Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 89 Bersama Papa?


__ADS_3

“Saka sudah bangun?” Hendrik tahu terjadi sesuatu tadi malam. Dia mendatangi kamar Indah, setelah menghabiskan minum bersama Deli dan sepulang dari mengantarnya ke bandara. Deli mendapat penerbangan malam ke Jakarta. Dia menawarkan diri mengantarnya, karena tahu Indah bersama Denny. Sampai di depan pintu kamar Indah, dia tidak berani mengetuk pintu dan kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin mengganggu suasana hati Indah. Suasana yang bagaimana dia juga tidak tahu. Pagi ini, dia memberanikan diri datang, tidak akan bertanya hanya menunggu Indah bercerita padanya. Memutar pandangan dan terhenti pada tempat tidur. Di sana, Saka masih bersembunyi di balik selimut. Langkah kaki membawanya menghampiri tempat tidur Saka.


“Hei, anak pintar. Ayo bangun, papa akan mengajakmu jalan-jalan.” Hendrik menarik selimut, dan mengelus lembut rambut Saka.


“Akhhhhhhhhhggggg” Saka mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengeliat kencang. Kelopak matanya terbuka dengan malas. Rasa kantuk masih menggantung, dia tidak langsung tidur setelah Jesika dan Hendrik pergi meningalkan kamar. Matanya berlama-lama di depan tablet sambil menunggu Jesika. Akhirnya dia tertidur sebelum Jesika kembali.


“Pagi, jagoan. Apa kau tidak tidur cepat tadi malam?” Hendrik menatap penuh kasih sayang. Menarik kedua tangan Saka hingga terduduk.


“Heum, aku menunggu mama dan papa, sampai aku tertidur.” Saka menggosok-gosok kedua mata dengan kedua punggung tangannya.


Jesika duduk di kursi menyaksikan kedua lelaki di hadapannya saling menyapa penuh kasih sayang. Hatinya sangat bersyukur Hendrik selalu ada bersamanya.


“Jadi apa yang kau lakukan, selama menunggu. Kau pasti…,” Hendrik tidak sempat melanjutkan ucapannya. Saka sibuk menoleh ke kiri dan kanan seperti mencari sesuatu.


“Ada apa?” Tanya Hendrik melihat tingkah Saka.


“Ma, mana tabletku?” Saka tidak menjawab pertanyaan Hendrik, malah melempar pandangan ke arah Jesika.


“Ada,” Jesika berdiri, melangkah ke meja nakas dan mengambil tablet.


“Ini, sepertinya ada yang ingin kau tunjukkan?” Jesika mengulurkan kepada Saka dan disambut dengan penuh semangat.


Jari Saka langsung menari-nari di atas layar tablet. Kedua mata tekun menatap. Hendrik dan Jesika saling bertukar pandangan.


“Pa, ma , lihat. Aku dapat pesan tadi malam, kalau aku lulus ujian sekolah. Aku telah berhasil menyeselaikan sekolah lebih awal.” Saka menunjukkan layar tablet pengumuman kelulusannya. Di negara B tempat tinggal dan sekolah, Saka mengenyam pendidikan dasar diusia empat tahun. Sekolah dasar diselesaikan selama delapan tahun. Berkat kepintarannya Saka mampu menyelesaikan dalam waktu tujuh tahun.


“Wah, kau memang anak papa yang jenius,” Hendrik memeluk Saka dan mencium rambutnya.” Hadiah papa jadi berlipat-lipat nih. Apa kamu sudah memikirkan hadiahnya?” Hendrik berpindah duduk di samping Saka, mengangkat tangan dan meletakkan di bahunya.


Jesika menghambur senyuman, kebahagiaan tak terhingga mendengar kabar kelulusan Saka. Dia sangat bersyukur dianugerahi putra yang pintar. Tapi ada kesedihan bercampur di relung hatinya paling dalam. Bayangan wajah seseorang terlintas di kepala. Jesika hanya dapat menarik napas panjang dan melepaskan perlahan menenangkan kesedihan di hati.


“Pa, aku sudah memikirkan hadiahku. Aku harap papa memenuhi permintaanku,” Saka menatap Hendrik dan Jesika bergantian. Wajahnya berubah serius, dan menggenggam tangan Hendrik yang satunya.


“Apa, papa akan berusaha memenuhinya,” Hendrik mengelus lembut kepala Saka. Jantungnya berpacu cepat, dia sudah menduga sesuatu yang terpikirkan oleh Saka saat ini.


“Pa, aku menyelesaikan sekolah lebih cepat karena papa. Aku ingin melanjutkan sekolah di Jakarta dan tinggal bersama papa. Selama ini mama selalu menjadikan sekolahku sebagai alasan kita tidak bisa tinggal bersama. Mama dan aku di negara B karena aku harus sekolah di sana. Sedang papa di Jakarta karena pekerjaan. Kita hanya berkumpul, saat merayakan sesuatu saja. Aku iri dengan teman-teman yang bisa tinggal dengan papa dan mamanya bersama mereka. Aku memang masih kecil dan tidak tahu urusan orang dewasa. Apakah kalian sudah berpisah dan merahasiakannya dariku aku tidak tahu. Tapi bisakah kalian bersama demi aku?” Mata Saka berkaca-kaca menatap Jesika dan Hendrik bergantian. Dia merindukan keluarga yang utuh menemani dalam kesehariannya.


Jesika terkejut mendengar ucapan dan permintaan Saka. Tangannya meremas erat selimut pembalut alas tempat tidur. Seketika air matanya tumpah tak tertahankan. Hatinya hancur mendengar permintaan polos putranya. Permintaan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya keluar dari mulut Saka.


Hendrik pun tak kalah sedih mendengar ucapan Saka. Bibirnya kelu tak mampu berucap. Dia sudah mempersipkan diri untuk pertanyaan ini, tapi kekuatan yang dikumpulkan ternyata kurang banyak untuk membuat matanya tidak menangis. Dia tidak bisa menjawab dan hanya mampu menarik tubuh Saka dalam pelukannya.


Mereka terdiam beberapa saat. Jesika menyeka air matanya dan mengangkat kedua tangan meminta Saka mendekat. Hendrik melepaskan pelukannya. Saka merangkak menghampiri dan memeluk tubuh Jesika. Dia mencium harum tubuh yang selama ini menghangatkannya. Keharuman yang khas mengalahi harum wewangian yang ada di dunia. Keharuman tubuh seorang ibu yang tidak dapat digantikan dengan keharuman apapun.

__ADS_1


“Saka, kamu benar sayang, kamu masih kecil dan urusan orang dewasa sangat rumit. Mama minta maaf kamu tidak bisa mendapatkan kasih sayang papamu.” Jesika terdiam, suaranya tersekat di tenggorokan. Dia tidak mampu berujar menjelaskan kalau lelaki yang melimpahkan kasih sayang padanya selama ini bukan papa kandungnya.


“Ma, sekarang papa ada di sini. Mintalah dia membawa kita tinggal bersamanya. Aku sangat ingin kita bersama,” Suara Saka terdengar meminta dengan memohon. Permohonan anak kecil yang merayu menyentuh hati.


Jesika semakin menangis, permintaan Saka mengandung makna ambigu bagi dirinya. Papa yang mana yang harus dia beri jawaban kepada Saka. Papa yang sebenarnya tapi dia tidak mengenalnya atau Hendrik yang dianggap sebagai papa tapi bagi Jesika hanya sebagai sahabat terbaik.


Hendrik mendekat merangkul keduanya. Dia merasakan kesedihan Jesika dan menatap sendu Saka. Dia tidak bisa memenuhi permintaan Saka, karena Jesika tidak bisa menerima dirinya. Jesika adalah Indah yang merubah jati diri. Di dalam hati Jesika hanya ada Denny yang tidak bisa dia lupakan. Denny tidak tergantikan di hati Indah yang telah jatuh cinta dan harus patah hati dalam waktu bersamaan.


“Hei…., jangan menangis. Kita harus merayakan hari bahagia ini. Permintaan Saka akan papa pikirkan. Papa juga sangat ingin kalian kembali. Mungkin sudah saatnya, bagaimana mama Jesika?” Hendrik menatap Jesika mengangkat kedua alis matanya, dia berharap Jesika setuju.


“Hen, kita harus membahas ini nanti. Aku tidak bisa mengambil keputusan tergesa-gesa. Bagaimana dengan bibi Ira dan pekerjaanku?” Jesika melepaskan pelukannya, menarik Hendrik menjauh dari Saka dan berbisik di telinga Hendrik.


“Ma, please, aku mendengarnya. Kita bawa saja Oma Ira bersam dan mama pindah kerja di Jakarta, Bagaimana Pa?” Saka mengangkat tangan dan menyatukan berhadap permohonannya dikabulkan.


“Baiklah anak pintar, diskusinya nanti kita lanjutkan. Sekarang kamu mandi, papa ingin membawa kalian jalan-jalan sebelum kembali pulang. Oke?” Hendrik menarik Saka turun dari tempat tidur. Saka dengan malas melangkah ke kamar mandi dan memasang wajah cemberut. Hendrik tersenyum menatap wajah lucu Saka.


“Hen, jangan berjanji sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Aku tidak akan kembali ke Jakarta.” Jesika berdiri membelakangi Hendrik menatap wajahnya di depan cermin. Kembali Ke Jakarta bukan pilihan yang tepat. Dia tidak ingin kehidupannya berhubungan dengan Denny.


“Pikirkan Saka, aku sedih mendengar keinginan….” Hendrik tidak sempat meneruskan kata-katanya.


“Jangan perdulikan, dia masih kecil. Nanti juga dia akan lupa,” Jesika menarik napas panjang dan melepasnya kasar.


“Kau yakin dia akan lupa? Saka anak pintar, kau dengarkan dia lulus sekolah lebih cepat karena ingin kembali ke Jakarta. Apa itu suatu kebetulan, aku kira tidak. Dia merencanakan dan berusaha, ternyata berhasil. Kau jangan mengecewakan dia walaupun katamu dia masih kecil. Tapi perasaannya tidak sama seperti anak kecil yang lain. Pemikirannya dewasa dalam usia yang masih kecil.” Hendrik memegang pundak Jesika. Ucapannya hanya semata-mata memikirkan perasaan Saka yang merindukan kasih sayang seorang papa. Bukan kasih sayang darinya yang harus Saka peroleh, tapi dari Denny, papa yang sebenarnya.


Jesika menepis tangan Hendrik dan mendaratkan tubuh di kursi. Dia tidak mungkin memenuhi permintaan Saka. Kembali ke Jakarta dan berkumpul bersama Hendrik menjadi sebuah keluarga. Hendrik hanya sahabat, hatinya tidak bisa menerima suatu hubungan yang lain.


Di tempat lain, pada waktu yang sama.


Denny dan Nia ke luar dari hotel memasuki mobil. Perlahan mobil berjalan dan menghilang dari pandangan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan lengang di pagi hari, kendaraan tidak banyak berlalu lalang. Jalanan kota Tokyo lebih banyak digunakan para pejalan kaki.


Beberapa menit kemudian, mobil telah sampai ke tujuan. Denny mengendong Nia setelah ke luar dari mobil. Suasana di Tokyo Disneyland belum banyak pengunjung karena masih pagi. Denny sengaja memilih waktu itu, menghindari dari keramaian.


Nia sangat bersemangat memasuki area komplek Disney melihat patung tokoh-tokoh kartun Disney, Mickey Mouse,Donald Duck, Gufy, Winnie the Pooh, Bambi, Beast, dan Pluto berdiri di depan pintu masuk. Denny membawa Nia menaiki bus bertingkat untuk mengelilingi area Tokyo Disneyland.


Sepanjang jalan wajahnya berseri-seri mengamati pemandangan arena kompleks Disney.


Banyaknya wahana yang tersedia, Denny memilih Fantasyland, karena Nia sangat suka menonton kartun fantasi Disney salah satunya Cinderella. Mereka mengunjungi kastil Cinderella’s Fair Tale Hall. Bangunan yang menyerupai castil tempat tinggal Cinderella bersama pangeran Charming. Setelah masuk menaiki lift menuju lantai dua, pandangan mata disuguhkan lukisan-lukisan potongan cerita Cinderella yang menempel di dinding bangunan castil. Langkah kaki keduanya terus menyusuri ruangan. Nia tidak melewatkan berfoto bersama sepatu kaca Cinderella dan mencobanya. Di sudut ruangan mata Nia memperhatikan kotak-kotak kaca yang berisikan boneka tokoh Cinderella dalam lakonan potongan cerita. Juga tidak ketinggalan mendaratkan punggung di kursi singgasana mengabadikan lewat jepretan ponsel pintarnya.


Puas berkeliling di dalam kastil, Denny dan Nia melanjutkan pertualang di dalam wahana Pirates of the Caribbean. Bak berlayar bersama Kapten Jack Sparrow, Denny dan Nia menaiki perahu bersama para pengunjung yang lain. Mereka berdua memilih duduk di deretan kedua dari belakang. Matanya menangkap sosok wajah yang tersenyum.


“Kak Saka, juga di sini?” Sapa Nia, melihat Saka duduk di deretan ketiga betepatan di depannya. Matanya juga melihat Saka bersama papa dan mamanya. Denny menarik pandangan ke arah lawan bicara Dania. Hatinya kembali sakit, melihat Indah dan keluarga kecilnya. Denny kesal dan menarik tangan Nia, tapi tertahan saat seeorang menyapa.

__ADS_1


“Om, izinkan Nia duduk bersamaku boleh?” Saka berdiri dan mengulurkan tangan meminta tangan Nia.


Hendrik dan Jesika menoleh, mendengar Saka menyebutkan nama seseorang. Menyadari Denny ada bersama mereka, Hendrik bersikap ramah.


“Hai tuan, ternyata dunia ini sempit, kita kembali bertemu.” Hendrik mengulurkan tangan dan Denny menyambutnya. Hendrik melirik tangan Denny yang terbalut perban. Jesika berpaling tidak ingin menatap wajah Denny.


Denny memberikan anggukan mengiyakan permintaan Nia setelah menggoyang tangannya tanpa henti meminta duduk bersama Saka.


“Yeyyy, terima kasih pa,” Nia dengan semangat memegang tangan dan berpindah duduk di samping Saka. Karena tempat sudah penuh dengan pengunjung, Hendrik beranjak dan duduk di samping Denny menggantikan Nia.


Petualangan dimulai, perahu berlayar dan suasana berubah menjadi gelap. Perlahan perahu berjalan membawa para pengunjung menikmati patung-patung para bajak laut dari potongan adegan film Pirates of The Caribbean.


“Ihh, serem,” Nia menenggelamkan wajah dan memegang erat tubuh Jesika, saat melihat potongan adegan yang menakutkan. Sentuhan Nia memutar kembali kenangannya bersama Hanna.


#Fashback#


Terlihat di taman rumah sakit, dua orang gadis duduk saling berpandangan. Hanna datang berkunjung ketika Denny dirawat dan belum sadarkan diri. Dia mengungkapkan semua isi hati dari penyakit yang diderita dan keinginannya menghabiskan hidup bersama Denny. Hati Indah berkecamuk, ancaman mama Denny dan permintaan Hanna menyiksa perasannya. Dia tidak ingin Denny bermusuhan dengan mamanya dan juga permintaan Hanna di ujung hidupnya.


Dia mengesampingkan cinta, mengubur cinta, dan menghilangkan cinta. Keputusan pun dibuat, pergi meninggalkan Denny. Jalan yang diambil membuat Denny bisa melupakan dia dengan cara kematian. Dia memilih mematikan kenangannya bersama Denny. Hanna membuat scenario kecelakaan, dan meminjam mayat seorang gadis untuk menggantikan Indah. Polesan dari seorang makeup artis dibayar mahal membuat menyerupai wajahnya. Cinta Denny yang takut kehilangan Indah, kesedihan dan penderitaan membuat dia tidak bisa membedakan keaslian wajah Indah. Di kamar mayat, Denny tidak bisa berpikir waras, tubuhnya gemetar, hatinya hancur melihat tubuh Indah terbujur kaku. Tubuh itu sebenarnya bukan Indah, tapi dia sudah hilang kendali. Indah menyaksikan penderitaan Denny di balik ruang kamar yang sama hanya terpisah dinding kaca gelap transparan satu sisi. Lalu langkah kaki membawa Indah pergi meninggalkan bangunan bertingkat rumah sakit, setelah melihat Denny meyakini kematiannya.


“Hanna, kau pergi meninggalkan kenangan manis, sedangkan aku pergi meninggalkan kenangan getir. Kembali pun aku tak sanggup, mengangkat wajah di hadapannya. Kau pinta aku kembali mengisi harinya setelah kau tiada, itu tidak semudah ucapan. Jalanku penuh duri dan lubang bersamanya. Aku takut akan kalah sebelum berjuang, biarlah aku tetap menghilang.” Jesika mengusap lembut kepala Nia dan mememeluk erat tubuh Saka yang ikut menempel.


Hendrik dan Denny menatap kehangatan kasih sayang di hadapan mereka.


“Tuan Denny, kau sungguh tidak mengenalku?” Suara Hendrik terdengar pelan tapi jelas di telinga Denny. Wajah Denny menoleh dan menatap tajam ke arah Hendrik yang melempar pandangan ke depan.


“Siapa kau, bagaimana kau mengenalku?” Denny mengeram, giginya rapat berbicara.


“Hah, ternyata kau sudah tua, sepuluh tahun waktu berlalu membuat otakmu pikun,” Hendrik menyunggingkan bibir, mengejek Denny dengan ucapan.


“Kau jangan memancing kemarahanku, dan jangan sok akrab,” Denny memalingkan wajah, amarahnya menggebu. Keyakinannya semakin nyata di hadapannya adalah Indah. Kekecewaan lebih menggantungi dari pada rasa gembira, melihat Indah telah memiliki keluarga kecil selama ini.


Suasana hening antara keduanya dan pembicaraan terhenti. Pertualangan seru berakhir, Saka dan Nia sangat menikmati dengan senyum tak lepas dari wajah. Kaki mereka bersama membawa ke luar wahana.


“Bagaimana kalau kita cari makan Pa?” tanya Nia berdongak, menatap wajah Denny yang bertubuh tinggi.


“Mari kita pergi cari makanan bersama,” Ucap Hendrik menatap Denny. Hendrik terus menempel berusaha mengingatkan kembali wajahnya kepada Denny. Langkah kaki membawa Denny lebih dulu tanpa berkata-kata, Hendrik menyusulnya dari belakang. Jesika menggandeng tangan Saka dan Nia, membawa duduk di bangku taman.


**********************************************


Hai semua😉, lama nggak nyapa para pembaca nih. Aku terima kasih udah setia baca novel "Rasa Cinta Tak Pernah Hilang. Maaf juga ada tipo sana sini dan up agak lama. Inspirasinya berbarengan dengan pekerjaan lain😩.

__ADS_1


Jangan lupa beri like, vote yang banyak dan kritikan membangun di kolom komentar. Aku sangat menantinya. Sekali lagi terima kasih and i love you all😘.


__ADS_2