
“Ada apa ini?” Gumam Iqbal di balik kemudi, memperhatikan keadaan mobil yang tiba-tiba perlahan. Mau tidak mau Iqbal menepi dan menghentikan mobil.
“Kenapa kita berhenti di sini? Ada apa?” Jesika menatap Iqbal yang terlihat melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil.
“Tetaplah di dalam, jangan keluar walau apapun terjadi dan kunci mobilnya.” Iqbal beranjak tanpa membalas tatapan Jesika. Hatinya membisikkan sesuatu yang tidak baik akan terjadi.
Jesika bingung, mendapati ucapan Iqbal tidak menjelaskan pertanyaannya. Dengan cepat, dia menekan knop mengunci pintu mobil dari dalam mematuhi perintah Iqbal.
Jesika meperhatikan Iqbal dari dalam mobil. Terlihat Iqbal berjalan ke depan dan berdiri seperti menunggu seseorang.
“Brukk” tubuh lelaki itu ambruk ke bawah tanpa aba-aba.
“Ahhk, Seketaris Iqbal.” Sontak Jesika menjerit melihat pemandangan di hadapannya. Wajah Jesika seketika menegang, seluruh tubuhnya bergetar. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Iqbal. Lelaki itu tergeletak tak bergerak di aspal hitam.
Manik hitamnya berusaha menajam mengamati keadaan sekitar, namun sia-sia keadaan di luar masih gelap.
“Bagaimana ini, apa aku harus tetap diam saja atau ke luar? Tapi bagaimana dengan dia? Ya Tuhan tolong, aku harus bagaimana?” Jesika menjadi panik dan prustasi. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Iqbal.
“Cklek”, terdengar knop pengunci pintu terbuka otomatis setelah mendapat sentuhan dari jari Jesika yang gemetar.
Manik hitamnya menyapu keadaan di luar mobil, mengamati suasana sunyi sepi. Walau di jalan tapi tidak ada kendaraan yang lalu lalang. Entah mengapa bisa seperti itu, seolah jalan di tutup agar tidak dilalui.
Dengan hati was-was Jesika membuka pintu, dan menurunkan kedua kaki jenjangnya melangkah ke luar mobil.
“Tap,
“Tap,
“Tap,
Perlahan langkah Jesika mendekati tubuh seorang lelaki yang tergeletak tak bergerak.
__ADS_1
“Seketaris Iqbal, kamu kenapa ?” Jesika berjongkok, mengulurkan tangan memegang lengan Iqbal dan menarik-nariknya perlahan. Lalu beralih menggerakkan tubuh Iqbal. Hati Jesika dirundung takut, melihat Iqbal masih bertahan diam membatu.
“Hemmm,” Jesika menggeram saat mulutnya dibekap dan tubuhnya serasa melayang di udara.
Dia merasakan tangan kekar melingkar kuat di perut hingga tubuh kecilnya dalam gendongan seorang lelaki.
“Hemmm, Hemmm, Hemmmm,” Jesika memberontak menggerak-gerakkan tubuh dengan tenaga yang dia miliki sambil kedua kaki berusaha menerjang tubuh lelaki kokoh berada dibelakangnya itu.
Namun sayang, tenaganya kalah kuat, usahanya tidak membuahkan hasil. Malah, Jesika semakin menjauh dari Iqbal.
Di sebuah ruang rawat, seorang berusaha membuka kelopak manik hitam yang tertutup.
Perlahan cahaya memenuhi maniknya dan memperjelas pandangan di sekitar. Tubuhnya bergerak bangun dari pembaringan dan duduk di tempat tidur.
“Kau sudah sadar?” suara menyapa mengusik perhatian Denny untuk mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Siapa kau?” tanya Denny tidak mengenal lelaki di hadapannya.
“Heh… ternyata kau sudah pikun Tuan Denny?” menatap dengan remeh menanggapi pertanyaan Denny.
“Tidak mengapa kau tidak mengingatku, mungkin akan lebih baik seperti itu. Aku ingin memberitahu sesuatu dan hanya sekali tidak akan mengulanginya, jadi kau dengarkan baik-baik.” Ucap seorang lelaki terlihat seusia dengan Denny.
Denny melipat keningnya, berusaha mencerna ucapan berupa seperti ancaman yang menggema di gendang telinganya.
“Hiduplah seperti yang sudah kau jalani selama ini, jangan berusaha apalagi terpikir untuk kembali bersatu ke masa lalu. Itu tidak akan terjadi, kalau kau tetap memaksa, jangankan kata maaf yang akan kau dapatkan, tapi penyesalan seumur hidup akan kau rasakan.” Ucap lelaki itu tepat di depan wajah Denny dengan tatapan tajamnya.
Denny menantang tatapan tajam tepat terhunus ke manik hitamnya. Dia masih berusaha mencerna setiap kata mengalir keluar karena dia sendiri baru sadar dari pingsan akibat kejutan tegangan listrik yang terasa terbakar di sekujur tubuhnya. Untung kekuatan listrik itu hanya membuatnya pingsan tidak mencabut sekalian nyawanya. Dan tidak menghabiskan waktu lima menit dia pun paham maksud semua ucapan lelaki ini.
“Tidak ada yang bisa mengatur hidupku lagi, kata maaf dan menyesal tidak ada dalam pilihanku. Aku akan menarik masa lalu itu mendatangiku. Itu janjiku padamu.” Balas Denny dengan wajah tenang berbicara lancar di hadapan lelaki asing yang masih betah berdiri di hadapan Denny.
“Kau sudah mengucapkannya, ingatlah saat ini. Jangan tarik kembali ucapanmu saat kau sudah putus asa. Karena aku orang pertama yang akan menambah kehancuranmu.” Seringai melengkung di bibir lelaki itu yang tidak bisa diartikan, sambil berlalu meninggalkan Denny.
__ADS_1
“Siapa dia?” Bisik batin Denny menatap punggung lawan bicaranya yang semakin menjauh dan menghilang melewati pintu ruangan.
“Hendrik, Gunawan, dan sekarang lelaki asing ini. Berapa banyak lagi orang yang akan muncul menghentikan usahaku bersatu bersamamu lagi Indah!”Denny mengusap kasar wajahnya saat bermonolog dalam hati.
“Ahhh, Saka!” Seketika sontak Denny terbayang wajah Saka. Dia baru menyadari kalau sebelumnya bersama Saka dalam satu ruangan.
Manik hitamnya memindai sekeliling ruangan, dan mengalihkan tarikan manik hitam ke tempat ridur yang sekarang menjadi tempat duduknya.
“Di mana Saka? Apa yang terjadi dengannya?” Denny langsung berlonjak menuruni tempat tidur. Langkah kakinya menuju pintu ruangan membawa tubuhnya ke luar.
Manik hitamnya mengawasi keadaan di sekitar setelah keluar dari ruangan. Tidak ada seorang pun di luar.
“Di mana mereka semua?” Gumamnya tidak melihat para pengawal mamanya yang selalu berjaga di luar.
Di jalan yang sepi, tubuh yang tergeletak di aspal hitam perlahan bergerak.
“Akhhh,” sebuah erangan ke luar dari mulut. Tangannya meraba di belakang kepala yang sakit akibat terbentur kuat saat jatuh langsung mencium aspal hitam.
“Ada apa denganku?” Berusaha menarik ingatan yang telah menimpa dirinya. Lalu tanganya mengarah ke dada, terasa sesuatu menusuk tepat di sana. Menarik benda tajam, panjang, dan runcing, benda itu tak lain sebuah jarum.
“Ini, apa seseorang menembakkan bius ke padaku?” Iqbal melemparkan benda tajam itu asal dengan kesal.
Tubuhnya masih lemah, namun dia berusaha menggerakkan kedua kaki yang mati rasa.
Mengerahkan sisa tenaganya terus berusaha bangun dan mendudukkan tubuh.
Iqbal menoleh ke arah mobil, melihat lampu mobil yang masih menyala membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam. Dia berharap Indah mematuhi ucapannya, untuk tetap berada di dalam walau apapun terjadi.
Dengan langkah lunglai Iqbal berjalan tertatih mendekati mobil. Manik hitamnya terus menatap ke dalam mobil berusaha melihat Indah ada di sana. Semakin mendekat, manik hitam itu tidak melihat seseorang yang dicarinya. Perasaan tidak enak terlintas di kepala.
Tangannya meraih pegangan pintu mobil.
__ADS_1
“Tidak terkunci,” ucapnya saat pintu mudah tertarik dan terbuka. Perasaannya terbukti benar, Indah sudah tidak ada di dalam mobil.
“Sial,” serapahnya meluncur begitu saja.