
Langkah kaki Iqbal membawa bersama Dania membuka pintu. Keduanya memasang senyum, menyambut seorang di balik pintu. Saat pintu terbuka, garis senyum di bibir Iqbal turun melengkung ke bawah. Wajah tidak asing terpampang berhadapan.
“Indah,” Ucap Iqbal membatin tak percaya dengan penglihatannya.
Tidak banyak perubahan pada Indah dalam pandangan Iqbal. Rambut yang tergerai lepas sebatas bahu, wajah tirus, hidung mancung dengan dagu lancip, bibir kecil dengan polesan tipis. Mata bulat berselimut sembab, terlihat membayang abu-abu setengah lingkaran.
Perempuan yang hampir tidak dapat ditemukan, sekarang berdiri tepat berhadapan. Mata Iqbal tak lepas merekam keseluruhan wajahnya.
“Tuan Iqbal, kapan lelaki ini datang?” Bisik batin Jesika.
Wajah Jesika tak kalah terkejut menemukan Iqbal, wajah lelaki itu masih tersimpan dalam ingatan. Kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di kepala. Iqbal sekretaris sekaligus sahabat dan tangan kanan Denny. Lelaki itu masih setia hingga kini mengikutinya.
Dania tersenyum melihat perempuan di hadapan, manik hitamnya liar ke kiri dan kanan.
“Tante Jesi, kak Saka mana? Kok ngak kelihatan?” Tanya Dania hanya menemukan Jesika seorang.
Jesika berpindah menatap Dania,” Apa mereka tidak tahu, kalau Saka diculik atau merahasiakan dari Dania?” Batin Jesika terus berkata seiring menatap bergantian wajah Iqbal dan Dania.
“Hem, Ka..kak Saka bersama paman Hendrik. Dia masih harus istirahat belum boleh kemana-mana,” balas Jesika merangkai alasan yang mudah dicerna si kecil Dania.
“Ohhh, kalau gitu ngapain ke sini, kenapa ngak sama paman Hendrik temeni kak Saka juga?” Terdengar suara polos Dania masih bertanya memasang wajah khawatir dan perduli pada Saka.
“I..itu, Tante ada perlu dengan papa Dania, apa dia ada?” Tanya Jesika tergagap karena jantungnya berdebar cepat saat bibir menyebutkan nama Denny.
Iqbal menggelengkan kepala berusaha memulihkan kesadaran dari keterkejutan. Berusaha mencerna tanya jawab dua orang di hadapannya. Nama Jesi yang keluar dari bibir Dania masih asing terdengar baginya karena dia hanya mengenal nama Indah.
“Ternyata dia merubah identitasnya, karna itu sangat sulit menemukanmu,” batin Iqbal kembali berujar.
“Paman, paman,” Dania menepuk bahu Iqbal melirik wajahnya karena hanya diam.
“Hemm,” Iqbal tersadar dari perang batinnya mengalihkan tatapan ke wajah Dania.
__ADS_1
“Tante Jesi bilang, mau ketemu sama papa loh, kenapa paman diam aja,” ucap Dania penuh keheranan.
“Denny, tidak ada. Sebentar nanti dia kembali. Kau boleh datang lagi atau mau menunggunya di dalam,” Iqbal mengumpulkan kembali kesadarannya berujar menatap Indah.
“Aku menunggunya saja,” ucap Jesika tanpa ragu.
“Baiklah, silahkan masuk,” Iqbal menggeserkan tubuh ke samping, mengizinkan Indah masuk.
Jesika perlahan masuk melangkahkan kaki, walau bukan pertama kali ke kamar itu jantungnya berdetak lebih kuat dari biasanya. Ada perasaan yang tidak dapat diungkapkan menghangat di sana.
Manik hitamnya menyapu ruangan, terlihat susunan sofa di tengah ruangan yang luas. Kakinya menarik langkah mendekat dan mendudukkan tubuhnya dengan perlahan ke sebuah sofa.
Iqbal sambil menggendong Dania menuruti langkah Indah dari belakang. Menatap lekat punggung belakangnya dan menggantung banyak pertanyaan yang merangkai di kepala. Pertanyaan itu sangat ingin terlontar ke luar tapi dia masih menahan karena ada Dania bersamanya.
“Paman, Nia haus, mau minum,” Dania merasakan tenggorokannya kering.
“Tunggu di sini, paman ambilkan. Dan Tante Jesi mau minum sesuatu, seperti kopi atau teh,” Iqbal mendudukkan Dania tepat di depan Indah duduk dengan berusaha sewajar mungkin bersikap. Menoleh menatap wajah Indah dengan tatapan kosong tenggelam dalam pikirannya.
“Tante Jesi, paman Iqbal bertanya, mau minum kopi atau teh?” Dania menggoyang tangan Jesika menyadarkannya dari lamunan.
“Hem, teh?” Ucap Jesika tertegun dengan menjawab kata yang hanya terdengar ujungnya saja dari ucapan Dania.
“Baiklah, Dania temani tante Jesi, paman akan ambil minumannya,” Iqbal mengulas senyum menatap keduanya bergantian lalu berbalik menuju dapur mini.
Jesika menatap wajah Dania, pikirannya kembali dipenuhi bayangan Saka. Hatinya kembali sakit kalau dugaannya benar, kehilangan Saka berkaitan dengan Mama Denny. Hidupnya sudah tertata dengan baik sepuluh tahun terakhir ini, tapi dengan sekejap berubah kembali menyakitkan.
“Tante kenapa?” Tanya Dania melihat Jesika hanya diam menatapnya.
“Tidak pa-pa, sayang. Sini sama tante.” Jesika menarik tangan Dania membawa tubuhnya kedalam pangkuan. Mengusap lembut wajah imut Dania.
Sementara itu, Iqbal terlihat sedang menuangkan air panas ke dalam sebuah teco kaca kecil yang sudah terselip satu kantong teh celup. Meletakkan di dalam nampan lengkap dengan dua buah cangkir dan tatakannya. Segelas susu tak ketinggalan ikut menemani. Langkah Iqbal perlahan membawa menuju Jesika dan Dania yang sedang asik berbicara.
__ADS_1
“Jegleg,” suara pintu terdengar terbuka.
Langkah Iqbal terhenti, memalingkan wajah ke pintu.
Denny terlihat melangkah masuk dan tatapannya menuju Iqbal dengan tangan masih membawa nampan.”Siapa yang datang?” batin Denny berbisik terus menarik langkah menghampiri Iqbal masih diam berdiri.
Semakin mendekat dengan jelas manik hitam Denny menangkap bayangan Indah duduk di sofa dengan Dania dalam pangkuannya.
“Kenapa dia di sini?” Denny masih berujar di dalam hati.
“Den, kita kedatangan tamu,” Ucap Iqbal begitu Denny berdiri di sampingnya.
“Papaaa,” Dania segera beranjak dari pangkuan Jesika mendengar Iqbal memanggil nama Denny. Berlari kecil lalu berpindah dalam gendongan Denny.
“Muah, gadis kecil papa, kamu tidur nyenyak sayang?” Kecupan mendarat di kening Dania.
Langkah kaki Denny menuntunnya ke sofa dan mendaratkan punggung perlahan.
“Ya. Papa tidur di rumah sakit temani kak Saka kan, apa dia sudah bangun? Tante Jesi juga dari sana, apa papa ngak ketemu? Kok Tante Jesi datang cari papa?” Dania mencecar Denny dengan banyak pertayaan, rasa ingin tahunya sangat kuat. Sepasang manik hitam lekat menatap wajah Denny menunggu jawaban.
“Hem, papa ngak tidur di rumah saki sayang, papa tidur di hotel takut nanti mengganggu kak Saka. Dan juga papa ngak sama tante,” Ucapan Denny terpenggal, berniat tidak inging melanjutkan. Ekor matanya menatap Indah yang sedari tadi terus mengawasi.
“Ini untukmu, dan ini,… Silahkan di minum,” Secangkir teh dengan asap menggepul terhidang di hadapan Jesika.
"Terima kasih," balas Jesika singkat.
“Kau sendiri, tidak minum Bal?” Denny mengedipkan matanya memberikan isyarat kepada Iqbal.
“Aku sudah, kalian minumlah. Dania, mari ikut paman, kita minum susunya di kamar. Biarkan papa bicara sama tante Jesi, oke?” Iqbal meraih tubuh Dania dan membawanya pergi meninggalkan Denny bersama Jesika berdua.
Denny menatap lekat wajah Indah di hadapannya, sebaliknya Jesika tidak mau kalah membalas tatapan Denny. Suasana hening, keduanya masih diam untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Bisa-bisanya dia tidur nyenyak di hotel? Di mana perasaannya, dia tidak khawatir keselamatan Saka? Atau dia pura-pura tidak tahu, atau mungkin juga terlibat merencanakan penculikan Saka. Tuhan, kalau benar itu terjadi, aku tidak akan pernah bisa memaafkan dan akan membencinya seumur hidupku.” Terlihat jelas tatapan Jesika menyimpan banyak pertanyaan yang berseleweran di batin berselimutkan rasa benci menduga Denny ikut bersekongkol menculik Saka.