
Di dalam mobil, Denny memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya.
“Kita mau ke mana Mas?” tanya Indah melirik Denny dari sudut matanya.
Denny tidak menjawab pertanyaan Indah, sakit di kepalanya makin terasa kuat.
“Mas. Mas Denny, kamu tidur?” Indah bertanya lagi, dia bingung tidak tahu mau ke mana.
“Tidak,” jawab Denny. Tubuhnya ikut bekerjasama terasa lemah dengan sakit di kepala.
“Kita mau kemana?" Indah menjadi kesal karena tidak tahu mau ke mana mobil ini di bawa.
“Apartemen,” jawab Denny singkat
“Apartemen? Kalau mau pulang, kenapa menyuruhku menjadi sopirnya. Kemana Sekretaris Iqbal? Mengapa dia tidak membawa Tuan Bosnya ini?” Gumam Indah. Walaupun pelan, Denny dapat mendengarnya dengan jelas.
“Jangan cerewet, Kamu mau aku pecat?” ucap Denny lemah.
“Maaf, saya akan segera mengantar Mas ke apartemen,” jawab Indah dengan nada kesal.
“Dasar pria ini, apa tidak ada kata-kata lain selain mengancam ingin memecatku.” Menatap Denny yang diam dan sikap dinginnya.
“Jangan banyak pikir, lihat ke jalan” ucap Denny. Menyadari Indah sedang mengamatinya.
“Iiya,” jawab Indah gugup. Langsung menoleh pandangan ke jalanan.
“Pria ini, sikapnya sangat dingin. Bagaimana kekasihnya bisa tahan bersamanya selama ini? Di mana kekasihnya sekarang? Kenapa tidak bersamanya dan mengantarnya pulang? Mengapa juga harus aku?”
Batin Indah menggantung banyak pertanyaan.
Perhatian Indah terpusat ke depan. Mobil terus melaju membelah malam.
Hanna telah sampai di rumah mama Denny. Berjalan masuk dengan wajah lesu. Hanna langsung disambut mama Denny yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Hanna sayang, bagaimana kabar kamu, apa kamu bahagia?” Menatap Hanna terlihat lesu.
Hanna menghampiri mama Denny dan duduk di sampingnya berusaha memasang wajah tersenyum.
“Iya, tante. Hanna bahagia, hari ini jalan-jalan dan berbelanja." Hanna berusaha menghibur dirinya sendiri dan ternyata tidak berhasil.
“Wah, belanja apa saja, apa ada untuk tante?”
Pembantu datang membawakan beberapa tas belanjaan Hanna.
“Tentu dong, mana mungkin Hanna melupakan tante. Ini Hanna belikan, semoga tante suka,”
Memberikan sebuah tas belanjaan kepada mama Denny dan langsung membukanya.
“Terima kasih An, kamu paling tahu kesukaan tante, syal ini akan tante pakai menghadiri acara ulang tahun nanti. Dan tentunya, bersama kamu dan Denny. Hanna datangkan?” Memeluk Hanna dengan kehangatan
“Ih tante, Hanna malu. Mas Denny tidak mengundang Hanna,” Memang sampai detik ini jangankan ucapan, kartu undangan pun tidak diterima Hanna.
“Denny mungkin lupa, dia selalu sibuk belakangan ini. Beberapa hari dia juga tidak pulang ke rumah. Lebih memilih tidur di apartemen. Pasti tidak ada yang mengurusnya dengan baik di sana. Hanya Iqbal yang selalu bersamanya. Dan Iqbal sendiri juga sibuk membantu mengurus pekerjaan Denny. Tante khawatir dengan kesehatannya.”
Mama Denny berbicara sambil memegang tangan Hanna. Melihat sikap itu Hanna hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
“Sekarang tante sendiri yang mewakili Denny mengundang Hanna dan Papa juga." Mama Denny paham mengapa Hanna belum dikabari, karena Denny berusaha menghindari pertemuan dua keluarga.
“Tentu tante, Hanna akan usahakan datang,” Hanna menyambut undangan mama Denny dengan senang walaupun hatinya sedih.
An, kamu mencintai Dennykan?” Menatap Hanna dalam.
Pertanyaan mama Denny membuat Hanna hanya bisa menundukkan wajahnya dalam.
“Tante tahu Denny belum bisa menerima Hanna, tapi tante yakin Denny akan bisa melihat kebaikan hati dan ketulusan Hanna. Dan dia akan menerima Hanna. Tante tidak akan menyerah, sampai kalian berdua bisa menikah. Itu sudah menjadi keinginan tante sejak lama.”
“Terima kasih tante, karena sudah sangat menyayangi Hanna,”
Mama Denny memeluk Hanna erat dan tidak terasa air mata Hanna menetes di pipinya. Dia menyekanya cepat berusaha menyembunyikan dari mama Denny.
“Tante, bolehkah Hanna bermalam di sini? “
“Tentu saja boleh, tante senang ada yang menemani,” Mama Denny tersenyum.
“Terima kasih Tante,” memegang tangan Mama Denny erat.
“Hanna jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kamu istirahatlah di kamar, pasti capekkan satu harian ini? Nanti pelayan akan memanggil, kita makan malam bersama,”
“Iya Tante, Hanna ke kamar sekarang,”
Hanna beranjak dari tempat duduk, mencium pipi mama Denny. Berjalan menaiki tangga menuju ke kamar. Mama Denny tersenyum mengiringi ke pergian Hanna sambil melihat tubuh belakangnya.
Indah telah memarkirkan mobil. Denny masih menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
“Mas, kita sudah sampai,” ucap Indah sambil melepaskan seatbelt.
Indah menatap Denny yang duduk tersandar di sampingnya.
“Kenapa dia diam saja? Apa dia sakit?” bisik Indah.
“Mas, kamu kenapa?” Melihat Denny masih diam. Indah menjadi khawatir dan memberanikan diri menyentuh dahinya.
“Panas, Mas kamu sakit ya?” Punggung tangan Indah terasa panas setelah menyentuh dahi Denny.
“Hem,” suara Denny terdengar lemah.
Indah beranjak ke luar dari mobil, membuka pintu mobil samping Denny.
“Ayo Mas, kita ke luar , aku bantu. Kita masuk ke apartemen, kamu butuh istirahat.” Indah membuka seatbelt bangku Denny.
“Aku ngak apa-apa,” Denny berusaha bangun sendiri dan berjalan.
Karena tubuhnya lemah, Denny tidak sanggup berjalan dan hampir terjatuh. Indah dengan cepat memegang tubuh Denny.
“Sudah lemah begini, masih juga memaksakan diri merasa kuat,” oceh Indah dan berusaha memapahnya berjalan memasuki apartemen.
Di dalam apartemen, Indah membawa Denny ke kamar dan membaringkan di atas ranjang.
“Di mana ponselnya? Bagaimana aku bisa menghubungi Sekretaris Iqbal?” Gumam Indah berusaha mencari ponsel Denny di pakaiannya.
Indah tidak berhasil menemukan ponsel Denny. Indah memutuskan merawat Denny, melepaskan kedua sepatu, dan pakaian. Semu merah membias di wajah Indah, menatap tubuh Denny.
__ADS_1
“Tuhan, aku terpaksa melakukannya. Dia sudah banyak menolongku, jadi aku tidak bisa membiarkannya sendiri dalam keadaan sakit,” bisik Indah pelan dan menutupi tubuh Denny dengan selimut.
Keadaan Denny lemah, samar melihat dan mendengar suara Indah.
“Aku harus memberi obat penurun panas dan mengompres, agar suhu panas tubuhnya turun,”Indah berlari kecil ke dapur, mengambil obat di kotak P3K tergantung di dinding. Mengambil segelas air dan semangkuk air serta handuk kecil. Bergegas ke kamar dan duduk di samping tubuh Denny.
“Mas, minum obanya,” Ucap Indah dan mendudukkan Denny.
Denny meminum obat dan rebah kembali di ranjang.
Indah mulai mengompres kepala dan mengelap tubuh Denny. Indah melakukannya berulang-ulang.
Sesekali terdengar suara erangan ke luar dari mulut Denny.
“Mas, tenanglah, aku akan menjagamu,” ucap Indah memegang erat tangan Indah.
Karena sepanjang malam merawat Denny, Indah lelah dan akhirnya tertidur di samping Denny.
Denny perlahan membuka kelopak mata dan mencoba mengingat semua yang sudah terjadi. Menoleh ke samping, melihat Indah tertidur di dekatnya. Menatap jam menggantung di dinding menunjukkan pukul empat subuh.
“Terima kasih, kau sudah merawat ku,” bisik Denny mengelus lembut pucuk rambut kepala Indah.
Denny tertidur kembali, tubuhnya masih lemah.
Tidak beberapa lama Indah terbangun. Dan merasakan tangan Denny berada di atas kepalanya.
“Apakah dia sudah sadar?” bisik Indah menatap wajah Denny.
Terlihat Denny masih tertidur dengan wajah tenangnya.
“Dia masih tidur. Syukurlah, panas tubuhnya sudah turun,” Indah meraba dahi Denny.
“Sudah mau subuh, aku harus bersiap-siap solat,” Indah beranjak bangun dan melangkah ke luar.
“Kamar ini, baru saja meninggalkannya, aku sudah kembali ke sini,” Indah duduk di ranjang kamar yang pernah ditempatinya.
Indah melangkah ke kamar mandi.
Setelah selesai solat, Indah melangkah menuju kamar Denny. Dia ingin membangunkan agar melaksanakan solat.
“Di mana dia, kok ngak ada,” Indah terkejut tidak mendapati Denny terbaring di ranjang.
Indah mengitari sekeliling kamar, Denny tidak juga kelihatan.
“Bagaimana ini? ” Indah cemas.Tanpa pikir panjang, melihat pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Indah melangkah masuk.
Denny berdiri tepat di hadapannya tanpa berpakaian sehelai pun. Indah terkejut dan membalikkan tubuh melangkahkan kaki berlari kecil ke luar kamar.
Denny tak kalah terkejut melihat Indah menerobos masuk. Menggelengkan kepala melihat tingkah Indah.
Sampai di dapur, Indah menarik nafas panjang dan mengatur irama jantungnya.
“Indah, dasar kamu ceroboh.” Memukul kepala mengutuki diri sendiri.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Lebih baik aku menyibukkan diri di dapur,” celoteh Indah.
__ADS_1
Di kamar, Denny duduk di ranjangnya. Senyum menggaris di bibir mengingat tingkah Indah.