Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 7 Kedatangan Dokter Harun


__ADS_3

Mobil pun tiba di apartemen Denny. Apartemen itu jarang ditempati. Kalau Denny merasa bosan di rumah mamanya, maka dia akan menginap di apartemen. Denny kembali menggendong Indah dan membawanya masuk ke dalam kamar. Meletakkan Indah di ranjang perlahan. Iqbal ikut masuk ke dalam kamar. Memastikan kalau Denny membutuhkan bantuan.


“Carikan baju untuknya,” pinta Denny kepada Iqbal.


Iqbal pun segera pergi ke luar. Membawa kembali mobil membelah malam.


Denny pergi ke dapur dan buru-buru melangkah kembali ke kamar dengan alat kompres di tangannya. Pelan dia mengompres pipi Indah. Dan Indah mengerang kesakitan. Denny meraba dahi Indah, merasakan punggung tangannya panas.


"Dia panas tinggi." Bisik Denny.


Denny panik dan meraih ponsel dari saku baju. Membuat panggilan, meminta seseorang segera datang. Denny berusaha mendinginkan tubuh Indah dengan menyapukan sehelai handuk kecil basah di tangan dan kakinya.


Tak beberapa lama suara bel berbunyi. Denny berlari membuka pintu. Harun seorang dokter, teman Denny telah berdiri di depan pintu. Kantuk menggantung di wajahnya.


"Den, siapa yang kritis? Jangan becanda malam- malam gini." Tanya Harun mengangkat alis mata.


"Sudah jangan banyak tanya, ayo masuk cepat." Menarik tangan Harun melangkah masuk.


Harun menuruti langkah Denny mengantarnya ke kamar. Harun terkejut ada seorang gadis terbaring lemah di ranjang. Tanpa pikir panjang dia mendekat dan memeriksa kondisi Indah. Harun menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kau apakan gadis ini Den, kau main kasar ya? Sampai dia shok dan pingsan?” tanya Harun heran menatap tajam Denny.


“Tutup mulutmu. Jangan bicara sembarangan. Kau obati saja dia sampai sembuh.” Bentak Denny kesal.


“Ambilkan aku air hangat.” Pinta Harun.


Denny berlari ke dapur mencari air hangat.

__ADS_1


“Sial, mana ada air hangat. Aku jarang ke mari.” Gerutu Denny tidak mendapati air hangat.


Dia pun memanaskan air, menyalakan api kompor. Setelah panas Denny membawanya ke kamar.


“Lama sekali’” tanya Harun.


“Cerewet, cepat kerjakan tugasmu,” balas Denny.


Harun ingin membuka baju Indah. Dennny menahan tangan Harun.


“Apa yang akan kau lakukan hah?” Menatap tajam ke arah Harun.


“Aku dokter, aku lebih tahu apa yang harus ku lakukan.” Menepis tangan Denny.


"Jangan macam-macam," bisik Denny menatap wajah Harun menggenggam kembali tangannya saat memegang baju Indah.


"Baiklah," Denny mengalah melepaskan tangannya.


Harun membuka baju Indah yang kotor, dan saat membalik tubuhnya, terlihat tangan Indah lebam dan darah di sikunya. Beberapa bagian tubuh, paha dan kaki Indah berwarna biru.


"Apa yang terjadi padanya," Harun mendesah heran.


Denny terkejut melihat kondisi Indah, tangannya menyapu rambut kebelakang. Menggigit gigi kesal, tangannya mengepal geram dan ingin melampiaskan amarahnya tapi tidak tahu kepada siapa.


Harun telah selesai membersihkan luka dan menoleskan salap ke tubuh Indah. Dia ke luar kamar dan mendapati Iqbal sedang terduduk. "Siapa gadis itu, Bal?" tanya Harun mendekat. Terlihat Iqbal berbicara serius menatap Harun.


Denny duduk di samping Indah. Dan membelai lembut kepala Indah.

__ADS_1


“Aku akan membalas setiap luka yang ada di tubuhmu,” bisik Denny dengan mata merah menahan amarahnya.


Denny berjalan ke luar meninggalkan Indah. Menghampiri Harun yang sedang berbicara kepada Iqbal.


“Syukur dia hanya mendapat kekerasan fisik dan tidak ada kekerasan seksual. Dia butuh istirahat memulihkan trauma fisik dan luka memarnya.” Jelas Harun menatap wajah Denny yang sangat kesal.


Sedikit terlihat kelegaan di wajah Denny, dia sangat khawatir kalau Indah telah dilecehkan.


“Denny, kau jaga dia baik-baik. Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku.” Jelas Harun.


"Hem, terima kasih, Run," jawab Denny.


"Tidak masalah," menepuk bahu Denny.


Harun melangkah ke luar, meninggalkan Denny dan Iqbal.


Iqbal pun menyerahkan barang yang diminta Denny. Melihat isi tas pemberian Iqbal dan terdapat beberapa helai baju serta pakaian dalam wanita. Denny memberikan tatapan tidak senang kepada Iqbal.


“Tenang, aku pilih yang terbaik, Dia pasti suka,” memasang wajah senyum.


"Dasar kau, masih bisa juga berpikir konyol," menatap aneh Iqbal.


"Aku bermalam disini?" tanya Iqbal.


"Kau boleh pulang, aku bisa menjaganya. Istirahatlah, besok ada tugas penting yang harus kau kerjakan. Aku akan segera menghubungimu." Berbalik melangkah ke kamar Indah.


Iqbal merasakan amarah di suara Denny. Dia pun menuruti perintah. Melangkah ke luar meninggalkan Denny, pulang beristirahat di rumah.

__ADS_1


Denny masih lekat memandang wajah Indah. Pikirannya membayang semua luka di tubuh Indah. Perasaannya entah mengapa sangat sakit.


__ADS_2