
Mobil Denny tiba di tempat yang telah dijanjikan. Iqbal menyetir selama dua puluh menit menuju tempat itu. Dia memperhatikan tempat pertemuan yang dipilih investor asing. Dari dalam mobil Iqbal ragu ingin turun. Dia melirik Denny duduk di belakang dari balik kaca spion.
“Haruskah kita turun?” tanya Iqbal memastikan keputusan Denny.
“Kenapa, bukankah sudah kau persiapkan semuanya?” Denny malah balik bertanya menatap punggung belakang Iqbal.
“Iya, semua sudah siap.” Jawab Iqbal.
Iqbal mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Kemudian dia ke luar dari mobil. Berputar, membukakan pintu Denny dan dia pun ke luar.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam. Denny tidak suka suasana di dalam. Apalagi tepat ini sebuah Diskotik, penuh pengunjung pria dan wanita menjadi satu. Bau minuman alkohol menyengat di hidungnya. Suara hingar-bingar musik dan tawa menjadi satu. Dua laki-laki berjas rapi menyambut mereka dan mengantar ke sebuah ruangan. Pintu terbuka, telah tampak laki-laki berperawakan gemuk, kepala pelontos dan bermata cipit, berdiri menyambut dengan senyuman. Denny dan Iqbal masuk dan memberikan jabatan tangan hangat.
Terjadi komunikasi antara Denny dan Investor asing. Seorang laki-laki penterjemah membantu komuniksi mereka hingga berjalan lancar. Hampir satu jam juga mereka berada di tempat itu. Kesepakatan pun telah terjadi antara mereka. Denny bangun dari duduknya ingin segera pamit dan kembali ke kantor. Tapi investor asing menahannya. Dia ingin memberikan sebuah hadiah kejutan untuk Denny sebagai tanda persahabatan. Denny menghargai permintaannya. Dia pun menuruti dan duduk kembali.
Tak lama pintu ruangan mereka terbuka. Beberapa gadis cantik masuk dan berbaris di depan mereka. Denny menatap tajam ke arah Iqbal. Iqbal paham maksud Denny, dia tidak senang dengan kejutan investor asing ini.
__ADS_1
Para gadis cantik terus masuk, berbaju sexy, tipis hingga menampakkan lekuk tubuhnya dan senyum menggoda. Denny tidak ingin melihat pemandang di hadapannya. Dia lebih memilih melihat ponsel di tangannya. Betapa terkejutnya Iqbal melihat gadis terakhir masuk. Denny menoleh ke wajah Iqbal saat tangannya ditepuk. Memperhatikan tarikan wajah Iqbal menunjuk ke suatu arah.
“Indah, kenapa dia ada di sini?” batin Denny bertanya-tanya.
Indah ada diantara para gadis. Berdiri lemah dengan wajah tertunduk.
"I choose first, your next," Investor menatap Denny, senyum menyeringai di wajahnya.
Dia beranjak dari tempat duduk, melangkahkan kaki dan mulai memilih para gadis berbaris di hadapannya. Seorang gadis ditarik dan jatuh dalam peluknya. Kemudian melanjutkan langkahnya dan menarik seorang lagi dan mendekapnya. Gadis-gadis didekapannya membelai manja. Sang investor sangat senang dan bergairah. Tak cukup sampai di situ dia masih berjalan ingin memilih kembali. Kakinya terus melangkah semakin mendekat ke arah Indah.
Tiba-tiba tangan Indah ditarik dengan paksa dan diapun jatuh dalam dekapan. Indah hanya pasrah dan memejamkan matanya. Tubuhnya tak mampu menolak. Tenaganya telah terkuras menahan rasa sakit. Saat ini, dia hanya berharap sang kakak datang menolongnya.
“Oke-oke, not problem.” Pria asing melempar senyum.
Perlahan Indah membuka kelopak matanya, dia terpana saat menatap lemah wajah Denny ada di hadapannya sekarang. Denny merangkul Indah, membawanya berjalan ke sofa dan mendudukkan perlahan.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Bisik batin Denny melihat kaki Indah berdarah. Rambut panjang Indah menutupi wajahnya. Lembut Denny menyibak rambut Indah. Terlihat air mata mengalir dan pipinya lebam. Darah mulai mengering di sudut bibir Indah dari luka robek. Hati Denny seketika hancur menatap penderitaan Indah. Segaris senyuman terlukis di bibir Indah menatap mata Denny dan dia pun jatuh tak sadarkan diri. Denny memeluk erat tubuh lemah tak berdaya.
“She go with me,” Ucap Denny kepada investor asing.
Tanpa perlu menunggu jawaban, Denny menggendong dan membawa Indah berjalan ke luar. Langkah Denny terhalang, saat dua orang laki-laki mencegahnya.
"Brukk," tubuh kedia laki-laki terpental ke belakang. Tendangan keras kaki Denny menyasar ke perut mereka.
Beberapa laki-laki berdatangan mendekati Denny. Iqbal tidak tinggal diam, bergerak cepat menghajar mereka . Lalu para pengawal Denny datang memberi bantuan. Sebelumnya Iqbal telah siaga menempatkan beberapa pengawal rahasianya di dalam diskotik. Berjaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Denny pun dapat dengan bebas membawa Indah ke luar dengan selamat.
Iqbal membukakan pintu mobil dan Indah disandarkan di kursi belakang dengan hati-hati. Dennny masuk dari pintu satunya lagi. Duduk di samping Indah dan merebahkan kepala Indah di pangkuannya.
“Iqbal cepat, kita ke apartemen sekarang,” perintah Denny.
Denny membelai lembut rambut Indah yang panjang menutupi wajahnya. Tangannya gemetar membelai wajah lemah Indah . Spontan tangannya memukul senderan bangku di depannya.
__ADS_1
“Sial, siapa yang sudah berani memukulnya.” Suara Denny geram.
Iqbal memperhatikan tingkah Denny dari kaca spionnya. Iqbal berusaha menduga-duga perasaan Denny sekarang ini. Perasaannya saat ini mengatakan kalau Denny telah jatuh hati kepada Indah.