membuka perlahan kelopak matanya yang enggan terjaga. Tubuh kecil itu, bangun dan turun dari tempat tidur. Menapakkan kaki dengan berat, menyusuri ruangan menuju kamar Denny. Kamar yang luas memanjakan kemewahan hotel bintang lima. Nia mendorong pintu dan terbuka. Kakinya terus melangkah menuju Denny yang terbaring di atas tempat tidur. Langkahnya sampai di tepi tempat tidur dan menatap Denny masih terlelap. Dengan berpegang selimut yang melekat di tempat tidur, Nia berhasil naik dan duduk disisi tubuh Denny. Matanya menatap tangan Denny yang terbalut perban.


“Paaaaa, Papa, Papa,” Suara Nia memanggil Denny lembut dengan tangan menggoyang-goyangkan tubuh kaku perlahan.


Suara Nia, seperti nyayian dalam mimpi Denny yang terus memanggil-manggilnya. Denny melihat Indah dalam mimpi bersama lelaki dan anak lelaki kecil tersenyum gembira sambil mentertawakan hatinya yang luka. Sedih menyusup mengundang bulir air bening mengalir di sudut mata. Nia melihat air itu mengalir membasahi pipi Denny. Jari-jari tangannya mengusap lembut pipi Denny.


“Paaaaa, Papa,” Nia kembali memanggil Denny. Suaranya menyadarkan Denny dan mengundang kelopak matanya terbuka.


“Nia, sudah bangun sayang, maaf papa telat, keduluan kamu.” Denny menyunggingkan senyum memasang tatapan gembira.


“Pa, papa menangis? Papa sudah janji sama Nia tidak akan bersedih. Tapi dalam tidurpun papa tidak bisa menyimpan tangis. Papa menangis, air mata papa ke luar, Nia lihat itu,” Mata Nia berkaca-kaca melihat kesedihan Denny memilkirkan kesembuhannya.


“Hei, sayang jangan bersedih, papa oke. Air mata ini ke luar karena papa bermimpi jelek. Bukan karena kamu sayang,” Denny bangun dan mendudukkan Nia dalam pangkuannya.


“Papa mimpi jelek apa?” Nia yakin kalau mimpi jelek Denny tentang penyakitnya.


“Papa bermimpi ada orang jahat yang menyakiti papa. Dia buat hati papa sedih. Tapi itu hanya mimpi sayang, tidak apa-apa. Mimpi adalah bunganya tidur, mau mimpi itu indah ataupun sedih. Tidak ada arti apa-apa, jadi kamu jangan khawatir,” Denny mendaratkan ciuman hangat di dahi Nia. Hatinya kembali bergidik menyebutkan nama Indah, kembali wajah itu melintas di kepalanya.


“Ehmmm, Nia juga pingin mimpi, tapi yang indah saja. Ngak mau yang sedih, apalagi sampai nangis. Mimpi itu harus yang indah-indah. Kalau mimpinya sedih kayak papa sampai nangis, Nia ngak mau, lebih baik, kasih aja sama orang lain mimpi punya Nia, ya Pa?” Nia memegang kedua pipi Denny dan masih menghapus sisa air yang membasahi di sana.


“Heem,” Denny menganggukkan kepalanya menatap wajah polos Dania.


“Pa, tangannya kenapa?” Nia menunjuk perban yang membalut tangan kanan Denny.


“Oh, papa tergores benda tajam tadi malam dan berdarah. Jadi harus diperban supaya darahnya tidak terus mengalir,” Denny berbohong, Nia tidak akan bisa mengerti masalah yang dihadapinya karena dia masih sangat kecil.


“Kita jadi ke Desneylend, Pa?” Tanya Nadia menagih janji Denny mengajaknya bertualang ke Tokyo Disneyland.


“Tentu sayang, ayo kita siap-siap. Papa akan memandikan kamu, lalu kita sarapan di luar dan pergi ke Tokyo Disneyland,” Denny beranjak dari tepat tidur, menggendong Dania ke kamar mandi. Rasa lukanya berusaha dilupakan dengan menyibukkan diri.


Di kamar lain, pada jam yang sama.


“Tok, Tok, Tok,” terdengar ketukan di pintu dari luar.


Indah telah rapi di pagi hari karena dia tidak bisa tidur. Melangkah mendatangi pintu dan membuka. Terlihat wajah Hendrik dengan senyum menggaris di bibirnya.


“Hai, boleh aku masuk?” Tanya Hendrik menatap mata Indah yang sembab karena menangis.


“Masuklah,” Indah berbalik dan berjalan lebih dulu. Hendrik melangkah masuk dan menutup pintu.

__ADS_1


“Saka sudah bangun?” Handrik tau terjadi sesuatu tadi malam. Dia mendatangi kamar Indah, setelah menghabiskan minum bersama Deli dan sepulang dari mengantarnya kebbandara. Deli mendapat penerbangan malam kembali ke Jakarta. Dia menawarkan diri mengantarnya, karena tahu Indah sendang bersama Denny. Sampai di depan pintu Indah, dia tidak berani mengetuk dan kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin mengganggu suasana hati Indah. Suasana yang bagaimana dia juga tidak tau. Pagi ini, dia memberanikan diri datang, tidak akan bertanya hanya menunggu Indah bercerita padanya.


__ADS_2