
Mobil Denny telah tiba di rumah Mamanya. Berdua Denny dan Iqbal ke luar dari mobil, lalu berjalan memasuki rumah.
“Selamat Pagi Tuan Muda,” sapa Pak Jung menghampiri Denny.
“Pagi, Bukahkah Pak Jung ada menelponku? ” Denny sengaja datang ke rumah Mamanya ingin bertemu Pak Jung.
Pak Jung menatap Denny dalam, sedangkan Iqbal lebih memilih duduk di bar mini dapur.
“Iya benar, Nyonya besar meminta saya menghubungi Tuan Muda, karena Nona Hanna bermalam di sini. Dan Nyonya besar menginginkan Tuan Muda juga ada di rumah.”
Pak tahu Denny tidak suka dengan sikap mamanya yang mencampuri urusan pribadinya. Karena dia juga turut serta atas perintah mama Denny.
“Kapan Hanna datang?” Suasana hati Denny bertambah tidak enak. Mendengar berita dari Pak Jung.
“Sore hari, sekitar pukul lima, dan juga membawakan hadiah buat Nyonya Besar,” Pak Jung menjawab apa adanya.
“Kenapa dia tidak bisa mengerti dan tetap mengambil hati Mama? Apa aku harus menyakitinya, baru dia sadar?” Suara Denny meninggi. Dia muak sikap Hanna selalu menambah simpatik mamanya.
Pak Jung menatap wajah Denny yang memerah menahan marah.
“Dimana Mama dan Hanna?” Denny ingin menatap Pak Jung tajam.
“Selesai sarapan, mereka pergi ke luar dan nyonya tidak memberitahu ke mana tujuannya,” jelas Pak Jung.
Denny meraih ponsel dari saku baju jasnya. Pak Jung memperhatikan terdengar menghubungi seseorang.
“Mama, dia sengaja tidak mengangkat panggilanku,” Denny kesal sifat mamanya yang suka bertindak semaunya.
“Nyonya besar mengajak Nona Hanna ke suatu tempat karena ingin memberi sebuah kejutan,” ucap Pak Jung.
“Kejutan? Mama merencanakan apa lagi sekarang?” Gerutu Denny.
Iqbal datang menghampiri Denny.
“Sabar, kau harus tenang. Nyonya tidak akan merencanakan sesuatu yang jelek, karena dia Mamamu Den. Kau hanya harus menunggu dan melihatnya nanti,” Ucap Iqbal dengan mengedipkan mata mengisyaratkan sesuatu ke pada Denny.
“Iya benar, aku hanya harus menunggu dan melihatnya,” balas Denny memahami isyarat Iqbal .
“Baiklah Pak Jung, kami pergi.”
Denny melangkah ke luar diikuti Iqbal dari belakang. Pak Jung hanya menatap kepergian Denny.
Di mobil Hendrik, Indah menatap lembaran kertas di tangannya.
“In, pakai ponselku, kita harus sudah menghubungi tamu VIP yang kita temui hari inikan?” tanya Hendrik melihat Indah dari sudut matanya.
“Ngak usah, aku punya aja,” jawab Indah sambil meraih ponsel dari dalam tas.
“Ponselmu udah ketemu In?” tanya Hendrik.
“Apa?” Indah gugup mendengar pertanyaan Hendrik.
“Ponselmu, udah ketemu?” tanya Hendrik lagi.
__ADS_1
“Iya,” jawab Indah singkat.
“Syukurlah, kalau begitu. Aku jadi gampang menghubungimu lagi,” Ucap Hendrik.
“Maaf Hen, aku terpaksa bohong. Aku ngak bisa bilang kalau ponsel ini dari Pak Denny. Aku ngak mau kamu salah paham sama Pak Denny. “ Indah berkata dalam hati, dia menyembunyikan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Denny. Dia juga tidak bisa menceritakan karena hubunganya dengan Denny juga tidak jelas.
Jari Indah terlihat sibuk menari-nari di atas layar ponsel. Lalu terdengar berbicara dengan seseorang di seberang.
Hanna bersama Mama Denny, berada di salon kecantikan. Berdua mereka melakukan perawatan wajah.
“An, Tante senang sekali, kamu mau temani,” ucap Mama Denny.
“Sama Tante, Hanna juga senang. Selama di Jakarta, semua teman sibuk tidak ada yang bisa diajak kumpul. Apalagi hanya sekedar ke salon bersama,” keluh Hanna memasang wajah cemberut.
“An, kamu gadis pintar lulusan MBA, kenapa tidak bekerja di perusahaan Papa saja?”
Mama Denny tahu selain cantik, Hanna juga pintar. Pasangan yang pas untuk Denny selama ini yang diimpikannya.
“Sempat berpikir juga seperti itu, tapi Hanna masih belum mau terikat. Kalau sudah terjun ke dunia bisnis, pasti tidak bisa santai. Terutama mengunjungi Tantekan?” Ucap Hanna.
“Kamu bisa aja An, Tante senang mendengarnya. Denny jarang pulang ke rumah, Tante lebih sering sendiri. Kalau kalian menikah, Tante pasti tidak kesepian,” Ucap Mama Denny dengan mata tertutup menerima perawatan masker di wajahnya.
“Hanna tidak berani menjanjikan apa-apa, semua tergantung Mas Denny,” jawab Hanna pelan.
“Jangan khawatir, Tante akan berusaha menyatukan kalian berdua,” Balas Mama Denny.
Senyum menggaris di bibir Hanna mendengar perkataan Mama Denny.
Denny dan Hendrik kembali ke kantor. Tiba di depan perusahaan, melangkah masuk. Tidak beberapa lama Indah dan Hendrik tiba.
Denny dan Iqbal terlihat berbicara dengan beberapa staf bawahannya.
“Apa yang mereka bicarakan, Indah kelihatan sangat senang,” Gumam Iqbal melihat sikap Indah dan Hendrik.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Denny tidak mendengar jelas ucapan Iqbal.
“Kau lihat saja sendiri,” menoleh ke arah Indah.
Denny mengikuti isyarat tarikan wajah Iqbal, terlihat Indah berjalan dengan Hendrik berbicara sangat gembira, dan tertawa riang.
“Apa kau melihatnya?” tanya Iqbal pelan.
“Hem,” Jawab Denny singkat dan melanjutkan langkah memasuki lift.
Iqbal memandang heran dengan sikap cuek Denny. Iqbal bergegas menurutkan langkah Denny memasuki lift.
“Tunggu, tunggu, tolong tahan,” suara seorang wanita dari luar lift.
Tangan Iqbal langsung menahan pintu lift. Terlihat Indah berlari memasuki lift. Langkahnya terhenti tepat dihadapat Denny.
“Maaf,” Indah membalikkan tubuh.
Tiba-tiba masuk dua orang wanita dengan senyum dan menyapa.“Hai sayang."
__ADS_1
“Mama, Hanna,” batin Denny menatap kedua wanita di hadapannya dan pintu tertutup.
“Hanna,” Batin Indah dan perlahan melangkahkan kaki bergeser ke samping.
“Nyonya, apa kabar?” sapa Iqbal berusaha ramah.
“Oh Iqbal, baik. Kamu lebih perhatian dibandingkan putra saya sendiri,” ucap Mama Denny.
Tatapan Denny dingin melihat Mamanya dan Hanna.
“Oh, ternyata Mama Pak Denny,” batin Indah menatap kedua wanita cantik yang baru masuk berbicara dengan Iqbal.
“Hei, Indah kamu ada di sini?” sapa Hanna melihat Indah.
“Iiya, Nona Hanna, saya mau kembali ke ruang kerja,” jawab Indah gugup.
“Hendrik tidak bersamamu?” tanya Hanna lagi.
“Tadi kami memang bersama, tapi karena ada keperluan jadi kami berpisah,” jelas Indah.
“Siapa dia An?” tanya Mama Denny.
“Karyawan di perusahaan ini,” jawab Iqbal.
“Oh, Karyawan Denny,” Ucap Mama Denny.
“Mas, ada kejutan untuk kita dari Mama,” ucap Hanna merangkul tangan Denny.
Mata Indah menatap kedekatan Hanna dengan Denny, ada perasaan sedih terlintas di hatinya. Seketika pintu lift terbuka.
“Maaf, saya harus ke luar,” ucap Indah lemah dengan kepala tertunduk.
Indah melangkah ke luar dan Denny melihat kepergiannya. Lift tertutup memutuskan pandangan Denny.
“An, Tante senang , kamu memanggil Mama,” Mama Denny tersenyum.
“Lucu terdengar, seseorang jelas berusaha sangat keras untuk tujuannya,” Ucap Denny dengan tatapan tajam menatap Hanna di sampingnya.
“Denny, Hanna wanita yang sangat baik. Kamu harus memikirkan perasaannya,” Mama Denny memegang tangan putranya.
Pintu lift terbuka, Denny melangkah ke luar melepaskan rangkulan Mamanya dan Hanna. Berjalan lebih dulu meninggalkan semua di belakang.
Indah melangkah gontai memasuki ruangan kerjanya. Menuju meja kerja dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi.
“Ada apa denganku, kenapa perasaan ini?” Lirih Indah sedih membayang kemesraan Hanna merangkul tangan Denny.
“Hei In, bagaimana pertualangan kalian di hari pertama ini?” tanya Yanti menghampiri Indah.
“Baik. Yan, temani aku minum kopi yuk,” ajak Indah.
“Kamu baik-baik saja? Biasanya kalau ngajak minum kopi, kamu pasti sedang sedih,” menatap Indah dalam.
“Ngak kok, aku memang kepingin minum saja. Kan sudah lama kita tidak minum kopi berdua,” Indah ingin mengusir sedihnya yang tidak beralasan.
__ADS_1
“Baiklah, ayo kita ke kantin saja,” Yanti menyetujui keinginan temannya itu. Dia tahu Indah menyembunyikan sesuatu darinya.
Berdua Indah dan Yanti berjalan menuju kantin.