
“Tok, Tok, Tok,” suara pintu diketuk. Iqbal telah berdiri di depan pintu menatap Denny dalam rangkulan Hanna. Senyum menggaris di wajah Iqbal.
“An, tinggalkan kami,” Denny melihat Iqbal melangkah masuk. Hanna menganggukkan kepala dan melangkah meninggalkan mereka berdua.
“Rekaman yang kau unggah, banyak menuai pujian dan tidak sedikit juga yang mengkritik. Nyonya besar mungkin tidak akan senang mengetahuinya.” Iqbal duduk di sofa dan asik menatap ponsel di tangannya.
“Dia sudah mengetahui dan aku tidak perduli dengan perasaannya. Apa yang kau bawa?” Denny mendekat menghampiri Iqbal. Terlihat map diletakkan di atas meja.
“Jadi, untuk apa kau melakukan ini semua, bukankah untuk menyakitinya?” Iqbal meraih map dari meja dan menyerahkan ke tangan Denny.
“Tidak, bukan itu tujuanku.” Mata Denny mengamati lembaran yang ada di dalam map.
“Beberapa bukti transfer rekening milik nyonya besar semua ada di situ. Semua tidak ada yang mencurigakan, transfer dilakukan hampir sama setiap bulan dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya ada satu bukti transfer yang mencurigakan, transaksi dilakukan dalam lima bulan terakhir ini. Setelahku selidiki ternyata untuk panti asuhan. Penyelidikan tidak dilanjutkan.” Denny mendengarkan penjelasan Iqbal dengan pandangan mengamati lembar demi lembar kertas di tangannya dan membuangnya ke lantai.
“Ada apa, apa ada yang salah? ” Iqbal terkejut, dan memungut kertas yang berserakan dilantai dan meletakkan di atas meja.
“Semuanya salah, perkiraanku salah, dugaanku salah, harapanku juga salah,” Denny menarik kasar rabutnya ke belakang.
“Kau kenapa Den, aku tidak mengerti. Katakan apa yang bisaku lakukan?” Iqbal menatap Denny yang terlihat prustasi.
“Dugaanku semuanya hanya permainan mama. Dia mengancamku akan memisahkan kami setelah tiga puluh hari. Aku berharap itu benar, dia melakukannya dan aku akan mencari Indah di manapun dia sembunyi. Tapi harapanku salah, Indah telah tiada. Dia benar-benar telah pergi dariku selamanya. Harapanku sirna Bal, lebih baik aku mati saja.” Denny menjatuhkan dirinya dari kursi roda dengan berurai air mata dan tidak menghiraukan rasa sakit di kakinya.
“Denny, apa yang kau lakukan, kau mau mati? Baiklah aku akan membantumu, kau mau mati yang bagaimana, hah? Minum racun, gantung diri, atau loncat dari ketinggian. Aku akan menemanimu, kita mati sama-sama, Indah juga mati karena keteledoranku, aku bertanggung jawab dengan kehilanganmu.
Kau pikir, hanya kau yang bersedih. Aku juga, aku bisa gila memikirkan keadaanmu sekarang. Kalau kematian bisa menolong kita, baik, kita lakukan bersama-sama,” Iqbal menggoyang tubuh Denny yang tergeletak di lantai, akhirnya dia pun ikut berbaring di lantai. Keduanya berurai air mata meluapkan kesedihan.
__ADS_1
Pak Jung berlari ke atas mendengar suara keras dari kamar Denny. Langkahnya terhenti di depan pintu dan tidak menerobos ke dalam kamar. Hatinya menghentikan langkah kaki, membiarkan dua lelaki di dalam kamar melepaskan beban masing-masing. Pak Jung kembali melangkah turun setelah keduanya terdengar tenang.
Suasana hening menyelimuti kamar Denny beberapa saat kemudian. Tubuh Denny dan Iqbal masih tergeletak di lantai dengan pandangan menatap langit-langit kamar.
Bal, apa kau yakin kalau mayat itu Indah?” Ada sesuatu yang mengusik pikiran Denny, tapi dia sendiri tidak bisa mengungkapkan.
“Kenapa kau ragu? Apa perlu aku gali kuburannya? Kalau kau perintahkan, akan ku lakukan sekarang,” Iqbal menunggu persetujuan dari Denny dengan pandangan masih menatap langit-langit kamar.
“Tidakku sangka kau lebih tidak waras dari yang kupikirkan. Tidak perlu kau lakukan, aku tidak ingin dia menderita dengan mengganggu jasadnya. Kepergiannya saja sudah sangat menyakitkan bagiku, biarkan dia tenang di sana.” Denny menoleh dan menatap Iqbal dengan senyum menggaris di bibirnya. Dia tahu sahabatnya itu bersedia melakukan apa saja untuk kebahagiaan dirinya.
“Apa yang terjadi dengan kau dan Hanna?” Tanya Iqbal penuh selidik menatap Denny, mengalihkan pembicaraan.
“Hati-hati dengan pikiranmu, aku tidak semudah itu melupakan wanita yang kucintai.” Denny berusaha bangun.
“Maafkan ucapanku, tapi hidup terus berjalan. Kau harus bisa menata hatimu kembali.” Iqbal bangun dan membantu Denny duduk di kursi rodanya. Dia berharap Denny bisa membina hubungan dengan Hanna. Hidupnya tidak harus dalam kenangan Indah.
“Kau yakin aku tinggal sendiri, tidak ingin ku temani?” Iqbal takut Denny berbuat nekad setelah kepergiannya.
“Hem, aku berpikir dua kali untuk mati sekarang ini. Aku tidak ingin kau mati bersamaku dan orang-orang akan menduga kita ada hubungan terlarang.” Denny tersenyum menatap Iqbal.
“Suasana hatimu memang susah ditebak, aku kira kau sudah mulai kembali dengan sifat aslimu,” Iqbal berkata-kata di dalam hati dan menatap Denny dalam.
“Baiklah, aku pergi, kalau perlu sesuatu cepat hubungi aku,” Balas Iqbal dengan senyum menggaris di bibir.
Denny menganggukkan kepala dan Iqbal melangkah pergi ke luar kamar. Pandangan Denny mengiringi kepergian Iqbal. Dirinya sangat bersyukur memiliki sahabat yang selalu setia bersamanya.
__ADS_1
Beberapa hari berikutnya, Denny berada di rumah sakit, melakukan pemeriksaan.
“Kesembuhan kakimu, mengalami banyak kemajuan. Kalau kau mematuhi semua ucapanku, kau akan sembuh lebih cepat dari perkiraanku.” Harun menatap layar komputer melihat hasil scan kaki Denny.
“Aku pasien yang sangat bisa bekerjasama dengan baik, kau tidak perlu meragukannya.” Denny meraih pulpen dari meja Harun dan memain-mainkan di jarinya.
“Ya, aku bisa lihat itu, dan selamat atas pernikahanmu dengan Hanna.” Harun tersenyum menatap wajah Denny
“Aku tidak menyangka, dokter sesibuk dirimu, masih memiliki waktu membuka laman media sosial.” Denny menyindir Harun dengan kata-kata. Berita pernikahan hanya diunggah di akun pribadi miliknya.
“Wah, kau sudah bisa marah sekarang, aku ini dokter milenial dan dokter pribadimu. Jadi riwayat kesehatan atau kehidupan pasien, aku harus mengetahuinya. Kalau boleh jujur, yang pantas marah di sini aku, karena apapun yang terjadi aku selalu tahu yang terakhir. Sekarang aku tidak bisa menahan diri lagi, sebagai sahabat dan sekaligus pasenku, kau sungguh tidak menghargai aku. Kau tidak mengundang aku dan istriku ke pernikahan itu.” Harun memasang wajah cemberut menatap Denny yang tersenyum di hadapannya.
“Jangan marah, tidak perlu dibesar-besarkan, pernikahan itu aku sendiri tidak menginginkannya. Mama mengambil kesempatan di waktu yang tepat karena aku tidak bisa lagi menghindar dengan keadaan seperti ini. Kau sendiri tahu bagaimana perasaanku terhadap Hanna.” Denny menjawab dengan tenang dan masih memain-mainkan pulpen di jarinya.
Harun beranjak dari kursi dan melangkah menghampiri Denny, mengambil pulpen di tangan Denny dan bersender di meja menghadap Denny.
“Den, kau harus membuka hatimu untuk Hanna, lupakan masa lalu. Walaupun peristiwa itu masih melekat dalam ingatanmu, kau tidak bisa hidup terus dalam bayangan Indah.” Harun memegang bahu Denny, menatapnya dalam. Dia ingin sahabatnya itu, bisa kembali menjalani kehidupan yang normal.
“Kenapa semua orang memaksaku melupakan Indah, bukannya masa lalu itu bagian dari kehidupan. Adanya masa kini, karena rangkaian perjalanan masa lalu. Bagaimana aku harus memotong rangkaian itu? Kau tahu, bagaimana pun aku berusaha melupakannya, dia semakin kuat dalam ingatanku. Bahkan sampai sekarang pun aku menganggap dia masih ada, dia akan berlari mendatangiku. Aku sangat merindukannya, kau tahu itu?” Suara Denny tersekat, air matanya tumpah, dirinya benar-benar lemah di hadapan Harun.
Harun hanya berdiam diri menatap kesedihan Denny. Pikirannya terbawa mundur beberapa waktu yang lalu, sebelum Denny tiba di rumah sakit. Hanna menelpon, meminta dukungan agar dia mau menasehati Denny tidak terus larut dalam kesedihan dan menerima dirinya. Harun tidak menjanjikan sesuatu yang pasti kepada Hanna, tapi dia akan mencoba dan tidak ingin melukai perasaan Denny yang baru kehilangan.
“Maafkan aku, sebagai sahabat aku hanya ingin kau menjalankan hidup yang bahagia. Pikirkanlah kata-kataku saat kau sudah tenang,” Harun memberikan sehelai tisu kepada Denny yang menutup wajah dengan kedua tangannya.
Beberapa saat kemudian, mobil membawa Denny meninggalkan gedung Rumah Sakit. Padangannya melihat suasana malam di jalanan melalui balik kaca jendela mobil. Iqbal memerhatikan kebisuan Denny, dari meninggalkan ruangan Dokter Harun.
__ADS_1
Denny telah berada di kamar, tubuhnya terasa sangat lelah dan ranjanglah tempat pelepas rasa lelahnya. Denny membaringkan tubuh, memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikiran. Terdengar suara nafas berat Denny, dia pun tidur dengan lelap.
Perlahan pintu kamar terdorong dan terbuka, Hanna melangkahkan kaki mengendap-endap menghampiri ranjang Denny. Hanna menatap wajah Denny yang teduh tertidur lelap. Setelah puas menatap Denny dia pun melangkah pergi meninggalkan kamar. Hampir seperti itu setiap malam, Denny tidak mengijinkan tidur sekamar. Hanna menuruti keinginan Denny, walaupun dirinya sangat ingin berada dekat.