
Jesika menatap lemah, lelaki yang mendekati langkahnya menuju ruang tunggu operasi.
“Jes, Kau baik-baik saja?” tanya Hendrik khawatir melihat Jesika apalagi terlintas bayangan Denny yang tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, rasa ingin tahu menguasai dirinya.
“Hem, bagaimana operasinya?” Jesika menjawab singkat tanpa ingin berbicara banyak, dan memilih menanyakan proses operasi putranya.
“Masih berjalan, kau istirahatlah di ruangan Saka. Nanti setelah operasinya selesai, akan aku kabari.” Ucap Hendrik lembut dan penuh perhatian terhadap gadis di hadapannya.
“Tidak, aku di sini saja. Aku ingin selalu dekat dengan putraku.” Berucap dengan melempar tatapan kosong ruang operasi yang tertutup rapat sambil mendaratkan punggung di atas salah satu bangku yang tersusun rapi di lorong ruang tunggu operasi.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu.” Hendrik ikut menarik tatapan ke arah ruang operasi bersama duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku.
“Hen, kita bersahabatkan? Jangan menyukaiku, apalagi mencintai. Kau akan sama menderitanya dengan orang-orang yang menyayangiku dan juga mencintaiku. Biarku kasih tahu, kedua orangtuaku telah lebih dulu meninggal, di susul satu-satunya kakak laki-laki yang ku miliki. Lalu, dia yang berusaha memberikan cintanya untukku, tapi itu juga tidak bisa ku pertahankan. Aku tidak akan bisa memiliki cintanya, sekarang putraku, sekaligus nyawa keduaku juga tersakiti karena kasih sayangku. Takdir tertulis tidak ada seseorang yang bisa menyayangi dan mencintaiku, mereka semua menderita dan akan meninggalkanku.” Tanpa mengalihkan pandangan, Jesika berujar menarik kenangan hidup yang sudah dijalaninya.
“Aku tidak bisa kehilangan dirimu dan Saka. Aku seperti ketergantungan dengan kalian berdua. Selama ini aku merasakan, kalian berdua adalah milikku yang harusku jaga dan lindungi. Hatiku sakit, kalau kalian berdua menderita, kalian bahagia, aku juga ikut bahagia. Aku rasa perasaan ini lebih dari rasa persahabatan. Kalau dikatakan cinta, mungkin iya. Aku jatuh cinta denganmu sejak masa-masa kita kuliah dulu dan saat kita kerja bersama. Hingga aku tersakiti saat cintaku, tidak bisa terucapkan karena yang lebih bisa dekat dan menemanimu hanya sahabat. Aku terima, lebih baik seperti itu dari pada aku jauh dari kalian berdua.” Hendrik bertutur pelan dan merangkai kata-kata mewakili perasaannya berusaha memberikan pengertian. Ketakutan akan penolakan yang mengurung dirinya selama ini, dia kesampingkan. Sudah waktunya, walaupun dalam kondisi yang tidak tepat. Jesika mengutarakan perasaanya, dia pun tidak mau melewatkan kesempatan mengutarakan perasaannya juga.
”Hen, maafkan aku yang sudah mengikatmu dan memanfaatkan kebaikan yang kau berikan. Aku sungguh egois. Kau benci saja aku, selagi ada kesempatan,” Air bening turut kembali menemani wajah lesu Jesika.
“Apa maksudmu, jangan katakan kau ingin mengulangi kesalahan sepuluh tahun yang lalu,” Hendrik menangkap wajah gadis yang duduk di sampingnya.
“Aku tidak tahu, keputusanku sepuluh tahun yang lalu benar atau salah. Tapi aku tidak menyesalinya. Kalau terjadi sesuatu dengan Saka, aku tidak akan bisa hidup. Aku lebih baik benar-benar pergi dari dunia ini,”
“Saka akan baik-baik saja, dia anak laki-laki yang kuat. Kau jangan bertindak bodoh,”
__ADS_1
“Sekuat apa dia Hen? Putraku masih sepuluh tahun, harus menjalani ini dan keberhasilan operasinya juga beresiko. Apa dia bisa hidup normal? Tidak ada yang bisa menjamin.” Jesika menghamburkan tangis menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Hei, hei jangan pesimis. Dokter bukan Tuhan, yang menentukan semuanya. Kau masih punya Tuhankan? Walaupun kau katakan Tuhan menggariskan takdir menyedihkan untukmu, tapi bagiku tidak. Tuhan menggariskan takdir yang indah untukku, bisa terus bersamamu dan Saka. Hiduplah dalam takdirku? Aku akan selalu melindungi dan menjaga kalian berdua.” Tangan Hendrik menarik tubuh Jesika ke dalam pelukannya. Dia tidak ingin gadis yang dicintainya lemah dalam kesedihan. Dia rela melakukan apa saja untuk bisa melihat kembali senyum di wajahnya.
“Hen, jangan buat aku semakin egois.”
“Tidak masalah, buatlah sesukamu. Aku akan selalu ada untuk kalian berdua,” Hendrik tersenyum di dalam hati yang sekarang terasa hangat. Apakah perasaannya terbalaskan? Dia seolah menemukan cahaya di dalam lorong yang gelap.
“Aku lelah Hen, biarkan aku tidur bersandar di bahumu,” menutup kedua matanya yang basah.
Di dalam hati Jesika, perasaan bersalah semakin membesar. Dia tahu tidak akan bisa mencintai Hendrik, karena di dalam hatinya hanya ada Denny. Tetapi rasa takut kehilangan Hendrik sangat kuat, karena laki-laki inilah yang bersedia melakukan apapun untuknya selama ini. Sekarang Denny ada di hadapannya, rasa cintanya masih sama bahkan keinginan untuk kembali juga muncul tapi terhalang bayangan penolakan dan kebencian mama Denny. Jesika memiliki beban pikiran yang berat bahkan bertambah-tambah berat dengan kondisi kesehatan putranya dalam ketidak pastian.
Waktu terus berjalan, operasi telah selesai di lakukan. Tubuh lemah Saka, berpindah dari atas meja operasi terbaring berada di dalam ruang ICU karena memerlukan penanganan yang intensif. Tidak dibenarkan seorang pengunjung pun masuk, hanya bisa melihat dari balik dinding kaca yang tebal.
“Pa, papa bangun, jangan tidur lagi,” Dania melihat Danny membuka matanya dan berusaha menyadarkan tubuh yang telah tertidur lelap itu.
Iqbal mendengar suara Dania dan mendekat ke tubuh Denny.
“Bal, berapa lama aku tidur?” Suara berat Denny terdengar.
“Cukup untuk menggantikan semua tenaga dan waktu istirahat yang kau lewatkan,” Iqbal melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Bantu aku ke luar dari sini,” Denny berusaha mengangkat tubuhnya yang masih terasa lemah.
__ADS_1
“Tidak, tidak, kau belum bisa kemana-mana sekarang,” Iqbal menahan tubuh Denny yang beranjak bangun.
“Pa, papa harus dengar kata-kata paman Iqbal.” Dania ikut berujar meyakinkan Denny.
“Nia, papa sudah sehat. Kalau papa terus di sini, papa akan semakin sakit.” Denny kembali menegakkan tubuhnya dan meraih jarum melepaskan dari tangan yang telah menempel lama.
“Den, kau yakin bisa berjalan?” Tanya Iqbal menahan bahu Denny yang ingin segera berdiri.
“Hem, aku bisa. Kau tolong jaga Dania,” Denny menghayunkan langkah kaki ke luar dari ruangan.
“Ayo Nia,” Iqbal meraih tangan kecil Dania membawa berjalan bersama menuruti Denny.
Langkah kaki Denny membawa dirinya ke ruangan dokter Joshua.
“Dokter, bagaimana operasinya?” Tanya Denny langsung setelah pintu terdorong, terbuka lebar, terlihat Joshua duduk di balik meja kerjanya.
“Tuan Denny, mari silahkan duduk.” Joshua menjatuhkan tatapan pada wajah laki-laki yang terlihat pucat.
Denny melanjutkan langkah dan Iqbal menahan langkah kakinya, memilih menunggu di luar bersama Dania.
Punggung Denny pun mendarat di kursi menghadapkan wajah tepat ke dokter Joshua.
“Tuan Denny, syukurlah operasi berjalan lancar. Hanya saja?” Joshua membuka suara dan menggantung kalimatnya.
__ADS_1
Terbit kecemasan mendalam sesaat mendengar kalimat yang terpenggal, berhenti seolah mengatur kata yang sesuai untuk menenangkan seseorang mendengarkan. Denny tidak ingin mendengar lanjutan kalimat yang akan keluar, tapi dia tetap harus mengetahui kebenaran sepahit apapun.