Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 57 Duka Mendalam


__ADS_3

Sampai di dalam ruangan, seorang perawat telah berdiri di samping mayat yang terbaring ditutupi sehelai kain putih bersimbahkan darah.


“Kita ke luar Bal, itu pasti bukan Indah, kau harus membawaku ke tampatnya sekarang,” suara Denny meninggi menatap Iqbal, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa mayat yang tertutup itu bukan Indah.


“Kau harus melihatnya dan menerima kenyataan ini,” Iqbal mendorong Denny, dan tubuhnya terlempar mendekati mayat tepat di depan wajahnya.


Perawat perlahan membuka kain yang menutupi wajah mayat setelah mendapat isyarat dari Iqbal. Perlahan kain terbuka dan wajah Indah yang lemah terbujur kaku dalam pandangan Denny. Tubuh Indah dirangkul erat dalam dekapan Denny.


“Tidakkkk, tidak, hiks-hiks-hiks,Indah bangun, jangan seperti ini, kamu jangan pergi, kamu jangan tinggalkan aku In. Hiks-hiks-hiks, Bal, dia tidurkan? Suruh dia bangun sekarang, atau aku akan marah. Suruh dia bangun Bal.” Tangan Denny menggoyang kuat tubuh Iqbal, Denny terduduk lemah di lantai. Hatinya hancur, wanita yang sangat dicintai telah pergi dan tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Iqbal menatap sedih, atas kehilangan sahabatnya.


Masih di ruangan yang sama, hanya terpisah oleh dinding kaca hitam tebal satu sisi. Seorang wanita menatap lemah, sayu dan pilu pemandangan di hadapannya. Melangkah pergi meninggalkan Denny berbalut kesedihan. Air mengalir dari sudut matanya di balik kaca mata hitam, mengiringi setiap langkah kaki.


Sebuah mobil sedan hitam telah menunggu, berdiri seorang lelaki berbalut jas hitam di pintu belakang yang terbuka. Saat tubuh wanita itu masuk, pintu pun ditutup. Langkah kaki tergesa membawa sang lelaki masuk. Mobil pun melaju meninggalkan gedung rumah sakit.


Rangkaian prosesi pemakaman dilakukan, menghantar Indah ke peristirahatan terakhirnya. Denny terlihat tegar mengiringi kepergian Indah. Kepergian Indah membuat orang-orang terdekatnya terkejut, termasuk Yanti dan Hendrik. Sahabatnya Yanti sangat terpukul, apalagi dia belum sempat berbagi cerita kebahagiaan Indah menikah dengan Denny. Keluarga Pakde turut dijemput datang menghadiri pemakaman. Pakde berusaha ikhlas menerima, semua telah diatur Yang Maha Kuasa. Setelah pemakaman selesai, satu-persatu orang-orang berangsur pergi dan kembali melanjutkan kehidupannya masing-masing.


Denny kembali ke apartemen seorang diri, menolak permintaan Iqbal untuk menemaninya. Kakinya telah sampai di depan pintu, membuka dan melangkah masuk.


“Mas, kamu sudah kembali? Ayo, kita makan, aku sudah masak yang banyak, kamu tahukan aku suka makan. Tapi kali ini bukan untukku, untuk Mas sebagai hukuman telah meninggalkan aku sendiri di sini,” tangan Denny dirangkul dan membawa langkah kakinya ke meja makan.


“In, kamu bener-bener masak banyak? Mas mana sanggup makan semuanya, kamu harus bantui Mas. Sini, kamu harus duduk di samping Mas, biar Mas gampang nyulangi kamu,” tangan Denny terhenti, Indah tidak ada di sampingnya.


“In, Indah, kamu di mana?” Denny beranjak dari kursi berjalan ke sana ke mari mencari Indah. Kakinya menghantar ke kamar tapi Indah tetap tidak ada.

__ADS_1


“Indahhhh, hiks-hiks-hiks, Indahhh, aku harus bagaimana? Aku bisa gila, kamu tidak ada bersamaku, hiks-hiks-hiks.” Denny menarik kasar rambutnya, meluapkan kesedihan, bayangan Indah masih melekat di matanya.


Tubuhnya terbaring lemah di lantai kamar, karena lelah dalam kesedihan akhirnya Denny tidak sadarkan diri. Terdengar suara irama sandi pintu, Hanna melangkah masuk. Dia sudah lama berdiri di luar, dirinya tidak pulang, meminta Iqbal memberikan kode sandi pintu apartemen Denny. Mengikuti mobil Denny dari belakang, hingga sampai ke apartemen. Dia tidak bisa meninggalkan Denny sendirian, khawatir sesuatu terjadi padanya. Walaupun tahu Denny mungkin akan menolaknya, tapi dia ingin menemani dan menghibur Denny saat ini.


Perlahan Hanna membawa Denny membaringkan di atas ranjang. Memeriksa keadaannya, ternyata tubuh Denny hangat. Hanna bergegas ke dapur mengambil semangkuk air es dan sehelai kain handuk kecil. Kembali ke kamar dan mengompres dahi Denny.


“In, Indah, jangan tinggalkan Mas,” terdengar pelan suara dari mulut Denny.


“Mas, kamu harus kuat. Aku akan membantumu melupakannya.” Hanna menatap dalam Denny yang terbaring lemah.


Sepanjang hari itu, Hanna setia menemani Denny. Baginya, saat-saat seperti ini, harus ada orang yang memberikan kekuatan dan tidak bisa meninggalkan seorang diri. Kesendirian akan membuat Denny semakin mengenang Indah dan membuatnya lemah.


Hari merangka menyambut malam, perlahan Denny sadarkan diri. Samar matanya menatap seorang wanita duduk di sampingnya. Sentuhan lembut mengompres dahinya dan senyum menggaris di sudut bibirnya.


“Auw, sakit Mas, kamu menyakiti aku,” Hanna meringis kesakitan. Pergelangan tangannya memerah dicengkram kuat.


“Kau pergi, jangan ada di hadapanku,” Denny melepas dan menepis tangan Hanna.


“Mas, kamu sakit. Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini. Aku ingin menolongmu Mas,” Hanna berusaha dirinya bisa bersama Denny untuk menghiburnya perlahan melupakan Indah.


“Hanna, aku tidak butuh pertolongan siapapun. Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku. Lebih baik kamu pergi sekarang,” Denny duduk dan menatap tajam Hanna. Saat ini, dirinya tidak ingin diganggu siapapun.


“Mas, aku tahu, aku di matamu tidak ada artinya. Aku berusaha baik di hadapanmu, tapi kamu tidak menghiraukan aku. Aku mengemis cintamu Mas. Kamu menikahi Indah, aku menyerah karena aku sadar kamu tidak akan pernah memilihku. Tapi, sekarang tidakkah bisa aku mengemis kembali cintamu Mas?” Hanna berderai air mata, meluapkan isi hatinya. Dia tidak ingin kehilangan Denny kedua kalinya.

__ADS_1


“An, maafkan aku. Kenapa kamu sangat mencintai aku? Kamu bisa mendapatkan pria lebih baik dari aku.” Denny menatap Hanna yang berulang kali merendahkan diri di hadapannya mengharap cintanya.


“Mas, Aku tidak meminta sepenuhnya kau mencintaiku, aku rela berbagi dengan kenangan Indah.” Hanna menggenggam erat tangan Denny, dia tidak pernah menghiraukan harga dirinya di hadapan Denny.


“An, Mas lelah dengan semua itu, tolong tinggalkan Mas sendiri,” Denny menarik tangannya dari genggaman tangan Hanna. Memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Hanna. Dia tidak ingin berkata lebih banyak lagi yang akan menyakiti hati Hanna.


“Baiklah Mas, aku akan pergi, kamu beristirahatlah dan pikirkanlah ucapanku. Jangan lupa makan, aku sudah menyiapkannya. Aku yakin, Indah tidak ingin kamu larut dalam kesedihan.” Hanna berdiri dan melangkah meninggalkan Denny.


Denny menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang. Dirinya benar-benar ingin sendiri tidak ada orang yang mengganggunya.


Hari terus berjalan, sudah sepuluh hari sejak peristiwa kematian Indah. Denny menganti sandi pintu, hingga tidak seorang pun yang tahu hanya dirinya seorang. Ponselnya mati, siapapun tidak dapat menghubunginya. Iqbal sudah tidak tahan dengan sikap Denny, dia sangat khawatir, akhirnya Iqbal mengunjungi Denny di apartemen.


“Sial, dia mengganti sandinya, telponnya pun masih mati. Apa dia juga mau mati,hah” Iqbal melangkah pergi, meninggalkan pintu yang tidak bisa dibukanya. Beberapa menit kemudian, nampak Iqbal kembali dengan seorang petugas pintu dan memintanya untuk membukakan. Akhirnya pintu bisa terbuka, dan diapun bergegas melangkah masuk.


Iqbal khawatir Denny bertindak nekad, langkahnya langsung menuju kamar. Tapi kakinya terhenti, saat melihat Denny dengan tenangnya makan di meja dapur.


“Apa yang kau lakukan, kau sengaja membuatku gila, hah? Ponselmu mati, sandi pintu kau ganti, kau keterlaluan Den, aku kira kau juga…ah sudahlah.. “ Iqbal tidak melanjutkan kata-katanya dan menatap penuh keheranan dengan sikap Denny yang tenang.


“Aku juga berpikir begitu, lebih baik aku mati saja. Tapi Tuhan belum mengijinkan aku untuk mati, aku ingin membalas orang yang sudah membuatku menderita,” Denny menatap Iqbal, pikirannya sekarang penuh dengan rencana balas dendam.


“Tidak Den, itu kecelakaan murni. Aku sudah menyelidikinya, sopir yang mengendarai truk sudah ditangkap dan dia dalam keadaan ngantuk saat itu. Kepolisian juga sudah menyelidiki tidak ada tindak criminal, semua murni kecelakaan. “ Iqbal berusaha menjelaskan dan meyakinkan Denny. Beberapa hari ini, Iqbal sudah mondar-mandir ke kantor polisi mengusut tuntas kecelakaan. Kasus pun ditutup dengan alasan kecelakaan di jalan raya.


“Hah, segampang itu mereka memutuskan kecelakaan, aku tidak percaya. Lihat saja, mereka akan menderita, sama seperti yang aku alami.” Mata Denny menatap datar, dengan sikap tenang, menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan Den, siapa mereka yang kau maksud?” Iqbal bertambah khawatir dengan tatapan dingin dan sikap diam Denny. Sifat yang sudah lama tidak dilihatnya, setelah peristiwa Mamanya memisahkan Denny dengan Elisa kekasih pertamanya yang memilih menikah dengan Gunawan.


__ADS_2