
Tangis itu sudah berusaha dengan kuat dia tahan, tapi hatinya rapuh seketika membayangkan wajah Indah. Saat ini dia sangat membutuhkan kehangatan sebagai penenang dan penguat diri. Namun tidak ada tempat bersandar untuk dirinya, hanya kepedihan dan ketakutan akan kebencian menggelayut di hati.
Beberapa menit sebelumnya, Jesika terjaga dari tidur lelap. Manik hitamnya mengedar pandangan ke langit-langit kamar bercahaya remang. Terasa kerongkongannya kering, Jesika beranjak dari tempat tidur. Melihat sisi meja nakas kosong tidak air, Jesika menapakkan kaki membawa tubuh lunglai dan mata kantuknya ke luar kamar.
Kakinya sudah berada di ruang dapur berdiri di depan lemari pendingin, membuka pintu dan meraih botol air. Pintu tertutup dengan senggolan kecil pinggul rampingnya. Membalik tubuh membelakangi lemari pendingin sambil jari lentik memutar tutup botol hingga terbuka. Menempelkan bibir botol ke bibir merah mudanya dan menegak dengan perlahan.
Sambil menegak air, manik hitam menangkap bayangan melintas. Seketika tangannya turun menghentikan tegukan air di kerongkongan. Bayangan itu menarik perhatiannya, menaruh kecurigaan di dalam hati. Ketakutan seketika menerkam menegakkan bulu-bulu halus di kuduknya.
“Jangan-jangan perampok masuk ke rumah. Tapi rumah ini dijaga ketat, dan dikelilingi tembok kokoh dan menjulang tinggi, bagaimana perampok bisa masuk.” Jesika berspekulasi sendiri menerka-nerka bayangan yang tampak.
Tidak mau berpikir buntu, Jesika meletakkan botol minuman di atas meja, dan berjalan menuju bayangan yang dilihat. Dengan deru jantung yang kencang, disertai kewaspadaan manik hitam selaras hayunan langkah kaki mencari sosok bayangan.
Pencahayaan yang gelap hanya bias-bias cahaya lampu dari luar rumah membantu penglihatannya menyusuri anak tangga hingga sampai ke lantai dua kamar. Langkah kaki Jesika terus perlahan berjalan, dengan jari-jari tangannya mengcengkeram kuat ujung baju menahan ketakutan.
Manik hitamnya terus mengawasi dan menangkap bayangan di depan pintu kamar tidurnya. Langkah kaki pun terhenti tidak berani mendekat. Berdiri mengambil jarak dan bersembunyi di balik lemari hias kaca kristal.
Tertangkap di penglihatannya, seorang lelaki bertubuh tinggi, menempelkan kepala di daun pintu dengan tubuh bergetar.
“Siapa di sana, apa yang dia lakukan? Apakah itu…?” Jesika menggantung pertanyaan di kepala, lebih memilih mengamati dan menunggu.
Denny menarik kepala yang menempel di daun pintu, seolah telah puas bersender di bahu kekasih mencurahkan kesedihan berganti mendapatkan kekuatan dan ketenagan. Sedewasa apapun seseorang tetap terlihat menyedihkan seperti anak kecil saat tangis tak terbendung ke luar.
Denny membalikkan tubuh dan menyeret langkah menjauhi kamar. Kesedihan terlihat jelas dan sisa-sisa cairan bening masih membasahi kedua pipi.
Ada ketertarikan dalam hati Jesika untuk terus mengamati lelaki yang belum jelas dia lihat. Untuk memastikan tebakannya, Jesika bergerak perlahan-lahan mengikuti agar tidak ketahuan.
Langkah kedua kaki Denny telah membawa di depan sebuah pintu dan tangannya meraih pegangan pintu.
“Cklek,” daun pintu terbuka terdorong lebar ke dalam kamar. Cahaya kamar menyeruak ke luar menerangi wajah Denny.
__ADS_1
Jarak yang membatasi Jesika tidak begitu jauh dapat melihat wajah Denny diterangi cahaya.
“Benar, itu Denny. Kenapa dia pulang sembunyi-sembunyi dan seperti menghindar. Apa dia merahasiakan sesuatu?” Jesika berbicara sendiri sambil terus melangkah mengenda-endap di belakang tidak jauh dari tubuh Denny.
Denny membawa langkah ke dalam kamar dan mendorong pintu, tapi sayang pintu tidak tertutup rapat, membiarkan celah terbuka.
Mendapati pintu tidak tertutup rapat, Jesika memiliki peluang mendekati kamar dan berusaha mencari tahu kejadian di dalam.
Manik hitam Denny berembun menatap Dania terbaring lemah, berdiri di samping tempat tidur sambil jari-jari ramping perlahan mengusap lembut pucuk kepala putri kecilnya.
Harun terjaga dari tidur menyadari seseorang hadir di dalam kamar, mengejap-ejap kelopak mata yang enggan terbuka. Samar terlihat tubuh kokoh Denny berbalut kemeja berwarna biru muda dengan lengan baju tergulung menampakkan kulit putih berdiri terpaku di samping Dania tertidur pulas.
Menarik tubuh yang letih, Harun beranjak melangkah menghampiri Denny.
“Bagaimana keadaan Nia?” Denny bertanya tanpa mengalihkan pandangan hanya sudut manik hitam menangkap bayangan Harun.
“Ibumu menghubungiku, dia…”
“Jangan diteruskan, aku tidak ingin mendengarnya.” Denny menyela kalimat Harun tanpa ingin mendengar hingga selesai.
“Baiklah, apa rencanamu?” Harun menghela nafas kasar, menanti jawaban Denny.
Keheningan terpancar dari wajah Denny dalam tatapan Harun yang menunggu jawaban. Dia tahu, saat ini Denny dalam dilema yang berat. Jalan pilihan hanya akan melukai orang-orang yang dia sayangi.
“Belum ada,” Denny menjawab singkat dan berbalik menarik langkah membawa tubuh mendarat di sofa.
Harun bergabung duduk di samping Denny, keduanya terlihat diam hanyut dalam pikiran masing-masing.
“Waktu Nia tidak banyak dan pertahanan tubuhnya tidak akan sanggup menahan racun lekiumia lebih lama lagi. Kita sudah berusaha membersihkan tubuhnya dari lekiumia, jangan perjuanganya menjadi sia-sia.” Harun nanar menatap ke depan, kalimat yang mengalir terdengar paksaan dari sebuah keputus asaan.
__ADS_1
“Pasti ada jalan lain, Tuhan tidak akan membiarkan aku menjadi kejam dengan darah dagingku sendiri. Kalau itu sampai terjadi, aku akan benar-benar seorang pembunuh dan itu tidak lepas dari kuasa Tuhan juga. Aku hanya bisa mengikuti cara Tuhan menghukumku, dosaku tidak terampunkan mengabaikan istri dan anakku, inilah hukuman yang pantas dengan mengambil satu persatu orang-orang yang kucintai. Takdirku tidak mengijinkan bahagia bersama mereka sampai akhir.” Deny berbicara di dalam hati, menjatuhkan pandangan pada tubuh Nia lalu perlahan menyimpan bayangan tubuh Nia dalam kelopak mata yang terpejam.
Melihat Denny hanya diam Harun tidak dapat menahan diri, kondisi Nia saat ini sangat tidak terduga suatu saat bisa berakibat fatal.
“Den, kau harus cepat mengambil keputusan. Hanya putramu satu-satunya pilihan.” Harun menghempaskan nafas kasar, kembali terkesan memaksa membuat pilihan yang sulit tapi itu harus dia ucapkan.
Pintu yang renggang memberikan kesempatan bagi Jesika untuk mendengar pembicaraan Denny dan Harun. Walau samar, tapi suasana hening membantu suara di dalam ruangan terdengar.
“Apa mereka bicarakan? Waktu Nia tidak banyak? Putra, apakah yang dia maksud Saka? Jadi benar dugaanku, dia dalang semuanya. Dia sengaja menculik Saka, sandiwaramu sangat bagus tuan Denny Prasetyo, sayangnya aku sudah mengetahui lebih cepat dari kau duga.” Hawa panas menjalar di seluruh tubuh Jesika, amarah tak terbendung seperti boom yang siap diledakkan.
Jari-jari lentik Jesika menggenggam erat pegangan pintu melihatkan garis-garis hijau kasar keluar dari persembunyian kulit tangan putihnya.
Tanpa bersuara pintu terdorong ke dalam, langkah kaki telah membawa tubuh Jesika masuk ke kamar. Tatapan berselaput merah membingkai manik hitam isyarat kemarahan telah memuncak hebat.
Harun menangkap suara gesekan di lantai kamar seolah tarikan langkah kaki. Benar saja, tidak dalam hitungan menit, telah berdiri seorang perempuan di hadapannya dengan tatapan kemarahan.
“Kau, sedang apa di sini?” Harun tergagap menyadari Jesika memasang tatapan tajam.
“Amarah itu? Apa dia mendengarnya? Sial.” Harun mengutuk di dalam hati, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Indah mendengar semua pembicaraannya bersama Denny.
Kelopak mata Denny lansung terbuka, mendengar suara Harun yang bergetar. Terlihat di hadapannya telah berdiri Indah dengan tatapan menusuk ke arah dirinya.
_____________________________________________________________________________________
Hai reader, aku harap masih setia membaca ceritaku.
Aku mohon maaf, belum bisa up date rutin. Di kehidupan nyata aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan single mommy. Semoga ceritanya masih bisa menghibur kalian. So,thanks untuk kesetiaan kalian.
I love you all so much.
__ADS_1