
Terdengar azan shubuh berkumandang, Indah telah bersiap akan sholat. Walaupun kamar yang ditempati sangat nyaman, namun dia tidak bisa tidur nyenyak.
Sebelum shubuh Indah telah bangun dan membersihkan diri. Dia sudah terbiasa di kamar itu. Mukenah yang dipakaiannya masih tersimpan rapi di lemari pakaianan. Beberapa pakaian yang dipakainya juga masih tersimpan. Dia pun bisa mengganti pakaiannya dengan pakaian itu. Setelah selesai sholat Indah melangkah ke pintu. Tangannya memegang pegangan pintu dan pintu bisa terbuka. Indah terkejut dan senang. Dia melangkah ke luar. Matanya mengamati ruangan. Terlihat Denny di dapur sedang melakukan sesuatu.
“Sedang apa Pak, eh “Mas Direktur sepagi ini.” Gumam Indah melangkah mendekatinya.
“Sudah bangun, bagaimana tidurnya, nyenyak?” tanya Denny
“Iya ,Mas,” Jawab Indah singkat.
"Pertanyaan apa itu? Semalaman aku tidak bisa tidur, memikir sikapmu." Lirih batin Indah menatap wajah Denny.
“Duduklah, aku siapkan makanan,” suara Denny lembut terdengar.
Indah menarik kursi, lalu duduk.
“Tidak biasanya dia ramah, selalu sikapnya sedingin es. Apakah es itu sedang cair saat ini?” Menatap tubuh belakang Denny.
Sudut mata Indah melihat, di atas meja makan sebuah kotak kecil. Berbalut kertas warna pink dengan bunga mawar melekat di atasnya. Denny membalik tubuh, masing-masing tangannya memegang sebuah piring nasi goreng. Berjalan menghampiri Indah dan meletakkan di meja. Indah hanya memperhatikan. Lalu Denny kembali mengambil dengan tangan masing-masing memegang segelas jus jeruk. Meletakkan di meja dan menatap wajah Indah dengan tersenyum.
“Sudah siap, ayo makan,” Denny telah duduk di kursi dan meminta Indah menyantap hidangan.
Indah pun mematuhi permintaan Denny. Mengambil sendok, menyuapi makanan ke mulutnya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Denny.
“Ehm, rasanya enak.” Indah menyuapi kembali makanan ke mulutnya.
“Mas, pintar masak juga,” Indah berusaha ramah.
“Hem… tidak , aku tidak memasaknya,” menyuapkan makanan.
“Jadi, ini dari mana?” tanya Indah.
“Aku minta sekretaris Iqbal membelinya, lihat masih ada bungkusnya di sana.” Menunjukkan jari ke arah dapur.
“Apa, membelinya sepagi ini?” tanya Indah tidak percaya.
__ADS_1
“Iya, kalau dia tidak bisa mendapatkan sesuai keinginanku. Aku akan memecatnya,” tegas Denny.
“Ehmm..Ehmmm,” Indah terbatuk mendengar ucapan Denny.
“Ini minum, kamu ngak apa-apa?” menyerahkan gelas jus.
Indah meminum jus pemberian Denny.
“Pria ini, seenaknya main pecat orang gara-gara nasi goreng,” batin Indah.
Di dalam hati, Denny tersenyum melihat sikap Indah. Dia menilai Indah wanita yang gampang percaya ucapan orang.
“Habiskan makanannya, kalau tidak ingin aku…,”Denny tidak melanjutkan ucapannya.
“Iya, Mas.” Indah takut mendengar kata-kata Denny dia langsung menyuapkan makanan ke mulutnya.
Denny kembali geli melihat tingkah Indah. Senyum kecil sesekali tergambar di bibirnya. Berdua mereka makan bersama dengan menyimpan perasaaan yang berbeda. Indah telah selesai makan. Indah memegang perutnya, dia merasa sangat kenyang.
“Aku sanggup puasa dua hari dengan perut sepenuh ini.” Gumam Indah.
Denny masih bisa tersenyum, pura-pura tidak mendengar bisikan Indah.
Indah pun mengambil dan membukanya.
“Wah, jam tangan,” ucap Indah.
“Kalau kau suka ambil. Kalau tidak suka, buang saja,” sambil meneguk jus jeruk.
“Apa maksudnya semua ini. Tadi malam dia mengatakan aku hanya miliknya. Sekarang dia memberikan hadiah semahal ini,” Bisik batin Indah dalam diam.
“Kenapa, tidak suka?” melihat Indah hanya diam mematung memandangi jam di tangannya.
“Mas, mengapa melakukan ini? “ Menatap wajah Denny dengan mata berkaca-kaca.
“Semudah itukah dia tersentuh? Aku hanya ingin mengujimu.” Bisik batin Denny menatap wajah Indah.
“Aku ingin kau menjadi wanitaku,” ucap Denny memancing perasaan Indah.
__ADS_1
“Dia benar-benar terharu mendengar ucapanku? Wanita ini sangat mudah ditebak. perasaannya.” Bisik batin Denny menatap wajah Indah tidak percaya.
Air mata Indah tumpah tak tertahankan mendengar jawab ke luar dari mulut Denny. Ketakutannya terbukti, pria di hadapannya menginginkan dirinya menjadi wanita simpanan.
“Apakah hanya cara ini bisa membalas semua hutang saya kepada Mas?” tanya Indah sedih.
Seperti tersambar petir di siang hari, Denny mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Indah. “Mengapa seperti ini?” Bisik batin Denny.
“Kenapa, kau tidak mau?” Denny terus memancing perasaan Indah.
“Maaf Mas, saya tidak menyangka pria terhormat seperti Mas bisa melakukan ini. Meminta imbalan tubuh saya sebagai bayaran semua kebaikan yang Mas berikan. Mas tidak ada bedanya dengan berandalan yang menyiksa saya. Mas tidak takut hukuman Tuhan?” suara Indah terdengar bergetar menatap Denny.
“Jadi, itu yang ada di kepala bodohmu, hah?” tanya Denny dengan suara marah karena perasaannya tersinggung.
“Prang,” terdengar suara piring terlempar di lantai.
Melihat itu, tubuh Indah semakin gemetar. Amarah Denny tidak tertahankan mendengar ucapan Indah. Dia melangkah mendekati Indah, mencengkram dagu dan mengangkat ke atas menatap wajahnya. Dia tidak menyangka Indah menilainya sehina itu.
“Baiklah, kalau kau berpikiran begitu. Aku beri waktu kau tiga hari memikirkannya. Setelah tiga hari kau harus menyerahkan dirimu. Dan jangan coba-coba lari dariku atau mencari perlindungan kepada orang lain. Kalau tidak kau akan menyesal, dengar itu!” Denny melepaskan tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Indah.
Di kamar Denny sangat marah, membanting semua yang ada di hadapannya. Perasaannya sangat tersakiti. Rasa cintanya dilecehkan dan harga dirinya dihina. Wanita yang disukainya tidak menyadari rasa cintanya.
Indah menangis sejadinya mendengar suara ribut dari kamar Denny. Dia tidak bisa berpikir tenang, tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa menit kemudian Denny ke luar dari kamar. Melihat Indah membersihkan pecahan piring di lantai.
“Aduh,” Indah meringis kesakitan.
Darah mengalir dari jarinya. Denny berlari mendekati Indah. Menarik tangannya dan mencuci di keran air dari washtafel dapur.
“Tunggu di sini,” pinta Denny.
Indah memperhatikan sikap Denny. Membuka lemari dapur, terlihat tangannya mengambil kotak P3K.
Mendekati Indah, membuka kotak, mengambil plaster dan melekatkan ke jari Indah yang terluka.
“Tidak usah dibersihkan, nanti ada yang membersihkan. Bersiap-siaplah, kita ke kantor. Di dalam bungkusan itu ada pakaian untukmu, pakailah.” Denny meninggalkan Indah kembali ke kamar.
__ADS_1
Indah hanya diam dan memandang kepergian Denny. Dia melangkah ke sofa. Terlihat sebuah bungkusan terletak di sana. Indah meraih dan membuka. Indah menatap dalam pakaian itu. Lalu beranjak ke kamar.