Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 90 Kemarahan Denny


__ADS_3

Kepala Denny terus berpikir dan mengingat lelaki pendamping hidup Indah saat ini. Walaupun tidak mengakui dirinya, Denny menyakini kalau itu benar Indah. Langkah kaki Denny berhenti seketika dan membalikkan tubuh. Hendrik spontan menghentikan langkah, berdiri tepat di hadapan Denny.


“Kau b3r3ngs3k, kenapa kau bersamanya? Dia milikku.” Tangan Denny melayangkan kepalan kuat mendarat tepat di wajah Hendrik. Seketika tubuh Hendrik terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah.


“Hah, dasar lambat, kau baru mengingatku sekarang.” Hendrik menyeka dan tersenyum di sudut bibirnya. Menatap jari yang basah cairan merah segar.


“Kalian sungguh pasangan men7i7ikkan, “ Denny mencengkram kerah baju Hendrik dan menariknya berdiri. Amarahnya tidak dapat terbendung, kembali kepalannya melayang ke wajah tampan Hendrik. Tubuh Hendrik pun terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.


Suasana menjadi ramai, para pengunjung berkumpul melihat Denny yang terus meluapkan amarah.


Hendrik tersudut, tidak dapat memberikan perlawanan. Cairan merah kembali mengucur dari pelipis sudut mata.


Tarikan mata Saka, mengamati keramaian pengunjung mengelilingi sesuatu. Dia berdiri dan melangkahkan kaki menuju pusat perhatian. Jesika menangkap dari sudut mata, Saka memisahkan diri.


“Jangan pukuli papa.” Saka berteriak kencang, melihat tubuh lemah Hendrik menerima pukulan demi pukulan dari Denny. Dia berlari menghampiri Denny, dan menariknya. Denny yang masih dalam keadaan marah, tanpa sadar menarik dan mendorong kuat tubuh Saka.


“Sakaaaaa,’’


Suara jeritan terdengar menghentikan gerakan tangan Denny. Matanya menoleh ke arah sumber suara.


Hendrik berdiri sempoyongan dan melangkah tertatih-tatih mendekati Jesika merangkul erat tubuh Saka.


“Apa yang terjadi? ” Jesika menatap wajah lebam Hendrik. Dia terkejut, bingung dan marah mendapati Saka terluka dan tidak sadarkan diri.


“Dia akan menyesal telah melukai putraku,” suara Hendrik mengeram, pandangannya jatuh tepat di mata Jesika.


Para petugas keamanan datang, memegang kuat Denny di kiri dan kanan tangannya. Hati Denny kecut menyadari seorang anak kecil telah ikut menjadi korban.


“Paaaa, Kenapa papa memukul kak Saka dan papanya?” Nia merangkul erat dan menangis di kaki Denny.


Hendrik berdiri menggendong Saka, berdiri dan melangkah menghampiri Denny.


“Kau melakukan kesalah besar, sampai kapanpun kau tidak akan bisa mendapatkan yang menjadi milikmu,” Hendrik mengeram menatap tajam wajah Denny, dan berlalu pergi bersama Jesika.


#Story Off#


Sepuluh tahun yang lalu, saat Hendrik berlibur ke negara B setelah berhenti dari perusahaan Denny. Dia berlibur dengan tujuan menghibur diri setelah kepergian seseorang yang sangat dicintai. Cinta dalam diam, cinta yang hanya dia sendiri rasakan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sang gadis menganggapnya sebagai sahabat. Sedangkan dirinya telah meletakkan sang gadis di tempat teristimewa dalam hatinya.


Langkah kaki menuju taman kebun bunga Tulip yang terkenal di negara B. Pandangannya termanjakan dengan keindahan hamparan karpet berbalutkan warna-warni bunga Tulip. Sejauh mata memandang hanya bunga tulip yang menari-nari mengikuti irama angin yang mengalun lembut. Tarikan matanya terganggu dengan wajah yang sangat tidak asing. Seorang gadis duduk di bangku sebuah taman bunga Tulip pada musim semi dengan wajah pucat dan tatapan sendu.


Penuh keraguan Hendrik perlahan melangkah lalu menghampiri. Hendrik mendaratkan tubuh di samping sang gadis yang belum menyadari kehadirannya.


“Hai,” Hendrik memberanikan diri bersuara menyapa si gadis yang menatap jauh ke depan.


Mendengar suara seseorang menyapa, sang gadis tersadar dari lamunannya. Menarik pandangan ke samping mencari pemilik sumber suara. Tatapannya tepat jatuh pada sepasang mata. Seketika jantungnya berpacu cepat, dia beranjak dan harus segera menghilang.


“Hei, tunggu,” tangan Hendrik menarik tangan sang gadis hingga menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Sang gadis menoleh, wajahnya terlihat sangat pucat. Perlahan pandangannya menghitam, dia berusaha mengedip-edipkan mata menjernihkan pandangannya. Namun sia-sia, kepalanya terasa berputar dengan pandangan semakin gelap. Akhirnya dia terjatuh dan dengan cepat Hendrik menangkap tubuh lemah itu.


Di rungan sebuah rumah sakit.


“Kau sudah sadar, bagaimana perasaanmu sekarang?” Hendrik menatap sang gadis lembut, ada kerinduan terpancar jelas di matanya.


Sang gadis, tidak menjawab, memutarkan mata mencari tahu keberadaannya. Seketika dia mencabut jarum impus yang terpasang di tangan. Hendrik terkejut dan menahan sang gadis yang berusaha bangun. Cairan merah mengalir dan menetes ke lantai. Dia memeluk kencang tubuh yang berusaha meronta.


Hendrik melihat dan menekan tombol di samping tempat tidur. Tak lama pintu kamar terbuka, seorang perawat datang segera menghampiri, membantu Hendrik menenangkan sang gadis. Perawat menusukkan cairan ke tangan sang gadis, tubuhnya pun melemah dan terlelap dalam ketenangan.


Sang perawat membersihkan cairan merah di tangan yang masih mengalir. Setelah cairan merah berhenti, jarum impus kembali terpasang menempel di tangan gadis.


“Terima kasih, “ ucap Hendrik setelah perawat menyelesaikan pekerjaanya dan melangkah ke luar ruangan.


Beberapa jam berlalu, Hendrik masih setia duduk menemani sang gadis. Perlahan kelopak mata yang tertutup tenang terbuka. Matanya menatap sepasang mata yang menyapanya dengan senyuman.


“Jangan takut dan jangan menghindar dariku Indah. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi aku ada bersamamu dan akan membantumu, percayalah.” Hendrik memegang erat tangan sang gadis yang ternyata Indah. Wajah gadis di hadapannya adalah gadis yang sangat dia cintai dan diakui telah meninggal dunia. Hendrik tahu dia Indah karena dalam tidak sadarnya nama Denny terucap jelas di bibir.


“Hendrik, maafkan aku,” tangis Indah pecah seketika tidak mampu lagi menahannya.


“Menangislah, kalau itu bisa meringankan bebanmu,” Hendrik mengelus tangan Indah. Hatinya gembira mengetahui kebenaran Indah masih hidup. Hatinya juga penuh tanda tanya mengapa Indah harus bersandiwara dengan kematian.


Beberapa menit kemudian, Indah sudah tenang dan bisa menguasai perasannya. Pintu kembali terbuka, mata keduanya melirik. Seorang perawat masuk dari balik pintu. Sang perawat melempar senyum dan membawa nampan berisi makanan. Makanan di letakkan di atas meja dan berlalu pergi meniggalkan ruangan.


“Ayo duduk. Kau harus makan, sepertinya kau tidak makan dengan benar belakangan ini,” Hendrik berdiri, membantu tubuh Indah duduk. Mengambil makanan di atas meja dan duduk di tepi tempat tidur.


“Kau jangan melawan, sekarang kau sedang hamil. Di dalam tubuhmu ada yang harus kau jaga.” Hendrik menatap Indah dalam.


“Kau tahu, kalau aku hamil?” Matanya membesar, mendengar Hendrik mengetahui kehamilannya.


“Heem, dokter yang memeriksamu memberitahuku dan juga keadaanmu sangat lemah karena kau tidak makan dengan benar. Itu tidak baik bagimu dan juga dia di dalam sana.” Mata Hendrik melirik perut Indah yang belum kelihatan membesar. Dia juga terkejut saat sang dokter mengatakan” Tuan harus memperhatikan kesehatan istri tuan yang sedang hamil.” Dia tersenyum mengingat kata-kata itu. Seandainya anggapan dokter itu benar kalau dia suaminya, dia pasti akan menjaga sebaik-baiknya dan tidak akan membiarkan Indah sakit seperti ini.


“Hendrik, tidak ada yang tahu kalau kau bertemu aku?” Mata Indah memelas memastikan jawaban Hendrik. Keberadannya tidak boleh diketahui siapapun terutama Denny. Dia dianggap telah tiada, dan harus seperti itu selamanya.


“Belum ada, dan akan seperti itu kalau kau patuh padaku,” Hendrik kembali menyorongkan sendok ke depan mulut Indah.


“Aku bisa sendiri,” Indah mengangkat tangannya, meminta sendok dari tangan Hendrik.


“Aku bilang kau harus patuh padamu,” Mata Hendrik menajam, dia ingin melakukannya untuk Indah. Dia ingin menjaga dan melayani Indah. Rasa syukurnya tak mampu berangkai dengan kata-kata mendapati Indah duduk berhadapan dan berbicara. Gadis yang dianggap sudah mati sekarang ada bersamanya.


Indah hanya dapat mematuhi ucapan Hendrik, suap demi suap makanan perlahan masuk ke rongga mulut. Hendrik menyuapi dengan sabar hingga makanan habis. Meminumkan air dan menyeka sudut bibir Indah yang basah. Saat tangannya mengusap perlahan bibir Indah, Jantung Hendrik berdegup kencang, rasa cinta itu kembali hadir. Matanya menyelami tatapan mata Indah.


“Hen, Hendrik,” Pelan Indah memanggil Hendrik yang diam mematung.


“I-iya, ada apa?” Hendrik menarik tangannya dan berusaha tersenyum menyembuyikan perasaan saat ini.


“Aku ingin ke luar, aku tidak nyaman berlama-lama di tempat ini,” Indah memasang wajah memelas agar Hendrik segera membawanya pergi.

__ADS_1


“Kenapa kau sangat cemas? Apa yang terjadi hingga kau harus membohongi semua orang menganggap kau sudah tiada. Jangan takut, aku bersamamu, ceritakan semuanya,” Hendrik ingin mengetahui alasan sebenarnya. Denny sangat mencintai dan akan melindungi. Tapi kenyataannya Denny pun dapat tertipu dan kehilangan Indah.


“Hen…kau sangat mencintai Hannakan?” Tanya Indah menatap wajah Hendrik sedih. Hendrik menyukai Hanna tapi sebaliknya Hanna tidak.


Hendrik tertegun mendengar ucapan Indah. Sebenarnya Hendrik berbohong untuk menutupi rasa cinta kepada Indah. Tapi Indah mempercayai kebohongannya sampai detik ini.


“Hem,,,Hendrik menganggukkan kepala sedang bibirnya tertutup tidak mampu berucap.


“Dia, mencintai mas Denny dan dia sakit parah. Aku tidak bisa menolak permintaan terakhir seorang yang akan meninggal. Dia ingin menghabiskan sisa hidup dengan lelaki yang sangat dia cintai. Aku seharusnya tidak hadir diantara mereka. Mamanya sangat membenciku Hen, dia tidak akan menerimaku sampai kapanpun. Dia hanya menginginkan Hanna menjadi menantunya. Aku tidak bisa hidup bersama Mas Denny kalau dia harus bermusuhan dengan mamanya. Dia memberiku waktu tiga puluh hari hidup bersama dengan mas Denny. Setelahp itu aku harus pergi. Mamanya mengancam akan membuat keluargaku dalam bahaya. Kalau aku egois, tidak ada yang ku takutkan, papa, mama dan kakakku Dino telah tiada. Tapi aku masih memilki pakde dan keluarga kecilnya. Aku tidak ingin mereka sengsara hanya karena perasaanku.” Indah menatap jauh, air mata menetes kembali dari sudut mata. Dia sudah mengambil keputusan, tapi hatinya tetap terasa sangat sakit dan kehilangan. Apalagi di dalam rahimnya bersemi buah cinta Denny.


“Kenapa harus bersandiwara dengan kematian? Kau bisa pergi tanpa membohongi dirimu dan orang lain.” Hendrik tidak mengerti mengapa Indah harus memilih kematian sebagai jalan keluar.


“Kalau aku pergi, Mas Denny akan berusaha mencariku. Kematianlah satu-satu jalan bisa memisahkan kami. Mas Denny akan percaya, kalau aku telah tiada.” Indah mengalihkan pandangan menatap wajah Hendrik. Lelaki di hadapannya terlihat kecewa, tapi semua sudah terjadi. Indah tidak menyesal, seiring waktu dia yakin akan dapat menata hati dan kehidupannya.


“Baiklah, aku sudah mendengar apa yang inginku ketahui, selebihnya bukan sesuatu yang menarik dan hanya akan membuka lukamu. Kau sudah membuat keputusan, dan tidak dapat ditarik kembali. Sekarang apa rencanamu?” Hendrik tidak ingin Indah bertambah sedih dengan banyak bertanya. Apalagi saat ini kondisi Indah sangat lemah. Dia menyimpan segudang pertanyaan tapi semua dia tangguhkan. Baginya, bertemu gadis yang dicintainya itu lebih penting dari semua pertanyaan.


“Aku tidak tahu. Tiga bulan ini di pagi hari, aku hanya menghabiskan waktu berjalan dan duduk ditaman itu. Hatiku sangat tenang menikmati keindahan bunga. Sore hari aku kembali ke penginapan. Biaya hidupku sudah menipis. Aku menolak semua pemberian, dari mama mas Denny maupun Hanna. Aku ingin benar-benar menghilang dari mereka. Tapi, aku belum bisa, Hanna masih berhubungan denganku. Aku hanya ingin mengetahui kabar mas Denny. Aku benar-benar belum bisa melupakan dirinya.” Indah melempar pandangan ke perut dan meletakkan tangannya di sana. Perutnya akan semakin membesar, dia belum bisa berpikir menentukan langkah yang akan dijalani.


“Kau jangan khawatir, aku akan membantumu.” Hendrik menatap wajah Indah dalam, dia bertekad menjaga bahkan memberi perlindungan Indah dan anak dalam kandungannya.


“Tapi Hen,” Indah tidak sempat meneruskan kata-katanya.


“Aku memiliki Tante di sini, nanti ku kenalkan dan kau akan tinggal bersamanya. Dia seorang diri setelah putrinya meninggal dunia. Dia pasti senang dan memiliki teman. Sekarang kau hanya perlu istirahat dan kita akan pergi setelah dokter mengijinkan.” Hendrik meraih ponsel dari saku baju, terdengar membuat panggilan. Mata Indah mengamati wajah Hendrik dan telinga mendengar pembicaraan yang menyebut-nyebut namanya. Tak lama Hendrik menyudahi panggilan, lalu mengembalikan ponsel bersembuyi di balik saku baju.


“Semua sudah beres, kita hanya menunggu kau keluar dari tepat ini. Tante senang dan sangat tidak sabar ingin bertemu.” Senyum terpasang di bibir Hendrik menyampaikan kabar gembira.


“Hend, terima kasih. Tapi apa dia masih mau menerimaku setelah nanti tahu kalau aku hamil?” Indah ragu, kalau bibi Hendrik masih bersedia menerima dirinya.


“Tanteku seorang yang terbuka dan berpikiran luas. Setelah kau menjelaskan semuanya, aku yakin dia akan semakin senang menerimamu.” Hendrik meyakinkan Indah atas keraguannya.


Setelah Indah ke luar dari rumah sakit, Hendrik membawanya menemui tante Ira. Seorang perempuan separuh baya yang sukses di dunia desainer dan hidup sendiri. Dia menyambut dan menerima dengan senang hati. Sebelum perjumpaannya dengan Indah, Hendrik telah bercerita banyak dan menjelaskan keadaannya saat ini. Tante Ira sangat terharu dan bersedia menolongnya, bahkan Indah menjadi anak angkat dengan mengganti nama menjadi Jesika sesuai nama anaknya yang telah meninggal dunia karena demam tinggi.


Mereka hidup bersama dan Indah merintis usaha wedding organizer berkat bantuan tante Ira yang memiliki sahabat para desainer. Indah berusaha bangkit dan berhasil melalui masa-masa sulit dan melahirkan seorang anak laki-laki. Hendrik selalu ada memberikan bantuan dan dukungan. Hendrik memiliki ikatan yang kuat dengan anak laki-laki Indah, karena Hendrik selalu menyempatkan waktu bersamanya sedari kecil. Saka nama anak lelaki Indah buah cinta Denny, sudah menganggap Hendrik sebagai papanya. Hendrik pun menaruh rasa sayang yang amat besar.


#Story On#


Denny di dalam ruang keamanan, duduk di kursi dan memangku Nia. Tangan yang terbalut perban, kembali terbuka dan mengeluarkan cairan merah.


“Pa, Nia lapar,” Dania mengusap pipi Denny perlahan. Matanya menatap wajah Denny yang dingin.


Denny meraih ponsel dari balik saku jas dan terdengar berbicara dengan seseorang.


“Sampai kapan aku harus di sini, cepat kirim seseorang menjemputku,” Suara Denny meninggi dan memutuskan pembicaraan dengan sepihak.


************************************************************************************************


Hai semua, terima kasih setia menunggu kelanjutan kisah “Rasa Cinta Tak Pernah Hilang.”

__ADS_1


Dukungan dalam Vote dan Like sangat aku harapkan. Serta jangan lupa saran yang membangun di kolom komentar. Salam cinta selalu, I love you all.


__ADS_2