Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 22 Kembali Kerja


__ADS_3

Denny telah sampai di apartemen. Tanpa sepengetahuan Indah, dia pulang lebih awal. Denny menghempas tubuhnya di atas ranjang.


“Bal, jemput aku di apartemen 1 jam lagi,” terdengar Denny berbicara di ponsel.


Beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi. Air mengalir dengan deras mengucur seluruh tubuhnya. Selesai mandi, membersihkan wajah dari bulu-bulu halus yang membayang di sekitar dagu, atas bibir, dan kedua pipinya. Mengelap perlahan wajah dari sisa-sisa krim cukur. Senyum seketika membingkai di bibir, terbayang Indah menatap dalam wajahnya.


“Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku,” batin Denny.


Di rumah, Indah terbangun dari tidur.


“Aduh, aku harus cepat, Pak Direktur harus kembali ke apartemen sebelum ke kantor."


Dengan buru-buru Indah beranjak dari ranjang melangkah ke luar kamar. Sampai di luar matanya tidak menangkap sosok yang ia cari.


“Mungkin di kamar mandi,” celoteh Indah.


Kakinya melangkah ke kamar mandi, namun tidak dijumpai.


“Apakah dia sudah pergi?”


Indah kembali melangkah mendekati sofa. Matanya menatap selimut telah tersusun rapi di atas bantal.


“Indah, kenapa kamu tertidur lelap, hingga tidak mengetahui kepergiannya,” keluh Indah memukul kepalanya kesal.


Di apartemen, Iqbal telah duduk menunggu Denny dengan serius menatap ponsel di tangannya. Denny melangkah ke luar dengan berpakaian rapi dan senyum menggaris di bibir. Iqbal menangkap kegembiraan di wajah Denny.


“Apa jadwal kita hari ini?” tanya Denny duduk berhadapan dengan Iqbal.


“Pagi jam 9 kita meeting bersama seluruh divisi acara dan tim program.” Jawab Iqbal.


“Bagaimana persiapan acara?”


“Sudah limapuluh persen,”


“Baik, kita berangkat. Kau sudah sarapan?” tanya Denny sambil beranjak dari duduk.


“Belum,” jawab Iqbal singkat.


“Kita pergi makan, setelah itu ke kantor,” Denny melangkah ke luar.

__ADS_1


Iqbal mengikuti langkah Denny dari belakang dan dengan jelas masih terlihat kegembiraan terpancar dari wajahnya.


Matahari kembali bersinar menerangi di pagi hari. Indah berjalan menuju lift. Menunggu di depan pintu, lift terbuka dan melangkah masuk. Seorang berpakaian jas rapi menahan pintu lift. Kemudian masuk beberapa pria.


Indah melihat Iqbal datang melangkah masuk, di susul Denny. Terakhir pria yang menahan pintu, masuk ke dalam lift.


Mata Indah memandang Denny. Denny menyadari keberadaan Indah. Tapi Denny sedikit pun tidak menatap ke arahnya. Indah berdiri di belakang para pengawal melindungi Denny. Mata Indah terus menatap tubuh belakangnya.


“Mengapa dia seolah tidak mengenalku? Apakah aku harus terlebih dahulu menyapanya? Atau aku diam saja dan tidak menghiraukannya? Pria ini, sikapnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat.


Oh, ini maksud ucapannya, kalau aku hanya boleh memanggilnya “Mas” saat berdua saja. Dia menyembunyikan sesuatu yang akan membuat harga dirinya jatuh. Baiklah, kalau begitu aku akan bersikap acuh terhadapnya. Dan tidak mengenalinya sama sekali.” Batin Indah terus berkata-kata menebak perubahan sikap Denny.


Lift berhenti, angka 15 di samping pintu terlihat. Ruang tujuan Indah di balik pintu itu. Pintu lift terbuka, Indah melangkah maju ingin ke luar.


Para pengawal Denny berusaha bergeser saat Indah berjalan. Langkah kakinya semakin mendekati Denny, jantung Indah berpacu cepat. Karena ruangan sempit, Indah terpaksa memiringkan tubuhnya. Wajah Indah menghadap Denny saat melintas di dekatnya.


Denny menoleh ke samping, tatapan mata keduanya saling beradu. Sesaat waktu seperti berhenti, terasa nafas mereka saling berhembus menerpa wajah.


Seketika mengejutkan keduanya. Indah menyegerakan langkah. Setelah ke luar Indah menahan langkahnya.


“Indah, tarik nafas dalam-dalam, lalu hebuskan,” Menarik nafas panjang dan menghebuskannya.


“ Tuhan, mengapa jantung ini berdenyut lebih kencang bila dekat dengannya? Baiklah, aku harus tenang dan jangan terlalu berharap. Dia jauh dari jangkauan, dia baik karena kasihan kepadaku.” Celoteh Indah menenangkan diri.


“Indah, aku sangat rindu. Kapan kamu kembali dan apa kabar pamanmu di kampung, sudah sembuh?” Yanti memeluk Indah dan menghujannya dengan pertanyaan. Indah hanya bisa tersenyum, berusaha memahami ucapan sahabatnya itu.


“Hei, Indah, bukan Yanti saja rindu, aku lebih berat lagi merindukanmu”


Hendrik datang dan ingin memeluk Indah tapi Yanti mendorongnya. Menarik tangan Indah dan mendudukkannya di kursi.


“Kamu tega In, tidak memberitahuku, aku tahu kabar mu dari bagian HDR?” Yanti cemberut, hatinya sedikit kesal Indah tertutup padanya.


“Maaf, aku perginya buru-buru, begitu dapat kabar aku langsung berangkat,” Indah berusaha mengarang sebuah penjelasan.


“Baiklah, tapi kenapa Ponselmu tidak bisa dihubungi, berkali-kali aku menelponmu. Kamu seperti ditelan bumi, tidak ada kabar sama sekali. Apa di sana pulau antah-berantah hingga kamu susah dihubungi, hah?” Yanti cemberut lagi.


“Maaf, Ponselku hilang,” memegang tangan Yanti.


“Apa, hilang? Dicopet?” Hendrik bertanya serius.

__ADS_1


“Tidak, aku sendiri juga tidak ingat kapan hilangnya, sudahlah jangan dibahas lagi. Eh..ngomong-ngomong ada perkembangan pekerjaan kita?” tanya Indah mengalihkan pembicaraan.


Seberarnya Ponsel Indah memang hilang, saat peristiwa pemukulan itu. Dan Denny memberikan ponsel baru, beberapa hari yang lalu. Tapi dirinya tidak dapat mengingat nomor ke dua sahabatnya.


“Hari ini kita ada rapat jam 9, kamu siap-siap ya?” Menepuk bahu Indah dan tersenyum penuh makna.


“Kenapa?” tanya Indah heran dengan reaksi wajah Yanti.


“Sepertinya kamu akan tugas ke luar, mengundang para tamu VIP,” ucap Yanti dengan wajah sedih.


“Aku, kok bisa? Itukan bukan bagian tim kita,” tanya Indah yang semakin heran pilihan jatuh bisa padanya.


“Sudah terima saja, kalau boleh pilih, aku mau menggantikanmu, mana tahu ketemu pria lajang, tampan dan kaya,” gurau Yanti.


“Iss dasar genit,” celetuk Hendrik tidak mau ketinggalan pembicaraan Indah dan Yanti.


“Aku sudah bosan melihat pemandangan yang itu-itu saja di ruangan ini,” menatap tajam Hendrik.


“Dasar, kau mengejekku ya?” Suara kesal Hendrik mendengar ucapan sahabatnya Yanti


“Ya, memang kenapa, wek,” lidah Yanti sedikit ke luar mengejek Hendrik.


“Kau ini,” Hendrik ingin memukul Yanti dengan buku.


“Sudah teman-teman, kalian apa sudah sarapan?” tanya Indah menenangkan kedua sahabatnya.


“Aku sudah,” jawab Yanti singkat.


“Aku belum In, kenapa?” tanya Hendrik memasang wajah senyum.


“Aku belum sarapan, rindu ingin makan bersama kalian. Juga ingin mendengar cerita kalian” Ucap Indah menatap kedua sahabat yang dirindukannya.


“Baik, ayo kita ke kantin. Masih ada setengah jam lagi kok waktu kita,” Yanti melirik jam tangannya.


“Come on,” Hendrik menggandeng tangan Indah ke luar dan meninggalkan Yanti.


“Eh tunggu aku dong,” teriak Yanti berlari kecil menyusul kedua sahabatnya dari belakang.


“Ha, ha,ha,” berdua Indah dan Hendrik mentertawai Yanti.

__ADS_1


Bertiga sahabat itu melangkah menuju kantin. Mereka tertawa gembira walaupun beberapa pasang mata memperhatikan tingkah ketiganya tapi tidak diperdulikan.


Indah, Hendrik dan Yanti sudah lama berteman sejak di bangku kuliah. Hendrik terlebih dahulu selesai kuliah dari Yanti dan Indah. Selesai kuliah, berdua mereka melamar di perusahaan Denny dan diterima. Hendrik mengikuti jejak kedua sahabatnya melamar di perusahaan Denny dan di terima. Kedua orang tuanya masih ada hubungan kekeluargaan dengan Alm. Pak Prasetyo. Alhasil, mereka terus kompak berteman hingga sekarang. Tapi di saat yang sama, Indah merasa tambah berhutang budi kepada Denny. Karena bukan saja menolong nyawanya tapi juga menutupi masalahnya dari semua orang.


__ADS_2