Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 93 Dirundung Kecemasan


__ADS_3

Denny masih menatap Saka dengan lekat. Tangan kanannya terangkat, mengelus lembut wajah Saka. Air bening kembali mengalir di pipinya, cepat ia menyeka air itu. Mengalihkan dan menyapu pandangan ke seliling ruangan. Batinnya mencari seseorang yang saat ini sangat ingin dijumpai. Badannya berbalik saat melihat pantulan cahaya dari sebuah ruangan yang tidak tertutup rapat. Langkah kaki dihayunkan menuju ruangan itu.


Jesika menyeka air yang membasahi wajahnya dengan handuk yang tersedia di kamar mandi. Kembali wajah Denny terlintas, kali ini bayangan itu ada di dalam cermin muncul di hadapannya. Tidak ingin wajah itu terus mengganggu, dia pun menutup rapat wajahnya dengan tangan yang berbalutkan handuk. Jesika tidak ingin bayangan itu terus mengganggu. Dia yakin tidak akan melihat bayangan wajah Denny di cermin. Jesika perlahan menurunkan kedua tangan yang menyembunyikan wajahnya.Tatapan matanya menatap cermin, benar saja bayangan wajah Denny masih ada di dalam cermin.


“Kenapa kau masih ada? Kenapa kau selalu saja menggangguku? Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi kenapa kau selalu saja ada? Kenapa? Kenapa? Jawab aku?” Jesika berujar kesal menatap wajah Denny di cermin. Air matanya menetes tidak terbendung menahan gejolak di hatinya.


Seketika tubuh Jesika tertarik berbalik ke belakang. Sepasang tangan memegang kedua bahunya dengan erat. Sepasang mata bening menatapnya lekat. Wajah yang sudah mengikat hatinya dengan sangat kuat. Jantung Jesika, seketika berpacu cepat menyadari Denny berdiri tepat di hadapannya.


“Kau tanya kenapa, padahal kau sendiri tahu jawabannya. Sekarang aku yang bertanya, sampai kapan kau akan bertahan menipu aku dan dirimu sendiri? Mengapa kau masih berpura-pura tidak mengenaliku? Untuk siapa lagi kau melakukan ini? Kau mengorbankan perasaanku, kau tidak menghiraukan lukaku. Kau benar-benar membenciku? Kau akan menghilang dariku? Tidak akan, jangan harap kau bisa lepas dariku, bahkan bayanganmu pun akan segan muncul di dekatmu.” Denny hanya mampu berkata-kata di dalam hati, bibirnya tidak sanggup berucap menatap gadis yang sangat dicintainya.


“Tolong, jangan lari lagi dariku, aku sudah tahu semuanya. Aku tidak akan sanggup menahannya, kalau itu terjadi lagi. Aku akan benar-benar mati ikut denganmu.” Perlahan suara Denny ke luar dengan teratur menahan gejolak amarah di dadanya.


Mata Jesika bulat membesar, menyadari di hadapannya benar-benar Denny bukan bayangan halusinasinya saja. Wajah, tatapan mata dan suara yang sangat dia kenal lalu ingin dia lupakan tapi saat ini berada sangat dekat dengan dirinya.


“Ka..kau, salah orang. Tolong jangan ganggu aku dan keluargaku tuan.” Jesika menepis ke dua tangan yang memegang erat bahunya. Lalu berusaha membalikkan badan dan melangkahkan kaki, namun langkahnya terhenti saat tangannya tertarik ke belakang.


“Kenapa kau masih juga menyangkal? Jangan menolakku lagi, hentikan kepura-puraanmu.” Suara Denny terdengar meninggi. Dia sudah berusaha menekan amarahnya tapi menerima sikap gadis yang dicintainya, amarah itu mulai menguasai.


“Lepaskan,” Jesika berusaha melepaskan tangan Denny yang menggenggamnya erat.


“Tidak, sebelum kau mengakui kalau kau Indah,” Denny semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“Aku bilang lepaskan, kau menyakiti tanganku,” Jesika merasakan sakit dipergelangan tangannya.

__ADS_1


“Ma…, Mama…,” suara Saka terdengar memanggil. Denny dan Jesika bersamaan menoleh ke arah luar kamar mandi.


Tangan Jesika seketika terlepas dari genggaman tangan Denny, spontan tubuhnya bergerak cepat ke luar dari kamar mandi. Denny pun tidak mau ketinggalan, mengikuti langkah kaki di depannya segera turut juga ke luar.


“Iya sayang, mama di sini. Saka mau apa?” Jesika merapatkan tubuh ke tempat tidur dan mengusap lembut kepala putranya.


Saka menatap Jesika, dia mendengar ada suara seseorang selain suara mamanya. Betul saja, tak lama seseorang muncul dari belakang dan menatapnya lekat.


“Ma, ke mana Papa, Saka mau Papa. Kenapa lelaki itu ada di sini?” Saka mengenal lelaki yang ada bersama mereka sekarang, lelaki yang telah menyakiti Hendrik. Saka takut kalau lelaki itu datang akan menyakiti papanya kembali.


“Hah, dia memanggil orang asing sebagai papa, aku tidak bisa menerimanya. Kau tidak hanya berbohong kepadaku tapi juga kepada anak kecil. Kau berbohong sudah cukup lama dan sampai kapan kebohongan ini akan kau lakukan.” Suara Denny kembali menguap, amarahnya benar-benar tidak bisa tertahankan.


“Tuan, aku mohon tinggalkan kami dan keluarlah dari ruangan. Kau salah paham, tolonglah jangan membuat keributan. Ini rumah sakit, putraku butuh istirahat.” Jesika berbicara perlahan dengan menyatukan kedua tangannya sebagai tanda memohon agar Denny menuruti keinginannya.


“Ma, kenapa papa Nia ada di sini dan apa maksud ucapannya?” Tanya Saka keheranan berusaha mencerna ucapan Denny yang telah berlalu pergi.


“Sayang, kamu mau minum atau makan sesuatu, mama ambilkan ya? Papa sedang ke luar, kembali ke hotel mengambil pakaian dan beberapa perlengkapan. Mama tidak tahu Saka akan dirawat berapa lama di sini. Jadi, mama meminta papa ke hotel.” Jesika merapikan ujung selimut menutupi tubuh Saka, dia tidak berani menatap mata putranya yang sedang menyelidik. Jesika sangat gugup dan berusaha mengalihkan pertanyaan Saka.


“Aku haus Ma,” Saka memperhatikan Jesika yang tidak berani menatap wajahnya. Dia merasakan sesuatu telah terjadi dan disembunyikan.


Mendengar putranya haus, dengan cepat tangan Jesika meraih minuman dan perlahan memberikannya ke bibir Saka.


Denny telah berada di ruangan Joshua, duduk saling berhadapan.

__ADS_1


“Kapan bisa dilakukan?” Wajah Denny cemas menunggu jawaban Joshua.


“Secepatnya, sebelum reaksi yang dirasakan semakin menjadi. Aku akan segera memberi tahu keluarga pasien.” Jawab Joshua menatap hasil foto scan di hadapannya.


“Apa akibat yang paling fatal bila ini gagal dilakukan?” Denny memburu Joshua dengan pertanyaan.


“Yang paling fatal adalah kelumpuhan, dan seringan-ringannya dia akan mengalami amnesia. Seberapa berat amnesia yang dialami kita tidak bisa memastikan.” Joshua menjelaskan dengan perlahan dan teratur.


“Separah itukah?” Tanya Denny lagi.


“Benturan yang dialaminya, membuat reaksi gejala semakin cepat. Seharusnya dia belum merasakan sekarang, dua atau tiga tahun lagi gejala itu baru muncul. Benturan itu, menekannya semakin mendekati otak kecil dan mengganggu syaraf rangsangan.


Untungnya bisa diketahui, sebelum gejala berat seperti sakit kepala parah dan lumpuh sesaat akan dirasakan.” Joshua menunjukkan titik hitam kecil yang terdapat di foto scan tengkorak kepala bagian belakang.


“Lakukan yang terbaik, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatnkannya,” ucap Denny menatap dalam sepasang mata di hadapannya.


“Ya, darah tuan sangat dibutuhkan. Golongan darah kalian berdua sangat langka dan jarang tersedia banyak di rumah sakit. Selama proses operasi, darah banyak dibutuhkan. Proses operasi bisa berlangsung lima sampai tujuh jam. Aku harap, fisiknya kuat melewati waktu selama itu mengingat usianya masih sepuluh tahun.” Wajah Joshua berubah cemas.


“Dia akan kuat, seperti mamanya memiliki semangat yang kuat. Sampai-sampai dia memutuskan menghilang dariku. Hingga sepuluh tahun lamanya, aku baru bisa menemukannya kembali.” Denny menatap jauh ke depan dan berusaha menyemangati dirinya yang dirundung kecemasan yang sama dengan Joshua.


###############################


Assalamu'alaikum hai reader. Maaf, aku Up nya lama. Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya. Beri dukungannya yang banyak ya, aku menantikan.Sekali lagi terima sakit dan salam cinta selalu.

__ADS_1


__ADS_2