Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 129 Penolong Dania?


__ADS_3

“Cepat ke mobil, aku sudah menghubungi rumah sakit.” Harun berlari menggendong Dania.


Denny menuruti ucapan Harun, berlari ke luar rumah mengambil mobil. Dania segera harus di larikan ke rumah sakit karena keadaanya semakin melemah.


“Rumah sakit mana?” Tanya Denny dalam kekalutan melirik Harun menggendong Dania.


“Rumah Sakit XXX,” jawab Harun menerobos masuk ke pintu belakang mobil duduk di bangku penumpang.


Denny melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, beruntung jalan lengang tidak banyak kendaraan berlalu lalang di larut malam ini.


Sedang Harun, terus mengawasi Dania dalam pangkuannya. Wajah Dania sangat pucat, cairan merah kembali mengalir di hidungnya. Kain putih menempel di hidung Dania dalam tangan Harun sudah berubah warna merah.


Denny dengan fokus menatap jalanan sedang otaknya berpikir tentang nama rumah sakit yang disebutkan Harun. Rumah sakit itu tempat Saka di rawat, perasaan tidak tenang semakin kuat menghantuinya.


Tidak butuh waktu lama, mobil telah tiba di basement rumah sakit. Mata Denny menatap dari dalam mobil, di luar sudah ada beberapa perawat menunggu dengan membawa bankar, tidak ketinggalan dikawal beberapa orang bodyguard setelan jas hitam.


“Ayo keluar,” ucap Harun menyadarkan Denny dari kepakuannya seketika.


Harun keluar dari mobil, langsung disambut beberapa perawat. Damkar didorong melaju meninggalkan mobil memasuki lift khusus membawa pasien. Denny bersama Harun mengikuti dari belakang, mereka memasuki lift yang berbeda. Di dalam lift Denny hanya diam, mulutnya tidak sanggup berbicara dengan bayangan wajah Saka dan Dania terlintas bersamaan di kepala. Tanpa sadar tangannya mengepal kuat, dengan manik hitam berembun. Dia tidak bisa membayangkan keadaan yang akan dia hadapi di depan.


“Ting,” suara denting lift berlahan pintu pun terbuka.


Denny mengedarkan pandangan menatap di luar pintu lift sudah berdiri sang mama.


Perlahan kakinya menghayun ke luar, sedang Harun sudah lebih dulu ke luar menemui mama Denny.


Denny mengambil jarak tidak ingin segera bergabung membiarkan sang mama dan Harun berbicara. Tangannya segera meraih ponsel di saku baju. Nama Iqbal segera disambar pada layar tipis.


“Tut, Tut, Tuttttttttttttttt,” panggilan berlalu begitu saja tanpa balasan.


“Sial, di mana dia,” Denny mengutuk di dalan hati dan semakin tegang panggillannya tidak mendapat jawaban dari Iqbal.


“Drek, Drek, Drek,” tiba-tiba ponselnya bergetar, mata Denny menatap layar nama Iqbal tertera dan jarinnya secepat kilat menggeser simbol hijau.

__ADS_1


“Di mana kau? Tanya Denny membuka pembicaraan tanpa basa basi.


“Aku menuju ke tempatmu sekarang,. Tut, Tut, Tut.” jawab Iqbal singkat memutuskan panggilan.


Panggilan terputus sepihak, Denny hanya menatap layar menjadi hitam. Pandangannya beralih menatap mamanya melangkah mendekat.


“Ikut mama,” menatap dengan tajam ke arah Denny.


Suara tegas mengalir ke telinga dan menusuk jantung Denny mendapat tatapan menyerang dari sang mama.


“Maaf Ma, Denny akan menemani Dania, dia membutuhkan Denny.” Jawaban penolakan terlontar dari bibir Denny ingin menghindar sesegera mungkin, menarik langkah meninggalkan sang mama berdiri terpaku tidak menghentikannya.


Mama Denny menatap punggung belakang Denny berlalu pergi, dia pun melangkahkan kaki ditemani seorang bodyguard berhenti di depan lift. Saat pintu lift terbuka, terlihat Iqbal berada di dalamnya.


“Nyonya besar,” sapa Iqbal sambil menundukkan kepala.


“Bawa wanita itu kemari cepat sebelum putranya melakukan operasi.” Berucap sambil melangkahkan kaki masuk ke ruang lift.


“Tapi nyonya,” ucap Iqbal terkejut mendengar perintah mama Denny. Kini Iqbal berada dalam satu ruangan bersama mama Denny, udara terasa panas menyelimuti tubuh Iqbal seketika.


“Baik nyonya, segera saya lakukan.” Iqbal menundukkan kepala tak sanggup menerima tatapan menusuk di hadapannya.


“Bagus, pastikan wanita itu bertemu dengan putranya.” Berujar sambil memutar tubuh menghadap ke depan memunggungi Iqbal.


Denny melangkah memasuki ruang perawatan, menghampiri Dania masih terbaring lemah berhiaskan peralatan medis di wajah dan tubuh mungil. Seperti pisau menyayat-nyayat jantung Denny menahan perih melihat penderitaan putri kecil. Sepasang manik hitam tak sanggup menahan laju bulir bening mengalir keluar membasahi pipinya. Kakinya berhenti di samping tempat tidur, menarik tangan mengusap lembut pucuk kepala Dania.


“Maafkan papa sayang, kamu harus kuat, jangan menyerah, papa akan terus berusaha menyembuhkanmu sayang.” Lirih batin Denny tak sanggup bibirnya berucap.


Pandangan Denny beralih ke pintu yang terdorong masuk ke dalam, Harun melangkah masuk dari balik pintu.


“Apa yang direncanakan mamaku?” tanya Denny tidak tenang berusaha mengaburkan bayangan buruk yang terus melintas di kepala.


“Den, Dania tidak dalam baik saat ini. Keadannya tidak dapat diprediksi, aku tidak ingin memberikan harapan apa-apa. Jadi semua ada di tanganmu. Keputusan yang kau buat menentukan semuanya, walau pun terdengar kejam dan memaksa tapi tidak ada jalan lain. Atau kau punya pilihan, aku akan melakukan sesuai dengan keinginanmu.”

__ADS_1


“Apa maksudmu? Putusan dan pilihan apa? Jangan bilang ini ada hubungannya degan Saka?” Suara Denny terdengar gemetar.


“Ya, kau benar. Saka menjadi pilihan terakhir untuk menyelamatkan Dania. Dia..” Kalimat Harun terputus tidak terselesaikan.


“Tidak, jangan libatkan Saka dalam masalah ini. Pasti ada cara lain.” Ucap Denny mengusap wajahnya prustasi.


“Yakinlah padaku, mereka berdua akan baik-baik saja. Saka tidak akan apa-apa, operasi ini sudah sering dilakukan dan keberhasilannya di atas rata-rata. Kondisi Saka juga baik, operasi dapat dilakukannya kapan saja.” Ucap Harun berusaha meyakinkan Denny dengan penjelasan yang mudah dia pahami.


“Aku tidak bisa Harun, jangan pasksa aku. Dia akan pergi dari kehidupanku selamanya kalau aku melakukan itu pada putranya.”


“Putranya? Tapi dia juga putramu?” Jawab Harun tak kalah prustasi meyakinkan Denny.


“Run, aku tidak ada hak atas putranya. Memang darahku mengalir dalam tubuhnya, tapi aku tidak pernah ada bersama mereka.”


“Kau bicarakan bersamanya, dia pasti akan paham dengan situasi ini.” Harun masih berusaha meyakinkan Denny.


“Dret, Dret, Dret,” suara ponsel memanggil dari balik saku baju Denny, perhatiannya beralih ponsel dan meraihnya.


Nama Iqbal terlihat, jari Denny menyapu cepat simbol hijau di layar tipis.


“Kenapa kau belum juga ke sini?” Suara Denny meninggi menyadari Iqbal tidak juga muncul di hadapannya.


“Aku dalam perjalanan ke rumahmu,” Jawab Iqbal.


“Kenapa? Bukannya aku memintamu menemuiku?” Denny semakin kesal mendengar jawaban Iqbal.


“Perintah nyonya besar, membawa Indah ke rumah sakit sekarang.” Balas Iqbal dengan gusar akan mendengar amarah Denny.


“Apa? Sial!” Denny melepaskan satu pukulan melayang ke udara melepaskan kekesalannya.


“Baiklah, jangan salahkan kalau aku kelewat batas mama,” Gerutu Denny menahan amarah dengan wajah bersemu merah. Menarik langkah meninggalkan rungan.


“Den, Denny. Kau mau kemana?” Harun tidak mendapatkan jawaban, menatap punggung Denny pergi.

__ADS_1


“Den, sebaiknya kau mendengarkan saranku. Aku tidak akan membahayakan kehidupan kedua putramu,” lirih Harun dalam batin menatap Dania terbaring lemah.


__ADS_2