
Dua hari Indah terbaring lemah tidak sadarkan diri. Selama itu juga Denny menjaga Indah. Hari ketiga kondisi Indah mulai berangsur baik. Pada malam hari, perlahan Indah sadar dan membuka kelopak matanya. Memandang langit-langit kamar dan merasakan kalau ruangan ini asing, bukan kamar yang biasa selalu ditempati.
Perlahahan dia menoleh dan samar terlihat Denny duduk di sofa dan tertidur.
“Di mana ini dan kenapa Pak Direktur ada di sini?” tanya Indah dalam batinnya.
Indah berusaha bangun dan duduk menyandarkan tubuh di sisi tempat tidur.
“Kak Dino, bagaimana keadaanmu kak?” mata Indah kembali berkaca-kaca.
Perlahan dia mulai merajut kembali apa yang telah dialami. Indah dapat mengingat semua kejadian dan terakhir ingatannya terhenti saat dia melihat wajah Denny.
“Pak Direktur, apakah kau juga ikut menyiksaku?” tanya batin Indah.
“Tapi, siapa yang telah menyelamatkanku?” Pertanyaan menggantung penuh di kepala Indah.
Indah ingin pergi ke kamar mandi. Perlahan dia bangun dan membawa serta infus yang masih ada di tangannya. Karena masih lemah, kaki Indah tidak dapat berjalan.
“Brakk,” Indah terjatuh dan penyangga Infusnya juga, hingga menimbulkan suara.
“Indah” pekik Denny dan bergegas mendekat.
Tangan Denny meraih tubuh Indah.
“Jangan sentuh, tolong, biarkan saya pergi,” jarum infus terlepas ditarik paksa Indah.
Cairan merah mengalir di lengan Indah.
“Kau boleh pergi, kalau aku mengijinkan,” Denny menggendong tubuh Indah. Perasaan Indah tidak menentu saat tubuhnya berada dalam pelukan Denny. Kembali Indah dibaringkan ke tempat tidur.
Indah menatap Denny membersihkan darah mengalir di tangannya.
“Saya, mau ke kamar mandi.” Jawab Indah.
Denny pun membawa Indah ke kamar mandi dan mendudukkannya di kloset. Indah binggung melihat Denny yang masih berdiri di depannya dan tidak beranjak ke luar.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Denny heran.
“Maaf Pak, bisa ke luar.” Indah menunjukkan jari kelingkingnya.
Awalnya Denny tidak mengerti maksud Indah dan melihat jari kelingkingnya sendiri.
“Oh, maaf.., aku akan ke luar. Kalau butuh bantuan, panggil saja?” Denny berbalik dan melangkah dengan senyum menggaris di bibir.
Denny tersenyum memikirkan tingkahnya sendiri. Ada rasa malu muncul di hati, apa yang akan dipikirkan Indah tentang dirinya tadi.
Indah tertunduk lemah merenungi nasib, penderitaan kerap menghampiri setelah kedua orang tuanya tiada. Mencoba berjalan perlahan menuju pintu. Saat melintas di depan cermin, dia menoleh dan melihat wajahnya. Indah terkejut, warna biru masih terlihat di pipi, lengan dan memeriksa tubuhnya. Indah menangis dan terduduk lemah.
Mendengar suara tangisan, Denny langsung membuka pintu kamar mandi. Dia mendekat dan menggendong Indah. Mendudukkan di ranjang lalu memeluknya erat.
“Aku akan menjaga dan melindungi mu.” Mengusap lembut kepala Indah.
Indah menumpahkan tangis dalam pelukan Denny.
Subuh hari, Indah sudah bangun. Matanya melirik jam yang menempel di dinding.
“Waktunya akan sholat shubuh.” Batin Indah berkata.
Terdengar sayup suara azan berkumandang. Dia tidak ingat berapa hari tidak sadarkan diri. Dan pasti selama itu juga dia tidak sholat.
“Pak, Pak Denny, bangun Pak,” suara Indah memanggil Denny.
Terasa tubuhnya seperti ada yang menggoyang, Denny memicingkan matanya. Samar dilihatnya Indah di sampingnya.
“Ada apa, kamu baik-baik saja?”
Denny langsung bangun dan ingin memegang Indah, tapi Indah mendorong tubuhnya ke belakang.
“Kenapa, ada apa?” wajah Denny heran melihat Indah tidak ingin disentuhnya.
“Maaf saya ingin sholat, ada mukenah di sini?” tanya Indah menatap wajah Denny yang masih kantuk dan lelah.
__ADS_1
“Oh…itu, sebentar,” Pinta Denny dan beranjak dari ranjang.
Indah melirik Denny yang berjalan ke luar dan berbicara di ponsel.
Di mobil Iqbal menyetir dan melirik tas yang ada di bangku sampingnya. Di liriknya jam sudah pukul setengah enam. Matahari sudah mulai tampak. Dia pun sampai di apartemen Denny. Sampai di depan pintu apartemen, Denny sudah berdiri di sana dengan wajah kusut.
“Lama sekali,” mengambil tas pemberian Iqbal yang masih menggantung di tangan.
Iqbal melangkah masuk dan melihat Denny menyerahkan tas kepada Indah di kamarnya. Iqbal hanya bisa tersenyum melihat tingkah Denny.
“Terima kasih,Pak.” Ucap Indah menerima tas pemberian Denny.
“Bapak sudah sholat?” tanya Indah melihat Denny masih berdiri mematung di depannya.
“Ya, silakan,” Denny meninggalkan Indah di kamar.
Langkah Denny menuju Iqbal duduk di sofa. Denny duduk menyapu-nyapu wajah dengan kedua tangannya.
“Kenapa, Den?” tanya Iqbal heran melihat perubahan wajah Denny.
“Aku sudah lama tidak sholat Bal, aku malu sama Indah.” Denny menyandarkan tubuhnya di sofa menyesali perbuatannya.
“Malu kok sama Indah, malu itu sama yang di atas,” jari Iqbal menunjuk ke atas menatap wajah Denny.
“Kau ini, apa kau juga sholat hah?” melempar bantal sofa ke wajah Iqbal.
“Tentulah, aku sholat. Kau saja yang tidak tahu,” celetuk Iqbal memeluk bantal sofa pemberian Denny.
“Dasar kau, mau masuk surga sendiri aja,” wajah kesal Denny menatap Iqbal.
“Kau juga, gila kerja. Aku takut mengingatkanmu. Nanti kau tersinggung.” Balas Iqbal.
“Ya, sudah. Aku sholat dulu.” Denny berdiri.
“Masih ingat?” ejek Iqbal dengan senyum menyeringai di wajahnya.
__ADS_1
“Brengsek kau” Denny menyepak kaki Iqbal.
Dengan meringis Iqbal menahan sakit dan dia pun membaringkan tubuh ke sofa. Kantuk masih menggantung di matanya. Tak lama terdengar suara nafas keras pertanda Iqbal sudah di dalam mimpi.