
Denny melangkah pergi meninggalkan kamar Indah menapakkan kaki menuju kamarnya. Hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Namun itu semua bisa terbayar dengan membawa Indah bersama.
“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel berbunyi dari balik saku baju. Tangan Denny meraih ponsel, manik hitam menangkap panggilan dari Pak Jung di seberang. Keningnya seketika mengernyit menduga-duga kabar yang akan dia dengar dari Pak Jung.
“Hallo,” Ucap Denny menyambar panggilan.
“Tuan, anda sudah sampai?” Tanya Pak Jung dari ujung ponsel di seberang.
“Hem, aku di rumah. Ada apa Pak Jung?” Balas Denny sambil bertanya, langkahnya terus membawa masuk Ke kamar. Mendaratkan tubuh duduk di pinggir tempat tidur.
“Tuan, Anda datanglah sekarang ke Rumah Sakit XXX. Aku menunggumu. Tut, Tut, Tut.” Pak Jung memutus pembicaraan sepihak.
“Pak Jung, tuuung…” Denny tidak sempat bertanya dan tanpa pikir panjang, tubuhnya beranjak dari tempat tidur, melangkahkan kaki ke luar kamar.
“Rumah Sakit XXX? Saka, pasti dia dibawa ke sana. Hessss…Mama, masih saja tidak berubah…., Kenapa selalu mencampuri urusanku?” Batin Denny berperang selama melangkahkan kaki menuju ke luar rumah.
Kembali mobil meluncur membelah malam. Denny berusaha memusatkan perhatian ke jalanan, karena hati dan pikiran tidak tenang membayangkan keadaan Saka. Sejenak lalu, dia terlupakan mengenai Saka karena terpusat pada masalah Indah. Sekarang berganti dengan urusan putranya. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapi dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk karena dia tidak ingin Indah semakin menaruh benci.
Beberapa menit berlalu, mobil telah memasuki kawasan Rumah Sakit XXX yang terbaik di kota ini. Bangunan itu terdiri dari berlapis-lapis lantai hingga membawanya menjulang tinggi, kokoh dan megah.
Mobil memasuki basement, dan berhenti menempatkan posisi parkir VVIP. Seorang bersetelan Jas hitam menghampiri mobil Denny dan membukakan pintu. Denny membawa langkah ke luar mobil, berdiri menatap tajam dan aura dingin menyelimuti. Pengawal menutup pintu mobil, lalu membungkukkan badan memberi hormat dan berdiri tegak kembali.
“Silahkan tuan,” ucap pengawal mengiringi langkah Denny membawa masuk ke ruang lift.
Pengawal menekan angka di tombol menunjukkan tingkat lantai menjadi tujuan. Lift bergerak, tingkat demi tingkat lantai terlalui membawa semakin tinggi. Suasana hening tidak ada percakapan menemani dalam ruang lift.
__ADS_1
“Ting tong,” Denting irama lift berbunyi, pintu pun terbuka. Tarikan langkah kaki Denny menapak ke luar dan berjalan beriringan dengan pengawal. Manik hitamnya menyapu ruangan luas, berwarna putih dan terlihat beberapa pengawal berjas hitam berjaga. Ruang itu di jaga ketat seperti menjaga seorang petinggi penting.
Mata Denny menangkap sosok lelaki tua berdiri dengan berbalut Jas hitam yang sama, namun wibawa dan kharisma terpancar dari aura wajahnya. Senyum menggaris menyambut kedatangan Denny yang merapat menghadap.
“Selamat datang tuan muda,” ucapnya sambil membungkukkan badan memberi hormat pada Denny.
Denny sangat tidak suka melihat kerendahan hati Pak Jung yang sudah memberi kasih sayang seperti seorang ayah.
“Hei Pak Tua, beberapa hari tidak bertemu, kau semakin tambah tua saja,” balas Denny menangkap bahu Pak Jung untuk segera berdiri tegak.
Senyum ramah selalu membingkai di wajah membalas kerendahan Pak Jung yang sudah tidak muda lagi. Lelaki yang sangat setia sebagai pengawal pribadi sang Mama dan sempat Denny berpikir akan menyandingkan lelaki itu sebagai pengganti Papanya yang sudah lama meninggal.
Denny sangat tahu kejujuran dan kesetian Pak Jung pada mamanya tidak ada yang bisa menandingi selain sang Papa tercinta. Selain almarhum Papa tidak ada lelaki lain yang dekat dengan sang mama karena terkenal wanita keras, over protektif dan otoriter dalam segala hal termasuk mencampuri kehidupan pribadinya. Keduanya sudah tidak muda lagi, dan Pak Jung dengan kesendiriannya lebih memilih setia seumur hidup menjadi tangan kanan sang Mama dan juga di belakang sering membantu dirinya.
Denny merasakan keganjilan dari ucapan Pak Jung seketika berubah tegang. Wajah Denny ikut menarik tegang merasakan aura kecemasan yang kuat dari tatapan Pak Jung.
“Katakan, mengapa memintaku datang?” Tanya Denny tidak mau membuang waktu langsung ke permasalahan.
“Mari tuan, ikut saya,” Pak Jung melangkahkan kaki.
Denny menuruti langkah Pak Jung dari belakang, manik hitamnya menatap sebuah ruangan di depan pintu berdiri berjaga dua orang pengawal di kiri dan kanan. Pak Jung semakin mendekati pintu bersama Denny berjalan di belakang.
Melihat Pak Jung dan Denny datang, kedua pengawal memberi hormat membungkukkan badan. Lalu salah seorang membalikkan tubuh, mengulur tangan memegang hendel pintu dan mendorong ke dalam. Pintu terbuka, langkah kaki Pak Jung lanjut masuk ke ruangan di susul bersama Denny.
Denny menangkap Saka tertidur di atas tempat tidur. Wajahnya seketika cerah dan senyum tersungging di bibir. Manik hitamnya tak ingin berpindah ke arah lain. Pak Jung menghentikan langkah di ujung tempat tidur, sedang Denny melangkah maju mendekati sisi samping tempat tidur Saka terbaring.
__ADS_1
Satu tangannya terangkat, mengulur dan jarinya lembut menyentuh pipi lembut Saka dengan mata tertutup. Wajah yang sangat dia ingin lihat dan takut kehilangan. Tak terasa manik hitamnya berkabut, cairan bening seketika mengumpul penuh dan tertumpah menetes ke pipi.
Denny mendekatkan wajah dan mendaratkan ciuman di kening Saka.“Hai teman, bagaimana keadaanmu?” Bisik Denny di telinga Saka.
Perlahan kelopak mata Saka bergerak-gerak dan terbuka. Saka menangkap wajah Denny tepat di hadapannya. Senyum menarik di bibir mungilnya. Denny terkejut dan tersenyum menatap dalam manik hitam Saka. Cairan bening semakin deras mengalir mengiringi kebahagian Denny.
“Pa, Papa datang. Aku takut di sini. Aku mau pulang,” Ucap lirih Saka dengan tangan merangkul erat tubuh Denny.
Betapa terkejut Denny mendengar Saka memanggil dirinya Papa. Dia tidak menduga kalau panggilan itu keluar dari bibir Saka yang tidak tahu siapa sebenar dirinya. Hati bertambah gembira mendapati Saka menerima sebagai Papa.
“I…iya sayang, Papa di sini. Kamu jangan takut lagi, kita akan pulang bersama.” Denny tergagap bercampur haru dengan cairan bening tidak mau berhenti bertahan terus mengalir.
“Tuan,” Pak Jung menepuk pundak belakang Denny. Menyadarkan Denny dari perasaan keharuan menyelimuti.
“Sayang, kamu akan ikut Papa setelah Papa menemui dokter, Oke?” Ucap Denny berusaha memberi kepercayaan pada Saka yang masih memeluknya erat.
Mendengar ucapan Denny, ketakutan Saka hilang berganti mendapat perlindungan.
Perlahan Denny merasa pelukan Saka merenggang dan terlepas. Denny menyeka air bening dan mengejap-ejap kedua manik hitam berusaha cairan bening itu tertahan dan tidak tumpah lagi. Menarik tubuh dan menatap wajah Saka.
“Bagus, teman. Papa tahu, kamu putraku yang pemberani dan kuat.” Denny menggenggam tangan Saka.
“Istirahatlah, papa di sini menemani. Kamu harus cepat sembuh dan pulang bersama Papa, Oke?” Ucap Denny lagi menanamkan kepercayaan kuat pada Saka.
Pak Jung masih berdiri menatap kedekatan Denny dengan penuh kebahagian. Di dalam hati ada kecemasan kalau kebahagian itu tidak akan bertahan lama.
__ADS_1