
Ke esokan hari di kantor.
“Bagaimana, apa ada pertemuan penting hari ini?” tanya Denny.
“Sepertinya tidak ada,” Jawab Iqbal.
“Baguslah kalau begitu,”
“Kenapa, apa kau mau pergi?” tanya Iqbal.
“Aku mau pulang, kasihan Indah sendian.” Jawab Denny santai.
“Den, sampai kapan Indah tinggal bersamamu? Sekarang dia sudah sehat dan masalah keselamatannya, kita bisa suruh orang menjaganya.” Tatapan Iqbal dalam ke pada Denny.
“Entahlah, aku berat melepasnya pergi, sudah terbiasa ada didekatnya. Apa lagi belakangan ini kami semakin dekat.”
“Kau mengutarakan isi hatimu kepadanya?” selidik Iqbal menatap wajah Denny.
“Tidak, aku menunggu saat yang tepat.” Denny belum bisa mengutarakan perasaannya kepada Indah.
“Kalau begitu cepatlah, jangan sampai tersebar kabar hubungan gelap kalian ini,” menatap dalam wajah Denny.
“Maksudmu, hubungan gelap bagaimana?” Suara Denny meninggi, tidak senang mendengar kata-kata Iqbal.
“Kau bukan tinggal di luar negeri, masyarakat kita tidak menerima seorang pria dan wanita tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Dan agama kita juga melarangnya.” Iqbal menjelaskan maksud arah ucapannya.
“Tapi kami tidak melakukan perbuatan yang salah.” Denny berusaha membantah penjelasan Iqbal yang dianggapnya tidak benar.
“Alasan apa pun yang kau berikan tidak akan benar. Saranku, kalau kau serius dengannya, nikahi dia,” Iqbal memberi jalan agar Denny tidak dalam masalah.
“Siapa yang mau nikah?” Hanna tiba-tiba muncul disela-sela pembicaraan mereka.
“An, kamu sudah lama datang?” tanya Denny khawatir mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Tidak, aku baru saja tiba dan mendengar sepertinya ada yang ingin menikah, apakah itu benar?” tanya Hanna menatap Denny dan Iqbal bergantian.
“Kami hanya membahas, suatu hubungan yang sudah serius terjalin antara seorang pria dan wanita akan lebih baik dilangsungkan ke jenjang pernikahan. Bukankah begitu tuan Denny?” Jelas Iqbal menatap Denny dengan senyum di sudut bibirnya.
“Iya benar, dan cepat kau nikahi pacarmu itu,” lirik Denny penuh makna, berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah Iqbal.
“Kamu sudah punya pacar Bal? Kenapa tidak kenalkan sama aku,” Tanya Hanna penasaran siapa gadis pujaan Iqbal.
“Pasti akan ku kenalkan An,” balas Iqbal terpaksa mengikuti alur permainan Denny.
“Oh, iya. Mas, kenapa juga temannya tidak dikenalkan waktu itu sama aku, malah membawanya kabur. Apa Mas memang tidak ingin aku mengenalnya?” selidik Hanna mengingat perpisahannya dengan Denny saat bertemu tadi malam.
“Gawat, Hanna mulai menyelidiki Denny,” batin Iqbal menatap wajah Denny yang mulai gusar dengan pertanyaan Hanna.
Denny menatap Hanna, dan berpikir jawaban yang tepat atas pertanyaannya.
“Aku belum bisa mengenalkannya?” Denny memikirkan jawaban yang tepat menghindari pertanyaan Hanna.
“Kenapa, apa dia kekasih Mas?” tanya Hanna dengan hati sedih dan duduk gabung bersama.
“Bukan, dia pacarku. Aku minta tolong Denny membujuknya, biasalah kami berselisih dan dia tidak mau bertemu denganku. Jadi aku meminta Denny membawanya menemuiku.” Jelas Iqbal sekenaknya membantu Denny menjawab pertanyaan Hanna.
“Sial kau Bal, kenapa harus jawab Indah pacarmu,” batin Denny merutuki ulah Iqbal menjawab dengan entengnya.
__ADS_1
“Ohh jadi dia merajuk. Bal, masak kamu tidak bisa membujuk pacarmu sendiri. Nanti dia tertarik sama Mas Denny, baru tahu rasa kamu,” canda Hanna menatap Denny yang hanya terdiam.
“Sudah, ayo kita ke pertemuan. Nanti mereka menunggu terlalu lama. Hanna maaf, aku ada rapat.” Denny beranjang dan melangkah ke luar dengan wajah dingin.
“Baik, maaf An. Aku pergi dulu,” Iqbal terkejut dan langsung mengikuti langkah Denny.
“Iya, baiklah,” Hanna hanya bisa menatap sedih kepergian mereka berdua.
Di dalam mobil Denny.
“Hantarkan aku pulang,” pinta Denny.
“Kasihan Hanna, baru datang sudah kita tinggal pergi,” ucap Iqbal mengenang wajah sedih Hanna ditinggal sendiri.
“Aku tidak ingin berlama-lama dengannya, semakin banyak kebohongan akan terjadi.” Balas Denny menatap datar ke luar jalanan.
“Sudah kau pikirkan cara meyakinkan Hanna?” Iqbal tidak ingin hubungan Denny dan Indah ketahuan sebelum Hanna bisa diyakinkan Denny.
“Sudah, tapi aku tidak yakin,” Denny belum memutuskan kapan berbicara dengan Hanna secara serius.
“Bagaimana kau tahu berhasil, kalau tidak dicoba,” Iqbal meyakinkan Denny.
“Aku masih menunggu waktu yang tepat,”
“Kapan? Tentang Indah juga menunggu waktu yang tepat, jangan terlalu banyak berpikir. Lakukan saja,”
“Aku tidak mau terburu-buru. Bukan Hanna yang aku khawatirkan tapi Mama,” Balas Denny.
Suasana seketika hening, Iqbal teringat masa lalu Denny.
“Indah berbeda dari wanita itu, jangan khawatir dia tidak tergiur dengan kekayaan.” Iqbal menaruh simpatik pribadi Indah seorang gadis yang sederhana.
“Kau lihat sendiri saja nanti,” balas Iqbal tidak ingin menyampaikan penilaiannya biar Denny yang merasakan sendiri.
Di apartemen Denny.
“Wah sudah bersih dan rapi, aku seperti ibu rumah tangga saja sekarang. Memasak, bersih-bersih dan merapikan rumah. Capek juga. Habis, aku bosan tidak tahu mau ngapain di tempat ini,” Indah menungkumkan wajah di meja dan memejamkan matanya.
Karena kecapean Indah akhirnya tertidur di meja.
Tak beberapa lama Denny sudah sampai di apartemen, membuka pintu dan melangkah masuk.
Perlahan Denny menghayun kakinya dengan matanya mengamati sekeliling ruangan.
“Di mana dia, apa di kamarnya atau di dapur,” batin Denny berkata dengan melihat pintu kamar Indah tertutup rapat.
“Di sini rupanya, wanita ini selain hobi makan juga hobi tidur disembarang tempat,” Denny melihat Indah tertidur di meja makan.
Perlahan tangannya meraih tubuh Indah dan menggendongnya.
“Ehmmmm,” terdengar suara Indah.
Denny perlahan berjalan membawa Indah ke kamar dan membaringkan di ranjang.
Denny duduk di sisi tempat tidur dan memandang wajah Indah.
“Aku ingin kau menyukaiku, seperti aku menyukaimu,” bisik batin Denny menatap wajah Indah.
__ADS_1
Denny beranjak dan melangkah ke luar, tapi kakinya terahan. Terasa lengannya dipegang erat. Seketika dia membalikkan tubuh.
“Mas, izinkan saya pulang. Saya rindu rumah dan teman-teman di kantor. Saya tidak sanggup menahannya lagi. Sampai kapan saya dikurung di tepat ini?”Isak Indah.
“Apa?!!! Kamu merasa seperti tahanan di tempat ini?” Denny terkejut mendengar kata-kata Indah.
“Maafkan saya, tidak bermaksud seperti itu,” Lirih Indah pelan menatap wajah Indah.
“Sedikit pun aku tidak pernah menganggapmu seperti tahanan di rumahku sendiri,” Denny melepaskan pegangan tangan Indah dan melangkah ke luar kamar.
Denny sangat kesal dengan ucapan Indah, dia melangkah ke kamar dan menutup pintu dengan kuat.
“Maafkan saya,” isak Indah menyesali kata-katanya.
“Jadi selama ini dia merasa tertekan bersamaku?” keluh Denny mengingat kata-kata yang diucap Indah.
Kepalanya terasa panas, amarahnya memuncak. Denny melepas seluruh pakaiannya dan memilih ke kamar mandi. Air mengalir dari kepala lalu membasahi seluruh tubuh. Lama dia berdiam diri di bawah percikan air shower, mendinginkan amarah dan suasana hatinya.
Indah melangkah ke luar kamar mendekati kamar Denny.
“Apa yang harusku lakukan? Dia sangat marah. Ceroboh kau Indah, makanya dipikir dulu sebelum diucapkan,” keluh Indah berdiri di depan pintu kamar.
Di dalam kamar Denny telah mengenakan pakaian rumahan. Mengenakan Polo Shirt berwarna hitam dan celana jogger berwarna abu-abu. Sangat menunjang ketampanannya dengan kulitnya yang putih. Dia melangkah ke luar. Membuka pintu dan menatap Indah telah berdiri di balik pintu. Denny melanjutkan langkahnya dan seolah-olah tidak menghiraukan.
Indah hanya bisa diam dan menatap Denny melangkah ke dapur.
“Apa yang dilakukannya di dapur? Apa dia memasak?” Bisik batin Indah, melihat Denny membuka lemari es.
Di dapur Denny terlihat memasak sesuatu.
“Ternyata dia tidak memasak hari ini, atau dia sudah makan? “ Denny melirik jam di dinding menunjukkan pukul 3 siang.
Indah perlahan melangkah ke dapur dengan kebisuannya.
“Benar, ternyata dia memasak. Aduh perutku jadi sakit, mencium aroma masakannya. Aku memang belum makan. Karena kecapean beres-beres, aku lupa makan dan ketiduran deh,” keluh batin Indah dan meremas perutnya.
Indah berdiri di sisi meja makan dan mengamati Denny.
Dari sudut matanya, Denny melihat reaksi Indah.
“Ternyata dia belum makan, apa saja yang dilakukannya hingga dia belum makan.” Denny mempercepat geraknya.
Selang beberapa menit kemudian , makanan telah tertata rapi di atas piring.
Denny menyediakan dua piring dan membawanya ke meja makan.
“Duduklah,” ucap Denny menatap Indah.
Indah perlahan menarik kursi dan duduk.
Denny menyiapkan hidangan di atas meja.
“Ayo makan, jangan dilihat saja. Aku akan semakin berdosa membiarkan kau kelaparan, apalagi statusmu tahanan di rumahku.” Sindir Denny menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Mohon maafkan, saya sudah sangat keterlaluan membalas semua kebaikan mas. Seharusnya saya sangat berterima kasih dan kebaikannya menjadi hutang budi bagi saya.” Indah berusaha memperbaiki kesalahannya supaya hati Denny tidak marah.
“Makanlah, aku tidak ingin kehilangan selera makanku. Jangan bicara itu lagi,” Denny menatap mata Indah.
__ADS_1
“Saya akan memakannya,” Indah memasukkan makanan ke mulutnya.
Senyum menggaris di bibir Denny menatap indah memakan hasil masakannya.