Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 106 Aku hanya ingin Saka, bukan Dia


__ADS_3

Rasa lelah menerjang Denny, bermalam di hotel yang telah Iqbal pesan. Dia tidak ingin mengganggu Iqbal, apalagi ada Dania bersamanya.


Sampai di kamar hotel, Denny membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Dia ingin melepaskan semua lelah malam ini, karena besok banyak pekerjaan telah tersusun rapi harus dilakukan.


Tak beberapa lama, terdengar napas kasar membawa Denny ke alam mimpi.


Sedangkan Hendrik dan Jesika kembali di hotel awal mereka menginap yang sama dengan Iqbal.


Hendrik dan Jesika berada di kamar hotel terpisah. Hendrik membujuk Jesika untuk beristirahat, esok hari mereka akan memulai pencarian Saka. Sebelumnya Jesika menolak, ingin segera melaporkan ke kantor polisi. Sayangnya tidak bisa dilakukan, karena pelaporan hanya dilakukan setelah dua puluh empat jam seseorang dikatakan menghilang menurut undang-undang.


Perasaan dan pikiran pun perlahan tenggelam bersamaan dengan pekat malam. Berganti dengan semburat merangkak ke luar membawa sinar. Insan-insan lelap terjaga menapakkan kembali kehidupan di hamparan bumi.


Di sebuah kamar hotel, terdengar suara Denny sedang berbicara di ujung ponsel.


“Bal, lacak pembicaraanku dengan Pak Jung. Hari ini kita kembali ke Jakarta. Aku segera datang ke hotel,” Denny terlihat duduk dan menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur.


“Baik. Tut…,Tut…, Tut…”, Di seberang , tanpa banyak basa-basi Iqbal menuruti perintah Denny dan memutuskan pembicaraan. Dia tahu kalau menyebut nama Pak Jung, berkaitan dengan Nyonya Besar. Permasalahan pasti terjadi, dia sudah dapat menduganya.


Denny menatap langit-langit kamar, di kepala memikirkan Indah. Wajah dan suara gadisnya terlintas jelas. Kembali manik hitam tertarik pada layar ponsel. Kelincahan jarinya tidak dapat diragukan menari-nari di layar tipis.


“Drek…, Drek…, Drek…,” suara memanggil terdengar.


“Hallo, selamat pagi. Terima kasih sudah menghubungi Hotel …..dan siap memberikan pelayanan terbaik kami. Dengan siapa dan Apa yang bisa dibantu?” Terdengar sambutan hangat dan sopan.


Denny berbicara dengan santai dan lembut. Sesekali terlihat senyum menggaris di bibir. Tidak lama pembicaraan berlangsung dan berakhir dengan keceriaan tergambar jelas di wajah.


Di kamar hotel yang lain dalam waktu bersamaan. Berkebalikan dengan wajah Hendrik kusam dan berbalut sedih. Tangan berpindah turun dengan lambat mengakhiri panggilan ponsel. Menarik langkah menuju pintu kamar, membuka dan melanjutkan ke luar kamar.


Hendrik berhenti di depan sebuah pintu tertutup rapat. Mengangkat satu tangan, menekan jari pada sebuah tombol menempel di dinding.


“Jeglek,” pintu tertarik ke dalam dan terbuka menampakkan seseorang di baliknya.


Hendrik ragu mengutarakan kebenaran, menyadari gadis di hadapan menanggung beban dan akan bertambah beban yang lain.

__ADS_1


Manik hitam Jesika menangkap sesuatu telah terjadi dari garisan kusut wajah tampan terpampang. Hatinya tidak tenang, di kepala terperangkap sedih dan khawatir keadaan putra kesayangan. Pagi ini dimulai dengan pemandangan sulit diartikan.


Langkah kaki Hendrik menariknya masuk, hati sedang memilih kata-kata pantas di ucapkan.


Jesika menutup pintu, tatapannya mengikuti tubuh Hendrik bergerak lambat seolah karung berat berada di punggung belakang.


Hendrik menyapu pandangan hingga berbalik menatap tepat sepasang manik hitam berkantung tebal karena semalaman cairan bening mengalir menemani sampai terbawa ke alam mimpi.


“Ada apa Hen? Jangan merahasiakan apapun dariku.” Jesika membuka suara tidak tahan menunggu kalimat penjelas dari Hendrik.


“Jes, Tante Ira masih belum sadar. Tekanan darah meningkat dan jantung melemah. Ines sangat khawatir, dia minta kita cepat pulang.” Pelan suara Hendrik berucap, keadaan tidak diinginkan terjadi dalam waktu yang sama. Dia harus memberitahu Jesika, akhir dari rahasia hanya akan menghasilkan sebuah penyesalan. Jesika menganggap Tante Ira sebagai pengganti orang tua melindungi dan memberikan kasih sayang terlebih kepada Saka.


“Tan…te Ira,” seketika kerongkongan Jesika terkunci tidak bisa mengeluarkan kata. Tanpa diundang kembali air bening mengalir dari persembunyian. Berita ini menambah irisan hati, kebingungan menerjang datang. Pilihan sulit bermain di kepala.


Jesika menarik tubuh dan mendaratkan di sofa. Menenggelamkan tangis di balik kedua tangan menutupi wajah lembutnya.


“Jes, kita pulang. Aku akan bayar orang terbaik mencari keberadaan Saka.” Hendrik duduk di sebelah Jesika dan merangkul tubuh lemah itu.


Kepala Jesika dipenenuhi bayangan Saka, uluran kedua tangan mungil ke arahnya menanti sebuah dekapan.


“Tapi, bagaimana kau mencarinya. Kau tidak kenal siapa pun dan tidak tahu tempat ini,” Hendrik takut melihat keberanian Jesika, dia tidak ingin Jesika mengambil keputusan salah.


“Aku tidak sendiri, dia pasti tahu. Aku akan paksa dia mengembalikan Saka.” Ucap Jesika penuh keyakinan.


“Maksudmu, Denny?”Hendrik hanya tahu satu nama menjadi lawan saat ini.


“Ya, aku akan mengikuti kemana pun dia pergi,”


“Tidak, aku tidak setuju,,” Hendrik tidak ingin Jesika dekat kembali bersama Denny.


“Please. Aku hanya ingin Saka, bukan Dia. Aku sangat yakin, dia tahu di mana Saka. Dia satu-satunya bisa membawaku menemui Saka. Percayalah padaku, mungkin aku egois disaat ini hanya memikirkan Saka. Tapi aku bisa apa, kau tahu betul Saka lah tujuan hidupku. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku tidak bisa hidup, Hen.” Jesika menggenggam lembut tangan Hendrik dan berusaha meyakinkan.


Melihat kesungguhan Jesika,hati Hendrik luluh dan menaruh kepercayaan penuh. Permasalah bukan pada Jesika, tapi Hendrik tidak percaya Denny. Laki-laki itu masih sangat mencintai Jesika dan kesempatan sekecil apapun akan dia manfaatkan untuk mendapatkan kembali.

__ADS_1


Sepertinya waktu sedang berpihak kepada Denny untuk bisa bersama Jesika. Hati Hendrik benar-benar sakit membayangkan itu semua.


Di kamar Iqbal.


Perlahan sepasang kaki kecil turun dari tempat tidur menjejak di atas karpet halus dan lembut.


Tangan kecil satunya mengusapkan pandangan berkabut yang menghalang. Di kamar besar dan luas hanya dia menguasai tanpa seorang menemani.


Tubuhnya terus bergerak mengikuti pandangan tertuju sebuah pintu kamar terbuka.


“Pa.., Pa…,” suara kecil lembut memanggil.


Iqbal mendengar, dan bergerak mencari sumber suara. Terlihat Dania berjalan ke kamar Denny.


“Nia, sudah bangun sayang,” suara Iqbal menghentikan langkah Dania.


Nia kenal betul suara papanya, tapi bukan milik Denny memanggil. Dania membalikkan tubuh, mendapati Iqbal berjalan mendekat.


“Paman, papa mana? Nia mau papa,” ucap Nia polos melempar pandangan ke Iqbal.


“Papa, sebentar lagi datang,” Iqbal mengangkat Dania dalam pelukan.


Dania merasakan kasih sayang Iqbal tidak berbeda dari Denny. Berdua sangat perduli dan melindungi. Jawaban Iqbal mengumpulkan kembali ingatan saat melihat Saka terbaring sakit.


“Papa, bersama kak Saka? Paman, kita pergi ke rumah sakit. Nia mau temani kak Saka. Kasihan, dia Sakit, ngak bisa main.” Nia sedih, membayangkan wajah Saka.


Iqbal mengelus lembut pucuk kepala Dania, memberi senyuman menenangkan gadis kecil dalam gendongan.


“Ting…Tong…,” suara bel pintu memanggil.


“Itu pasti papa. Ayo, kita lihat.”Iqbal berkata lembut.


“Hem,” Dania menganggukkan kepala.

__ADS_1


Langkah kaki Iqbal membawa bersama Dania membuka pintu. Berdua memasang senyum, menyambut seorang di balik pintu. Saat pintu terbuka, garis senyum di bibir Iqbal turun melengkung ke bawah. Wajah tidak asing terpampang berhadapan.


__ADS_2