Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 40 Menghindar


__ADS_3

Di rumah sakit, Hendrik memutuskan tidak pulang. Dia khawatir, kalau Indah sadar tidak ada orang di sisinya.


“In, aku akan menunggumu di sini dan maafkan, aku telah mencampuri urusan pribadimu.


bisik batin Denny menatap Indah terbaring lemah.


“Hei, Hendrikkan?” Seseorang menyapa.


“Iya, saya Hendrik. Anda siapa?” Hendrik balik bertanya kepada pria dengan wajah terlindung masker dan berpakaian jas putih.


“Aku Harun,” menarik masker menunjukkan wajah dan memakainya kembali.


“Dokter Harun, tugas di sini? Syukurlah, akhirnya ada yang aku kenal.” Ucap Hendrik.


“Ya, dan kenapa di sini, siapa yang sakit?” Tanya Harun.


“Teman, sudah mendapat perawatan. Tapi belum tahu hasil pemeriksaannnya, menunggu dokter,” Jelas Hendrik.


“Teman, Siapa namanya? Mungkin bisa aku bantu,” Ucap Harun.


“Namanya Indah,” Jawab Hendrik.


“Indah?” Harun berpikir sejenak, nama itu tidak asing baginya.


“Dia masuk hari ini, tepatnya siang tadi. Tubuhnya panas dan keadaannya sangat lemah. Jadi aku membawanya ke mari agar mendapatkan perawatan.” Jelas Hendrik.


“Di ruangan ini?” jari telunjuk mengarah ruang tepat di hadapan mereka.


“Iya, benar. Tolonglah, aku sangat mengkhawatirkannya,” pinta Hendrik.


“Baiklah, tunggu di sini. Aku akan segera kembali setelah memeriksanya.” Harun menatap wajah Hendrik.


“Ya,” terlihat kelegaan di wajah Hendrik karena Harun mau membantunya.


Harun melangkah masuk setelah menjumpai perawat meminta hasil laporan pemeriksaan Indah.


“Indah?! Benar ternyata kamu.” Gumam Harun saat melihat wajah Indah.


Harun pun melakukan tugasnya, memeriksa kondisi Indah dan membaca kertas hasil pemeriksaan di tangannya. Lalu mengkah pergi meninggalkan Indah.


“Hendrik, Indah hanya demam biasa. Tapi tetap harus dirawar hingga kondisinya benar-benar aman.” Ucap Harun.


“Syukurlah, terima kasih.” Balas Hendrik.


“Saranku, lebih baik kamu pulang dan beristirahat. Keadaan sekarang sangat tidak aman, kamu harus menjaga kesehatan. Dia di sini dalam pengawas kami. Besok kamu bisa datang melihatnya,” jelas Harun.


“Baiklah, aku akan mendengarkan saranmu. Ini kartu namaku, tolong hubungi aku kalau membutuhkan sesuatu.” Hendrik mengulurkan selembar kartu nama.


“Iya, baik.” Balas Harun menerima pemberian Hendrik.

__ADS_1


“Kalau begitu aku pergi dulu, dan sekali lagi terima kasih.” Ucap Hendrik.


“Iya, jangan khawatir. Aku juga harus memeriksa yang lain.” Ucap Harun.


Berdua mereka berpisah, melangkah ke tempat tujuan masing-masing.


Di apartemen Denny.


“Suara itu pasti Hendrik. Indah, kenapa kau lebih mau bersama dia.” Denny sangat kesal.


“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel berbunyi.


“Harun, kenapa dia menghubungiku disaat yang tidak tepat?” Melihat nama di layar ponsel.


“Hallo, Harun ada apa menelponku?” Tanya Denny.


“Kau di mana sekarang?” Tanya Harun kembali.


“Aku di apartemen, ada apa cepat katakan. Aku sedang tidak ingin diganggu sekarang.” Balas Denny.


“Sebenarnya aku ingin memberitahukan keadaan Indah. Tapi, karena kau tidak mau diganggu. Aku tutup saja telponnya.” Ucap Harun.


“Indah? Hei tunggu, jangan ditutup. Katakan kenapa Indah?” Tanya Denny keheranan.


“Kau memang gampang ditebak.” Goda Harun.


“Ayolah Harun, jangan bercanda. Cepat katakan, kenapa Indah?”


“Dia sakit?” Aku akan ke sana sekarang.” Ucap Denny dan langsung memutuskan pembicaraan.


Denny telah tiba di rumah sakit.


“Harun, kau di mana? Aku di depan ruang IGD sekarang.” Ucap Denny di ujung ponselnya.


“Oke, biar aku menemuimu.” Balas Harun.


Denny berusaha tenang, walau sebenarnya perasaannya saat ini sangat tegang. Tak beberapa lama seseorang pria melambaikan tangan ke arahnya. Denny mengenal pria itu walau separuh wajahnya tertutup masker.


“Pakai ini, kau harus menjaga kesehatanmu.” Harun menyerahkan sehelai masker.


“Terima kasih,”Denny memakai masker pemberian Harun.


“Mari ikut aku.” Ucap Harun melangkah mendahului Denny.


Denny pun menuruti langkah Harun dari belakang.


Di ruang perawatan, perlahan Indah membuka kelopak matanya yang terasa berat.


“Ahh, di mana aku. Kenapa aku di sini?” Indah tersadar dan berusaha mengingat kembali apa yang sudah menimpa dirinya.

__ADS_1


“Hendrik, aku tadi bersama Hendrik di dalam mobil. Tubuhku lemah dan terasa panas, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi. Sepertinya aku di ruangan rumah sakit sekarang. Hendrik, dasar anak itu, kenapa membawaku ke mari.” Batin Indah dan pandangan mengitari ruangan.


Berdua Harun dan Denny tiba di depan ruang perawatan Indah.


“Dia di ruangan ini,” Ucap Harun.


“Aku ingin menemui,” Balas Denny.


“Bisa, tunggu sebentar dan oleskan ini keseluruh tanganmu,” Harun memberikan cairan gel antiseptik ke tangan Denny.


“Aku bisa masuk sekarang?” tanya Denny tidak sabar.


“Iya, masuklah.”


Harun membuka pintu dan Denny melangkah masuk.


“Siapa yang masuk, apa Hendrik?” Indah berusaha melihat seseorang yang datang.


“Sepertinya bukan? Siapa dan kenapa dia disini?” Batin Indah dan menutup matanya berpura-pura tidur kembali.


Perlahan Denny melangkahkan kaki menghampiri ranjang Indah. Sekarang dia telah berdiri di samping Indah.


“Maafkan, aku telah menduga yang tidak-tidak. Ternyata kamu terbaring sakit sekarang. Kamu tahu, awalnya aku sangat marah karena kamu tidak datang menemuiku. Aku tidak sabar menunggu jawabanmu selama tiga hari ini. Aku menelponmu, tapi orang lain yang mengangkatnya. Dan mengatakan kamu bersamanya. Aku sedih dan kecewa karena kamu lebih memilih dia. Tapi dugaanku salah. Indah, aku sangat takut saat mengetahui kamu berada di rumah sakit. Aku sangat takut kehilanganmu.” Ucap Denny menatap wajah lemah Indah dan memegang tangannya.


“Pak Denny? Apa maksud ucapannya? Tiga hari? Ya, Tuhan aku lupa. Kalau aku harus memberikan jawaban. Dia memintaku menjadi wanitanya. Aku harus jawab apa? Hanna, bukankah dia sudah memiliki Hanna sebagai kekasihnya. Apa itu tidak cukup, dan dia mengancamku kalau tidak menerimanya. Tapi kenapa dia sedih, kecewa dan takut kehilanganku? Aku sungguh tidak mengerti.” Keluh batin Indah.


Denny duduk di samping Indah dan terus menggenggam tangannya. Matanya menatap lekat wajah Indah.


“Ada apa denganku, jantungku berdebar sangat cepat. Tangannya lembut dan hangat. Tuhan, perasaan apa ini? Haruskah aku mengabulkan keinginannya?” Keluh Indah.


“Indah, aku sangat menginginkanmu,” Ucap Denny.


Indah membuka kelopak matanya, menatap Denny menundukkan kepala menggenggam tangannya.


Perlahan Indah menarik tangannya.


“Indah, kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Tunggu, aku akan kembali,” Denny beranjak bangun dan melangkah keluar. Indah menatap punggung belakang Denny.


“Dia benar-benar menginginkanku, sebagai apa? Wanita simpanannya? Tidak, aku tidak bisa melakukannya.” Indah bangun dan berusaha berjalan ke luar ruangan.


Denny kembali ke ruangan Indah bersama Harun.


“Indah, kemana dia?” Denny terkejut melihat Indah tidak ada.


“Mungkin dia ke kamar mandi,” Harun melangkah ke kamar mandi.


“Tidah ada, dia sudah pergi,” Ucap Harun.


“Dia pergi? Kenapa?” Tanya Denny tidak percaya.

__ADS_1


Denny dan Harun ke luar ruangan mencari Indah.


__ADS_2