Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 102 Pikir dan Putuskan


__ADS_3

Yanti memutuskan panggilan, terlihat berpikir dengan mata menerawang ke atas.


“Kerjaan penting apa, Mas Iqbal sangat rahasia seperti itu?” Ucap batin Yanti dan kepalanya terlintas wajah seseorang.


“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel terdengar menyapa di seberang.


“Hai, Del. Kamu di mana?” Yanti memburu pertanyaan tanpa mengindahkan kesopanan.


“Hem, kamu kenapa? Apa kamu ngak ada kerjaan ganggu aku?” Gerutu Deliana mendengar suara sahabatnya.


“Del, jawab aja pertanyaanku? Kamu di mana?” Yanti terdengar kesal.


“Hei, tahan emosimu, ngak baik bumil…” Deli mengulum senyum membayangkan sahabatnya naik darah.


“Kau di rumah sakit? Bukannya kau ikut menemani Dania?” Yanti dapat menebak keberadaan Deliana dengan berlatarkan suara mobil ambulance.


“Kau bukan saja menjadi bumil tapi penerawang juga sekarang,” sergah Deli.


“Del, suamiku saat ini bersama tuan Denny. Aku mau tahu, kenapa dia harus ke sana? Tapi, malah kau sudah pulang.” Suara Yanti sudah tidak meninggi.


“Iqbal, menemui Denny? Kenapa? Apa ada hubungannya dengan perempuan itu?” Batin Deli berkata-kata, terlintas bayangan wajah Jesika di kepala Deliana.


Pertemuan terakhir meninggalkan kesan tidak menyenangkan di hati Deliana. Denny lebih memilih mengejar perempuan yang sudah bersuami. Anehnya lagi, suami perempuan itu malah yang menemani hingga mengatarnya ke bandara.


“Del, kau masih di sana?” Suara Yanti kembali meninggi menunggu jawaban Deli.


“Hem, kenapa tidak kau tanya sendiri, Dia kan suamimu?” Deli menjawab dengan nada kesal, langkah kaki Deli membawanya ke luar bangunan rumah sakit menuju mobil yang tidak terparkir jauh.


“Kalau dia kasih tahu, kenapa aku harus bertanya, kau ini bagaimana sih?” Sergah Yanti.


“Sudah dulu, tunggu aku di rumahmu. Aku akan datang.” Deli memutuskan panggilan sepihak.


“Hei…tut…tut…tut…”Yanti menatap ponselnya kesal. Dia tidak ingin menunggu, dugaannya ada sesuatu yang di tutup-tutupi, rasa penasaran semakin mengurungnya.


Di rumah sakit.


Beberapa menit kemudian, seorang lelaki datang membawa kantong tas menghampiri Denny yang sedang duduk di selasar rumah sakit.


“Tuan, ini kiriman tuan Iqbal,” Ucapnya menyerahkan kantong tas kepada Denny.

__ADS_1


Denny menerima dan melihat isi di dalamnya, celana, baju, pakaian dalam dan jaket tebal.


“Bal, Kau sudah seperti mamaku saja,” Gumam Denny di dalam hati.


Langsung terlintas di kepala Denny wajah wanta tua itu. Hatinya kembali teriris, mengingat perbuatan yang sudah memisahkan Indah. Haruskan dia membenci mamanya, dan Hanna yang sudah tiada juga ikut terlibat. Hati Denny sudah memaafkan Hanna tapi mamanya seolah merasa tidak bersalah. Sekarang perempuan itu sudah muncul di hadapannya. Dia sangat ingin memiliki kembali, tapi dia sendiri belum yakin dengan status Indah dan kekerasan hati mamanya maukah menerima?


“Tuan, tuan,” laki-laki di hadapan Denny memanggil, melihatnya sedang berpikir berat.


“Hem… iya?” Denny tersadar dari pikiran menangkap kembali wajah di hadapannya.


“Tuan ini kartu pintu hotel, tuan Iqbal memintaku memesannya untukmu. Hotel berada tidak jauh di depan rumah sakit. Tuan bisa beristirahat di sana,” berucap sambil mengulurkan tangan.


“Baiklah, terima kasih. Kau bisa pergi.” Balas Denny sambil meraih pemberiannya.


“Iya tuan, saya akan pergi,” laki-laki muda membawa langkah meninggalkan Denny.


“Drekk, Drekk, Drekk, ponsel Denny memanggil dari balik saku jaket.


Tangan Denny bergerak mengambil ponsel. Matanya menatap tajam layar tipis yang masih menyala.


“Mama,” bisik hatinya, seolah telah terjadi kontak batin antara Denny yang baru saja mengingat wajah wanita tua itu.


“Hallo Denny, bagaimana keadaanmu?” Suara lembut dan tegas menyapa dari seberang. Walaupun mama Denny sudah berusia kepala enam, aura kepemimpinan masih melekat dan terasa kuat.


“Aku baik ma,” Jawab Denny singkat dan tidak semangat.


“Bagaimana keadaan cucu mama?” Kalimat bertanya masih menunggu di seberang.


“Nia, juga sehat ma,”


“Bukan Nia, tapi cucuku satu lagi,” Mama cepat menyambar kalimat Denny.


“Saka yang mama maksud? Bagaimana mama tahu?” Manik hitam Denny membulat besar dengan suara berat menekan kata-kata yang keluar.


“Denny kamu putra mama, apapun yang terjadi denganmu mama akan tahu. Jadi, bawa dia pulang.” Kalimat perintah mengalir ke luar.


“Ma, bagaimana mungkin aku membawanya, aku baru tahu dia putraku. Dia juga putra dari seorang ibu, bagaimana dengan Indah?” Denny berdiri dengan wajah memerah menahan amarah. Perintah mamanya sungguh tidak berperasaan, walaupun dia sangat ingin membawa putranya bersama tapi tidak mungkin Indah tidak ikut serta.


“Perempuan itu tidak bisa bersamamu, dia sudah bersuami. Ambil putranya, karena dia darah dagingmu dan pewarismu. Perempuan itu masih bisa memiliki keturunan lagi bersama suaminya. Itu bukanlah hal yang sulit, atau mama yang akan bertindak.” Kalimat perintah dan ancaman masih saja mendominasi sifat mama Denny.

__ADS_1


“Ini gila, mama ikut terlibat, hingga dia pergi dariku. Sekarang, dengan mudah mama ingin memisahkan dia dengan putranya setelah sepuluh tahun berlalu?” Denny menyapu kasar rambutnya, prustasi memikirkan tindakan kejam dalam diri sang mama.


“Iya, demi masa depan keluarga Prasetyo, darah tidak bisa berpisah dari turunannya. Dia salah satu keturunan kita, dan harus bersama kita. Jangan lemah dalam masalah ini, mama tidak ingin kamu menurutkan perasaan. Sampai sekarang kamu tidak ingin berumah tangga, mama sudah mengijinkan siapapun pasanganmu, tapi itu belum terjadi. Sedang cucu mama Dania sakit-sakitan, walaupun mama terkesan kejam tapi ini demi kebaikanmu, ingat itu.”


“Ma, dia sekarang tidak sadarkan diri. Apa mama tidak tahu, nyawanya sedang terancam.” Cairan bening menggenang di manik hitam Denny.


“Mama tahu, yakinlah dia baik-baik saja. Pikir dan putuskan, mama menunggu jawabanmu. Tut, Tut, Tut,” suara terputus sepihak tanpa menunggu persetujuan lawan bicara.


“Tapi ma, Aku…” Denny tak mampu melawan tekanan mamanya. Dia semakin prustasi, wajahnya yang terlihat lelah dua hari ini di rumah sakit tanpa istirahat semakin suram. Tanpa sadar sebuah pukulan kuat menyasar ke dinding. Tangan terbalut perban, kembali basah cairan merah.


Di tempat terpisah, sebuah mobil memasuki lahan parkir sebuah gedung apartemen. Terlihat seorang gadis cantik ke luar dari mobil dan melangkah dengan anggun memasuki gedung apartemen mewah. Langkah kaki masuk ke lift dan tak lama langkah itu kembali anggun melenggang. Lalu, berhenti di depan sebuah pintu dan menekan tombol kecil pada layar monitor menempel di dinding.


“Ini aku,” berucap sambil mengembangkan senyuman.


“Klek,” suara pintu terbuka.


“Kenapa lama, aku sudah mau tidur.” Sapa Yanti sambil mencium pipi kiri-kanan Deliana sahabatnya.


“Sorry bumil, aku beli ini dulu sebelum kemari. Aku tidak sempat beli oleh-oleh, keburu harus pulang. Jadi untuk menebusnya ambil ini.” Deli menyerahkan sebuah kantong kecil kepada Yanti.


“Hem, dari harumnya aku bisa menebak “durian”, aku sangat mencintaimu,” Yanti ingin memeluk Deliana kembali tapi sepasang tangan menahannya.


“Jangan sentuh aku pengkhianat, kamu mencintaiku tapi menikah dengan orang lain dan sekarang hamil,” seketika suasana hening, Deli memasang wajah marah.


“Ha..ha..ha..,” tawa pun pecah menguap di ruangan.


“Kalau kamu laki-laki, sudah lama aku menikah denganmu,” Ucap Yanti tak sabar membuka kotak buah durian.


“Hei, jangan banyak-banyak nanti bayimu disco karena kepanasan di dalam,” Deli menyapu lembut perut Yanti terlihat bulat menonjol.


“Iya aku tahu, syukur ngak ada mas Iqbal. Kalau dia ada, aku tidak akan diizinkan memakannya. Hem…” Ucap Yanti memulai aksi melahap satu batu buah durian.


“Udah cukup,” Deli mengambil kotak dari tangan Yanti, dia tidak ingin Yanti rakus melahap semuanya.


“Hem…, satu lagi. Please satu aja, Del,” Yanti menunjuk jari telunjuk ke arah Deli dengan memasang wajah imut.


“Dasar kau, ini ambil. Cepat habiskan, aku ingin bertanya sesuatu?” Deli memasang wajah serius.


“Hem… Terima kasih Tuhan kau ciptakan buah senikmat ini,” Ucap Yanti sambil melahap perlahan menikmati buah kesukaannya.

__ADS_1


Deli hanya memasang senyum melihat tingkah sahabatnya, dalam hati dia tidak sabar menanyakan sesuatu yang menggantung di kepala. Sedangkan Yanti sepertinya sudah lupa tujuan awal kedatangan Deli karena asik menikmati si raja buah.


__ADS_2