Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 30 Kejutan 3


__ADS_3

Iqbal telah sampai di rumah Denny, langsung menuju kamarnya.


“Tok, Tok, Tok,” Pintu kamar Denny di ketuk.


“Siapa?” Denny tidak ingin Hanna lagi yang menemuinya.


“Aku, Iqbal.” Denny lega, ternyata Iqbal yang datang.


“Masuk aja, tidak dikunci,” terdengar suara Denny menjawab dari dalam.


Iqbal meraih pegangan pintu, lalu membuka dan melangkah masuk. Terlihat Denny terbaring di ranjang.


“Ini semua dokumen yang kau pinta,” ucap Iqbal mengulurkan tangannya.


“Hem,” Denny duduk, mengambil dan melihatny domumen pemberiam Iqbal.


“Apa ini? Dokumen apa yang kau ambil ?” Denny menatap Iqbal setelah memeriksa isi domumen.


“Kenapa, dokumennya salah? Aku mengambilnya sesuai yang kau pinta dan aku sudah memeriksanya sebelum datang ke sini,” Iqbal yakin kalau dia mengambil dokumen yang benar.


“Kalau begitu mataku yang salah, kau lihat sendiri,” memberikan lembaran kertas.


Iqbal menerima dan memeriksa lembar demi lembar.


“Kenapa bisa begini?” Batin Iqbal dan otaknya sibuk berpikir.


“Oh… ini pasti tertukar dengan wanita tadi, temannya Indah. Yanti namanya.”Jelas Iqbal menatap Denny sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Kau cari asisten baru,” Denny beranjak dari ranjang.


“Untuk mu, pengganti aku?" Iqbal khawatir mendengar ucapan Denny.


“Buatmu tahu, supaya kau tidak salah,” Denny membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah jaket dan memakainya.


“Maafkan aku, biar aku ke kantor menukarnya kembali,” Jawab Iqbal tertunduk lesu.


“Sudah, tidak usah. Malah aku berterima kasih. Ayo kita ke luar,” Denny melangkah ke luar.


“Kau, berterima kasih, kenapa?” Tanya Iqbal heran mengikuti langkah Denny dari belakang.


Denny terus menghayun langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Iqbal. Senyum tersungging di bibir tipisnya.


Di ruangan kerja Indah dan Yanti.


“Kertas laporan apa ini?” Gumam Yanti memandang kertas di tangannya.


Lalu Yanti beranjak dari kursinya melangkah menuju Indah.


“In, kertasku mungkin tertukar dengan Sekretaris Iqbal. Lihat ini, Aku tidak punya laporan seperti ini.” Mengulurkan kertas ke arah Indah.

__ADS_1


“Gawat Yan, mungkin ini laporan penting. Kamu lihat aja tadi Sekretaris Iqbal berjalan tergesa-gesa.” Terlihat jelas Iqbal tergesa-gesa saat meninggalkan mereka berdua.


“Bagaimana kalau Pak Denny marah besar dengan Sekretaris Iqbal, karena kertas ini, In?” Ucap Yanti dengan wajah pucat, membayangkan Iqbal dimarahi Denny.


“Aku membayangkan wajah dinginnya aja udah kecut Yan, apalagi sampai dia marah. Berdoa aja suasana hatinya tidak buruk, jadi dia tidak marah.” Terlintas di kepala Indah wajah dingin Denny.


“Bagaimana kita bisa tahu suasana hatinya?” Yanti menatap Indah.


“Hari ini, aku melihat kekasih dan Mamanya datang ke sini. Itu bisa jadi sinyal, kalau perasaannya sedang bahagiakan?” Indah teringat saat melihat Hanna merangkul manja tangan Denny.


“Iya, benar juga. Pria mana yang tidak bahagia kekasihnya datang berkunjung dan akur dengan calon ibu mertua?! Balas Yanti membenarkan ucapan Indah.


“Udah, jangan dipikirin. Kita doa aja, semoga semuanya tidak masalah.” Indah yakin kalau suasana hati Denny sedang bahagia jadi Iqbal tidak akan dimarahi.


“Drek, Drek, Drek,” tiba-tiba ponsel Indah berbunyi.


Mata Indah melirik ponselnya di dalam tas, lalu meraihnya.


“Pak Denny memanggil,” batin Indah menatap nama di layar posel.


“Siapa In?” tanya Yanti menatap Indah penasaran.


“Aku jawab dulu ya?” Indah masih merahasiakan kedekatannya dengan Denny, karena dia sendiri tidak tahu jenis hubungan yang terjalin dengan Denny.


“Hallo,” Indah berusaha tenang menjawab panggilan.


“Kamu masih di kantor?” Denny tersenyum memdengar suara Indah.


“Aku di depan perusahaan, datang ke mari dan bawakan kertas laporan itu juga sekarang,” Denny yakin kalau dia menjadi bahan pembicaraam sekarang.


“Apa?” Indah tidak percaya kalau Denny tahu dia sedang dibicarakan. Mata Indah membesar, terkejut seperti orang yang kedapatan mencuri.


“Iya, sekarang,” Ucap Denny lagi.


“Iya,” Indah menutup panggilan dan beranjak dari tempat duduk dan mengambil kertas dari tangan Yanti.


“In, kenapa? Mau ke mana?” Yanti melipat kening menatap Indah.


“Maaf Yan, emergenci. Nanti aku ceritakan,” langsung langkah kaki tergesa-gesa membawa Indah pergi ke luar ruangan.


Yanti hanya mengeleng-geleng kepala menatap kepergian Indah yang tergesa-gesa.


Sampai di depan perusahaan, Indah melihat mobil Denny telah terparkir. Seketika kaca jendela mobil turun, lalu terlihat jelas wajah Denny.


“Masuk,” Denny tersenyum menatap Indah. Dugaannya benar, melihat kertas di tangan Indah.


“Tidak, saya harus kembali ke dalam dan ini kertasnya,” Seketika perasaan Indah tidak senang menatap Denny. Terlintas kembali tangannya dirangkul Hanna.


“Kamu menolak?” Denny tersenyum melihat perubaham sikap Indah. Dia yakin kalau Indah sedang marah karema cemburu padanya.

__ADS_1


“Maaf saya masih ada pekerjaan yang belum selesai,” Indah berusaha menolak karena tidak ingin terlihat bodoh dihadapan Denny dengan perasaan kecewa yang dirasakan saat ini.


“Siapa Bosnya di sini, apa kamu mau dipecat?” Suara ancaman Denny terdengar di telinga Indah.


Tanpa pikir panjang, Indah langsung melangkah membuka pintu dan masuk.


“Hem, wanita ini, sangat takut aku pecat, kata ancaman itu selalu ampuh melemahkannya,” Denny berkata-kata di dalam hati dan senyum menggaris di bibir menatap Indah.


Mobil pun meluncur di jalan membawa Denny, Indah dan Iqbal.


“Maaf Sekretaris Iqbal, teman saya tidak sengaja memungut kertas laporan Bapak,” Indah memberanikan diri berbicara menutupi rasa kesal dan menatap kertas di tangannya.


“Saya juga tidak sengaja mengambil kertas milik teman Nona Indah,” Jawab Iqbal melirik Indah dari balik kaca spion.


“Ini saya kembalikan,” Indah mengulurkan tangan ke depan memberi kepada Iqbal.


“Hei, itu laporan punyaku, kenapa harus kau berikan kepadanya,” suara Denny meninggi merasa seolah-olah dia tidak ada diantara Indah dan Iqbal lalu mengambil kertas dari tangan Indah.


“Iya, kamu serahkan aja kepada Tuan Denny, karena laporan itu memang untuknya,” Iqbal tersenyum menyadari sikap kekanak-kanakan Denny yang merasa diabaikan.


“Sekretaris Iqbal, bolehkah saya bertanya?” Indah melirik dari sudut matanya wajah Denny terlihat kesal. Indah tidak menghiraukan karena yang merasa kesal sekarang adalah dirinya bukan Denny.


“Kenapa wanita ini banyak bicara dengan Iqbal sekarang?” Gumam Denny menahan marah melihat keramahan Indah kepada Iqbal.


“Sebelumnya saya mohon maaf,” Indah benar-benar ingin mengutarakan sesuatu yang baru terlintas di kepalanya.


Jantung Indah berdegup kencang kembali, bayangan Hanna merangkul lengan Denny terus mengganggu dirinya. Rasa sedih kembali lahir di hatinya dan ide konyol yang terlintas adalah mendekati Iqbal untuk menghibur diri.


“Bicaralah, kamu sudah dua kali meminta maaf kepada saya. Saya tidak akan marah,” Iqbal menjadi penasaran apa yang ingin diucapkan Indah padanya.


“Apakah Sekretaris Iqbal masih sendiri?” Indah bertanya tanpa ragu dan tidak memperdulikan Denny yang menatapnya tajam.


“Hei, di depanku berani sekali kau tanyakan itu? Hentikan mobilnya.” Denny tersulut emosi mendengar ucapan Indah.


Iqbal terkejut mendengar pertanyaan Indah, dia pun memilih mematuhi perintah Denny. Mobil menepi di bahu jalan.


“Turun, Bal,” Denny beranjak ke luar mobil.


Iqbal pun menuruti perintah Denny ke luar dari mobil. Indah bingung melihat sikap Denny, dia ingin menghibur diri tapi sebaliknya Denny menjadi marah.


“Kau pulang naik taksi,” Denny menatap tajam Iqbal, tidak percaya kalau Indah ingin mendekatinya. Dirinya sangat kesal.


Iqbal hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Denny masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Iqbal seorang diri di jalanan.


“Kau cemburu kepadaku?” Iqbal menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Denny.


Indah semakin heran melihat sikap Denny yang tiba-tiba marah.


“Kenapa pria ini marah? Apa yang salah dengan kata-kataku?” Gumam Indah memalingkan wajah melemparkan pandangan ke luar jendela.

__ADS_1


“Dia mau bermain-main dengan perasaanku, coba saja.” Denny menatap Indah dari balik kaca spion.


Selanjutnya, tidak terdengar kata-kata terucap diantara mereka berdua. Indah lebih memilih diam dan memejamkan mata karena dia pun merasa lelah. Tatapan Denny tertuju ke jalan dan menyimpan perasaan kesal di hati.


__ADS_2