
Denny berada di kantor. Perhatiannya penuh menatap laptop. Keseriusan membingkai wajahnya.
Iqbal masuk dan menatap Denny.
“Bagaimana Indah, dia gembira kembali ke rumahnya?” tanya Iqbal penuh selidik.
“Ya, tentu, Kau sendiri?” Iqbal balik bertanya
Dia tahu kalau Denny berat melepaskan Indah pulang ke rumahnay. Tapi dia berusaha tenang.
“Aku kenapa?” balas Denny menatap Iqbal. Brengsek, jangan kau tanya perasaanku. Aku sudah berusaha untuk tenang." Batin Denny merutuki Iqbal.
“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu perasaanmu. Indah telah di rumahnya. Mungkin kau akan merasa kehilangan di apartemen nanti.” Jelas Iqbal.
“Tidak masalah, aku terbiasa sendiri,” Denny menatap laptopnya kembali. Hatinya sudah cukup kesal mendengar ucapan Iqbal.
“Baiklah kalau begitu. Sekarang apa rencanamu terhadapnya? Apakah kau masih ingin mendekatinya?” Iqbal terus ingin meyakinkan perasaan Denny.
“Ya,” balas Denny singkat dan malas menjawab lebih banyak.
Mendengar jawaban Denny singkat dan dingin, Iqbal tidak ingin bertanya lagi.
“Aku ke luar dan tidak akan mengganggumu,” Iqbal membawa langkah kakinya ke luar kantor. Iqbal menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal memikirkan reaksi Denny.
Denny mengalihkan pandangannya mengiringi kepergian Iqbal.
“ Aku tidak tahu bagaimana nanti tanpa Indah di apartemen.” Bisik batin Denny.
Denny meraih ponsel, terdengar berbicara dengan seseorang di seberang.
Indah di rumah, terlihat sibuk bersih-bersih.
“Aaah, beres. Capek juga, sudah lama rumah ini tidak ku bersihkan.” Keluh Indah terduduk di sofa dengan nafas berat.
Terdengar suara pintu di ketuk seseorang dari luar.
“Siapa yang datang?” Batin Indah mendengar ketukan di pintu yang semakin cepat.
Bersamaan suara ponsel terdengar. Indah terkejut dan meraihnya di saku baju yang tergantung di gantungan.
“Pak Direktur,” bisik Indah melihat nama Denny di layar ponsel.
“Hallo,” sapa Indah menjawab panggilan telpon.
“Mengapa lama sekali menjawabnya?” Tanya Denny dari seberang. Terdengar suara Denny meninggi.
“Maaf, saya baru siap bersih-bersih,” jawab Indah dengan suara gugup.
“Lihat siapa yang datang,” Denny tersenyum membayangkan wajah Indah terkejut melihat pemberiannya.
“Apa? Mengapa dia bisa tahu ada orang di luar?” batin Indah menatap ke arah pintu rumah.
“Iya, saya akan melihatnya,” Indah berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Siang, Apakah Anda Nona Indah?” Seorang laki-laki berdiri di depan pintu dengan selembar kertas di tangan
“Iya, saya Indah,” mata Indah mengamati laki-laki yang tidak dikenalnya.
“Kami dari toko furniture, ada beberapa barang dikirimkan di alamat ini.” Menunjukkan sehelai kertas kepada Indah.
“Tapi saya tidak pernah memesan apapun,” Mata Indah membaca nama barang pesanan yang harus diterimanya. Indah mengembalikan kertas tersebut karena merasa tidak memesannya.
"Tolong dilihat lagi, nama yang memesannya. Mungkin Nona mengenalnya."
__ADS_1
Indah mengambil kertas itu kbali dan melihat nama Denny Prasetyo jelas tertera di dalam. Indah ingat, panggilan ponselnya masih tersambung.
“Hallo, apakah Mas yang mengirimkan barang ini semua?” tanya Indah.
“Jangan terlalu lama berpikir, izinkan mereka masuk.” Balas Denny.
“Tapi, saya tidak memerlukan ini semua, sudah cukup dengan apa yang saya punya sekarang ini.” Indah kesal dengan sikap Denny yang seenaknya bertindak tanpa menanyakan terlebih dahulu.
“Sudah jangan membatah. Kalau kamu masih mau bekerja, patuhi semua perintahku,” Denny kesal dengan sikap melawan Indah.
“Baik, saya menerimanya,” suara Indah terdengar berat.
Denny memutuskan panggilan. Indah berat mengizinkan perabotan rumahnya diganti, karena menurutnya semua masih layak.
Waktu terus berjalan, sore menjemput malam. Denny melajukan mobilnya dan berhenti di depan rumah Indah. Denny melangkah dan berhenti di depan pintu.
“Aku, di depan pintu,” Indah menatap pintu mendengar suara Denny dari seberang ponsel
dan melangkah mendekat.
“Mengapa dia datang?” batin Indah.
Pintu dibuka, terlihat Denny berdiri di baliknya.
“Ayo ikut denganku,” ucap Denny menatap wajah Indah dalam.
“Ke mana?” Indah terkejut mendengar ajakan Denny yang tiba-tiba.
“Cepat ganti pakaian, aku tunggu,” Denny tetap memaksa Indah mengikuti keinginannya.
“Iya,”Indah berlari kecil memasuki kamar.
“Pria ini, suka berbuat semaunya. Tanpa bertanya aku setuju atau tidak,” omel Indah sambil berjalan.
Denny menatap Indah berjalan mendekatinya. Indah menghampiri dan menutup pintu.
“Sudah, ayo jalan,” Denny berjalan mendahului.
Indah melangkah mengikuti Denny.
Berdua mereka di dalam mobil. Mata Indah lekat memandang wajah Denny.
“Pria ini mau ke mana membawaku? Mengapa aku senang bersamanya. Wajah tampannya terlihat dingin dan tidak bersahabat, tapi hatinya baik. Aroma ini, lekat di hidungku dan aku menyukainya.” Pikiran Indah membahas pribadi Denny.
“Kau suka kepadaku?” Suara Denny menyadarkan lamunan Indah.
“Apa?” Indah terkejut dan memalingkan wajahnya.
“Mengapa dari tadi menatapku?” Denny menyadari kalau Indah menatapnya dari sudut matanya.
“Ti.. tidak, kita mau ke mana?” Indah mengalihkan pembicaraan. Wajahnya bersemu karena Denny bisa membaca pikirannya.
“Kau sudah makan?” tanya Denny.
“Belum,” jawab Indah menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
“Di rumah tidak ada persediaan makanan, saya belum berbelanja.” Jawab Indah.
“Hemm,” Denny menanggapi santai.
“Heh, kau mengagumi ketampananku. Tapi takut mengakuinya.” Bisik batin Denny dengan menyungging senyum di bibir.
__ADS_1
Mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran.
“Kita mau makan?” tanya Indah menatap Denny.
“Iya, ayo ke luar,” Denny menatap wajah Indah. Hatinya sangat senang bisa berdua bersama Indah.
“Wah, ini pasti restoran mahal. Bagaimana ini?” Indah ragu mau ke luar, dilihatnya banyak mobil mewah yang terparkir.
“Kenapa, kamu tidak lapar?” Denny menyadari Indah ragu ke luar dari mobil.
“Mas bisa ke tempat lain saja, penampilan saya tidak cocok ke tempat ini. Nanti Mas malu menjadi perhatian orang.” Jawab Indah memandang restoran di hadapannya.
“Sudah jangan banyak bicara, aku sudah lapar." Denny ke luar dari mobil dan menunggu. Indah dengan terpaksa ke luar menghampiri. Denny memegang lengan Indah dan menariknya.
Tubuh Indah tertarik mengikuti langkah Denny. Banyak mata memandang ke arah mereka berdua. Indah melepaskan pegangan tangan Denny.
“Kenapa?” Denny terkejut melihat reaksi Indah.
“Maaf Mas, saya bisa jalan sendiri tanpa harus ditarik,” Indah takut Denny menjadi bahan pembicaraan orang di sekitarnya.
“Baiklah jangan jauh-jauh dariku,” Denny tidak ingin memaksa Indah.
Berdua mereka berjalan memasuki restauran.
Beberapa makanan telah tersusun di atas meja. Denny tahu Indah belum makan dari siang. Jadi dia memilihkan banyak makanan.
“Banyak sekali, makanan ini bisa untuk enam orang. Apa Mas mengundang orang lain?” Mata Indah mengirati ruang restoran mengamati tamu yang datang akan menemani makan mereka.
“Tidak, makanlah jangan banyak berpikir,” Denny menyuap makanan ke mulutnya.
“Kebiasaannya belum berubah, dia pikir aku tong sampah, bisa menghabiskan semuanya?” keluh Indah perlahan mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Denny lagi-lagi tersenyum menatap Indah memakan makanannya.
“Makanlah, aku senang melihatmu makan. Kau tidak seperti wanita pada umumnya. Mereka suka berpura-pura anggun dan tidak ingin terlihat jelek.” Batin Denny.
Denny melihat sisa makanan di atas bibir Indah yang sedang asik menikmati makanan. Tanpa ragu mengambil serbet dan membersihkannya lembut.
“Maaf,” ucap Indah pelan karena malu.
“Hemm,”Denny hanya tersenyum melihat rona merah di wajah Indah.
“Mas, besok saya sudah bisa kembali bekerja?” tanya Indah memberanikan diri.
Denny menatap wajah Indah dalam.
“Baiklah, kau boleh mulai bekerja besok,” jawab Denny datar.
“Terima kasih,” senyum Indah membalas jawaban Denny.
Berdua mereka menikmati makanan dengan kegembiraan berbeda tersembunyi di hati masing-masing.
Sepulangnya, berdua mereka berbelanja ke supermarket. Indah terheran-heran melihat perhatian yang diberikan Denny. Berbelanja berbagai keperluan dapur. Setelah merasa cukup, Denny mengantar Indah pulang.
Sampai di rumah, Denny duduk di sofa pemberiannya.
“Ini baru sofa, punggungku tidak sakit duduk di atasnya.” Gumam Denny meraba sofa baru pemberiannya.
Indah sibuk di dapur, merapikan barang belanjaannya. Setelah selesai dia melangkah menemui Denny.
Terlihat Denny telah tertidur. Indah mendekat dan berjongkok di sisi samping tubuh Denny, menatap dalam wajahnya.
“Dia kelihatan tenang dan semakin tampan saat diam seperti ini. Terima kasih Mas, telah banyak menolongku. Aku tidak akan dapat membalas semua kebaikanmu,” bisik Indah.
__ADS_1
Perlahan Indah melangkah meninggalkan Denny dan kembali membawa sebuah selimut. Menyelimuti dengan perlahan dan membiarkan Denny tidur.
Perlahan Indah melangkah ke kamar dan beristirahat. Senyum menghias wajah Denny sepeninggalan Indah. Malam itu Denny menghabiskan malam di rumah Indah dengan perasaan penuh kegembiraan.