
Di dalam mobil, Denny lebih banyak diam. Hanna merasakan suasana kebekuan. Hatinya kecewa, Denny masih belum berubah terhadapnya. Tidak bisa berusaha bersikap ramah.
“Mas, kelihatannya banyak pikiran? Apa tidak lebih baik ambil liburan, biar lebih fresh.” Hanna mencoba memulai pembicaraan.
“Usul menarik An, kalau semua sudah beres akan ku usahakan mengambil liburan,” jawab Denny datar.
“Nah begitu dong. Hanna akan tunggu saat itu, kita liburan bersama ya Mas?” Hanna mendekat dan merangkul lengan Denny manja.
Denny menatap tangan Hanna yang merangkulnya, ada perasaan tidak suka di wajahnya.
“Maaf Mas. Aku terlalu senang,” Hanna melepaskan pegangannya.
Kembali suasana hening, Iqbal hanya menatap kebisuan kedua insan yang ada di bangku belakang dari balik kaca spion.
Mobil sampai di perusahaan, dan Iqbal menghentikan mobil di depan pintu perusahaan. Seorang pegawai dengan sigap membukakan pintu.
“An, kamu pulang di antar Iqbal, nanti lain waktu kita berbincang lagi,” Denny beranjak dan ke luar dari mobil.
Hanna diam memandang kepergian Denny.
“Kita pulang ke mana An, ke rumah mama Denny atau ke hotel kamu?” tanya Iqbal.
“Antarkan aku ke hotel saja,” jawab Hanna sedih.
Iqbal pun membawa mobil melaju ke tempat tujuan.
Indah ke luar dari kamar.
“Semua sudah pergi, tinggal aku sendiri di sini” gumam Indah berjalan menuju dapur.
“Sepertinya gadis itu membawakan makanan.” Indah melihat bungkusan makanan di atas meja.
“Wah tidak di makan, tapi masakanku habis. Pasti mereka pesta spaghetti tadi. Tidak menyisakan sedikit pun untukku. Padahal aku masih lapar.” Indah meraba-raba perutnya, mengamati spaghetti buatannya tidak ada lagi tersisa di dapur.
“Lebih baik makanan ini aku simpan di lemari es, inikan bawaan pacarnya Pak Direktur.” Indah meraih kantong makanan dan menyimpannya di dalam lemari es.
Hari terus berjalan, matahari kelihatan mulai beranjak ke peraduannya.
Indah santai menonton tv, dari duduk sampai badannya rebah di sofa. Karena bosan, dia melongsorkan tubuhnya di karpet bawah. Kakinya diangkat ke sofa. Jadilah posisinya tidur dengan posisi kaki lurus ke atas bersandarkan sofa.
“Bosaaaan, Tuhan izikan aku ke luar dari tempat ini,” pekik Indah melepaskan kebosanan sendiri terkurung di dalam apartemen.
Indah pun memejamkan matanya.
Tak beberapa lama pintu terbuka, terlihat Denny melangkah masuk. Matanya memerhatikan dari jauh tv menyala, tapi tidak dilihatnya Indah. Denny berjalan mendekat.
“Ha…ha…ha…, apa yang dia lakukan,” Denny tertawa pelan melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Perlahan dia duduk bersila di bawah mendekati tubuh Indah. Mengambil remote di samping tubuh Indah dan mematikan tv yang masih menyala. Ditatapnya wajah Indah dalam.
“Apa yang harus kulakukan pada gadis ini. Hatiku makin terikat dengannya. Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta?” Bisik batin Denny mengamati wajah tenang Indah.
“Indah, Indah,” Denny menggoyang tubuh Indah dan membangunkannya.
Perlahan kelopak mata Indah terbuka. Terlihat tepat di hadapannya wajah Denny dan tersenyum memandangnya. Indah melihat dan dia bingung kenapa kakinya di atas. Dia tidak ingat kalau membiarkan tubuhnya tertidur dengan kaki lurus ke atas.
“Maaf, maaf. Aduh, sakit,” Indah perlahan menurunkan kaki dan meraba punggungnya.
Indah menarik kakinya dan berusaha untuk duduk. Tapi punggungnya terasa sakit karena terlalu lama tidur di lantai. Denny tersenyum melihat tingkah Indah. Tangannya meraih tubuh Indah dan membantunya duduk di sofa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Denny lembut melihat tingkah Indah.
“Saya merasa bosan, tidak tahu mau ngapain. Seharian di sini tidak melakukan apapun selain makan dan tidur.” Jelas Indah memasang wajah sendu menatap Denny.
“Baiklah, ganti bajumu sekarang.” Denny beranjak meninggalkan Indah dan menuju kamarnya.
“Dia mau apa, aku belum selesai bicara tadi. Aku mau bilang, kalau aku mau pulang, dia sudah main perintah saja,” Indah beranjak dan melangkah ke kamarnya dengan meringis merasakan punggungnya yang masih sakit.
__ADS_1
Denny sudah menunggu Indah di luar kamar dan sesekali melihat jam melingkar di tangannya.
“Mengapa lama sekali ganti bajunya?" celetuk Denny, melihat Indah belum juga keluar dari kamar.
Indah membuka pintu kamar, melihat Denny sudah menunggu di baliknya.
“Kita mau ke mana?” tanya Indah heran.
“Sudah, jangan banyak tanya.” Denny menarik tangan Indah.
“Ih, apa laki-laki ini maniak tanganku, selalu saja ditarik begini,” bisik Indah mengikuti langkah Denny.
Walaupun pelan, Denny mendengar jelas ucapan Indah, dia hanya tersenyum.
“Benar, aku bukan saja maniak tanganmu, tapi seluruh dirimu,” batin Denny berujar menggenggam erat tangan Indah.
Berdua mereka melangkah meninggalkan apartemen.
Indah terpana melihat pemandangan di hadapannya.
“Wah, cantik sekali,” pekiknya kegirangan.
Denny mengajak Indah melihat pemandangan sore hari di Resto Saggara Ancol. Tempat yang dijuluki Balinya Jakarta. Berdua mereka duduk, memilih meja di tepi pantai memandang matahari terbenam, udara terasa segar. Sesekali rambut Indah bermainkan angin. Mata Denny lekat memandang wajah seri Indah.
“Bagaimana, kamu suka?” tanya Denny.
“Hemm,” Indah menganggukkan kepala dengan pandangan arah ke depan masih menatap matahari terbenam.
“Aku suka ke sini, kalau suasana hatiku sedang tidak enak. Ini salah satu tempat favoritku,” Ujar Denny memikmati pemandangan di hadapannya.
“Pilihan tempat yang tepat, pikiran menjadi tenang di sini. Saya juga sangat menyukainya,” balas Indah.
“Kita boleh berbagi tempat ini menjadi tempat favorit kita bersama. Tunggu disini,” Denny berjalan menuju ke suatu tempat.
Indah melihat Denny berbicara dengan seseorang.
Tak lama Denny datang kembali.
“Mulai sekarang, tempat ini hanya untuk kita berdua. Aku telah menambahkan namamu, kapan pun kau bebas datang dan duduk di sini.” Denny berbagi tempat kesukaannya. Dia ingin Indah juga merasakan tempat ini sewaktu dia menginginkannya.
“Apa, hanya kita berdua yang boleh duduk di sini. Kok bisa?” tanya Indah bingung setelah mendengar penjelasan Denny..
“Aku salah satu pemegang saham terbesar di tempat ini, jadi aku bebas melakukan apapun. Apa lagi hanya meminta sebuah tempat privasi” Jawab Denny tersenyum menatap wajah tidak percaya Indah.
“Wah, begitu ya. Terima kasih Mas, atas kemurahan hatinya,” Ucap Indah senang menatap kembali pemandangan di hadapannya.
“Jangankan hati, seluruh hidupku akan ku serahkan,” batin Denny menatap senyum wajah Indah.
Terdengar suara azan magrib berkumandang.
“Aku sholat dan kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana,”
“Ahhh, iiya..,” lamunan Indah terpecah.
Denny beranjak meninggalkan Indah pergi menunaikan sholat. Indah memandang tubuh belakang Denny.
“Laki-laki ini baik juga, walaupun terkadang sikapnya sangat dingin,” batin Indah menilai sikap Denny saat ini terhadapnya.
Sepeninggalan Denny, Indah duduk masim menikmati pemandangan, sesekali udara dingin menerpa tubuhnya.
“Ihh dingin juga lama-lama di sini, coba dia bilang mau ke tempat seperti ini, pasti aku pakai baju yang lebih tebal. Tapi Indah, kau mau pakai baju yang mana, pilihanmu tidak ada. Pakaian ini paling layak untuk jalan ke luar yang ada di lemari." Indah berbicara seorang diri menatap bajunya.
“Huhu, huhu,” Indah mendengar suara anak menangis.
“Darimana suara itu,” batin Indah mengalihkan pandangannya ke sekitar.
Makin lama suara tangis itu semakin jelas di telinga Indah. Indah masih mengamati sekitarnya, mencari-cari sumber suara.
__ADS_1
Ada beberapa pasang pria dan wanita duduk. Suasana semakin ramai dengan para pengunjung. Indah beranjak dari tempat duduk dan melangkah mencoba mencari suara tangis yang mengusik hatinya. Dia menemukan seorang anak perempuan kecil sedang menangis. Indah melangkah mendekat.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Indah mengelus perlahan rambut gadis kecil itu.
“Papa, mama, mereka di mana?” Gadis kecil menatap Indah berurai air mata dengan wajah ketakutan.
“Kamu terpisah dari mereka ya?” Indah memegang kedua bahu gadis kecil itu.
“Iya, aku tadi berjalan ingin melihat pantai ini. Aku pikir mereka di belakangku, tapi aku lihat tidak ada. Aku takut, tolong kak carikan mama dan papa.” Isak gadis kecil.
“Iya kakak akan bantu, tapi janji jangan nangis lagi, oke?” Kedua tangan Indah menghapus air di pipi gadis kecil.
“Iya, aku ngak nangis lagi.” Gadis kecil menganggukkan kepala.
“Ayo kita cari sama-sama,”
Indah mememang erat tangan anak gadis itu dan berjalan menemaninya mencari kedua orang tuanya.
Denny melangkah kembali ke tempat Indah. Hatinya gusar, dari jauh memandang tidak mendapati Indah. Semakin mendekat, Denny semakin cemas karena tidak menemukan Indah.
“Dimana dia?” Kepala Denny menoleh ke kanan-ke kiri.
“Permisi, ada lihat wanita dengan tinggi segini, rambut hitam panjang?” Denny berusaha bertanya kepada orang-orang yang ada.
“Tidak," jawaban yang diberikan setiap orang yang ditanya Denny.
Denny terus bertanya dan berjalan ke sana-ke mari, berlari dan terus mencari tapi tetap Indah tidak ditemukan. Wajahnya sangat cemas, dia meraih ponsel. Menyadari Indah tidak memiliki ponsel, Denny semakin panik.
“Mas,” seseorang menepuk bahu Denny, dan dia pun membalikkan tubuhnya.
“Hanna, kamu di sini?” tanya Denny bingung mendapati Hanna sedang berdiri di hadapannya.
“Iya, hotel aku tidak jauh dari sini,” menatap Denny heran seperti orang kebingungan.
“Kamu sama siapa?” Denny berusaha ramah dengan suasana hatinya yang tegang kehilangan Indah.
“Aku sendiri, dan Mas ngapain di sini?” Menatap wajah Denny penuh selidik.
“Aku menunggu teman,” mata Denny liar kembali memandang ke sekitar.
“Ayo kita cari tempat, sambil menunggu teman Mas,” Hanna memegang tangan Denny.
Tiba-tiba Indah datang dan mendapati Denny berbicara ramah dengan seorang gadis.
“Pak Direktur dengan siapa ya?” bantin Indah berkata melihat kedekatan Denny berpegangan dengan gadis cantik.
Denny melihat Indah. Saat Indah menyadari dia terlihat oleh Denny, Indah membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki berusaha menghindar.
“Maaf An, aku pergi dulu, temanku sudah datang,” Denny melepaskan tangan Hanna dan berjalan menyusul langkah Indah.
“Mas, tunggu,”
Hanna mencoba menahan langkah Denny, tapi Denny tidak menghiraukan dan semakin menjauh. Tatapannya mengiringi kepergian Denny.
Indah semakin mempercepat langkahnya.
"Aku harus pura-pura tidak melihat saja," Indah menggoyang-goyangkan kepalanya. Dia merasa bersalah telah melihat Denny dan tidak duduk di tempatnya.
“Ayo, kita pulang,” Indah menoleh ke samping melihat orang yang berbicara dengannya.
“Tapi…,
Indah tidak bisa berucap, tangannya sudah dipegang erat Denny dan menariknya hingga tubuh Indah tertarik mengikuti langkah Denny.
“Siapa gadis bersama Mas Denny, apakah itu teman yang ditunggu. Mengapa dia memegang tangannya?”
Hanna melihat Denny dari kejauhan berjalan memegang tangan seorang gadis dan hatinya terasa sakit.
__ADS_1