
Di pagi hari, Hanna bangun cepat, dan sudah sibuk di dapur. Para pelayan dibuat bingung, karena sebelumnya tidak pernah ada yang masuk ke dapur selain juru masak. Mereka takut disalahkan membiarkan nyonya muda, istri dari tuan muda memasak sendiri di dapur. Pak Jung sebagai kepala pelayan mengijinkan perbuatan Hanna. Pak Jung menyayangi Hanna sama seperti Denny karena mereka pernah kecil dan tumbuh bersama sebelum Hanna di bawa pindah ke Singapura oleh papanya.
Hanna khusus memasak di hari pertamanya sebagai istri Denny. Keahlian memasaknya tidak diragukan, selain cantik, bergelar sarjana luar negeri dan juga pintar memasak karena waktu luangnya banyak digunakan mengikuti berbagai kursus, salah satunya memasak.
Makanan telah tertata dengan rapi di meja makan, sebagian makanan tertata di dalam nampan disajikan untuk Denny. Hanna ingin membawanya ke kamar Denny, karena dia tidak bisa makan bersama di ruang makan.
“Nyonya besar, tuan muda minta sarapannya dibawa ke kamar sekarang,” seorang pelayan laki-laki datang dan berbicara sambil menundukkan wajah.
“Baiklah, saya akan menghantarnya sendiri,” Hanna mengangkat hidangan dan akan membawanya ke kamar Denny.
“Tapi, tuan ingin saya yang membawanya Nyonya, tuan tidak mau orang lain yang membawanya,” kembali pelayan berbicara dengan wajah tertunduk.
Hanna menatap wajah Mama Denny dan menganggukkan kepala. Tangannya kembali meletakkan hidangan yang telah disajikan untuk Denny.
“Biarkan pelayan yang membawanya, kamu sarapan bersama mama.” Pelayan membawa hidangan menaiki tangga menuju kamar Denny.
“An, kamu harus sabar, cepat atau lambat semua akan berubah,” Mama Denny berusaha menyabarkan Hanna. Walaupun kekecewaan menggaris di wajah Hanna, tapi dia berusaha tetap tersenyum dan menyembuyikan kesedihan di dalam hatinya.
Di kamar, Denny duduk di atas kursi roda dan menatap ponsel di tangannya. Pandangannya tidak teralihkan, walaupun pelayan datang menghidangkan makanan.
“Makanannya sudah siap tuan,” Pelayan menunduk tidak berani menatap Denny. Sudah menjadi aturan, seorang pelayan tidak boleh menatap wajah majikannya kalau tidak diminta.
“Siapa yang memasak makanan itu?” Mata Denny menatap hidangan yang tersedia di atas meja.
“Nyonya muda, tuan,” pelayan menjawab dengan sopan.
“Bawa ke luar dan kamu boleh memakannya, aku mau makanan yang biasa aku makan saat sarapan di rumah ini, Denny kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel di tangannya.
__ADS_1
Pelayan pun melangkah kembali turun dengan membawa hidangan makanan di tangannya.
Hanna melihat pelayan membawa makanan yang masih utuh ke arah dapur. Tubuhnya langsung beraksi dan ingin beranjak dari kursi. Seketika tangannya digenggam lembut tangan Mama Denny dan memberi isyarat menggelengkan kepala. Hanna mengerti maksud Mama Denny, hanya garis senyuman di bibir yang dapat mewakilkan kecewaan dari hatinya.
Selesai menikmati makanan, mama Denny duduk di ruang keluarga ditemani Hanna. Pikiran Hanna dipenuhi sikap acuh Denny pada dirinya. Mama Denny memerhatikan wajah Hanna yang murung.
“An, sebaiknya kamu dan Denny tinggal berdua di suatu tempat, bagaimana?” Mama Denny merasakan kegundahan hati Hanna. Jalan terbaik mendekatkan Denny dan Hanna dengan membiarkan mereka tinggal bersama tanpa ada orang lain diantara mereka.
“Kalau itu bisa membantu hubungan kami, Hanna setuju aja, Ma,” Hanna menatap Mama Denny dengan pandangan penuh harap rencana itu akan berhasil.
“Setelah kalian tinggal berdua, semua tergantung usaha kamu An, dan Mama percaya, kamu bisa membuat Denny mencintaimu. Dia sekarang milikmu Hanna, kamu harus yakin bisa merubah hatinya,” Mama Denny mengelus lembut tubuh belakang Hanna, memberi dukungan agar dia memiliki kepercayaan diri yang kuat.
Pak Jung datang menghampiri Mama Denny, menyerahkan ponsel di tangannya. Mama Denny meraih ponsel dan melihat dengan dalam layar ponsel. Jarinya ikut menari-nari, dan wajahnya mulai menegang. Mama Denny beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki menaiki tangga diikuti tatapan heran Hanna.
“Denny, apa yang kamu lakukan? Tidak bisakah menunggu sampai acara resepsi pernikahan kalian digelar, kamu menyebarkan berita itu di media sosial? Apa tanggapan para relasi bisnis kita, melihat keadaan kamu seperti itu, Hah?” Suara mama Denny meningggi menatap Denny masih sibuk dengan ponsel dan lettopnya.
“Denny, mama tidak malu, hanya tidak suka membaca komentar negatif orang-orang,”
“Aku tidak perduli dengan semua itu, aku hanya perduli dengan” Denny tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
“Ini, kamu mencari ini?” Mama Denny menunjukkan sebuah ponsel.
“Kenapa ponsel Indah, ada sama mama?”Tatapan tajam mata Denny mendarat di wajah Mamanya.
“Kamu mau membuktikan apa dengan semua foto dan vidio itu hah? Mau menunjukkan betapa terpuruknya kamu dan kejamnya mama di mata semua orang? Itu tujuan kamu Denny?” Suara mama Denny semakin meninggi, perbuatan Denny benar-benar membuatnya marah.
“Jadi selama ini, ponsel itu ada sama mama, dan mama juga membuka semua pesan aku?” Denny menatap mamanya penuh kekecewaan, dugaannya salah selama ini. Dia menganggap Indah masih ada bersamanya, karena setiap kali dia mengirim pesan selalu dibaca. Berharap Indahlah membaca dan melihat semua pesan dan rekaman yang dikirimnya.
__ADS_1
“Ya, benar mamalah orangnya bukan Indah seperti yang kamu bayangkan. Kamu harus bisa terima Indah sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Hentikan perbuatan bodoh ini, sekarang kamu sudah ada wanita yang sangat mencintai kamu, dia istrimu jangan kamu abaikan dia.” Mama Denny meraih tangan Denny dan meletakkan ponsel ke dalam genggamannya, lalu melangkah pergi meninggalkan Denny.
Denny menatap ponsel dalam genggaman tangannya, hatinya benar-benar hancur. Bayangan Indah seketika menari-nari di hadapannya.
“In, kamu ngapain? Lihat Mas, jangan ponsel terus dilihati,”Denny berkata kesal, Indah berbaring miring membelakanginya dengan ponsel di tangan.
“Iya Mas, sebentar lagi selesai, kamu pasti suka.” Jari Indah masih sibuk menari-nari di layar ponsel.
“Drekk, Drekk, Drekk,” terdengar suara pesan masuk di ponsel Denny. Tangan Denny berusaha meraih ponsel yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang. Denny menatap layar, sebuah pesan masuk dari Indah. Denny membukanya, terlihat rekaman Indah dengan dihiasi animasi gambar love.
“Wah, usahamu berhasil membuat Mas senang. Sebagai balasannya, sekarang terimalah hadiahnya,” Indah berbalik menatap Denny, dan kecupan hangat mendarat di kening lalu berlanjut di bibir. Kedua bibir mereka berpaut dan saling membalas.
“Aku sangat mencintaimu,” Air mata mengalir deras di sudut mata Denny, foto-foto kenangan Indah bersama dirinya satu persatu kembali dilihatnya tersimpan dalam ponsel milik Indah. Tanpa sepengetahuan Denny, Indah mengambil foto-foto itu. Tawa bercampur tangis menyelimuti perasaan Denny.
“Mas, aku cemburu dan sakit hati, kamu sangat mencintainya. Tidak pernah tatapan itu terlihat untukku.” Hanna menatap kesedihan Denny yang sangat mencintai Indah. Dirinya sedih dan bercampur haru melihat keadaan Denny. Dia tahu tidak akan bisa menggantikan Indah di sisi Denny, tapi dia berharap secuil cinta bisa didapat darinya.
“An, kamu sudah lama di sini?” Denny tidak menyadari keberadaan Hanna datang ke kamarnya.
“Tidak, aku baru masuk. Maaf kalau aku mengganggu Mas, tapi ijinkan aku menemanimu,” Hanna duduk di sisi ranjang menatap Denny yang masih melihat foto di dalam ponsel.
“Kamu pasti sangat membenci Indahkan, sama seperti mama. Apa salah Indah? Sampai sekarang aku belum pernah mendengar kata cinta dari bibirnya untukku, karena aku tidak perlu itu. Rasa cintaku lebih besar dari cinta yang dia rasakan.
“Awalnya aku memang membencinya, tapi aku sadar itu bukan salahnya. Malah aku kagum, dia bisa menaklukkan hatimu Mas. Sedangkan aku lebih dulu mengenal dan dekat denganmu, tapi sampai sekarang pun tidak bisa mendapatkan hatimu. Sampai kapan pun hati itu akan selalu untuk Indah.” Mata Hanna berkaca-kaca mengenang kekalahan dirinya merebut hati Denny.
“Kamu benar, dia sudah sangat mengikat hatiku, tapi dia tidak setia. Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku dengan rasa cinta ini, aku tidak sanggup kehilangannya,” Denny menggenggam kuat ponsel dan merapatkan di keningnya dengan air mata yang terus mengalir.
“Mas, aku tahu tidak bisa menggantikan posisi Indah di hatimu, jadikahlah aku sahabat tempat berbagi suka dan dukamu. Mas bisa mencurahkan semuanya, aku akan menjadi pendengar setiamu,” Hanna berdiri di samping Denny dan merangkulnya erat. Dia sangat sedih melihat keadaan Denny, baru kali ini Denny meluahkan kesedihannya. Selama ini dia berusaha tegar dengan tidak menerima kenyataan kalau Indah telah pergi dari sisinya.
__ADS_1