
Mobil masih melaju, membawa perasaan Indah yang tidak menentu.
“Aku hampir melakukan kesalahan. Syukur ciuman itu tidak terjadi. Ciuman pertamaku harus bisa kuserahkan pada suami di malam pertama tentunya. Aku akan menjauh dari pria ini. Entah setan apa membuat tingkah dan pikiranku akan menjadi tidak terkendali kalau terus berdekatan dengannya.” Indah membatin.
“Mana ponselmu?” suara Denny memecah kesunyian seketika.
“Ahh, ponsel? Iya ada, tunggu sebentar,” Indah mencari di dalam tas kecilnya.
“Ini.” Indah menunjukkan ke arah Denny.
“Panggil nomorku,” Denny tidak menemukan ponselnya di kamar, dugaannya tertinggal di dalam mobil.
“Iya,” Indah memainkan jarinya di atas layar ponsel.
“Treek, Treek, Treek,” terdengar suara irama ponsel.
“Sepertinya suara itu dari sini,” Indah berusaha mencari sumber suara.
Denny hanya melirik tingkah Indah dari sudut matanya.
“Oh..ini dia. Inikan ponsel…? Pantasan dipakaian ngak ketemu, jatuh di sini,” Gumam Indah, mendapatkan ponsel di bawah bangku mobil.
“Ternyata di dalam mobil, syukur bisa ketemu,” Dugaan Denny benar ponselnya ada di dalam mobil.
“Coba lihat, panggilan masuk,” Denny harus mengetahui panggilan yang masuk di ponselnya. Sebagai pebisnis, panggilan penting tidak boleh terlewatkan. Karena membangum kepercayaan dan kerja sama sangat sulit di dunia persaingan bisnis.
“Pria ini, kenapa juga harus aku? Apa dia mau pamer ada panggilan dari kekasihnya?” Indah menatap Denny, dirinya merasa berat membuka ponsel Denny.
“Cepat lihat, jangan banyak pikir,” suara Denny terdengar lagi.
“Iya,” dengan berat hati Indah terpaksa mengecek ponsel Denny.
“Nomor tidak dikenal menghubungi berkali-kali, ada Sekretaris Iqbal, Mama, Pak Jung.” Satu persatu Indah membacakan nama-nama yang terlihat di layar ponsel.
”Ada urusan penting apa Pak Jung menghubungiku? Nanti aku akan menghubunginya,” Pak Jung tidak akan menghubunginya kalau tidak suatu yang penting.
“Masukkan ponsel ke saku jas bagian dalam,” Denny menggoda Indah lagi. Dia suka melihat kegugupan Indah.
“Apa lagi, kenapa harus saku jas bagian dalam? Pria ini, mau bermain-main dengan ku?” Lirih Indah.
“Tidak, di sini lebih baik.” Memasukkan ponsel ke saku bagian depan jas.
Indah memalingkan wajah. Denny hanya tersenyum melihat perubahan sikap Indah
Setelah sampai di depan rumah kontrakan Indah.
“Aku mengantarmu sampai di sini, masih ada keperluan,” ucap Denny menatap Indah.
“Terima kasih sudah mengantar saya pulang,” Indah tersenyum menatap Denny.
“Terima kasih juga, sudah menjagaku tadi malam,” Walaupun berusaha menyembuyikan perasaannya, terlihat garisan di sudut bibir Denny.
“Tidak masalah. Baiklah saya akan ke luar,” Indah senang bisa menolong meskipun tidak sebanding pertolongan yang diberikan Denny kepadanya.
__ADS_1
“Hemm, jawab Denny menganggukkan kepala.
"Hati-hati,” Ucap Indah penuh perhatian.
Tidak terdengar balasan Denny, Indah pun membuka pintu mobil dan melangkah ke keluar.
Pintu tertutup kembali dan perlahan mobil berjalan lalu menghilang dari pandangan Indah.
“Aku belum bisa bersama Indah dengan bebas, Mama pasti menyuruh Pak Jung terus memata-mataiku. Sampai kapan Mama mau mengurusi masalah pribadiku?” Keluh Denny membatin.
“Dasar pria dingin, tidak ada gunanya memberikan perhatian. Aku harus cepat bersiap, jangan sampai terlambat dihari pertama tugas baru.” Gumam Indah melirik jam di tangan lalu berlari kecil memasuki rumah.
Indah telah berada di kantor perusahaannya bekerja.
Berdua bersama Hendrik berada di dalam lift, mereka akan memulai pekerjaan tugas baru. Indah menatap lembaran kertas di tangannya. Beberapa nama sudah diberi tanda, sebagai urutan akan mereka temui. Sebelumnya, membuat janji bertemu harus dilakukan supaya tidak kecewa, alih-alih sang tamu tidak berada di tempat. Mereka berdua memutuskan, menghubungi saat di mobil dalam perjalanan nanti.
Lift berhenti sejenak, lalu pintu terbuka. Terlihat Iqbal dan Denny sedang menanti di depan pintu lift.
“Selamat siang Pak,’ sapa Hendrik saat Iqbal dan Denny melangkah masuk.
Iqbal membalas dengan senyuman, sedangkan Denny tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Hassimmm, “ tiba-tiba Indah bersin.
“In, kamu sakit?” tanya Hendrik memegang bahu Indah.
“Tidak, sepertinya sedikit flu karena kurang tidur tadi malam,” jawab Indah menatap Hendrik.
“Pakailah sapu tangan ini, sebelum kau menularkan virus ke semua orang,” Hendrik mengeluarkan sehelai sapu tangan dari saku bajunya.
"Kenapa, ini bersih kok" Hendrik takut Indah merasa jijik dengan sapu tangannya. Sapu tangan itu baru dibelinya.
"Nanti sapu tanganmu kotor,” Indah tidak enak menerima pemberian Hendrik.
“Jangan menolak. Aku masih punya banyak kok,” Hendrik memegang tangan Indah dan meletakkan sapu tangan.
“Terima kasih, Hendrik kamu memang sangat perhatian,” balas Indah melirik pria yang ada di hadapannya.
Kaki kanan Denny tak terasa melangkah ke depan, tubuhnya ingin membalik mendengar ucapan Indah.
Iqbal menahan tangan Denny. Pantulan bayangan Indah dan Hendrik terlihat jelas, di pintu kaca lift. Denny dan Iqbal melihat keakraban kedua orang yang berdiri di belakang mereka. Tatapan Denny tajam mengarah ke bayangan Hendrik.
“Sial, lagi-lagi tangan pria ini memegang Indah,” batin Denny sambil mengepal erat tangannya dan melepaskan cengkraman tangan Iqbal.
“Hem…Denny, kau terbakar cemburu,” Iqbal melihat perubahan raut bayangan wajah Denny di depannya.
Indah dan Hendrik masih terus berbicara, tidak menyadari menjadi perhatian Denny dan Iqbal. Lift pun berhenti di lantai satu, bersama-sama mereka melangkah ke luar.
Denny dan Indah tinggal berdua di depan pintu masuk perusahaan. Bersama mereka menunggu mobil yang akan menghantar mereka ke tempat tujuan. Indah sesekali mencuri pandang ke arah Denny. Tapi terlihat Denny bersikap dingin tanpa sedikit pun menoleh ke arah Indah.
Mobil Iqbal datang, Denny langsung mendekat, membuka pintu dan melangkah masuk. Mobil pun melaju meninggalkan Indah.
“Pria itu, kenapa seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Apa dia lupa ingatan?”
__ADS_1
Pertanyaan menggantung di kepala Indah melihat perubahan sikap Denny. Mobil Hendrik pun datang menjemput Indah. Lalu mereka berangkat menuju tempat yang sudah dijanjikan.
Di mobil Denny.
“Mengapa dia pergi dengan pria itu?” Hati Denny masih terbawa kesal membayang keramahan Indah dengan laki-laki lain.
“Siapa yang kau maksud?” Iqbal mengetahui perasaan tidak tenang yang melanda hati Denny saat ini.
“Ditanya malah bertanya, siapa lagi kalau bukan Indah?” Denny semakim kesal dan melemparkan pandangannya ke kiri menatap ke luar jendela, Iqbal tidak mengerti perasaannya.
“Oh Indah, dia mendapat tugas mengundang para tamu VIP, dan pria itu teman sekaligus rekan satu tim,” jelas Iqbal dengan tersenyum memandang wajah Denny dari balik kaca spion.
Di mobil Indah.
“Dasar pria aneh,” gerutu Indah. Pikirannya masih mengingat sikap dingin Denny.
“Apa In, aku aneh, apanya yang aneh, ada yang salah dengan diriku?” tanya Hendrik heran mendengar ucapan Indah.
“Bukan kamu Hen,” Indah gugup menjawab, suaranya tanpa sadar terdengar Hendrik.
“Jadi siapa dong?” tanya Hendrik lagi. Dia ingin tahu apa yang mengganggu pikiran Indah.
“Sudah ah, jangan banyak tanya, fokus aja ke depan." Indah tidak bisa menceritakan masalahnya. Dia malu dianggap bodoh memikirkan Denny. Karena dia bukan apa-apanya Denny juga.
Hendrik menggaruk-garuk kepala walaupun tidak terasa gatal. Bingung dengan sikap Indah.
Di mobil Denny.
“Pindahkan Indah ke divisi lain,” Denny belum bisa meredam kesalnya.
“Kamu cemburu?” Iqbal tersenyum melihat sikat Denny.
“Ya, aku cemburu, aku tidak senang melihat pria itu dekat dengan Indah,” Wajah Denny memerah.
“Aku dengar-dengar, pria itu telah lama mencoba mendekati Indah. Tapi Indah masih menganggapnya sebagai teman. Mereka telah berteman lama, sejak dari bangku kuliah," Iqbal telah mencari tahu hubungan Indah dan Hendrik. Informasi itu penting, karena Denny menaruh perasaan pada Indah.
“Awasi dia, jangan sampai macam-macam,” mata Denny menajam seketika.
“Sampai sejauh ini, tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya berteman dekat,” Iqbal berusaha meredam amarah Denny.
“Aku tetap tidak suka,” balas Denny.
“Kita bawa paksa aja kembali ke apartemen, bagaimana?” goda Iqbal.
“Dasar kau, pakai otak kalau ngomong,” memukul bangku sandaran Iqbal.
“Sory-sory, biasanya wanita itu memang sukanya dipaksa,” celetuk Iqbal.
“Diam kau, dia bukan wanita seperti itu,” ucap Denny.
“Kenapa, apa kau sudah mencoba menciumnya paksa?” wajah Iqbal penasaran.
“Tidak, aku bukan pria seperti itu,” Jawab Denny Kesal.
__ADS_1
“Memaksakan kehendak sendiri bukan sifatku. Aku akan membuatnya mencintaiku,” senyum menggaris di wajah Denny, membayang saat hampir terjadi ciuman dirinya dengan Indah.
Mata Denny memandang jauh ke luar Jendela. Iqbal mencuri pandang dari balik spion. Terbit rasa ingin tahu yang kuat melihat Denny menjadi diam dan tersenyum. Sesuatu telah terjadi, dan itu menjadi rahasianya.