Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 11 Akibat Makan Malam di Rumah


__ADS_3

Ke luar dari kantor, Denny langsung menuju rumahnya. Iqbal duduk di belakang stir, pandangan tekun ke jalanan. Terdengar azan berkumandang dalam perjalanan mereka.


“Kita sholat, dulu sebelum ke rumah,” Ujar Denny memandanh suasana di luar dari kaca mobilm


“Baik, kita cari masjid terdekat,” balas Iqbal dengan pandang tekut ke jalanan.


Mobil pun berhenti di parkiran halaman masjid. Iqbal dan Denny turun dari mobil, melangkah masuk ke masjid. Bersama yang lain, mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah selesai sholat, Denny dan Iqbal, melanjutkan perjalanan kembali menuju ke rumah.


Di apartemen Denny, Indah terbangun dari tidur. Setelah sholat ashar, karena tidak ada yang bisa dilakukan dia memilih tidur.


“Akh, perutku lapar, sudah jam berapa ini, ?” keluhnya menatap jam di dinding.


“Sudah maghrib, pantas perut ini sakit, tadi siang aku tidak makan . Baiklah perutku, tahan sebentar ya, sholat dulu baru kamu aku isi, waktu magrib sangat singkat, takut terlewat.” Indah beranjak dari ranjang dengan menyapu-nyapu perutnya dan melangkah ke kamar mandi.


Selesai sholat, Indah tak dapat menahan rasa laparnya. Kakinya menghayun cepat menuju dapur. Tangannya menggapai pintu lemari es.


“Ah, tidak ada makanan, gimana ini. Ya Tuhan, aku sangat lapar. Pak Direktur mengurungku tanpa makanan. Yang ada hanya susu, apa aku bayi, harus minum susu terus. “ Keluh Indah mengamati isi lemari es yang kosong.


“Mau nelpon ngak ada ponsel. Aku ngak bisa minta tolong siapa pun. Ah, apa boleh buat, dari pada perut ini terus melilit, susu ini pun tidak apa.” Indah mengambil kotak susu. Menghangatkan di atas kompor.


Mobil Denny telah terpakir di garasi rumah. Dengan sigap pelayan membuka pintu dan menyambut kedatangan Denny. Seperti pinta mamanya, dia pun pulang ke rumah untuk makan malam bersama.


Denny masuk di temani Iqbal. Terus berjalan menuju ruang makan. Belum kelihatan seorang pun duduk di sana. Para pelayan sudah berdiri menunggu majikannya makan malam.


“Malam tuan muda,” sapa Pak Jung kepala Pelayan.


“Malam, Mama mana?” Pak Jung menarik kursi dan Denny pun duduk.


“Nyonya besar sebenar lagi turun, tuan.” Melirik ke lantai atas, mengamati yang ditunggu belum kelihatan.


Tak beberapa lama tampak dua orang wanita berjalan menuruni anak tangga dan mendekat. Seorang terlihat berusia tidak muda lagi tapi sisa-sisa kecantikannya masih terawat baik hingga kelihatan menawan, itu mamanya Denny. Beriringan seorang gadis cantik bergaun anggun. Berjalan sambil bergandengan tangan.


“Sudah lama menunggu, Denny?” Suara mama terdengar renyah, Denny menoleh dan terlihat Hanna tersenyum ke padanya.


“Muah, belum ma, baru juga lima menit.” Mencium pipi mamanya.


“Malam Hanna, apa kabar, dan kapan datang?” Berjabatan tangan, menatap Hanna dengan senyum di sudut bibirnya.


“Tadi pagi mas, kabar Hana baik, mas bagaimana?” Bertanya dengan lembut, menatap Denny penuh kerinduan.


Hanna Roslina seorang wanita cantik, anggun dan berkelas. Dia anak dari sahabat dekat papa Denny dan menetap di Singapura. Perasaan Hanna sangat mendalam kepada Denny. Tapi tidak seperti harapannya, Denny lebih menganggapnya seperti adik sendiri. Mama Denny sangat ingin Denny segera menikahinya. Tapi Denny sama sekali tidak menyetujui.


“Mari kita makan,” sapa mama penuh kegembiraan karena Denny bisa hadir makan malam dan Hanna juga.


Mereka pun mulai makan. Ruangan terasa akrab. Mereka saling berbincang dan tertawa kecil. Hanna juga gadis manis dan mudah bergaul. Sopan dan pandai mengambil hati mama Denny. Alasan itulah mama Denny sangat menyukainya.


Indah, sudah menghabiskan satu kotak susu. Tapi rasa lapar tetap menderanya.


“Sabar ya perut, semoga Pak Denny segera pulang dan membawa makanan,”

__ADS_1


Indah menjatuhkan tubuhnya di sofa, sambil menekan perut menahan lapar.


Di rumah mama Denny, selesai makan, mereka duduk di ruang keluarga.


“Hanna berapa lama di Jakarta?” tanya mama Denny menatap penuh kehangatan.


“Paling lama dua minggu tante, setelah urusan papa selesai.” Senyum Hanna menghiasi wajah cantiknya dan tatapannya jatuh ke arah Denny yang hanya membalasnya datar. Wajah Hanna seketika lesu.


“Om Sebastian juga ikut?” Denny ikut berusaha masuk dalam percakapan setelah tatapan mamanya yang menghujamnya.


“Iya, papa ada urusan di Kalimantan setelah itu kami akan ke Bali, tente ikut ya?” Berbicara dengan manja, karena Hanna tahu mama Denny akan mendukungnya.


“Tante mau aja, tapi tergantung Denny. Dia juga harus ikut menemani tante. Bagaimana Denny?” tanya mama dengan senyum penuh pengharapan.


“Denny belum bisa putuskan ma, sebentar lagi ulang tahun stasiun tv kita, banyak persiapan yang harus diselesaikan.” Jelas Denny sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Denny berusaha menghindar pertemuan dua keluarga.


“Lihat, kamu saja sangat kelelahan, kita pergi untuk refresing di sana. Masih banyak waktu persiapan ulang tahun, sekitar dua bulan lagikan?” tanya mama menatap Iqbal meminta dukungan.


“Iya nyonya, dua bulan lagi?” jawab Iqbal kaku memandang Denny. Dia tidak ingin salah bicara dan terseret dalam masalah.


“Baiklah, Denny pertimbangkan”, sambil melirik jam di tangan, sudah pukul 9 malam.


Seketika wajah Denny berubah, dia teringat Indah sendirian di apartemennya.


“Ma, Denny bermalam di apartemen,” ucap Denny.


“Tidak tidur di rumah, Hanna bermalam di rumah kita dan kamu meninggalkan tamu?” tanya mama dengan wajah sedih.


Melihat perubahan wajah Denny, Hanna hafal betul. Dia tidak suka dipaksa kalau dia tidak mau.


“Iya tante, Hanna tidak apa-apa, kan ada tante?” Manja berbicara dengan mama. Terpaksa memihak Denny, walaupun hatinya menginginkan Denny bersamanya.


“Baiklah Ma, Hanna selamat malam,” Denny beranjak dan melangkah meninggalkan ruang keluarga. Dia tidak ingim berlama-lama


Pikirannya bersama Indah yang sendiriam di apartemen.


Di dalam mobil Denny lebih banyak diam. Dia memikirkan sikap mama yang masih terus memaksanya menikahi Hanna.


“Mama belum juga menyerah,” keluh Denny pelan.


“Kamu nikah saja dengan Hanna, apa kurangnya dia. Cantik, baik, sopan dan ramah. Siapa yang menolak menikah dengannya. Hanya pria buta,” Ucap Iqbal menyampailan penilaiannya tentang Hanna.


“Kau nikahi saja dia,” balas Denny geram, memukul sandaran bangku Iqbal.


“Aku sih mau, tapi Hanna tidak mau aku. Dia maunya kau." Iqbal tersenyum meliril keputus asaan Denny.


“Hah, melelahkan dalam situasi ini,” Denny menggosok-gosokkan rambutnya. Dia belum bisa meyakinkan Mamanya.


Denny sangat menyayanginya, dia tidak ingin mamanya kecewa dan sedih. Tapi dia juga tidak bisa menuruti keinginannya. Denny tidak mencintai Hanna. Apalagi sekarang, perasaannya mulai menyukai Indah.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan apartemen, Denny turun dan Iqbal meminta izin pulang. Perlahan Denny berjalan ke dalam, langkahnya terhenti saat berada di lift. Jantungnya berdegup kencang, saat dia semakin mendekati ruang apartemen. Pintu lift terbuka, Denny melangkah ke luar. Perlahan kakinya berjalan sudah berada di depan pintu apartemen.


Jarinya menekan beberapa nomor sandi, pintu pun terbuka. Denny melangkah masuk, matanya memandang sekeliling. Pagi tadi dia pergi dengan perasaan marah, dan tidak memandang wajah Indah. Saat ini, wajah itu sangat ingin dilihatnya. Seketika kakinya terhenti, matanya memandang tubuh terbaring di sofa. Denny mendekat di sisi Indah, berjongkok melihat lebih dekat. Denny membelai lembut rambut Indah. Karena merasa ada yang menyentuhnya, Indah sontak terbangun dan tatapannya tepat melihat dekat wajah Denny.


“Pak, sudah pulang?” Indah bangun dan duduk menjauh dari Denny. Dirinya masih takut mengingat kejadian tadi pagi.


“Kenapa tidur di sini, lebih baik tidur di dalam,” mata Denny menatap wajah Indah.


“Saya menunggu Bapak pulang, karena saya sangat…,”


“Lebih baik kamu tidur di kamar, Aku juga mau istirahat,” potong Denny tanpa sempat Indah menyelesaikan ucapannya. Dia tidak ingin berdebat lagi, masalah Indah ingin pulang ke rumah.


Denny bangun dan melangkah menuju kamar. Indah cepat bangun dan menyusul langkah Denny.


“Tunggu sebentar Pak,” Cegat Indah berdiri di depan Denny.


“Ada apa?” tanya Denny heran.


“Pak, saya sangat lapar, tidak ada makanan di sini. Saya hanya menemukan susu, saya sudah menghabiskannya, tapi perut saya tidak cukup diisi dengan susu. Saya ingin makanan, tolong Pak,” wajah Indah memelas sambil menekan perutnya.


Denny terkejut, dia baru ingat memang tidak ada makanan. Kelucuan juga hadir di hatinya menatap wajah Indah memelas seperti anak kecil meminta mainan.


“Baik, ayo ikut.” Denny menarik tangan Indah.


Tubuh Indah tertarik mengikuti langkah Denny.


Mobil melaju meninggalkan apartemen. Indah sangat gembira, Denny mengajaknya pergi ke luar. Dia tidak menyangka dapat melihat pemandangan di luar. Mobil parkir di depan sebuah restoran. Berdua mereka turun dan melangkah masuk.


“Pak, sebentar. Tapi baju saya,” Indah memandangi bajunya.


Denny, lagi-lagi menarik tangan Indah dan tubuhnya pun tertarik kembali mengikuti.


Berdua mereka telah duduk di satu meja. Seorang pelayan datang, tanpa basa basi Denny langsung memesan makanan. Indah hanya bisa bengong mengamati sikap Denny. Tak beberapa lama, pelayang sudah datang dengan membawa beberapa jenis makanan. Terhidang manis dan terlihat lezat. Mata Indah tak berkedip menatapnya.


“Ayo makan, jangan dilihat terus. Katanya lapar,” ucap Denny memecah kebengongan Indah.


“Iya, saya makan,” Indah pun menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Denny menatap Indah, ada kelucuan dan kebahagiaan yang dirasanya berdua bersama Indah.


“Makanan ini sangat enak, Bapak tidak makan?” Indah tanpa malu-malu memakan makanan di hadapnnya. Mulutnya penuh makanan.


Denny hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Indah. Dia merasa bersalah meninggalkan Indah kelaparan, jadi dia menebus dengan membawa Indah ke luar untuk makan.


Sekarang Indah sudah berada di kamarnya dan Denny juga berada di kamarnya. Malam ini pengalaman yang tidak dapat dilupakan Indah. Seumur hidupnya dia belum pernah makan seenak dan sebanyak itu.


“Kamu Indah, dasar tidak tahu malu. Melihat makanan enak, langsung melahapnya dan lupa diri. Apa yang dipikirkan Pak Direktur tentang dirimu haa? Pasti dia mengira aku gadis rakus. Dasar kamu Indah, tidak bisa mengontrol diri,”Indah merutuki dirinya.


“Apa nafsu makan dia sebesar itu?” Denny mengingat saat-saat dia menemani Indah makan.

__ADS_1


“Tapi, aku tidak pernah melihat gadis makan seperti dia,” Denny terseyum mengenang kelucuan Indah makan.


Malam itu mereka habiskan dengan pikiran mereka masing-masing mengenang satu sama lain.


__ADS_2