
“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menyerah sekarang, mamanya tidak akan membiarkan aku dan Saka hidup tenang. Aku tidak ingin peristiwa sepuluh tahun itu terjadi kembali kepada putraku,” Kata-kata menggantung di kepala Jesika sedangkan matanya masih menangkap tatapan mata Denny.
“Akhirnya kau datang padaku. Indah, sudah saatnya kau kembali. Aku tidak akan membiarkan kau dan putraku menghilang lagi.” Denny menatap tepat di manik hitam Indah, seolah memberi mantra mengikat tubuh dihadapannya.
“Tuan, jangan buru-buru ke luar ruangan. Anda harus beristirahat, karena darah yang diambil cukup banyak. Sangat berbahaya kalau tuan tidak berhati-hati, kondisi tubuh tuan belum stabil saat ini.” Seorang perawat berbicara, dengan membawa empat kantong darah di kedua tangannya.
Denny mengalihkan pandangannya, memperhatikan ucapan perawat.
Jesika juga mengikuti tarikan tatapan Denny, hatinya tersentuh menatap kantong-kantong darah yang semua dari tubuh Denny. Tapi, rasa itu berusaha ia buang jauh-jauh.
“Tuhan, tolong aku sekali lagi. Beri aku kekuatan, jangan aku lemah, sampai kapanpun kami tidak bisa bersama. Bukankah itu takdir yang sudah Kau goreskan untuk aku dan mas Denny?” Indah memejamkan mata, berbisik di dalam hati.
“Nyonya, apa kau baik-baik saja?” Perawat menatap khawatir perempuan yang berdiri diam, mematung dengan mata tertutup.
Suara itu, memecahkan hajat Jesika bermohon pada Tuhannya. Sambil membuka kedua mata, menangkap wajah asing yang sudah ada di hadapannya.
“Iya, saya tidak apa-apa,” balas Jesika.
“Nyonya, ingin menemuinya?” Perawat menolehkan kepala ke samping, mengisyaratkan menunjuk orang yang ada di belakang.
‘Iya,”
“Tapi, jangan lama-lama, karena dia butuh istirahat memulihkan stamina tubuhnya. Dia sangat berkeras mendodorkan darah lebih banyak lagi. Tapi itu tidak bisa, sangat berbahaya.” Perawat menatap dengan penuh keyakinan ke arah lawan bicara di depannya.
“Tidak akan lama, aku juga ada keperluan,” balas Jesika.
“Silahkan, saya harus segera ke ruang operasi menyerahkan kantong darah ini,” berlalu dengan langkah lebar.
Jesika kembali menarik tatapannya ke wajah yang sudah menunggunya berucap sesuatu. Menghayunkan langkah perlahan sambil menata hati dengan kepala sibuk merangkai kata yang belum tersusun, dengan mengangkat wajah menyembuyikan kegugupannya.
“Tuan, terima kasih atas kebaikanmu. Katakan saja berapa yang harus ku bayar semua kantong-kantong darah itu. Aku dan suami akan membayar berapa pun yang kau pinta demi kesembuhan putra kami,” Jesika menelan salivanya kasar setelah berucap, dia tidak tahu bisa berucap kata-kata yang mengalir begitu saja di kepalanya.
Denny tersenyum sinis dengan menyunggingkan bibir atasnya. Terus menatap intens perempuan yang berdiri memberi jarak dengannya.
__ADS_1
Jesika berusaha menenangkan diri, dengan tatapan Denny yang terus mengarah kepadanya.
Perlahan Denny, berdiri sambil menghayunkan langkah. Kepalanya terasa pusing, tapi dia tidak menghiraukan dengan terus mendekat, sang perempuan terlihat jelas gemetar membalas tatapan matanya.
“Kau, ingin membayar setiap tetes darahku?” Ucapnya tepat di depan wajah Indah sambil mensejajarkan tinggi tubuhnya karena Indah rendah dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi.
“Iya, aku tidak bisa menerima kebaikan orang dengan cuma-cuma,” Jesika masih menguatkan pertahanan dirinya, dia tidak ingin terlihat lemah dan menantang tatapan lawan bicaranya tanpa berkedip sedikit pun.
“Aku juga tidak memberikan pertolongan dengan cuma-cuma, uang tidak akan mampu menggantikan darah yang langka ini. Pergilah, tidak saat ini, aku akan memberitahu dengan apa kau harus membayarnya. Aku tidak butuh uangmu, kau tahu kalau aku tidak kekurangan uang.” Denny menarik kakinya melangkah menjauhi Indah.
Tidak bisa tertahankan, tubuh Jesika semakin berguncang hebat. Dia menggigit bibir bawahnya, bening cair tanpa diundang kembali mengalir di pipinya.
“Ini semua kesalahanmu, kenapa kau hadir dalam hidup kami. Tanpamu kami bahagia. Kenapa kau tidak menghilang saja selamanya.” Suara Jesika seketika menguap, membalikkan tubuh menatap punggung belakang Denny. Sambil terisak dia meluapkan amarahnya.
Denny seketika menghentikan langkahnya, hatinya hancur bak cermin pecah berkeping-keping mendengar kata-kata yang terus melukai dirinya.
“Iya, ini salahmu. Aku menyesal pernah melalui hidup denganmu. Aku memang Indah, memang mengapa kalau aku Indah, hah? Aku yang menginginkan pergi darimu, karena kau tidak layak bersamaku. Kau tanya apa aku mencintaimu? Tidak, aku tidak mencintaimu.”
“Diaaam, aku tidak ingin mendengar kata-katamu,” Denny mengepal kedua tangan, menahan semua amarahnya.
“Terserah kau mau berkata apa, aku sudah terbiasa disakiti. Aku tidak terpengaruh dengan kata-katamu. Simpan tenagamu, karena aku akan tetap menagih setiap tetes darah yang telah keluar dari tubuhku,” Denny melanjutkan langkah, tanpa membalikkan tubuh terus menjauh meninggalkan Indah.
Tubuh Jesika roboh ke bawah, tangisnya semakin kuat. Matanya terus menatap tubuh Denny yang telah menghilang dari hadapannya.
“Maaf, maafkan aku. Kita tidak mungkin bersama. Ibumu tidak menyukaiku, dia tidak akan diam mengetahui aku muncul di hadapanmu.” Jesika tertunduk meremas kuat ujung baju dengan kedua tangannya.
Di luar ruang operasi, terlihat Hendrik dengan cemas sambil menatap cahaya merah yang terpancar menandakan operasi sedang berlangsung.
“Om, Hen,” suara mungil terdengar memanggil.
Dania berjalan bersama Iqbal, mendekati Hendrik yang duduk dan menatap kearah mereka datang.
“Iqbal, ada apa dia di sini? Semakin tambah bermunculan orang-orang di masa lalu.” Gerutu Hendrik di dalam hati.
__ADS_1
“Hei Nia, kenapa kemari? Ada yang sakit?” Hendrik pura-pura bertanya seolah tidak mengenal Iqbal.
“Tidak, Nia cari papa, katanya papa ada di sini,” Jawab Nia melirik Iqbal memastikan kebenaran ucapannya.
Hendrik pun mau tidak mau menatap ke arah Iqbal.
“Apa kabar tuan Hendrik? Lama kita tidak bertemu, kira-kira sepuluh tahunan ya kalau saya tidak salah,” Iqbal berusaha menarik kembali kenangannya sepuluh tahun lalu sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman.
“Saya baik, dan tuan Iqbal juga tidak berubah tepatnya memang sepuluh tahun,” Hendrik berdiri dan menyambut uluran tangan Iqbal.
Berduanya saling melempar senyum, dan berusaha ramah. Sedang di dalam hati masing-masing menyimpan kata-kata yang tidak bisa diungkapkan saat ini di depan Dania.
“Om Hen, ngapain juga di sini? Tante Jesika dan kak Saka mana?” Nia mengitari pandangan mencari keberadaan dua orang yang ditanyakan.
“Bal,” terdengar pelan suara seseorang menyapa.
Ketiganya, spontan menoleh ke sumber suara. Terlihat Denny, melangkahkan kaki gontai tertatih-tatih lemah dengan tangan memegang kepala. Dalam hitungan detik, tubuh itu roboh terkapar di lantai.
“Denny,”
“Papa,”
Iqbal dan Dania, berlari ke arah Denny yang jatuh sudah tak sadarkan diri. Hendrik pun berlari menghampiri dan ikut membantu Iqbal menggendong dipunggung belakangnya, lalu mendudukkan di bangku tunggu ruangan.
Dania ketakutan melihat wajah Denny putih pucat dan bibirnya juga.
Seorang perawat melangkah ke luar dari ruang operasi, melihat pesakitan yang duduk dibangku tunggu turut mendekati.
“Kenapa dia bisa di sini, saya memintanya istirahat di ruangan. Staminanya belum stabil dari mendonorkan darah. Tunggu sebentar, saya akan kembali,” perawat pun berlari menuju suatu tempat.
“Mendonorkan darah, kenapa?” ucapnya pelan tapi dapat didengar jelas oleh Hendrik yang keduanya bersamaan saling menatap.
“Tolong, pindahkan dia,” perawat datang membawa sebuah kursi roda.
__ADS_1
Hendrik dan Iqbal bersama-sama memindahkan tubuh Denny mendudukkan di kursi roda. Lalu sang perawat mendorongnya berlalu dengan cepat menuju ke suatu ruangan diikuti oleh Iqbal dan Dania dari belakang.