
Mobil melaju membawa Iqbal dan Yanti membelah malam.
“Kita mau ke mana?” Tanya Yanti menatap jalanan di hadapannya.
“Kita pergi makan, sebentar lagi sampai.” Iqbal memberi jawaban .
“Makan? Aku tidak lapar, yang aku butuhkan hanya berbaring di tempat tidur saat ini.” Yanti menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
“Wah…, permintaanmu sungguh menggoda. Secepat itu kemajuan hubungan kita?” Iqbal menggoda Yanti dan melirik dari sudut matanya.
“Hei…, tuan Iqbal, jauhkan pikiran kotor itu dari hayalmu. Aku tidak segampang itu menyerahkan tubuhku walau kau kekasihku,” Mata Yanti membesar menatap Iqbal di sampingnya . Lalu menyilangkan kedua tangan di tubuhnya.
“Hem…, aku suka mendengar kata-kata itu. Akhirnya kau mengakui kalau aku kekasihmu,” Iqbal mengarahan mobil memasuki areal parkir dan mobil pun berhenti.
“Apa?” Yanti memutar otak, tidak sadar dengan kata-kata yang sudah ke luar dari mulutnya.
“Kita sampai,” Iqbal membalas tatapan Yanti dengan senyuman dan membuka pintu mobil melangkah ke luar.
Mata Yanti melihat bangunan restoran mewah di hadapannya. Iqbal berjalan memutar, mendatangi pintu mobil di sisi Yanti. Tangannya memegang pegangan pintu dan membukanya.
“Ayo ke luar, kita isi dulu perutmu lalu kau bisa tidur dengan tenang.” Iqbal mengulurkan tangannya ke hadapan Yanti.
Sikap Iqbal sangat manis, membuat jantung Yanti berpacu cepat kembali. Yanti pun memberikan tangannya menyambut uluran tangan Iqbal dan melangkahkan kaki ke luar dari mobil.
Iqbal menggenggam tangan Yanti, membawanya melangkah memasuki restoran. Perasaan memiliki sangat kuat tumbuh seketika setelah mengenal Yanti. Dia ingin mencurahkan perhatian dan melindungi gadis yang saat ini mengisi hatinya.
Harun telah tiba di rumah Denny bersama dengan istrinya Alia. Sebelum mendapat telpon dari Deli, mereka berdua bertepatan bersama-sama ingin pulang. Lalu mereka putuskan bersama menuju rumah Denny setelah mendapat telpon.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Denny setelah Harun memeriksa keaadaan Hanna di bantu Deli dan Alia.
“Aku tidak bisa menyimpulkan keadaannya, pembuluh darah merah sebahagian telah pecah.
Itu menandakan sel darah putih semakin banyak di tubuhnya. Saat ini, transfusi darah satu-satunya jalan membantu menekan sel darah putih. Semoga perkembangannya janinnya tidak terganggu.” Ucap Harun menepuk bahu Denny.
“Usia kandungannya belum genap masuk bulan ke empat. Keadaan janin masih lemah dan beresiko akan gugur kalau keadaan ibu semakin menurun. Keadaan ibulah akan membantu membuatnya dapat bertahan.” Alia datang menghampiri Harun dan Denny. Menjelaskan keadaan Hanna dan janinnya. Aliya sangat khawatir dengan keadaan janin dalam kandungan yang melemah mengikuti keadaan Hanna.
“Lakukan apapun untuk membuat mereka berdua bertahan. Aku siap melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka,” Denny menatap Hanna terbaring, hatinya sangat hancur menyaksikan kedua orang yang dikasihinya bergelut dengan maut.
Di restoran, terlihat kedua insan sedang asik menikmati hidangan makanan.
“Bagaimana kau tahu, kalau aku berkerja di perusahaan itu?” Tanya Yanti disela-sela menyantap makanan.
“Itu sangat mudah, jadi hati-hatilah aku bisa mengetahui semua gerak-gerikmu nona,” Iqbal menatap Yanti lekat dengan menarik kedua sudut bibirnya.
“Hem…, aku menyesal sudah bertanya,” gumam Yanti mengangkat sendok memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Kenapa, kau takut aku mata-matai?” tanya Iqbal.
“Tidak, untuk apa aku takut. Malah aku semakin suka, kita lihat sejauh mana kau dapat mengawasiku,” Yanti membalas tatapan Iqbal dengan menyunggingkan sudut bibirnya.
“Sepertinya kau sudah membuat tantangan baru. Kau sungguh tidak jera melakukannya atau kau sengaja karena ketagihan dengan ciumanku?” Iqbal semakin menggoda Yanti.
“Huuk, huuk, huuk,” Yanti tersedak mendengar ucapan Iqbal. Tangannya meraih gelas dan meneguk air putih, rona merah terlihat jelas membingkai di wajah.
Denny melangkahkan kaki menuju ke kamar Hanna di rawat setelah menghantar kepulangan Harun dan Alia. Langkah kaki membawanya memasuki kamar dan menghampiri Hanna terbaring di tempat tidur.
“An, bertahanlah untuk aku dan bayimu. Kau bilang sangat mencintaiku, tapi kau bohong. Kau juga akan pergi, sama dengannya? Jangan tinggalkan aku sendiri An. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku Tuhan. Jangan Kau ambil orang yang mengasihiku. Kau ambil saja aku,” Lirih Denny tertunduk lemah merenungi diri dirundung sedih.
“Mas,” terdengar suara lemah Hanna menyebut nama Denny.
“An, kau sudah sadar?” Denny menggenggam tangan Hanna, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mas, jangan sedih, kau tidak akan sendiri.” Suara Hanna terdengar semakin lemah dan kembali memejamkan mata.
“An…, An…,” Denny panik melihat Hanna kembali tidak sadarkan diri.
Deli mendengar Denny memanggil-manggil nama Hanna, sedang dirinya baru kembali dari dapur. Menghantarkan pakaian kotor Hanna yang terkena tetesan darah. Mempercepat langkah kakinya mendekati dan memeriksa kembali keadaan Hanna.
“Tidak apa-apa tuan, nyonya lelah dan tertidur. Sebaiknya tuan juga beristirahat, saya akan menjaga nyonya.” Deli memberanikan diri memegang tangan Denny yang terlihat sangat sedih dan khawatir.
Denny menarik tangan menyadari seeorang menyentuhnya.
“Maafkan saya Tuan,” Deli berujar melihat Denny menghindar.
Denny berbalik dan melangkahkan kaki menuju sofa, lalu mendaratkan tubuhnya.
__ADS_1
“Kau istirahatlah, aku akan menjaga istriku.” Denny meraih laptop, dan mengalihkan pandangannya ke layar.
“Baiklah tuan, saya akan istirahat di kamar.” Deli menuruti ucapan Denny. Melangkahkan kaki ke luar dari kamar.
“Tuan Denny, aku ingin lihat sampai mana kau bertahan dengan keadaan ini,” bisik batin Deli mengiringi langkah kakinya.
Iqbal telah kembali ke apartemen, kebahagiaan menghiasi relung hatinya menghabisi sisa malam.
Begitu juga dengan Yanti, senyum seakan tak beranjak dari bibirnya. Matanya tak ingin terpejam, bayangan Iqbal masih menggantung di kepalanya.
“Drekk, Drekk, Drekk,” panggilan masuk terdengar dari irama ponsel Yanti. Matanya melirik ponsel di atas meja nakas dan meraihnya.
“Hallo,” Ucap Yanti menyapa orang di seberang.
“Hei, Kau sudah di Jakarta atau masih di sana?” Pertanyaan menyerang Yanti seketika.
“Aku sudah di Jakarta dan di tempat tidur sekarang,” jawab Yanti sambil menepuk keningnya. Dia lupa memberi kabar kepulangannya.
“Kau ini, selalu begitu. Aku saja yang sibuk mengingatmu. Jangan juga bilang kau lupa membeli pesananku, awas kau,” Suara seseorang terdengar meninggi di seberang.
“Tenang, aku ingat kok. Kau sendiri kenapa tidak pulang? Dapat giliran jaga malam ini?” Yanti balik bertanya.
“Aku merawat seorang pasien penderita leukemia. Kemungkinan aku tidak pulang, tolong kau rawat tanamanku selama aku tidak ada. Dan terima kasih kau tidak lupa pesanannya.” Balasan ucapan dari seberang.
“Tut, tut, tut,” telpon terputus sepihak.
“Hei, aku belum selesai,” pekik Yanti di ujung ponselnya.
Malam semakin larut, membawa manusia hanyut dalam buaian mimpi. Deli melangkah memasuki kamar Hanna, dirinya berjaga karena tetap harus memberikan pemeriksaan. Hal itu telah biasa dilakukan sebagai seorang perawat. Setelah memeriksa Hanna, Deli berbalik dan matanya tertuju pada sosok lelaki yang tersandar di sofa tidak sadarkan diri karena kantuk. Senyum menggaris di bibir Deli melihat pemandang di hadapannya, meraih selimut dan melangkah mendekat. Tangannya mulai menutupi tubuh Denny dengan selimut.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Denny seketika sambil memegang tangan dan menatap tajam sepasang mata tepat di hadapan wajahnya.
“Maafkan saya tuan,” Deli menarik tangannya dan melangkah mundur.
“Apa kau tertarik padaku?” Tanya Denny dengan memasang wajah dingin.
“Jangan salah paham tuan, saya hanya tidak ingin merawat dua pasien sekaligus di rumah ini,” ucap Deli berusaha menutupi kegugupannya.
“Pertahankan sikap itu, jangan berharap lebih. Aku tidak suka dengan orang yang mencari kesempatan,” Denny menarik selimut dan kembali memejamkan matanya.
“Jangan takut tuan, aku tahu betul dengan sikapku,” bisik batin Deli mengenang ucapan Denny yang masih mengngiyang di telinganya.
********
Ke esokan hari di rumah mama Denny, Pak Jung berdiri menemani mama Denny di ruang baca.
“Jung, kau sudah berhasil menemukannya?” Tanya mama Denny menatap wajah pak Jung.
“Belum, Nyonya. Nomor Nona Hanna telah terlindungi, tidak mudah meretas panggilan yang masuk maupun ke luar.” Ucap Pak Jung dengan wajah tertunduk.
“Bagaimana pun caranya kau harus bisa menemukan dia dan membawanya kembali." Mama Denny memasang wajah sendu, mengenang semua yang sudah terjadi.
“Baik Nyonya, saya akan berusaha keras menumukannya,” ucap Pak Jung dengan penuh keyakinan.
Di apartemen Yanti, ponsel menempel di telinganya. Bertepatan hari ini hari Minggu, Yanti tidak harus hadir di kantor dia memilih bermalas-malas di tempat tidur. Tapi kesenangannya terganggu karena Bosnya tidak henti-henti menelpon menanyakan laporan yang harus diserahkannya.
“Baik, laporan itu, besok sudah ada di atas meja Bapak,” ucap Yanti dengan nada malas membalas suara yang sangat mengganggungnya.
“Saya pegang ucapanmu. Tut, tut, tut.” Yanti melirik ponselnya yang terputus secara sepihak dengan mengedutkan keningnya.
“Hah…apa laki-laki ini sedang monopos? Aku harus bisa berdamai dengannya dengan bersikap manis? ” Yanti menatap ke atas, bayangan wajah sangar Bosnya sedang melambung ke udara di dalam gelembung-gelembung bola kecil.
“Tidak akan. Aku tidak akan menyerah menghadapi sikapnya,” Tangan Yanti berusaha memecahkan satu persatu gelembung itu.
“Drek, Drek, Drek,… irama ponsel kembali mengusik telinganya. Tangannya langsung meraih dan menjawab panggilan.
“Saya janji laporannya akan ada di meja Bapak, percayalah Pak,” ucap Yanti tanpa melihat terlebih dahulu lawan bicaranya.
“Ada apa denganmu? Kedengarannya kau sangat tertekan dengan Bosmu. Apa perluku habisi dia?” Ucap orang dari seberang.
Mata Yanti membesar menatap layar, ternyata Iqbal sedang berbicara dengannya.
“Ti..tidak, aku tidak apa-apa. Ada apa menelponku?” Tanya Yanti mengalihkan pembicaraan.
“Turunlah, aku menuggumu. Tut, tut, tut” Jawab Iqbal dan memutuskan panggilan.
__ADS_1
“Kenapa hari ini, semua orang memerintahku seenaknya saja,” Gerutu Yanti beranjak dari tepat tidur.
Dirinya sibuk mengganti pakaian yang sedang mengenakan pakaian tidur. Yanti memilih kaos lengan pendek dan celana jeans. Memberikan polesan tipis di wajahnya dan terlihat natural. Mengikat tinggi rambut panjangnya dan membiarkan sedikit anak rambut bermain di dahinya. Setelah nyaman dengan penampilannya, Yanti pun melangkah ke luar apartemen.
“Masuklah, temani aku ke suatu tempat,” ucap Iqbal dengan membukakan pintu untuk Yanti dengan menatap takjub penampilan gadis pujaanya.
Yanti pun menuruti ucapan Iqbal, melangkah masuk dan duduk di samping kursi pengemudi. Tak lama Iqbal menyusulnya masuk dan duduk di belakang stir lalu melajukan mobil.
Setelah beberapa lama, mobil tiba di sebuah rumah mewah dengan pekarangan yang luas. Mata Yanti mengamati sekeliling.
“Kita di mana?” Tanya Yanti.
“Turunlah kau pasti mengenalnya,” Ucap Iqbal dan melangkahkan kaki ke luar dari mobil.
Yanti tidak dapat menolak ajakan Iqbal, menurutkan kakinya mengikuti langkah kaki Iqbal dari belakang.
“Tuan Iqbal, Anda ditunggu tuan di kamar perawatan,” Ucap Bik Surtik menatap Iqbal berjalan menghampirinya bersama seorang gadis yang cantik.
“Terima kasih Bik, kami akan menemuinya.” Iqbal menarik tangan Yanti menuntun mengikuti langkahnya.
“Tuan? Kamar perawatan? Ini rumah siapa?” Pertanyaan menggantung di kepala Yanti.
“Tok. Tok. Tok.” Pintu di ketuk memberi isyarat meminta izin.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam memberikan izin masuk.
“Ayo,” Iqba menatap Yanti tersenyum. Dan Yanti pun membalas dengan memberi senyuman.
Pintu didorong ke dalam dan terbuka. Keduanya melangkah masuk.
Yanti memutar mata mengamati sekeliling. Ruangan yang dimasukinya tidak ubahnya seperti ruangan ICU di rumah sakit. Terlihat seorang perempuan terbaring, dan duduk di sampingnya seorang lelaki. Tangan Yanti tertarik dan tuhuhnya ikut tertarik mengikuti langkah Iqbal.
Semakin dekat, dia dapat dengan jelas melihat wajah di hadapannya.
“Tuan Denny, dan perempuan itu?” Bisik batin Yanti tidak mengenal wajah yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Denny, bagaimana keadaan Hanna?” Tanya Iqbal menatap wajah Hanna yang semakin putih pucat.
“Iqbal,” terdengar suara lemah Hanna.
Denny menatap Iqbal dan melirik Yanti di sampingnya.
“Duduklah, dia menunggumu,” ucap Denny beranjak dari kursi membiarkan Iqbal berbicara. Hanna memintanya memanggil Iqbal datang menemuinya.
“Hai, An. Kau merindukanku? Aku tidak datang sendiri, ada yang ingin kukenalkan padamu,” Ucap Iqbal dengan suara bergetar menahan sedih.
“Hem, dia kekasihmu? Dia cantik, ternyata kau pintar memilih gadis.” Hanna berusaha berbicara dengan suara terputus-putus.
“Tentu, dia Yanti aku akan menikahinya. Jadi kau harus sembuh dan hadir dipernikahanku. Kau harus janji padaku,” Ucap Iqbal dengan menahan tangis.
“Hanna? Perempuan ini Hanna, istri tuan Denny, kenapa dengannya? Ya Tuhan, dia sakit apa?” Bisik batin Yanti menyadari Hanna yang terbaring di hadapannya.
“Bal, aku senang mendengarnya, tapi jangan pinta aku berjanji. Aku tidak akan bisa menepatinya.” Terlihat air mata mengalir di sudut mata Hanna.
“Tidak, kau harus bertahan, kau bisa sembuh demi anakmu,” ucap Iqbal memberi kepercayaan diri pada Hanna.
“Dengarkan, aku ingin kau melakukan sesuatu setelah aku tiada.” Hanna berusaha memberitahu suatu pesan kepada Iqbal.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekati mereka bertiga.
“Maaf, nyonya harus istirahat tidak boleh banyak bicara,” suara Deli mengalihkan perhatian Yanti dan Iqbal lalu menoleh ke belakang.
“Kau,” Ucap Yanti terkejut melihat sahabat di hadapannya.
“Yanti, kau di sini?” Deli menatap Yanti dan mengalihkan pandangannya ke Iqbal. Senyum menggaris di bibirnya. Dia tahu ternyata perempuan yang dimaksud Iqbal itu Yanti sahabatnya.
“Kau mengenalnya?” tanya Iqbal.
“Dia sahabatku. Kami tinggal bersama, apartemen itu milik kami berdua,” ucap Yanti menjelaskan. Pikirannya teringat ucapan Deli kalau dia merawat pasien leukemia dan teryata dia adalah Hanna.
“Kalau begitu tingalkan kami berdua sebentar, ada yang ingin Hanna bicarakan.” Iqbal menatap Yanti dan Deli bergantian. Yanti pun menarik tangan Deli mengambil langkah menjauh dari Iqbal.
Terlihat Iqbal merapatkan telinganya ke wajah Hanna. Mendengarkan dengan serius ucapan Hanna. Sesekali Iqbal menatap wajah Hanna, dan airmata tidak terasa mengalir di pipinya.
“Tolonglah aku menghapus dosa ini. Satukan mereka kembali,” ucap Hanna di ujung kalimatnya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan berusaha. Kau jangan khawatir, aku berjanji akan membawanya kembali. Dan memohon maaf dari mereka berdua untuk dirimu.” Iqbal menggenggam tangan Hanna. Hatinya gembira bercampur sedih. Kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan. Matanya menatap Hanna yang sudah pasrah mengikuti takdir.