Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 33 Studio 2


__ADS_3

Indah ke luar dari mobil dan melangkah masuk ke kantor perusahaan. Hendrik masih memilih duduk di dalam mobil menenangkan dirinya. Berusaha menata perasaannya agar Indah tidak dapat menduga isi hatinya.


Indah telah sampai di ruang kantor. Berjalan menuju meja kerja.


“In, kok sudah kembali? Hendrik mana?” Yanti heran melihat sahabatnya cepat kembali dengan wajah tidak semangat.


“Yah..besok dilanjutkan? Hendrik masih di bawah.” Indah duduk di kursi kerja dan meletakkan tas sandangnya di meja.


“Siapa saja yang sudah kalian datangi hari ini, In?” Yanti ingin tahu masalah yang menyelimuti Indah


“Gunawan Rahardja,” Indah menjawab dengan singkat dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


“Yang lain?” Yanti berusaha bertanya lagi karena sikap penasarannya.


“Hemmm,” Indah hanya menggelengkan kepala.


“Loh, hanya satu In, ngapain aja kalian?” Yanti jadi bingung dengan sikap datar Indah.


“Yes, just one person. Setelah itu balik ke kantor.” Indah menunjukkan jari telunjuknya. Tidak semangat berbicara lebih banyak lagi.


“Tapikan masih bisa ke tempat lain In?” Yanti semakin penasaran dengan sikap tertutup Indah.


“Ada, orangnya belum bisa ku hubungi. Aku mau pakai telpon kantor. Ponselku low battre. Jadi, aku mau menghubungi yang lain juga sekarang. Oke?” Indah menatap wajah Yanti dan sudah capek menjawab rasa ingin tahu Yanti.


“Boleh aku bantu? Sekaligus kenalan, mungkin ada yang ganteng dan tazir, persiapan suami masa depan, loh.” Yanti menatap Indah dengan wajah memelas.


“Ngak perlu, di kantor kita banyak yang ganteng, kamu tinggal pilih. Kalau yang tazir juga ada.” Balas Indah dengan nada sedikit kesal. Yanti sudah lupa dengan kejadian semalam. Rasa ingin tahunya yang lain lagi pula muncul.


“Siapa In, kok kamu tahu, ada pria idaman ganteng juga tazir? Yanti bertanya dengan Wajah penuh selidik. Indah menggeleng-gelenkan kepala melihat Yanti yang gampang berubah-ubah topik pembicaraan.


Udah pergi sana, kalau ngobrol terus kapan kerjanya?” Indah berdiri dan mendorong tubuh Yanti.


“Oke-oke, nanti kita lanjut lagi, dan harus kasi tahu aku pria ganteng dan tazir yang kamu maksud” Yanti berjalan kembali ke meja kerjanya.


Terlihat Hendrik berjalan dengan wajah lesu.


“Hei, Hen.” Sapa Yanti penuh semangat di depan Hendrik


“Hai, Yan. Sepi ya, ngak ada aku dan Indah. Kamu pasti rinduin kitakan?” Hendrik berusaha ceria dan menyembuyikan perasaannya.


“Ngak, siapa bilang aku rindu kamu, ngak usah ya. Aku hanya rinduin Indah kok,” melirik Indah yang sedang berbicara di telpon.


“Yah…. Kamu memang teman ngak setia Yan. Padahalllll,” menggantung kalimatnya dan berjalan meningalkan Yanti.


“Padahal apa Hen?” Buru-buru berjalan menyusul langkah Hendrik.


Indah hanya melirik tingkah kedua sobatnya. Indah teringat peristiwa di kantor Gunawan dan di mobil saat bersama Hendrik.

__ADS_1


“Aku ngak akan bertanya Hen. Biar kamu sendiri cerita ke kita berdua.” Lirih Indah di dalam hati.


Di kantor Direktur, sepasang mata menatap laptop dengan serius.


“Dia sudah kembali? Berapa lama akan bersama terus dengan pria itu?" Denny kesal mengapa Indah harus pergi dengan rekan pria biar dalam urusan kerja sekalipun.


“Sampai semua tamu VIP telah diundang,” Iqbal sibuk di depan laptop, duduk di sofa melirik Denny dari sudut matanya. Dia tahu Denny terbakar cemburu.


Denny beranjak dari kursinya, dan menghampiri Iqbal duduk di sampingnya bersender di sofa.


“Apa jadwalku malam ini?” Denny berusaha mengendalikan perasaannya.


“Menghadiri acara di studio 2, launcing brand Ponsel investor baru kita,” Iqbal masih berkutat di depan laptopnya.


“Baiklah, aku istirahat sebentar. Bangunkan aku saat sholat magrib.” Denny melirik jam di tangannya menunjukkan pukul setengah enam sore.


“Aku akan siapkan semuanya,” Iqbal menatap tubuh belakang Denny beranjak dari tempat duduknya.


Denny berjalan menuju sebuah pintu yang ada di ruangnya. Pintu dibuka, terlihat ruangan tertata rapi layaknya sebuah kamar tidur di hotel. Denny melangkah masuk, membuka jas meletakkan di gantungan baju. Berjalan ke tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terdengar nafas berat Denny berhembus, kedua matanya terpejam.


Waktu terus berjalan beranjak malam. Indah masih berada di kantor. Terlihat sibuk berbicara di telepon dengan suara ramah. Tak lama Indah meletakkan gagang telpon.


“In, kita ke studio 2 yuk?” ajak Yanti datang menghampiri Indah.


“Ngapain ke sana?” Indah balik bertanya menatap Yanti.


“Ada promo barang bagus, mana tahu kita kebagian juga. Udah jangan banyak tanya, ayo kita pergi?” Menarik tangan Indah bersama melangkah ke luar.


“In, kita duduk di sini aja, kelihatan tu hostnya,” Yanti menarik Indah duduk.


“Yan, ngak apa kita duduk di sini? Ini tempat …,” Indah tidak sempat meneruskan kata-katanya.


“Udah ah, tenang aja. Kalau ada yang melarang, baru kita pergi. Tapi kalau tidak, kita tetap di sini aja, gampangkan?” Yanti memaksa duduk di deretan depan tempat para tamu penting perusahaan.


Indah dan Yanti menikmati pertunjukan. Berdua mereka saling tertawa gembira. Pertunjukan itu sangat menghibur mereka.


Denny dan Iqbal baru tiba di tempat acara. Mereka berjalan menuju tempat yang telah disediakan. Para pengawal mengiringi mereka berjalan. Kedatangan mereka menjadi perhatian banyak mata.


Indah tidak ketinggalan memperhatikan kedatangan Denny. Jantungnya seketika berpacu cepat. Perasaannya sangat tidak menentu. Penampilan Denny terlihat sangat memesona dalam gaya monokrom all-dark blue outfit. Dia mengenakan blazer untuk melengkapi penampilannya. Mata Indah sedikit pun tak lepas memandang.


Pandangan mata Denny sekilas menatap Indah.


“Dia ada di sini juga?” Bisik batin Denny menyadari kehadiran Indah yang sudah duduk dan memerhatikan dirinya.


Mata Indah tidak lekang menatap tubuh belakang Denny yang duduk tidak jauh di depannya.


“Apa ini, kenapa pikiranku di penuhi wajah pria itu. Perasaanku juga sangat senang dapat melihatnya saat ini,” Bisik batin Indah dengan senyum di wajah.

__ADS_1


“Kamu kenapa In?” tanya Yanti melihat perubahan wajah Indah.


“Ngak ada apa-apa?” jawab Indah menggelengkan kepalanya.


Sontak terdengar ramai suara tepukan tangan. Host meminta Denny memberikan ucapan sambutan. Mata Indah langsung menatap Denny berjalan menaiki panggung acara. Seketika suara sepi saat Denny berbicara. Semua orang mendengar dan memperhatikan. Sambil berbicara, mata Denny memandang wajah Indah. Berdua mereka saling berpandangan. Indah menundukkan wajahnya tidak tahan melihat tatapan mata Denny. Jantungnya berirama tidak menentu.


“Yan, mari kita pulang. Lihat, sudah jam berapa ni?” Indah menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya kepada Yanti. Indah tidak ingin berlama-lama di sini dengan perasaannya yang tidak jelas.


“Sebentar lagi, ngak enak Pak Direktur lagi ngomong tu.” Yanti masih berat beranjak, dirinya masih ingin menikmati acara.


“Ya, udah. Kalau ngak mau, aku pulang sendiri.”


Indah berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Yanti. Rasa binggung menyelimuti Yanti melihat sikap Indah. Dia tidak bisa menahan Indah pergi. Selain masih ingin menikmati acara, rasa takut juga ikut bersama pergi, saat pimpinannya sedang berbicara. Denny menatap kepergian Indah.


Indah telah berada di ruang kerja. Tangannya sibuk merapikan kertas di meja. Hendrik baru tiba di ruangan dan dia terkejut mendapati Indah sendiri di ruangan.


“In, kamu kok di sini. Ngak ke studio 2. Ramai loh di sana?” Hendrik datang menghampiri Indah.


“Udah, aku dari sana tadi kok. Tapi ini, masih ada tamu VIP yang belum ku hubunngi.” Menunjukkan selembar kertas kepada Handrik.


“Besokkan masih bisa dihubungi, saat di jalan.” Hendrik kagum dengan sifat kerja keras Indah. Itulah salah satu alasan dia menyukai Indah.


“Kalau di jalan aku ngak bisa. Aku pikir-pikir sekarang pun ngak mungkin, sudah malam. Ngak enak nelponnya jam segini.” Menatap jam menempel di dinding.


“Kalau gitu, kita pulang yuk. Aku antar ya?” Hendrik mencoba memperbaiki suasana setelah peristiwa di kantor Gunawan.


“Yanti gimana?” tanya Indah balik. Dia teringat Yanti yang masih ada di studio 2.


“Diakan sudah besar, bisa pulang sendiri,” canda Hendrik.


“Dasar kamu Hen. Ya udah, yuk kita pulang, kebetulan aku juga mau pulang” mengambil tas di atas meja.


Indah dan Hendrik melangkah bersama ke luar ruangan. Mereka berdua menunggu di depan pintu lift. Terdengar suara mereka berdua tertawa. Hendrik memang teman yang enak diajak bercanda bagi Indah. Ada saja ulahnya bisa membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Disaat keduanya asik tertawa, pintu lift terbuka terlihat Denny berdiri seorang diri di sana. Hendrik dan Indah terkejut lalu terdiam seketika. “Selamat malam, Pak,” sapa Hendrik.


“Selamat malam,” Denny menjawab datar. Hatinya kembali tidak suka melihat Indah berduaan dengan laki-laki lain.


Indah dan Hendrik melangkah masuk, berdiri di belakang Denny. Suasana di dalam lift sepi, tidak terdengar sepatah kata terucap. Lift berhenti dan pintu terbuka. Denny melangkah ke luar begitu saja tanpa berkata-kata. Indah dan Hendrik juga ikut melangkah ke luar.


Sampainya di luar gedung, Hendrik meninggalkan Indah pergi mengambil mobil dan memintanya menunggu.


“Pak, apa yang Bapak lakukan?”


Terasa tangan Indah ditarik, Indah menoleh dan melihat Denny. Langsung tubuhnya ikut tertarik dan kakinya melangkah mengikuti Denny. Indah melihat mobil Denny.


“Pak lepaskan, kita mau kemana?” tanya Indah dihantui perasaan takut.


Tapi Denny masih diam tidak berbicara. Sampai di mobil, Denny membuka pintu dan menolak tubuh Indah masuk ke dalam. Indah terduduk di bangku mobil dengan perasaan bingung dan takut. Denny telah masuk dan mobil pun melaju.

__ADS_1


“Pak, tolong kita mau ke mana? Saya mau pulang, Pak.”


Indah menatap wajah Denny dan terus bertanya. Denny tidak memperdulikan, tatapannya tertuju ke jalanan.


__ADS_2