
Perasaan gugup menyerang Jesika, dia berharap kepulangannya tidak diketahui siapapun. Kini, seorang lelaki menyebut dirinya kakak ipar tersenyum lepas ingin membawa pergi. Pikirannya bingung, apalagi wajah Denny sangat tidak bersahabat terlihat jelas kebencian di sana. Jesika menatap bergantian wajah Gunawan dan Denny saling bertatapan.
Denny mengutuk di dalam hati kedatangan Gunawan. Kepulangan Indah suatu kebahagian terbesar, tapi ancaman untuk bisa bersama juga ada. Pengakuan Gunawan sebagai kakak ipar mempertegas kedudukan Indah tidak mungkin bersamanya.
“Hei Denny, apa kabar? Kita jarang bertemu, tapi sepertinya kita memiliki ikatan yang sangat kuat. Seperti hari ini, aku sangat berterima kasih, kau membantu istri adikku. Aku akan membalasnya, bagaimana kalau kita makan malam keluarga bersama, sudah lamakan kita tidak berkumpul?” Gunawan mengulur tangan kanannya menunggu sambutan Denny.
Gunawan menahan sabar di dalam dada, Hendrik memaksanya menjemput Jesika di bandara. Sebagai kakak dia tahu hubungan Hendrik dengan Jesika belum memiliki ikatan perkawinan. Hendrik melibatkan Gunawan dalam permasalahan baru. Sedangkan permusuhan mereka berdua hampir terlupakan, kini akan terbuka kembali.
“Bawalah adik iparmu, jaga dia baik-baik. Jika dia datang padaku lagi , aku tidak akan pernah melepaskan selamanya.” Denny mengangkat senyum di bibir atas mengabaikan uluran tangan Gunawan.
Tatapan Denny jatuh tepat ke manik hitam Indah. Bibir tersungging senyum, dalam hati dia ingin menarik tangan Indah membawanya ikut bersama. Dia menahan diri, tidak ingin membuat keributan melahirkan perhatian semua orang.
Denny membalikan tubuh membawa langkah menuju mobil dengan daun pintu terbuka menyambutnya masuk. Dania sudah gelisah menunggu, wajah tersenyum melihat Denny kembali ke dalam mobil.
Iqbal hanya diam, melihat sikap tenang Denny. Dia pun menjadi prustasi, dengan menyapu rambut ke belakang ikut mengatur langkah meninggalkan Indah menuruti Denny masuk ke dalam mobil yang sama.
Jesika terdiam menatap punggung belakang Denny pergi dan menghilang masuk ke mobil. Ada perasaan sedih terbit di dalam sana, dia tidak bisa menahan langkah Denny. Kedua kaki ingin berlari masuk ke mobil Denny, tapi alasan apa yang bisa dia berikan kepada Gunawan untuk membenarkan sikapnya. Kaki Jesika hanya bisa menuruti langkah Gunawan menuju mobil yang sudah terparkir.
__ADS_1
Gunawan membuka sisi pintu mobil mempersilakan masuk. Jesika pun melangkah masuk, mendaratkan tubuh di kursi belakang. Gunawan masuk dan duduk di belakang stir. Dia mengendarai mobil sendiri tidak membawa sopir.
Mobil pun melenggang pergi, mobil Denny melewati mobil Jesika. Tatapan Jesika pun mengikuti bayangan mobil di depan hingga menghilang.
Di dalam mobil, suasana kaku menyelimuti. Jesika melirik Gunawan diam dengan kedua tangan memegang stir dan pandangan fokus ke jalanan. Keramahan tidak lagi tampak di wajahnya saat menyambut kedatangan di bandara. Dia belum mengenal dekat Gunawan, kenangan tentang lelaki itu kabur. Jesika berusaha mengingat kembali menarik kenangan ke masa lalu. Keningnya berkedut wajah Gunawan terlintas di kepala. Walaupun kabur, dia bisa mengingat saat datang ke kantor Gunawan bersama Hendrik menyerahkan kartu undangan VIP ulang tahun perusahaan stasiun TV tempat mereka bekerja.
Jesika mengedar pandangan menoleh ke luar jendela. Walau hidup senang penuh perjuangan di negara orang, tempat kelahiran tetap tidak dapat dia lupakan. Kerinduan terkadang datang menyerang, pernah terbesit di hati suatu saat akan menginjakkan kaki kembali ke negaranya. Hal itu pun terjadi saat ini, tanpa direncanakan.
Kenangan masa lalu bagai rekaman menggulung ke belakang tentang rumah kontrakan, apartemen Denny, kantor tempat bekerja, dan teman kerja. Jesika terhenyak bayangan wajah Yanti melintas di kepala. Jesika menggigit bibir bawah, manik hitamnya seketika mengembun mengenang Yanti. Hati berkata-kata bagaimana keadaan sahabatnya itu. Apa harus dia lakukan kalau bertemu Yanti. Dia akan menerima kehadirannya atau sudah melupakan bahkan menerima kebencian. Jesika tidak sanggup menebak yang akan terjadi ke depan.
Jesika larut dalam pikiran, tak sadar mobil telah terparkir di depan sebuah restoran elit. Terdengar kaca pintu mobil terketuk dari luar. Jesika terbangun dari tamasya jiwa, menoleh ke luar menatap Gunawan sudah berdiri menunggunya.
“Ayo, kita akan menemui istriku di dalam. Dia sudah menunggumu,” ucap Gunawan pelan tapi dapat didengar dengan jelas.
Jesika diam tak menjawab hanya menuruti langkah Gunawan memasuki restoran. Manik hitamnya terus mengikuti tubuh Gunawan yang berjalan beberapa langkah di depan.
Restoran yang dimasuki sangat elit, hanya orang-orang berkantong tebal dapat duduk bersantap. Bagi Jesika tempat seperti itu tidak asing dan membuatnya terbelalak. Profesi sebagai desainer menuntutnya harus ke luar masuk restoran dan hotel bertemu klien bersama Tante Ira.
__ADS_1
Seorang perempuan cantik dan anggun melambaikan tangan ke arah Gunawan. Langkahnya semakin cepat mendekat, dengan senyum membingkai perempuan menyabut. Perempuan itu berdiri, melangkah, memeluk Gunawan dan kecupan hangat pun mendarat di keningnya. Jesika menghangat melihat drama romantis yang dipertontonkan.
“Elisa, kenalkan Jesika.” Gunawan merenggangkan pelukan dari tubuh Elisa istrinya.
Jesika melemparkan senyum saat Elisa menatapnya. Perempuan itu pun mengulurkan tangan kearah Jesika “Elisa Raharjha,” berucap sambil membalas senyum Jesika. Keduanya terlihat saling berjabat tangan.
“Baiklah, aku tinggal ya sayang. Aku serahkan semuanya padamu," ucap Gunawan kembali mendaratkan kecupan ke kening Elisa. Tanpa banyak bicara Gunawan pun melenggang pergi ke luar restoran.
Jesika hanya bisa menghantar dengan tatapan heran kepergian Gunawan. Sekarang dia bersama perempuan yang tidak dia kenal. Dia juga tidak tahu tujuan Gunawan mempertemukan dengan istrinya.
“Jesika, ayo duduk.” Elisa berujar ramah. Gunawan harus meninggalkan Jesika bersamanya, karena ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Jesika menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Elisa. Matanya memperhatikan penampilan Elisa yang terlihat sederhana tapi elegan. Menggenakan gaun panjang di bawah lutut berwarna pich tersemat ikat pinggang sebagai acsesoris memberi kesan lebih feminim dengan berlengan panjang. Pakaian itu terlihat mewah di tubuhnya yang proposional.
“Apa rencanamu Jesika?” tanya Elisa memecah kebisuan antara mereka berdua.
“A..aku belum tahu, aku menunggu kabar dari Denny,” ucap Jesika tergagap. Pertanyaan Elisa membuatnya mengingat Denny. Seketika tangan memukul kening sambil di dalam hati merutuki kebodohannya lupa meminta nomor ponsel Denny. Dia menjadi bingun bagaimana cara menghubungi lelaki itu.
__ADS_1
“Denny, siapa Denny? Bukan menunggu Hendrik?” Elisa tidak mengerti maksud ucapan Jesika. Gunawan hanya mengatakan Hendrik sudah memiliki istri dan seorang putra yang diculik saat berada di rumah sakit. Mendapat berita mengejutkan tentang Hendrik sudah berumah tangga, Elisa bersimpatik musibah yang menimpanya, dan ingin menawarkan bantuan menemani istri Hendrik karena dia harus mengurus Tante Ira sakit di negara B. Gunawan sudah menyewa penyelidik mencari keberadaan putra Hendrik dan Jesika.
Perlahan Jesika menurunkan tangan. Tatapan lekat Elisa terlihat menyelidik, membuat Jesika berpikir kalau melakukan kesalahan. Nama Denny menjadi sesuatu sangat menarik perhatian perempuan itu.