Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 49 Penyerahan Diri Seutuhnya


__ADS_3

Denny telah duduk di depan Pak penghulu yang berdampingan dengan Pakde Indah. Di kiri kanan Denny juga duduk Iqbal dan pria separuh baya bertugas sebagai saksi pernikahan. Beberapa orang tetangga memasang mata turut hadir menyaksikan. Mata Denny mengamati pengarahan yang diucapkan Pak Penghulu. Acara puncak pun dilakukan, tangan Denny dalam genggaman hangat tangan Pakde. Terlihat Pakde mengucapkan ijab sebagai wali dari Indah, disambut ucapan kabul Denny menerima Indah sebagai istri dalam kalimat akad nikah. Terdengar ucapan kalimat yang lancar dan jelas, lalu di sambut ucapan sah dari kedua saksi. Akad nikah pun telah terjadi, Denny sah memperistri Indah.


Di dalam kamar, Indah tak kalah gugup menanti detik-detik kalimat sakral diucapkan. Kelegaan terlukis di wajah, saat mendengar ramai orang mengucapkan kata syukur Alhamdulillah. Akad nikah telah terjadi, tak terasa tetes air mengalir di pipinya. Keharuan menyelimuti diri, tidak pernah dalam hayalannya menjadi istri dari seorang Direktur Denny Prasetyo. Bude memeluk erat tubuh keponakannya, gembira berbalut haru merundung keduanya.


Indah dirangkul Bude, melangkah ke luar kamar. Duduk berdampingan di sisi Denny, senyum membingkai di wajah Denny menatap Indah. Wanita di hadapnnya sekarang telah menjadi istrinya. Ucapan selamat dan doa menghiasi keduanya. Iqbal tidak ketinggalan memberikan selamat.


Malam semakin larut, para tamu berangsur pulang. Iqbal dan ditemani seorang sopir kembali ke hotel. Rumah Pakde sudah kelihatan sepi, beristirahat melepaskan lelah. Indah dan Denny berada di dalam kamar. Jantung Indah berdegup kencang, melihat Denny telah berbaring di ranjang. Dirinya sangat gugup, tak terasa hawa dingin menyengat tubuhnya.


“In, kenapa berdiri di sana, apa kamu tidak ingin beristirahat?” Denny tersenyum melihat kegugupan Indah.


“I..iya, Mas. Sebentar, aku haus,” kilah Indah meneguk segelas air.


“Tolong matikan lampunya ya?” Denny menambah kegugupan Indah.


“Mati lampu Mas?”


“Aku ngak terbiasa tidur dengan cahaya terang,” Senyum membingkai di wajah Denny melihat semakin gugupnya Indah.


“Biasa juga tidur ngak pernah dimatiin lampunya, kenapa minta dimatiin?” gerutu Indah, mematikan lampu kamar.


Indah berjalan pelan menghampiri sisi ranjang, tiba-tiba tangannya tertarik dan tubuhnya jatuh dalam dekapan Denny.


“Kamu kenapa, takut sama aku?” bisik Denny di telinga Indah.


“Mas, aku..” rasa malu menyelimuti Indah.


Indah tidak dapat berbicara, mulut Denny sudah menyatu dengan bibirnya. Menaut pelan bibir Indah dan mengikuti irama permainan Denny. Terasa nafas keduanya semakin memburu. Denny melepaskan ciumannya dan memeluk erat tubuh Indah.


“Aku tidak akan melakukannya malam ini,” berkata lembut di telinga Indah.


“Hem?” Indah heran walaupun ada sedikit kelegaan di hatinya yang sudah kacau.


“Aku takut, suaramu nanti didengar semua orang,” bisik Denny.

__ADS_1


“Ihh Mas ini,” Indah memukul pelan dada bidang Denny.


“Aku serius In, kita akan lakukan di kamar yang lebih besar dan kedap suara. Kita berdua saja yang akan mendengar rintihan kenikmatan.” Memeluk erat tubuh Indah.


“Mas, terima kasih untuk semuanya,” ucap Indah menenggelamkan wajahnya dalam dada Denny.


“Ya, sekarang tidurlah. Besok kita harus kembali ke Jakarta,” Kecupan Denny mendarat di dahi Indah.


Indah dan Denny memejamkan mata, berdua mereka tidur dalam dekapan.


Ke esokan paginya, terlihat mobil telah terpakir di pekarangan rumah. Iqbal telah duduk ditemani Pakde di beranda. Indah dan Denny bersiap-siap akan kembali ke Jakarta.


“Sudah beres semuanya In?” Menutup tas koper dan menintingnya.


“Iya Mas, sudah.” Melempar senyum menatap Denny.


“Ayo kita ke luar,” bersama berdua melangkah ke luar kamar.


Di luar, Bude sudah menunggu dengan mata berkaca-kaca. Kesedihan tak dapat terbendung melepas kepergian keponakannya yang baru saja datang setelah sekian lama tidak berjumpa.


Mobil pun melaju perlahan membawa mereka ke luar dari pekarangan rumah dan lama-kelamaan menghilang dari pandangan.


Se sampai di Jakarta, mobil membawa mereka menuju ke apartemen. Perjalanan cukup melelahkan, Denny tidak membawa Indah ke rumah Mamanya. Dia memilih beristirahat terlebih dahulu di apartemen. Denny dan Indah telah sampai di apartemen. Iqbal menghantar mereka sampai di depan pintu.


“ Den, aku pulang, tidak usah kau ajak ke dalam. Aku takut mengganggu kalian berdua.” Mata Iqbal menatap Denny mengisyaratkan sesuatu.


“Hem, syukurlah kalau kau sadar


,” Denny menepuk pundak Iqbal.


“Jadi belum kau lakukan?” Wajah Iqbal senyum tidak percaya.


“Sial, pulang kau sana,” Denny menolak tubuh Iqbal.

__ADS_1


“Oke, Oke, aku pulang. Sabar Bro, jangan main kasar,” Ucap Iqbal sedikit berbisik.


“Ish, kau ini,” menatap Iqbal berlalu pergi.


Iqbal melangkah pulang meninggalkan sepasang pengantin baru. Baginya, Denny dan Indah sudah biasa tinggal berdua sebelumnya, tapi kali ini berbeda mereka sudah tidak ada batasan lagi. Iqbal tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mengenang pertemuan Denny dan Indah sampai mereka mengikat hubungan suami-istri.


Denny melangkah masuk ke dalam kamarnya, tidak terlihat Indah ada di sana.


“Di mana dia?” bisik batinnya mengitari ruangan kamar.


Kakinya melangkah ke kamar yang biasa ditempati Indah.


“Betul saja, di sini rupanya dia,” senyum melihat Indah sedang merapikan pakaiannya di lemari.


Perlahan Denny mendekati Indah dan memeluknya dari belakang.


“Apa yang kau lakukan di sini In?” mengecup leher belakang Indah yang mulus dan putih.


Indah sedikit terkejut, merasakan pelukan Denny yang datang tiba-tiba.


“Merapikan pakaian, Mas.” Membiarkan Denny terus mencumbui lehernya.


Menyadari Indah hanya diam saja, Denny semakin penasaran. Tangannya membalikkan tubuh Indah menghadap dirinya dan memeluknya erat.


Denny merapatkan bibirnya ke bibir Indah, bermain-main di sana. Indah merasakan sentuhan lembut bibir Denny, seraya darahnya berdesir panas mengikuti permainan bibir Denny. Ke dua tangan Indah perlahan naik ke pundak Denny. Mengelus lembut dan perlahan rambut belakangnya. Denny menyadari Indah sudah mengikuti permainannya. Tangan Denny mengangkat tubuh Indah, menggendongnya dan membaringkan perlahan di ranjang.


“In, aku sudah tidak dapat menahannya,” berbisik dengan suara berat menahan gejolak.


“Mas,” menatap wajah Denny sudah tidak dapat diartikan lagi.


Perlahan tangan Denny membuka satu persatu pakaian Indah. Semu merah membingkai di wajah Indah saat tidak ada lagi pakaian menutupi tubuhnya. Hasrat Denny semakin membuncah menatap lekuk tubuh dan kulit putih mulus Indah.


“Aku, akan melakukannya perlahan,” senyum memandang wajah Indah yang semakin memerah.

__ADS_1


Indah hanya dapat memejamkan mata. Mula-mula dia sedikit malu dan tegang, perlahan mulai menerima dan mengikuti alur permainan lembut Denny. Akhirnya keduanya bersatu, terdengar suara rintihan dari kedua bibir mereka, mewakili kenikmatan yang mereka rasakan saat ini. Tubuh keduanya berbalut keringat, walaupun dinginnya AC dalam ruangan itu menemani mereka. Hingga beberapa saat kemudian, kedua tubuh tersebut terkulai lemah di atas ranjang.


Denny menarik selimut menutupi tubuh lemah Indah dan memeluknya. Indah membalas pelukan dan membenamkan wajahnya ke dada atletis Denny. Keduanya memejamkan mata, lelah bercampur bahagia.


__ADS_2