
Pagi hari, cahaya matahari perlahan memasuki rumah. Denny tersadar dari tidur, dan berusaha duduk. Pikirannya merajut kembali penyebab dirinya tidur di sofa ruang keluarga. Tangannya memegang selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menyadari, kalau Hanna telah meyelimuti tubuhnya. Mata Denny mengitari ruangan, lalu beranjak bangun dan mencari sosok yang biasa ramah di pagi hari walaupun dia selalu mengacuhkannya.
Sebelum Denny bangun, Bik Surtik telah lebih dulu bangun dan mendapati Denny tertidur di sofa. Perasaan Bik Surtik tidak enak, dia menduga telah terjadi sesuatu yang tidak baik tadi malam. Bik Surtik hanya menarik nafas panjang, harapannya tidak sesuai rencana. Bik Surtik pun melanjutkan langkah ke dapur melakukan tugasnya, berusaha tidak mengganggu Denny yang masih tertidur.
Denny melangkah menuju kamar, di dalam kamar mata Denny melihat tempat tidur telah tertata rapi dan pakaian kerja juga telah tersedia seperti biasa yang dilakukan Hanna. Denny pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, dalam piikirannya kalau Hanna berada di dapur sedang menyiapkan sarapan.
Selesai mandi, Denny berpakaian dan menatap wajahnya di cermin. Sepintas bayangan peristiwa tadi malam melintas di kepalanya. Denny menggoyang-goyangkan kepala tidak menyangka Hanna sanggup berbuat senekad itu menggodanya. Dia berniat bersikap wajar, menganggap tidak pernah terjadi dan tidak ingin mempersolkannya lebih panjang. Bersikap dingin akan membuat peristiwa itu terlupakan bagi mereka berdua pikirnya.
Setelah berpenampilan rapi, Denny melangkah ke luar kamar. Langkahnya berhenti di ruang makan dan melihat Bik Surtik menunggunya, tidak seperti biasa Hanna seharusnya berada di sana.
“Hanna mana, Bik?” Tanya Denny menatap Bik Surtik dengan wajah tertunduk.
“Nyoooonyaaa,” Bik Surtik menjawab ragu. Pikiran Bik Surtik terbawa mundur saat Hanna memintanya membantu menyediakan keperluan Denny. Hanna menemui Bik Surtik sebelum dia memutuskan pergi sementara waktu meninggalkan rumah. Denny masih tidur dan tidak menyadari kepergian Hanna.
“Bik, kenapa bengong, Hanna mana?” Denny masih menanyakan hal yang sama sebelum mendapat jawaban dari Bik Surtik.
“Nyonya telah pergi sebelum tuan bangun,” Bik Surtik tertunduk sedih, mengenang wajah Hanna yang pergi dengan berurai air mata. Dia sudah menahannya dan meminta Hanna bersabar. Tapi Hanna menolak dan tetap ingin pergi untuk menenangkan hatinya yang luka.
“Baguslah, akhirnya dia menyerah juga,” Denny berkata-kata dalam hatinya setelah mendengar jawaban Bik Surtik.
“Dia bilang, pergi ke mana?” Denny berpura-pura perhatian di depan Bik Surtik. Pandangan terpusat pada hidangan di hadapannya.
“Tidak tuan,” Bik Surti menjawab lemah, memang dia tidak mengetahui, karena Hanna tidak memberi tahu kemana tujuannya pergi.
__ADS_1
“Ya, sudah jangan khawatir, dia pasti di rumah mama,” Denny menarik kursi dan duduk. Menduga Hanna pasti mencari perlindungan dan dukungan Mamanya atas peristiwa tadi malam. Mama juga orang yang paling berpengaruh penyebab Hanna nekad bersikap konyol.
“Ternyata dia masih sempat membuatkan sarapan seberlum pergi,” Gumam Denny menikmati sarapan, lidahnya sudah terbiasa dimanjakan memakan masakan Hanna.
Bibik menatap Denny dengan pandangan murung, karena Denny tidak menunjukan rasa kehilangan dan penyesalan atas sikapnya selama ini terhadap Hanna.
Selesai makan, Denny melangkah pergi ke luar rumah akan berangkat ke kantor. Pandangannya menatap mobil yang ada di garasi. Hanna pergi tidak membawa mobil yang selalu dipakainya. Denny masih tidak mengambil perduli dan masuk ke dalam mobil dengan sopir yang sudah menunggu dengan membukakan pintu. Sopir pun menutup kembali, menyusul masuk duduk di kursi pengemudi dan mobil melaju meninggalkan rumah.
Di kantor, Denny kembali disibukkan dengan beberapa rapat dan pertemuan. Satu hari ini, pikirannya tercurahkan penuh dengan pekerjaan. Denny terkenal dengan pekerja keras, disiplin dan bertanggung jawab atas semua putusannya. Para karyawan menaruh segan dan hormat terhadap dirinya. Dia juga sangat menghargai kerja keras para karyawannya dengan selalu memberi imbalan bonus. Maka dari itu, perusahaannya menjadi salah satu yang berkembang dan terkenal.
Sepulangnya dari kantor, Denny memasuki rumah dengan tubuh yang lelah. Bik Surtik menyambut kepulangan Denny dengan langkahnya langsung menuju kamar. Kebiasaan Denny, selalu mandi terlebih dahulu setelah pulang dari kantor. Denny telah memakai pakaian rumah, perutnya terasa lapar. Dia memutuskan makan malam di rumah seperti biasa karana Hanna selalu menunggunya.
Denny bergegas ke ruang makan, matanya menatap meja makan tidak ada Hanna yang menyambutnya dengan senyuman walaupun dia tidak pernah membalas senyuman itu. Denny mencari sosok itu, untuk sesaat Denny lupa Hanna telah pergi. Bik Surtik menatap Denny seperti mencari seseorang.
“Hanna mana Bik?” Tanya Denny dengan tatapan masih mencari-cari.
“Tuan, nyonyakan sudah pergi dari tadi pagi,” Bik Surtik menekan beberapa kata dengan jawabannya, merasa ganjil dengan sikap Denny menanyakan keberadaan Hanna.
“Oh, dia belum pulang sampai sekarang?” Tanya Denny baru menyadari kembali kalau Hanna telah pergi. Dia juga tidak ingin menghubungi Hanna maupun mamanya.
“Belum tuan,” Jawab Bik Surtik singkat. Bik Surtik tidak yakin Hanna akan kembali, karena Hanna pergi dengan membawa koper.
Denny tidak menanggapi jawaban Bik Surtik, karena perutnya sudah protes minta segera di isi. Denny pun memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mengunyah makanan dengan perlahan, ada sesuatu yang asing di lidahnya seolah-olah tidak menerima. Denny berusaha menelan makanan itu, tapi tidak dapat menikmatinya. Denny meletakkan sendok, menghentikan makan walaupun perutnya masih terasa lapar seketika seleranya hilang.
__ADS_1
“Ada apa tuan, butuh sesuatu?” Bik Surtik bertanya, melihat Denny yang diam, tidak melanjutkan sisa makanannya.
“Saya sudah siap, tolong buatkan kopi dan antar ke meja kerja,” Denny beranjak dari kursi makan dan melangkah meninggalkan ruang makan menuju ruang kerja.
Denny duduk di kursi kerja, menatap jam menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Pandangannya beralih ke layar laptop di depannya.
“Ini kopinya tuan,” Bik Surtik datang menghampiri dan meletakkan secangkir kopi. Denny tidak membalas ucapan Bik Surtik yang berlalu meninggalkannya.
Sambil memeriksa pekerjaannya di laptop, tangan Denny meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
“Ikh, kopi apa ini,” Denny spontan berucap dan meletakkan cangkir setelah merasakan kopi yang tidak enak.
“An,” suara Denny terhenti tidak melanjutkan kata-katanya, otaknya memantik mulutnya diam bahwa orang yang diucapkan tidak ada di rumah.
Denny menatap kembali jam yang terus berputar menjalankan tugasnya menunjukkan perjalanan waktu. Denny masih melanjutkan pekerjaan, sampai matanya lelah mengajak tubuhnya beristirahat. Denny pun menutup laptop dan beranjak dari kursi melangkah menghampiri sofa.
“An,” lagi-lagi mulutnya terhenti menatap sofa yang kosong, tidak ada tubuh terbaring tidur selalu menemaninya saat bekerja.
Denny melanjutkan langkahnya menuju kamar, dan membaringkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur. Mata Denny masih ingin mengintip jam menempel di dinding kamar, menunjukkan waktu malam bertambah larut. Beralih pandangannya melihat ke samping, kosong hanya dirinya terbaring seorang diri. Denny memejamkan mata mengikuti keinginan kelopak matanya yang sudah sangat berat.
Beberapa saat kemudian, tubuh itu terlihat gelisah. Sebuah bantal terangkat dan berpindah ke atas kepala Denny. Malam itu, mata dan otaknya tidak mau bekerja sama. Berapa pun keras usaha Denny memejamkan matanya, tapi dirinya tidak dapat tidur. Otaknya terus berpikir tidak menentu, perasaannya tidak tenang ada sesuatu yang mengganjal. Denny tidak tahu penyebabnya, dan dia berusaha damai dengan pikiran, perasaan dan matanya, namun tetap membuatnya tidak bisa tidur.
Denny duduk dan mengosok-gosongkan kepala dengan tangannya hingga membiarkan rambutnya berantakan. Dirinya sangat ingin tidur, tapi tetap belum bisa juga. Tangannya meraih ponsel di atas meja di samping tempat tidur. Matanya mencari seseorang yang ingin diajaknya bicara saat ini juga. Iqballah nama yang menjadi sasaran. Beberapa kali panggilan terlewatkan begitu saja, hingga akhirnya ponsel mendarat kasar di atas ranjang karena Iqbal tidak juga menjawab panggilan.
__ADS_1