Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 123 Cerita Dania 2


__ADS_3

Sepasang manik hitam sendu Jesika menangkap bayangan tubuh belakang Dania yang sedang asik bermain. Anak itu seolah tanpa beban, walau tubuhnya bersarang suatu penyakit mematikan. Dia selalu tersenyum ceria dengan menampakkan barisan gigi putihnya yang rapi.


Dania asik bermain dengan boneka barbie, suara-suara kecil terdengar keluar dari bibir mungilnya. Tangan lembut itu mengayun-ayunkan boneka Barbie di dalam gendongannya. Sesekali kecupan hangat diberikan mendarat di mainan boneka barbie.


Manik hitam menangkap cairan merah menempel di wajah boneka kesayangannya. Dalam hitungan detik, cairan merah itu terlihat di baju yang ia kenakan.


“Papa, huuu….huuu… huuuu……,” Dania menangis, cairan merah sudah berpindah di tangan saat dia merasakan basah di hidung .


Bik Surtik yang sedang duduk bersama Jesika mendengar isakan Dania, manik hitamnya membesar menatap tubuh Dania bergetar. Bik Surti beranjak dan berlari menghampiri Dania.


Deg.


Jantung Bik Surtik berdegup hebat, manik hitamnya menyaksikan cairan merah menghiasi wajah dan bibir Dania hingga menetes ke bajunya.


“Non, ya ampun Non, kenapa begini?” Ketakutan seketika menjalar ke seluruh tubuh Bik Surtik.


Mendengar teriakan Bik Surtik di sela tangis Dania, Jesika terperanjat dan cepat mendekati kedua orang yang sudah berpelukan di depannya.


“Kenapa Bik?” Jesika menatap sekilas wajah Bik Surtik penuh kekhawatiran, kemudian manik hitamnya jatuh menangkap wajah Dania dalam pangkuan.


“Hah, Dania,” Suara Jesika tersekat melihat tubuh kecil itu berubah lemas dengan wajah pucat berhiaskan cairan merah.


“Bik, cepat telpon dokter,” Jesika tanpa pikir panjang mengambil tubuh Dania, sambil berlari membawanya ke sofa dan membaringkan perlahan.


Bik Surtik masih tidak sadar dalam kecemasan, kepanikan masih mengikat hingga membekukan isi kepala tidak mampu berpikir.


Jesika menngedarkan pandangan sekeliling, mencari-cari sesuatu yang bisa membersihkan dan menahan cairan merah mengalir dari hidung Dania. Tidak dapat yang dibutuhkan, Jesika membuka blouse yang melekat ditubuh. Tentunya dia masih memiliki sehelai tank top yang menempel ketat hingga melihatkan dua benjolan tubuh idealnya.


“Bik, telpon dokter sekarang,” suara Jesika memenuhi ruangan melirik Bik Surtik masih terpaku. Kepala Dania di atas pangkuan Jesika agar lebih tinggi dari tubuhnya, berharap cairan merah itu berhenti mengalir keluar, kedua tangannya sibuk membersihkan.


Bik Surtik tersentak sadar dan mengingat ucapan Jesika, dengan cepat meraih ponsel dari saku baju. Manik hitamnya menatap layar tipis dengan jari tangan sibuk menari-nari mencari nomor yang akan dihubungi.


“Tut…Tut….Tut….Tuttttttttttttt,” nomor panggilan tanpa terjawab berlalu begitu saja.


Bibir Bik Surik mendesah kecewa yang ditelpon tidak mengangkat panggilan. Berkali-kali dilakukan tetap tidak dianggat.

__ADS_1


“Bagimana Bik?” Suara Jesika kembali memecah keteganan Bik Surtik.


“I..Iya Non, Bik berusaha menelpon,” Jawab Bik Surtik.


“Kenapa ngak diangkat, tuan sedang apa sekarang?” Keluah batin Bik Surtik. Dia harus pertama sekali menghubungi Denny sesuai perintah diterima. Kepala Bik Surtik kembali berpikir dengan manik hitam menatap lekat layar tipis. Satu nama muncul di kepalanya tanpa diundang.


“Tut…Tut…Tut…” Hallo,” Ada apa Bik?” Suara orang di seberang terdengar menjawab panggilan Bik Surtik. Garis kelegaan terpancar di wajah Bik Surtik mendengakan suara.


Bik Surtik pun langsung ba-bi-bu menjelaskan apa yang terjadi.


“Baik tuan,” Suara terakhir bik Surtik mengakhiri panggilan.


Jesika mendengar ucapan Bik Surtik dan merasa kesal, karena bik Surtik bukannya menelpon seorang dokter malah menelpon Iqbal.


“Apa yang dipikirkan Bik Surtik sih, situasi seperti ini harusnya menelpon dokter, bukannya sibuk memberi laporan,” Gerutu Jesika dalam hati menatap tajam ke arah Bik Surtik.


“Bik, cepat ambilkan kain dan batu es,” perintah Jesika, ide di kepala muncul untuk menghentikan cairan merah mengalir keluar.


“I..iya Non,” Bik Surtik berlari meninggalkan Jesika dan Dania.


Deg.


Sesuatu mencubit di dalam sana mendengar kata-kata Dania, seketika manik hitam Jesika berembun menatap sendu wajah Dania.


“Ee..enggak sayang, kamu akan sembuh. Dania masih kecil, Tuhan sayang sama anak kecil dan dia akan beri umur panjang. Jadi Nia berdoa, minta cepat disembuhkan.” Jesika tidak mampu menahan bulir bening jatuh di sudut kelopak kedua manik hitam. Tangannya beralir mengusap lembut pucuk kepala Dania.


“Kalau Nia mati, kasihan papa akan sendiri. Mama udah pergi duluan begitu Nia dilahirkan. Papa pasti akan sedih dan kesepian.” Ucap Nia dengan mata menerawang menatap langit-langit ruangan.


Bik Surtik tiba dengan membawa kain bersih dan semangkok batu es.


Jesika meraih batu es dan membungkus di dalam kain bersih. Kemudian menempel-nempel di area hidung Dania.


Bik Surtik terisak mendengar ungkapan perasaan anak kecil seusia Nia menggambarkan perasaan papanya.


“No..Non Nia kasihan papakan? Ja..jadi Non harus semangat untuk sembuh.” Ucap Bik Surtik berjongkok disamping tubuh Dania tak mampu menahan isak tangis.

__ADS_1


Cairan bening tak mampu dibendung Jesika, lolos dengan deras mengalir di kedua pipinya.


“Bik, kenapa lama? Bagaimana kalau kita bawa Nia ke rumah sakit aja?” Jesika sudah tidak sabar menunggu lagi. Blouse di tangannya sudah basah dengan cairan merah.


“Sabar Non, sebentar lagi mereka pasti nyampek.” Bik Surti tidak berani membawa Dania ke rumah sakit tanpa perintah Denny.


Tak..Tak…Tak…” Terdengar hentakan langkah kaki menghampiri.


Jesika mengalikan pandangan, ke arah seorang lelaki yang wajahnya tidak asing. Membawa tas hitam di tangan dengan kemeja berwarna hijau muda di balut jas hitam. Lelaki itu adalah Dokter Harun, Jesika belum dapat mengingat namanya mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak bertemu.


Bik Surtik beranjak dan mundur mempersilahkan lelaki itu mendekat.


“Bagaimana keadaannya?” Harun bersuara dengan tatapan jatuh ke wajah Dania.


“Tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah, aku sudah berusaha mengompresnya dengan batu es. Tapi masih juga belum berhenti.” Jawab Jesika menatap wajah lelaki di hadapannya.


Sedang lelaki itu tidak membalas tatapannya.


Harun menjaga pandangannya, begitu sampai di ruangan itu, dia terkejut melihat kondisi Dania dalam pangkuan Indah berbalutkan tank top ketat. Dua tonjolan terekspos dengan jelas, kulit putih mulus nan lembut terlihat jelas di dada dan kedua lengan.


Baginya hal itu biasa mengingat propesi seorang dokter yang selalu berdekatan dengan organ tubuh manusia. Tapi yang dilihat sekarang perempuan yang bagai bangkit dari kematian, jadi manik hitamnya ingin mengamati.


Awalnya dia menolak permintaan Iqbal memeriksa keadaan Dania, karena dalam perawatan dan pengawasan Deliana. Akhirnya dia pun datang dengan alasan yang akan dia dapatkan sendiri setelah tiba di rumah seperti ucapan Iqbal.


Setelah melihat Indah dia pun tahu mengapa dirinya harus datang, menghindari Deliana bertemu dengan Indah itu dalam pikirannya. Karena dia tahu, bertahun-tahun Deliana berusaha mendekati Denny namun tidak berhasil.


“Nia, mari sama Om ya, kita ke kamar.” Harun berusaha tenang di dalam keterkejutan dan keingin tahuan yang luar biasa.


“Hemmm…” Nia mengangguk kepala.


Seulas senyum tersungging di bibir Harun membawa keteduhan di hati Dania. Kedua tangan Harun meraih tubuh Dania dan membawa dalam gendongannya.


“Bersihkan tangan dan tubuhmu, biar aku mengurus Dania. Jangan khawatir dia tidak apa-apa.” Ucap Harun menatap Jesika dan berlalu membawa Dania menaiki anak tangga menuju kamar. Bik Surtik melangkah dengan setia mengikuti dari belakang.


“Hah, i..iya,” Jesika tergagap mendengar kata-kata yang dia dengar.

__ADS_1


“Segampang itu menyimpulkan keadaan Dania tidak apa-apa. Apa dia tidak lihat, cairan merah dibajuku ini? Dia dokter atau apa sih? Bukannya membawa Dania segera ke rumah sakit malah membawanya ke kamar?” Jesika kesal dan menarik tubuhnya beranjak menuju kamar dengan menapaki anak-anak tangga.


__ADS_2