
Iqbal mengangkat tubuh Dania dalam gendongannya. Terlihat jelas dalam manik hitam Dania tubuh lemah Saka terbaring ditemani berbagai alat medis hampir seperti dirinya.
“Pa, kak Saka sakit?” Apa karena papa?” Terlintas bayangan Saka jatuh setelah terdorong Denny, manik hitamnya berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening.
Denny menoleh menatap Dania dan Iqbal bergantian.
“Nia sayang, kak Saka memang sakit, bukan karena papa.” Jawab Iqbal menenangkan Dania mulai terisak tangis.
“Tapi kak Saka tidak sakit, sebelum papa dorong waktu itu,” Dania memeluk Iqbal erat menumpahkan cairan bening di bahu Iqbal.
“Nia, papa tidak sengaja. Kak Saka sakit, bukan karena papa dorong. Ada batu kecil di dalam kepala Kak Saka. Batu itu berbahaya dan harus di buang. Sekarang, batu itu sudah tidak ada dan kak Saka hanya tertidur karena lelah setelah perobatan.” Ucapan Denny ke luar berusaha membuat Dania tenang.
“Kalau dia hanya tidur, kenapa banyak alat di tubuhnya?” Dania menatap lekat ke dalam sepasang manik hitam di hadapannya, mencari sebuah kebenaran di sana.
“Nia, dokter memasang alat itu, untuk menjaga kak Saka, supaya tidak sakit lagi,” Iqbal berusaha memutar otak membuat gadis kecil polos dalam gendongannya mengerti.
“Iya, Kak Saka akan segera sembuh dan bisa bermain lagi bersama Nia,” Cairan bening tumpah di pipi Denny, berharap ucapannya menjadi sebuah kenyataan.
Di tempat yang sama, ruangan yang berbeda.
Tubuh Jesika terduduk lemah di atas sebuah bangku, menutup wajah dengan kedua tangan. Tangis pun ke luar, karena jauh di dalam hati sangat sedih. Kata-kata terlontar dari bibir terus terngiang di telinga.
“Jes, minumlah. Kau akan jauh lebih tenang.” Hendrik menyerahkan sebotol minuman mineral.
Perlahan tangan menutupi wajah Jesika turun. Mengangkatkan wajah menatap lelaki berdiri di hadapan.
__ADS_1
“Hen, Aku hanya ingin dia membenciku, tapi mengapa seolah semua benar? Kalau dia tidak ada di sini, bertemu dengan kami, mungkin semua ini tidak akan terjadikan? Sebelumnya kami hidup bahagia, ada kau dan tante Ira. Tapi, kau bisa lihat sekarang, aku bahkan tidak bisa bersama putraku?” Bibir Jesika bergetar berucap mengeluarkan kesedihan.
“Tenangkan dirimu. Kita tidak tahu yang terjadi di masa depan, jangan menyalahkan siapa-siapa. Kau akan semakin menderita, yang penting sekarang Saka sudah mendapat perawatan. Jadi, pikirkan yang baik-baik, terutama kesembuhan Saka, Oke? Minumlah, kita akan kembali melihat Saka kalau kau sudah tenang.” Hendrik meraih tangan Jesika dan meletakkan botol minuman dalam genggaman.
Jesika memandang lekat botol minuman di tangan.
“Hen, kau laki-laki baik. Aku harap kau segera mendapatkan gadis baik dan mencintaimu.” Jesika membuka tutup minuman dan menenggak perlahan.
“Aku sudah lama bertemu, tapi sampai sekarang aku belum bisa membuatnya mencintaiku.” Hendrik menghempaskan punggung di bangku dengan mengeluarkan napas kasar.
“Hen, aku minta maaf tidak menyadari perasaanmu, kau sahabat terbaik. Kebaikanmu selama ini, tidak bisa aku balas sampai kapan pun. Bagiku sahabat lebih abadi dari cinta. Dengan persahabatan kita tidak akan saling membenci dan melukai. Dengan bersahabat kita tidak akan takut kehilangan dan patah hati. Lebih mudah menjaga persahabatan dari pada cinta. Kau lihat bagaimana cintaku? Kita bisa bersama dengan persahabatankan?” Jesika melepar pandangan jauh ke depan, jauh di dalam hati wajah Denny masih terlihat jelas.
“Kau tahu, aku bahagia bersamamu. Aku menganggap Saka benar-benar putraku dan kau pasangan hidupku. Kita satu keluarga yang bahagia. Numun, seiring bahagia itu aku juga sedih ternyata semua hanya mimpi memiliki kalian berdua. Kalau aku boleh jujur, sudah lama ingin mengutarakan perasaan, lagi-lagi rasa takut mengurungku. Dan sekarang, Denny sudah ada di depanmu, aku semakin takut kehilangan kalian berdua. Tidak bisakah kita bersama dengan perasaan kau miliki terhadapku?” Hendrik menatap wajah samping Jesika, dia tidak ingin menahan perasaannya. Apalagi, Denny sudah mengetahui kalau Jesika adalah Indah dan Saka putranya.
“Kau benar, dia sudah ada di depanku. Tapi dia tetap jauh sama seperti dulu, kau juga benar kita tidak tahu kehidupan di masa depan. Tapi aku sudah bisa membayangkan bagaimana kehidupan masa depanku. Mamanya tidak akan pernah menerima, berbagai cara dia akan memisahkan kami. Aku tidak ingin kembali kepadanya. Kau ingin kita bersama, tapi kau tahu aku tidak mencintaimu. Apa bisa menerimaku dengan perasaan itu?” Jesika menoleh, membalas tatapan Hendrik.
“Ya, tentu aku bisa. Kau hanya perlu cinta dariku, apapun perasaanmu, aku terima. Jadi, apa aku bisa melamarmu?” Hendrik tersenyum menangkap wajah Jesika, dia tidak menyangka hal sudah lama ditunggu-tunggu akan terjadi.
“Tapi Hen, tidak sekarang, Saka…, bibir Jesika terhenti berucap saat jari telunjuk Hendrik menempel di sana.
“Iya, aku tahu. Kita tunggu sampai Saka sembuh, lalu aku akan melamarmu. Jangan khawatir, Saka akan segera sembuh.” Hendrik menggenggam tangan Jesika dan menatap lekat dua manik hitam. Dia mencari celah meyakinkan, dan menghapus bayangan Denny di sana.
“Nyonya Jesika, tuan Hendrik, maaf mengganggu,” seseorang terdengar memanggil.
Jesika dan Hendrik serentak menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
“Bisa ke ruangan saya sekarang?” Dokter Joshua menatap Jesika dan Handrik bergantian.
“Baik dokter,” Hendrik menjawab lalu berdiri di ikuti Jesika, berdua mereka melangkah bersama menuruti Dokter Joshua berjalan di depan.
Di dalam ruangan, terlihat sepasang manusia mendengarkan dengan sungguh-sungguh seorang berbalut jas putih sedang berbicara.
Beberapa saat kemudian, sang gadis menangis dalam pelukan sang lelaki. Keduanya terlihat sangat sedih.
“Tuan, nyonya, kalian harus kuat. Dan juga saya memberitahukan. Semua perobatan sudah ditanggung tuan Denny Prasetyo. Dia mengakui sebagai ayah dari Saka Bismantara setelah tes DNA dilakukan.”
“Bagaimana tes dilakukan tanpa persetujuan dari saya ibunya?” Jesika membuka suara dengan amarah.
“Maaf nyonya, Tuan Denny memenuhi semua persyaratan diperlukan, kami tidak bisa menolaknya. Hasilnya juga positif Saka Bismantara putra biologis dari Denny Prasetyo. Saya bekerja sesuai profesionalitas prosedur yang berlaku,” Dokter Joshua berusaha memberikan pemahaman sehingga menghindari kesalah pahaman.
“Dokter, saya paham. Denny sudah mengetahui kondisi Saka?” Tanya Hendrik mendinginkan suasana ruangan yang terkesan panas.
“Ya. Saya tidak bisa merahasiakan karena tuan Denny berhak mengetahui.” Jelas dokter Joshua memasang wajah tenang.
“Baiklah, terima kasih dokter, kami berharap dan memohon lakukan semaksimal mungkin untuk kesembuhan putra kami,” Hendrik tahu Denny tidak akan tinggal diam karena dia sendiri telah memancing kecurigaan Denny.
“Tentu, tuan, Itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Terima kasih atas kepercayaannya.” Joshua menarik senyum, menatap kedua lawan bicara memahami situasi.
Telihat Jesika dan Hendrik meninggalkan ruang dokter Joshua. Langkah kaki mereka terhayun dalam diam tenggelam di pikiran masing-masing.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Hai, reader selamat membaca kelanjutan cerita, jangan lupa vote, like dan jempolnya. Terima kasih, salam cinta untuk semua.