Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 120 Kelumpuhan


__ADS_3

Story Oof ( POV Saka )


Hawa dingin terasa menusuk kulit, Saka mulai sadar dari tidur. Setelah operasi, Saka tertidur selama 96 jam, efek obat bius di tambah obat tidur di suntikkan dalam tubuhnya. Sayup telinganya menangkap suara-suara berbicara di dalam ruangan. Kelopak mata perlahan dia buka, sangat berat seperti bongkahan batu yang menggantung ditambah cahaya menyilaukan enggan kelopak itu terbuka. Suara-suara itu semakin jelas di telinganya. Suara orang-orang yang tidak dia kenal.


“Bagaimana keadaanya?” Suara wanita tua terdengar bergetar bertanya pada seseorang. Sepertinya wanita itu sedang menahan tangis.


“Nyonya, keadaannya stabil tapi sebelum dia sadar saya tidak bisa pastikan kondisi tubuhnya.” Jawaban terdengar dari suara laki-laki.


“Apa maksudmu?” Suara lelaki lain yang terdengar lebih tua.


“Begini, operasi dilakukan untuk anak seusia cucu nyonya dapat dikatakan sebagai operasi besar. Tindakan yang dilakukan membuka tengkorak kepala yang melapisi otak, dan mengangkat benjolan menempel di bagian belakang otak. Jaringan-jaringan yang melindungi otak tidak sedikit kemungkinan terganggu dan ikut terangkat. Akibatnya juga memiliki resiko yang besar. Seharusnya operasi bisa dilakukan diusia lebih siap dari sekarang. Benturan di kepala menyebabkan benjolan menekan otak, dan pasokan oksigen berkurang karena cairan di otak tidak lancar hingga memenuhi otak. Terpaksa benjolan diangkat, kalau tidak cucu nyonya akan koma dan berakibat kematian. Setelah operasi, benjolan berhasil diangkat dan cairan tidak lagi memenuhi otak. Sekarang kita menunggu reaksi tubuh dari fungsi otak. Efek yang paling fatal kelumpuhan atau amnesia. Itu dapat diketahui setelah cucu nyonya sadar.” Suara laki-laki itu berbicara sangat detil tanpa ragu.


Saka menyimak pembicaraan, cucu yang disebut-sebut menjadi tanda tanya besar bagi dirinya. Matanya masih belum bisa terbuka, dia berusaha tapi tetap tidak bisa. Suara-suara itu masih mengganggu ditelinga, dia ingin mengetahui siapa mereka dan siapa yang mereka bicarakan. Perdebatan dikepalanya membuat dia lelah dan tertidur.


Kembali Saka tersadar, kelopak matanya masih belum mau terbuka lebar dan bertahan menempel. Suara-suara tidak lagi dia dengar, di sekitarnya terasa sepi. Cahaya bayangan putih menggantikan kelam ruang manik hitamnya.


Perlahan dia merajut kepingan-kepingan bayangan ingatan seperti puzzle dan akhirnya terkumpul membentuk gambar yang sempurna.


Dia ingat terakhir sebelum tidak sadarkan diri berbicara dengan sang mama dan papa Hendrik. Juga bayangan wajah Denny jelas dalam ingatannya. Perdebatan terjadi dan selanjutnya dia tidak ingat lagi.


Saka perlahan menggerakkan tangan dan “deg” ada sesuatu yang membuatnya sangat takut seketika. Dia tidak bisa merasa dan menggerakkan kedua kaki. Berkali-kali dia mencoba tapi tetap tidak bisa.

__ADS_1


“Mamaa,” batinnya menjerit, rasa takut semakin memenjara. Dia membutuhkan sang mama, tapi tidak ada di sampingnya memberikan pelukan dan perlindungan seperti biasa dia dapatkan.


Tiba-tiba sebuah sentuhan terasa di pipi dan keningnya mendarat sebuah kecupan. Hati Saka menghangat, dia mencium aroma kuat yang menenangkan.


“Hai teman, bagaimana keadaanmu?” Suara itu tiba-tiba menyentak kesedihan Saka. Kalimat yang pernah didengar. Kepalanya tanpa diperintah memunculkan bayangan wajah lelaki itu.


Lelaki yang berhasil membuat mamanya gelisah, tidak seperti papa Hendrik walaupun jarang bertemu tapi mama bersikap biasa saja. Tidak marah karena lebih mementingkan pekerjaan dari pada bersama-sama mereka.


Saka membuat kesimpulan sendiri bahwa ada suatu rahasia dan berdebat dengan sang mama. Namun, sebelum jawaban didapat dia terlanjur tidak sadarkan diri.


Inilah saat mendapatkan sebuah kebenaran dari dugaan dan keragu-raguan. Saka ingin mendapatkan pengakuan dari laki-laki yang ada didekatnya saat ini. Kelopak mata yang menempel, kembali berusaha dia buka.


Berhasil, manik hitamnya tanpa halangan terbuka. Wajah lelaki itu terpampang jelas di hadapan. Garis wajah yang tegas, bulu-bulu halus mulai membayang di kedua pipi putih mulusnya, di dagu dan di atas bibir. Wajah itu terlihat sendu, manik hitam Saka menatap dalam sepasang manik hitam berbalut embun membentuk bingkai kaca bening.


“I…iya sayang, Papa di sini. Kamu jangan takut lagi, kita akan pulang bersama.” Kata-kata itu dengan jelas terekam. Suara serak dengan diiringi isak terasakan berembus di telinga. Pengakuan itu berhasil dia dapat merobohkan keragu-raguannya.


Sosok papa yang sangat dia rindu dan butuhkan sekarang merangkulnya hangat. Dia bisa merasakan detak jantung laki-laki itu berpacu cepat sama seperti yang dia rasakan saat ini. Rasa kasih dan terlindungi menyelimuti. Saka semakin merangkul kuat tubuh kekar itu tidak ingin melepaskan dan kehilangan lagi.


“Tuan,” Suara lain terdengar menyapa di telinga Saka.


“Sayang, kamu akan ikut Papa setelah Papa menemui dokter, Oke?” Mendengar ucapan Denny, ketakutan Saka hilang berganti mendapat perlindungan. Perlahan Saka melepaskan pelukan. Kembali wajah itu menatap, terlihat manik hitam, hidung dan wajah putihnya memerah. Saka semakin kuat menyakinkan kalau lelaki ini papanya yang sama-sama sangat merindu seperti dia rasakan.

__ADS_1


“Bagus, teman. Papa tahu, kamu putraku yang pemberani dan kuat.” Tangan Saka dalam genggaman hangat hingga menjalar keseluruh tubuh dan sampai kerelung hatinya. Seketika dia hanya merasakan dunia hanya miliknya bersama papa yang baru hadir dalam hidupnya. Dia terlupakan keadaan kedua kakinya saat ini.


“Istirahatlah, papa di sini menemani. Kamu harus cepat sembuh dan pulang bersama Papa, Oke?” Ucapan itu memberikan kekuatan dan perlindungan, Saka pun menutupkan kembali manik hitam yang memang masih menuntutnya untuk tertidur.


Story On


Denny mengangkat kepala, belum lama tertidur tapi manik hitamnya sudah memaksa tersadar. Menatap wajah tenang terlelap dalam buai mimpi, hati-hati mengusap pipi takut membuatnya terjaga. Beban apa yang akan terjadi masih menghantuinya, dia seolah tidak ingin wajah tenang itu terjaga dan merasakan sesuatu yang tidak harus terjadi.


Denny beranjak dari kursi, menarik langkah menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, mematutkan wajah di cermin. Kesedihan tergaris jelas di wajah, membayangkan kebahagian belum ingin bersahabat dengan dirinya. Kedua tangan mengepal kuat, menumpukan semua amarah. Seandainya dia bisa menggantikan semua duka, dia bersedia berkorban tapi apa daya takdir berkendak lain.


“Pa, papa,” suara memanggil dari luar.


Denny bergegas ke luar dari kamar mandi, terlihat Saka berurai air mata. Tubuhnya terduduk sambil bergetar kuat menatapi kedua kakinya. Selimut telah tersibak ke tepi tempat tidur tidak lagi menutupi tubuh Saka.


“Sayang, papa di sini.” Jangan takut, papa akan selalu ada bersamamu.” Denny cepat merangkul Saka, dia menyadari sesuatu tidak baik telah terjadi. Dia ingin membuat Saka kuat dan percaya padanya. Perlahan tangan Saka merangkul erat tubuh Denny, terdengar tangis pecah di dadanya.


“Pa, aku takut. Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan. Apa kakiku lumpuh? Apa aku tidak akan bisa berjalan? Mama, mama mana, kenapa dia tidak ada? Hiks…Hiks…Hiks…,”


“Tidak, putra papa tidak lumpuh, kamu akan bisa berjalan. Tenanglah, papa akan berusaha membuatmu bisa berjalan lagi.,” Tidak terasa cairan bening menetes deras di pipi Denny. Dugaan dokter benar, amnesia tidak dialami Saka karena dia bisa mengenali Denny saat dia telah sadar. Besar kemungkinan kelumpuhan akan dialami. Pemeriksaan harus segera dilakukan setelah mengetahui gejala awal kelumpuhan, untuk meneliti kerusakan jaringan yang dialami.


**********************************

__ADS_1


Hai readers yang setia baca cerita aku, terima kasih udah baca, beri komentar, vote, love dan like. Beri terus dukungan yang banyak ya….


Salam cinta selalu untuk semua.


__ADS_2