
Indah duduk di samping Denny yang sedang menyetir. Tidak terdengar kata-kata ke luar. Berdua mereka larut dalam pikiran masing-masing. Indah memikirkan kata-kata Denny, memberinya waktu tiga hari. Denny memikirkan cara, supaya Indah mengerti perasaannya. Mobil semakin mendekati perusahaan. “Mas, bukahkah lebih baik saya turun di jalan saja?” Indah melirik ke arah Denny.
Tapi tidak terdengar jawaban balasan dari Denny.
“Mas, turunkan saya di sini aja. Saya tidak ingin orang berpikiran yang…,”
Indah tidak melanjutkan ucapannya, Denny membalas menatap tajam ke arahnya. Indah pun mengurungkan niatnya berbicara lagi. Mobil sampai di depan pintu perusahaan. Petugas membukakan pintu, Indah turun dari mobil. Denny turun dari pintu lainnya. Banyak mata melihat mereka turun dari mobil yang sama. Indah menundukkan wajahnya, tidak sanggup menatap tatapan mata tertuju padanya.
Denny berjalan ke arah Indah dan mendekatinya.
“Angkat wajahmu, dan jalan,” ucap Denny.
Indah pun jalan bersama Denny, berdua mereka bersama melangkah masuk. Setiap orang yang berjumpa memberi salam dan memandang heran ke pada Indah. Iqbal menghampiri Denny, dan bertiga mereka memasuki lift.
“Kamu boleh pulang ke rumah dan tiga hari dari sekarang, kamu datang kembali kepadaku.”
“Iya, Mas,” Jawab Indah pelan.
Iqbal berdiri di belakang mengamati sikap Denny. Perasaannya tidak enak, telah terjadi sesuatu antara Denny dan Indah pikirnya. Lift berhenti, Indah melangkah ke luar. Denny dan Iqbal melanjutkan perjalanan ke tingkat berikutnya. Di dalam lift, Iqbal hanya diam, dia tahu Denny sedang dilanda marah.
“Pecat, siapa yang berani berbicara buruk tentang Indah,” suara Denny terdengar.
“Baik,” Iqbal menjawab singkat.
Pintu lift terbuka, mereka berdua melangkah ke luar.
Di ruang kerja Indah. Hendrik lansung menghampiri melihat Indah telah datang.
“In, kamu tidak apa-apa?” tanya Hendrik serius.
Indah menatap wajah Hendrik, dia ingin berbicara tapi tidak berani. Ancaman Denny membayang di kepalanya.
“Ngak, aku baik-baik aja,” berjalan menuju meja kerja.
“In, jangan bohong . Tadi malam aku…,”
“Tolong Hen, jangan campuri urusanku, kita masing-masing punya urusankan?” menatap wajah Hendrik, dan melanjutkan langkah ke meja kerja.
Hendrik tidak sempat menyelesaikan ucapannya, Indah sudah memotong. Hendrik mengerti maksud ucapan Indah. Dia pun mengurungkan niatnya, mencari tahu mengapa Denny membawa Indah tadi malam. Hendrik melihat Denny menarik paksa Indah,masuk ke mobilnya. Dia mengikuti dari belakang hingga sampai ke apartemen. Dia melihat Denny menggendongnya masuk. Hati Hendrik hancur melihat Indah dalam pelukan Denny. Lama dia menunggu di luar, hingga lampu apartemen Denny mati. Hendrik tidak bisa menerima Indah sampai dimiliki Denny. Selama ini, dia bekerja di perusahaan Denny hanya ingin selalu dekat dengan Indah.
__ADS_1
“Hen, kenapa, kok bengong?” Yanti menepuk bahu Hendrik dari belakang.
“Iya, aku memikirkan mu Yan,”
“Aku, kenapa?” tanya Yanti heran.
“Yan, sampai sekarang aku belum pernah melihat seorang pria pun bersama mu, selain aku. Apa kamu mencintaiku?” tanya Hendrik mengoda.
“Apa, mencintaimu? Sebenarnya Hen, aku…", menatap wajah Hendrik serius.
Jantung Hendrik berdebar kencang mendengar ucapan Yanti yang tiba-tiba berubah serius. Dia menunggu kata-kata Yanti.
“Aku membencimu,” pekik Yanti ke wajah Hendrik, berjalan meninggalkan Hendrik.
Semua teman satu ruangan tertawa melihat ulah Yanti menjahili Hendrik. Wajah Hendrik memerah, rasa malu menyerangnya. Teman-teman ikut mengejek Hendrik.
“Payah lu, Hen,” celetuk seorang teman menyengggol lengannya.
“Ehh Yanti, tunggu aku!” Hendrik berusaha menyusul langkah Yanti.
Mobil meluncur di bawah sinar matahari, membawa Hendrik dan Indah ke sebuah tempat. Mereka baru saja kembali menemui dan menyerahkan undangan pada salah seorang tamu VIP. Hari ini, sudah beberapa undangan mereka berikan. Daftar nama-nama tamu VIP sudah semakin mengkerucut. Terpancar kelegaan di wajah Indah dan Hendrik.
“Selamat sore, sudah memesan tempat?” tanya pelayan ramah.
“Kami ada janji dengan Bapak Sudrajat dan bertemu di tempat ini,” jelas Hendrik.
“Sebentar, saya cek terlebih dahulu,” pelayan memeriksa buku tamu di tangannya.
“Mari ikuti saya,” pinta pelayan.
Hendrik dan Indah berjalan mengikuti langkah pelayan di depannya. Mereka menuju sebuah meja, terlihat telah duduk seorang pria separuh baya dan seorang wanita cantik. Indah merasa pernah melihat wanita itu. Semakin mendekat, Indah bisa melihat jelas wajahnya.
“Tuan, tamu tuan sudah datang,” sapa pelayan.
“Terima kasih,” sang pria setengah baya menjawab.
Mata Indah menatap wanita di depannya. Senyum manis tersimpul di wajahnya membalas tatapan Indah. Indah pun melempar senyuman, dia menyadari wanita itu telah mengenalnya.
“Sudrajat, dan ini putri saya Hanna Fhalisya Sudrajat,” mengulurkan tangan.
__ADS_1
“Indah,”
“Om, senang berjumpa kembali dan Hanna kapan datang?” sapa Hendrik.
“Om kira, kamu tidak mengenali kami Hen, karena ada wanita cantik bersamamu” balas Pak Sudrajat melirik Indah.
“Dia teman saya satu tim, bertepatan kami mendapat tugas yang sama juga,” jelas Hendrik.
Indah dan Hendrik duduk bergabung satu meja. Indah hanya diam, Hendrik lebih menguasai pembicaraan. Sesekali Hanna menatap Indah.
Terdengar suara ponsel berbunyi. Pak Sudrajat meraih ponsel di atas meja dan menjawab panggilan. Terdengar seseorang akan datang menjumpainya juga. Indah menatap Hendrik yang akrab berbincang bersama Hanna. Tiba-tiba Pak Sudrajat berdiri, dan melambaikan tangan. Indah dan Hendrik menoleh ke belakang. Denny dan Iqbal berjalan menuju ke arah mereka.
“Kebetulan sekali, karyawan dan Direktur berkumpul di sini. Om tidak merencanakan ini sebelumnya, mari duduk. ” Menyambut kedatangan Denny dan Iqbal di hadapannya.
Denny menatap Indah, dan juga Hanna bergantian. Dia tidak menyangka bisa bertemu keduanya duduk satu meja bersama. Hanna melihat kekakuan di wajah Indah. Timbul rasa ingin tahu yang besar tentang diri Indah.
“Indah, sudah lama bekerja di perusahaan kak Denny?” tanya Hanna seketika.
Indah menatap wajah Denny, mulutnya tidak sanggup berucap.
“Ya, kami berdua sudah hampir tiga tahun bekerja di sana,” jawab Hendrik.
“Sepertinya kalian sangat dekat, bisa sama-sama bekerja?” tanya Hanna kembali.
“Iya, kami selalu bersama dari kuliah hingga sekarang,” Jawab Hendrik merangkul bahu Indah.
Indah terkejut dan menatap wajah Hendrik. Berusaha melepaskan, tapi Hendrik merangkulnya kuat. Hendrik sengaja melakukannya di depan Denny. Dia ingin membalas sakit hatinya. Indah menatap Wajah Denny memerah, terlihat jelas tergambar rasa tidak senang. Indah menajamkan mata ke wajah Hendrik. Perlahan tangan Hendrik terlepas dari bahu Indah.
“Senang dong, jangan-jangan kalian berdua…,” Hanna tidak sempat melanjutkan ucapannya.
“Om, kita berdua ingin melanjutkan pembicaraan bisnis, lebih baik kita mengambil tempat lain. Tidak enak menggangu pembicaraan di sini.” Iqbal mencoba mengalihkan suasana hati Denny.
“Maaf, Pak. Maksud kedatangan kami hanya ingin langsung menyerahkan undangan ini. Sebagai tamu VIP, kami sangat mengharapkan kedatangan Bapak dan keluarga. Juga, terima kasih sudah bersedia menerima kami. Sepertinya Bapak sedang sibuk, maaf sudah mengganggu, kami akan permisi.” Ucap Indah sambil mengulurkan sebuah Undangan.
“Hahaha…, hahaha…,baik-baik saya terima undangan ini. Kamu wanita yang sangat bersemangat, saya suka itu.” Tersenyum menatap Indah.
“Sekali lagi terima kasih, Pak. Dan kami permisi, Selamat Sore.” Indah berdiri dan melempar senyum lalu berjalan meninggalkan semuanya.
Hendrik pun sibuk berpamitan kepada semua dan menyusul langkah Indah yang meninggalkannya di belakang. Denny meneguk gelas berisi air putih, menatap kepergian Indah. Hanna memperhatikan perubahan sikap Denny.
__ADS_1