Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 115 Pancingan yang Disengaja


__ADS_3

Elisa melangkah ke luar toilet dan menatap punggung belakang Jesika meninggalkan meja hidangan. Sambil berlari kecil, Elisa mendekati pelayan masih berdiri di samping meja.


“Kemana dia pergi?” Tanya Elisa ke pelayan dengan selembar ketas di tangannya.


“Nona, teman anda meninggalkan pesan ini,” Pelayan mengulurkan selembar kertas kecil ke arah Elisa.


Pandangan Elisa menangkap selembar kertas dan tangannya dengan cepat menyambar. Matanya membulat lebar membaca isi tulisan di dalam kertas. Kakinya kembali berlari menyusul tubuh Jesika semakin menjauh dari restoran. Meraih ponsel dari dalam tas yang terselepang di bahu.


“Bersiap, aku segera ke luar? Tut…, Tut…., Tut,” Terdengar Elisa berbicara sepihak di dalam ponsel.


Langkah kaki Elisa semakin cepat mengarah ke luar restoran. Menyapu pandangan se keliling, manik hitamnya berhenti tepat menangkap tubuh Jesika masuk ke dalam sebuah mobil tidak dikenal.


Di mobil Denny.


“Hei, sedang apa kau di mobilku?” Suara Denny meninggi seolah-olah tidak suka mendapati Jesika bersamanya. Wajah dingin dengan tatapan tajam melengkapi suasana mencekam di dalam mobil.


Denny tersenyum di dalam hati setelah Indah termakan umpan pancingan yang sengaja dia rancang. Usahanya berhasil merebut kembali Indah dari Gunawan, itulah tujuannya untuk menjauhkan Indah dari Gunawan.


“Ayo, berpikir Jesika, bagaimanapun harus bisa ikut bersamanya. Denny pasti tahu dimana Saka,” Jesika berucap di dalam hati, berpikir keras mencari jalan agar Denny mau membawanya.


“Jangan coba mengusirku, apa kau sudah lupa dengan janjimu? Atau kau sengaja membiarkan aku pergi bersama lelaki itu, dan Saka bisa jatuh ke tanganmu? Jadi aku akan ikut kemana pun kau pergi,” Jesika hanya terpikir kalimat Denny akan berusaha mencari Saka dan meminta Jesika memberikan sebuah janji untuknya.


Story Off


POV Denny

__ADS_1


Di kamar hotel negara J, Indah jatuh pingsan saat meluapkan amarahnya kepada Denny karena sangat tertekan kehilangan Saka. Hati Denny bertambah sedih, perempuan yang dicinta membenci dan membangun dinding pemisah sedangkan dia berusaha merebut kembali cintanya. Bunga-bunga kebencian terlihat jelas bermekaran di wajah Indah setelah penculikan Saka. Denny harus bekerja keras membuat perempuan itu percaya dan mau menerima dirinya kembali.


Kepercayaa itu berusaha dia dapatkan dengan berjanji akan menemukan Saka, tapi dia juga meminta sebuah janji kalau berhasil menemukan Saka. Janji itu lebih bisa disebut sebuah kesepakatan, yaitu Denny meminta ingin menyayangi Saka sebagai seorang ayah dan mengakui kalau dia ayah dari Saka.


Indah menyetujui dan meminta Denny membawanya bersama mencari Saka. Tentu Denny tidak menolak, ini kesempatan baginya untuk bisa dekat kembali. Kesenangan itu tidak dia tampakkan tersembunyi hanya dalam hati karena tanpa diminta, Indah menawarkan diri.


POV Jesika


Jesika dilema memenuhi keinginan Denny karena dia tidak ingin menjalin hubungan kembali. Hidupnya tidak tenang bertemu Denny. Kesepakatan itu terpaksa dia setujui demi putranya agar dapat segera bertemu.


Setelah menemukan Saka, mengatur rencana bersama Hendrik untuk melepaskan diri dari Denny. Jauh di dalam hati, Denny hanyalah sebuah ancaman keselamatan hidup dirinya dan Saka. Dia tidak ingin bersama lebih memilih pergi jauh dan menghilang.


Story On


Jesika menahan diri tidak membalas ucapan Denny menghindari perdebatan yang akan membuatnya semakin canggung.


“Terserah, aku juga tidak ingin membahas apapun. Aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya. Informasi Elisa sangat membantu.” Gerutu Jesika di dalam hati, membuang pandangan ke samping melihat pemandangan di luar kaca jendela.


Perlahan mobil Denny berjalan meninggalkan areal parkir.


“Srett,” mobil berhenti di hadapan Elisa.


Tubuh Elisa bergerak cepat masuk ke dalam mobil.


“Ikuti mobil itu,” jari telunjuk Elisa mengarahkan sopir pada sebuah mobil yang sudah meluncur mendahului.

__ADS_1


Sopirpun melajukan mobil sesuai perintah majikan.


Di mobil yang lain, Iqbal tertegun melihat Indah masuk ke dalam mobil Denny. Ternyata sahabatnya datang ke tempat ini ingin membawa perempuan itu kembali. Saat mobil yang di tumpangi akan menyusul mobil Denny, terlihat sebuah mobil menerobos cepat mengikuti arah mobil Denny.


“Kau lihat, mobil itu mengikutinya. Ayo, cepat susul,” ucap Iqbal memberi perintah.


“Beres boss,” jawab sang sopir. Mobil pun meluncur cepat tidak ingin kehilangan jejak mobil di depan. Iqbal terus mengawasi, mobil di belakang Denny semakin mengejar cepat mendekat.


“Berarti ini yang kau maksud, memintaku menyiapkan beberapa mobil,” Iqbal berpikir cepat dan meraih ponsel.


“Maju semua, cegah mobil hitam di belakang big boss sekarang. Jangan sampai dia mendekat dan biarkan big boss bebas.” Perintah Iqbal mengalir ke luar untuk orang di seberang.


Ketiga mobil berjalan dalam jalur sama membelah malam. Denny tekun menatap ke jalan, ekor mata melirik kaca spion mengamati mobil di belakang terus mengikuti dari ke luar areal parkir restoran. Senyum licik terangkat di sudut bibir Denny, dengan tenang mengendarai mobil tidak ingin Indah mengetahui orang lain hadir diantara mereka.


“Mau kemana dia? Siapa bersamanya? Apa dia punya teman? Atau itu mobil Denny?” Kepala Elisa digantungi berbagai pertanyaan.


Jantungnya berpacu cepat membayangkan dugaannya benar, kalau Jesika berada di dalam mobil bersama Denny. Entah mengapa Elisa tidak suka membayangkan Jesika bersama Denny, karena Hedrik tidak ada dan juga tidak tahu apakah Hendrik mengizikan Jesika berteman dengan Denny. Atau perasaan cemburu masih ada di hatinya.


“Ah, Ada apa denganku, tidak boleh, tidak boleh pikirkan macam-macam,” Elisa menggeleng-gelenggakan kepala berusaha membuang pikiran marutnya. Perhatian Elisa kembali ke jalanan di depan.


Tiba di pertigaan jalan, mobil datang sebelah kanan dan kiri , masing-masing dua mobil langsung mengapit. Sebuah mobil bergerak cepat menerobos ke depan. Dari arah belakang mobil Iqbal mendorong maju ke depan. Posisi mobil Elisa menjadi terkurung dengan enam mobil sekaligus, otomatis laju mobil melambat.


“Hei, kenapa begini, siapa mereka semua, mengapa menghalangi kita?” Teriak Elisa panik. Sopir tak kalah panik sama dengan Elisa, di serang secara mendadak. Mobil digiring perlahan tanpa mampu membuat perlawanan.


Sekarang mobil Denny semakin laju meninggalkan mobil yang lain tanpa ada mengikuti. Senyum merekah di bibir Denny karena rencananya berhasil. Wajah Gunawan terlintas di kepala, seringai licik hadiah keteledoran Gunawan menganggapnya lemah dan dia tidak akan mengalah seperti yang pernah terjadi. Hatinya telah memiliki tujuan, tidak akan melepaskan perempuan pujaan walau apapun. Waktu sekarang berpihak pada Denny dan dia menggenggam erat waktu itu seolah hanya miliknya.

__ADS_1


__ADS_2